
Pertanyaan Putri membuatku salah tingkah. Ada benarnya juga, bahwa ku sedang berpikir sedikit mesum.
Tapi sedikit ya? harus di garis bawahi kata sedikit. Bukan banyak!
"Apa maksudmu?" tanyaku pura-pura tak tahu. Padahal dalam hati siaga satu.
"Kau sedang menatapku mesum, bukan?"
Hais...
Sepertinya Putri terlalu percaya diri. Ku akui, bahwa ku sedang menginginkannya, tapi tidak juga sebegitunya kali. Ku masih bisa menahan diri.
"Enak saja!" bantahku tak terima.
Ku putar badan, agar ia tak melihat tubuh bawahku yang masih berdiri kokoh. Namun, Putri memutar diriku hingga ku lalai dalam menyeimbangkan diri. Dan akhirnya kami terjatuh di atas tempat tidur.
Wajah Putri menindihku tepat di tempat tak seharusnya.
Haduh... Abah... sakit sekali! pekikku dalam hati.
Lalu kemudian,
"Aaakk--," teriak Putri.
"Ini buah persik atau batang persik? kenapa tegang dan besar sekali?"
Oh ya ampun Putri...
Pertanyaanmu itu membuatku merasa seperti pria murahan yang ada di pinggir jalan.
Mengapa dia menyebut buah zaka*ku sebagai buah persik? sungguh Memalukan!
"Ini namanya buah asik-asik!"
"Enak saja kau sebut buah persik!" kesalku sembari beranjak bangun dan membenahi buahku yang sedikit berdenyut kesakitan akibat tertindih tubuh Putri yang beratnya seperti satu karung beras seharga lima ratus ribuan.
"Sama saja!" balas Putri tak mau kalah.
"Lagi pula, buah itu memang seperti buah persik. Bentuknya kecil dan gak asik!"
Apakah baru saja Putri meremehkan buahku?
Awas saja kamu! akan ku buat kau tak berdaya dengan buah yang kau sebut kecil dan tak asik ini!
"Tidak asik katamu? lalu siapa yang lebih banyak mendesah malam itu? kau terus saja menyebut namaku, Paijo... oh Paijo..." Kali ini ku berhasil membalikkan situasi. Dimana Putri akhirnya bungkam.
Dapat ku lihat rona merah di wajah Putri. Dia sepertinya malu sekali. Tapi kali ini ku tak memberinya belas kasih, sebab ku masih sakit hati.
Enak saja dia merendahkan buahku yang sudah berhasil bertamu dalam tubuhnya. Padahal malam itu dia sangat menikmati buah yang dia sebut persik ini.
Dasar wanita gengsian! pura-pura tak mau, padahal dalam hati siaga satu. Sungguh terlalu!
"Aku mau mandi!" seru Putri.
__ADS_1
Putri ketahuan.
Dia malu sendiri akan ucapannya barusan.
"Hei, kau mau kemana?"
"Tanggung jawab dulu untuk yang satu ini," kataku sembari menatap damba.
"Tidak mau! kau pria mesum menyebalkan!" seru Putri dengan wajah pura-pura tak suka. Padahal ku bisa baca hatinya yang meronta-ronta.
"Ayolah, kau jangan malu-malu," godaku.
Lalu ku usap ceruk lehernya dengan hidungku yang tak seberapa mancung.
Dapat ku lihat Putri seperti meremang.
"Lepaskan aku Paijo," kata Putri dengan sedikit desahan.
Hais...
Dasar wanita. Di elus sedikit saja sudah bereaksi.
Mungkin seperti itulah sejatinya wanita terhadap suaminya. Mereka akan luluh ketika tatapan mata sudah menunjukkan damba.
Terlebih lagi ada elusan hangat disana. Membuat jiwanya meronta ria.
"Tapi aku pengen...," rengekku manja.
Lalu ku gelitik saja dia. Agar Putri tertawa lepas.
"Geli Paijo!" seru Putri dengan tawanya yang kencang.
Tak lama terdengar suara Abah dari balik pintu kamar.
"Woi! