KONSULTAN CINTA

KONSULTAN CINTA
Prolog.


__ADS_3

"Pelan-pelan dong masuknya! sakit tahu!" teriak Putri yang sedang menahan sakit.


"Ini juga sudah pelan-pelan cabutnya," balas Paijo.


"Tapi rasanya sakit sekali!"


"Tuh kan keluar darah di seprei? nanti kamu ya yang membersihkannya?" pekik Putri.


Suara wanita itu menggema di seluruh ruangan. Bahkan sampai ke indera pendengaran Abah dan Ibu, sampai ke tetangga pula.


"Woi Paijo!"


"Hati-hati dong. Kasihan anak orang itu!" teriak Abah dari balik pintu kamar Paijo.


Benar saja, pekikan Putri tadi di dengar oleh mertuanya, Ayah Paijo.


"Iya, bah. Ini juga sudah hati-hati," balas Paijo.


Lalu kemudian Paijo menunjukkan paku kecil yang di cabut dari kaki Putri.


"Nah, berhasil. Sekarang kau diamlah. Jangan menangis lagi!"


Paijo Pov.


Putri Valeria Prayoga, dia adalah istriku yang ku nikahi sebulan lalu dan membawanya tinggal di rumah Abah.


Kami menikah karena sebuah kesalahpahaman. Dimana Putri membohongi ibunya yang katanya aku adalah kekasihnya.


Mendengar itu tentu saja aku langsung menolak. Tapi melihat wajah Putri yang seperti sedang membutuhkan bantuan, membuatku terketuk untuk membantunya.


Tak apalah, itung-itung dapat pahala. Tapi bukannya dapat ku cegah, aku semakin terjerat sandiwara Putri. Dan jadilah aku seperti sekarang ini. Berstatus kan seorang suami sekaligus Konsultan Cinta ala istriku Putri.


Dan kisah kami berawal dari sini.


**


Sebut saja namaku Paijo Londo. Malas mau nulis nama lengkapku. Terlalu panjang dan ribet. Bahkan aku sering lupa siapa nama panjangku itu saking panjangnya.


Aku anak pertama dari dua bersaudara. Adikku bernama Sukro Londo. Gak usah nulis nama lengkapnya juga ya? sekali lagi, terlalu ribet! bikin ful-ful kertas ujian nasional.


Mungkin kalian berpikir nama adikku sama anehnya dengan namaku.


Ya, mungkin demikian. Sebab aku juga merasa aneh.


Mau tahu dimana letak keanehanku pada nama adikku itu?


Yap! namanya persis seperti cemilan kacang Sukro pada iklan di TV.


Entah apa yang membuat Abah memberi nama pada kedua putranya dengan nama yang aneh. Tapi tak jarang ada yang menyebutnya unik.


Unik dari mana? yang ada eneg!


Tapi tak apalah, kita harus menghargai pemberian orang tua. Walaupun dalam keseharian kami selalu mendapat perlakuan tak mengenakan, seperti bullying.


Balik lagi pada latar belakangku.


Nama Abah adalah Cokro Asmoro Siswanto Kusumo Negoro. Sedangkan nama ibuku adalah Aminah.


Lucu bukan?


Ibuku namanya sangat singkat, sementara Abah panjang kali lebar, hingga memenuhi selembar kertas ujian.


Hedew...


Pening kepalaku jika berbicara tentang Abah. Beliau memang orang tua yang disiplin, meski tak jarang humoris. Tapi, kami bangga memiliki Abah seperti dia. Karena didikannya lah, kami bisa sukses seperti sekarang ini.


Mungkin itulah salah satu alasannya, mengapa nama kami sangat panjang. Ya itu tadi, mengikuti jejak nama Abah.


Sekarang kita masuk dalam tahap percintaan.


Hais...


Malas banget membahas tentang topik yang satu ini. Mending bahas tentang karir deh. Sebab karirku cukup cemerlang di bandingkan kisah asmaraku.


Aku yang cupu dan lugu, tentu saja tak memiliki pengalaman percintaan yang epik seperti kebanyakan pria di luar sana. Tapi jika menyangkut pekerjaan, aku lah ahlinya.


Hahahaide!


Puji diri ni ye.


Ya..., tak apalah di kata memuji diri sendiri. Dari pada nunggu pujian dari orang lain gak datang-datang juga? hehe.


Gak usah lanjut masalah percintaanku ya? gak ada juga yang bisa di ceritakan. Gimana mau cerita kalau pengalaman saja gak ada. Haha.


Sesingkat itu bukan?


Nah, sekarang kita masuk dalam dunia pendidikan.


Aku lulusan Tehnik Sipil di Universitas Indonesia, dan mendapat gelar doktor pada usia yang cukup muda. Gak usah di sebut usia berapa ya? ntar ada yang nitip salam lagi. Eh, tahu-tahunya tante-tante girang. Amit-amit deh!


Saat ini aku menjadi CEO dalam perusahaanku sendiri yang ku beri nama "Paijo Contruktion."

__ADS_1


Awal mula karirku melejit adalah lewat tangan dingin atasanku yang berasal dari Jepang, namanya Hakasima Fujiyaka.


Namanya aneh bukan? pasalnya persis seperti nama merek panci Ibu di rumah. Haha.


Eits..., jangan salah paham dulu. Dia pria yang baik dan humble loh. Dia juga sangat disiplin seperti Abah. Dan jangan lupakan kecakapannya dalam berbicara. Sungguh perfect sebagai pria.


Aku yang semula bekerja di Jepang setelah pendidikanku usai, langsung pulang kampung begitu mendapat ilmu dan pelajaran yang sangat berharga dari negeri sakura tersebut.


Puas mengenyam kesuksesan disana, aku pun kembali ke negaraku (Indonesia), dan membangun perusahaan konstruksi.


Aku merekrut karyawan dalam jumlah besar ketika awal mula karirku di Indonesia.


Mau tahu siapa-siapa saja karyawanku?


Mereka adalah sebagai besar orang-orang yang membullyingku dulu. Bahkan seniorku sekalipun.


Tak tanggung-tanggung, aku sendiri yang pergi mencari mereka dan menawarkan sebuah pekerjaan.


Awalnya mereka menolak, tapi setelah mensearching namaku di google, maka yang keluar adalah gambar dan nama perusahaan milikku. Disitulah mereka percaya padaku.


Dari pada mereka cuma duduk diam di rumah? bikin meningkat angka pengangguran di negeri ini saja! lebih baik aku tawarkan pekerjaan. Kan lumayan tuh bisa beli'in emas istri, apa lagi parfum untuk diri sendiri, lebih-lebih beras untuk makan sehari-hari.


Mau sebut mereka penjilat dan munafik? silahkan saja. Aku tak peduli. Sebab, akulah bosnya disini. Sekali memetik jari, semua karyawan akan tunduk padaku. Tapi aku tak pernah tinggi hati, sebab Abah selalu mengingatku akan pentingnya kerendahan hati.


**


Putri Pov.


Namaku Putri Valeria Prayoga. Aku anak kedua dari dua bersaudara. Nama Kakak adalah Alka Prayoga.


Mau tahu kisah cinta kak Alka sebelumnya? silahkan baca dalam judul "I Love You Paman ya gays. Hehe."


Balik lagi pada data diriku.


Aku berprofesi sebagai dokter Kandungan sekaligus manager di rumah sakit tempatku bekerja.


Rumah sakit itu merupakan milik keluarga Prayoga. Tapi, jangan salah paham ya gays? aku mendapatkan posisi kedua dari pertama itu dengan hasil kerja kerasku sendiri. Bukan karena menyandang nama Prayoga. Sebab di rumah sakit ini, potensi dan kinerja lah yang menjadi fokus utama, bukan gaya dan foya-foya. Jika kau tak memiliki potensi, maka jangan coba-coba untuk maju.


Ada banyak kok kandidat calon manager rumah sakit ini dulu yang kemampuannya tak bisa di ragukan. Bahkan aku di beri tempat duduk paling belakang saat mengikuti tes. Tapi, rencana Tuhan itu memang yang paling indah dan terbaik. Maka jadilah aku seorang manager di rumah sakit ini sekarang.


Terlepas dari itu semua, aku bukan tipe wanita yang bergantung pada keluarga.


Siapa yang tak mengenal keluarga Prayoga di negeri ini? semua pasti akan tahu. Coba searching di google, pasti profil Kak Alka dan Perusahaan Prayoga akan keluar dan terpampang besar di halaman sosial media kalian.


Aku tinggal di Amerika sejak usiaku 13 tahun. Aku mengeyam pendidikan disana sebagai dokter, dan beberapa tahun lamanya menjadi asisten profesorku di sebuah rumah sakit swasta disana. Tapi akhirnya aku kembali karena Ibu memintaku untuk pulang ke rumah.


Katanya aku semakin tua dan tak menikah-menikah. Aku selalu saja fokus pada karir dan pendidikanku, hingga melupakan asmaraku. Itulah yang membuat ibu cemas.


Dia selingkuh dengan seorang wanita yang usianya jauh lebih tua darinya.


Katanya mereka saling mencintai, dan aku pun merelakan ia.


Sakit hati sih sebenarnya. Tapi ya sudahlah. Bukan juga jodohku kali?


Lagi pula, seharusnya aku bersyukur tak terlanjur jatuh cinta padanya. Jika tidak, maka aku akan menjadi budak cinta orang Amerika itu. Hehe.


Selain dari pada itu, aku masih belum ingin menikah. Sebab cita-citaku belum tercapai, yakni memiliki rumah sakit sendiri.


Terlalu tinggi sih sebenarnya angan-angan dan impianku ini, tapi tak ada yang tak mungkin selama kita mau berusaha


Balik lagi pada kisah asmaraku.


Ibu memintaku untuk menikah segera di kala aku masih mengumpulkan dana untuk membangun rumah sakit. Dan hari ini tepatnya aku membuat janji pada seseorang yang katanya bisa di percaya untuk membangun sebuah bangunan.


Dia Konsultan hebat di negeri ini. Itu sih katanya temanku. Kalau saja kinerjanya tak sebagus kabarnya, maka akan ku tendang jauh-jauh orang itu.


Siapa lagi namanya?


Kalau tidak salah si Lontong? Londo? atau apalah itu. Aku tak peduli! yang pasti, aku harus bertemu dia saat ini juga, agar Ibu tak memaksaku terus menerus untuk menikah. Sebab, jika Ibu melihatku sementara membangun sebuah rumah sakit, maka beliau tak akan memaksaku lagi. Tapi entahlah. Namanya juga orang tua. Kadang hari ini berkata A. Eh, besoknya udah sampai ke Z. Aneh!


Contohnya tadi pagi. Ibu kembali memintaku untuk menikah secepatnya. Jika tidak, maka beliau akan menjodohkanku dengan putra dari temannya. Padahal kemarin dia bilang tak mau memaksa?


Hais...


Di kira sekarang zamannya Siti Nurbaya? pake jodoh-jodoh segala!


"Awas!"


Bug!


Tiba-tiba sebuah kayu jatuh dari atas bangunan yang belum rampung. Tapi anehnya, kayu itu tak mengenai tubuhku.


Lalu ku angkat kepalaku dan menghadap pada seorang pria yang ternyata melindungku dari reruntuhan kayu tadi.


Deg!


Dia menutupi tubuhku dengan belakangnya, sehingga wajah pria itu sangat jelas di mataku.


Dia tak tampan, tak juga rupawan. Penampilannya yang seperti orang kampung membuatku cukup terkejut.


Ada juga pria model seperti ini?

__ADS_1


Gaya fashion yang sungguh jelek!


Mau tahu bagaimana caranya berpakaian? persis seperti Jojon.


Celana sebatas mata kaki, berkacamata besar, sepatu kets, dan jangan lupa giginya yang berkawat.


Hais...


Benar-benar kampungan!


Jika di lihat dari pakainya, tampaknya bermerek sih. Tapi gayanya itu loh, bikin ilfil!


"Lepaskan aku!" Aku mendorong tubuh pria yang masih belum ku tahu namanya itu. Tak penting rasanya untuk berkenalan dengan pria cupu dan culun seperti dia. Lagi pula aku juga tak berencana untuk berkenalan dengannya. Paling dia cuma karyawan biasa di perusahaan Si Londo-Londo ini.


"Hati-hati jika datang di tempat seperti ini Nona!"


"Atau kau akan meregang nyawa tadi!" lanjutnya sedikit angkuh.


Haduh... Ini orang belagu juga rupanya? cuma karyawan biasa juga!


"Tapi kamu sudah memeluk saya tadi!" ucapku tak mau kalah.


Enak saja aku mau di remehkan oleh orang kampungan seperti dia?


"Tadi itu bukan pelukan! tapi perlindungan!" belanya.


"Bayangkan saja, jika aku tak datang tepat waktu. Mungkin kau sudah membuat suamimu menduda!"


Ha?


Suami? apa dia pikir aku ini seorang tante-tante? apakah wajahku setua itu?


Haruskah aku memberitahu statusku yang masih singel?


Hais... gak penting sekali!


Awas saja jika aku bertemu lagi dengannya, tak akan aku biarkan dia lolos begitu saja! hari ini aku sungguh terburu-buru.


"Ah, lupakan saja!"


"Katakan dimana bosmu? aku mau bertemu dengannya!" seruku tak mau basa-basi lagi. Malas banget berhadapan dengan pria cupu seperti dia. Bikin bad booster. Tapi anehnya, pria itu hanya menatapku datar seakan tak peduli.


He! dia pikir dia siapa? berani-beraninya menatapku seperti itu?


"Aku bilang dimana bosmu?!" tanyaku sekali lagi. Kali ini ku tekankan kalimatku agar membuatnya jera. Tapi bukannya kapok, dia justru semakin cuek.


"He! pria berkacamata!"


"Aku bilang dimana bosmu yang bernama Lontong itu?!" Kali ini aku benar-benar di luar kendali, hingga nama bos dari pemilik perusahaan itu ku sebut Lontong.


Ku lihat wajah pria itu semakin aneh. Seperti... marah?


Lalu kemudian,


"Namanya Paijo Londo! bukan Lontong!"


"Memangnya kau pikir dia lontong sayur lodeh?" katanya.


Apa pria ini mau di pecat kali ya? berani-beraninya dia memperlakukan pelanggan tak sopan.


Akan ku aduhkan dia pada bosnya. Supaya di pecat sekalian!


Sebenarnya aku bukan tipikal gadis yang pemarah. Tapi karena hari ini aku benar-benar sibuk dan harus di kejar dengan deadline yang cukup padat. Belum lagi aku terbebani dengan permintaan Ibu tadi pagi untuk segera menikah. Dan sekarang aku harus berhadapan dengan pria tak jelas seperti ikan ******. Maka lengkaplah sudah penderitaanku hari ini.


"Terserah apapun namanya, yang pasti aku ingin bertemu dengannya!" sengaja kembali ku tekankan kalimatku, agar dia tak bertingkah lagi.


Lalu kemudian pria itu mengulurkan tangannya sembari berkata, "Perkenalkan, namaku Paijo Londo Suryo Cipto Mangunkusumo Wiradmojo Sudibyo."


"Pemilik perusahaan ini!"


"Ha?"


To be continued.


Assalamualaikum. Apa kabar readersku yang setia? semoga sehat-sehat terus ya?


Nah, sesuai dengan janji saya, akhirnya cerita tentang Paijo dan Putri release juga ya?


Semoga kalian suka. Dan mari tertawa ngakak dan baper bareng bersama Paijo dan Putri ya gays.


Sambil mengikuti novel ini, silahkan mampir ke karyaku yang lainnya ya.



Wanita Lucu Itu Istriku (Tamat)


Marinaku (Tamat)


I Love You Paman (Tamat).


__ADS_1


Happy reading.


__ADS_2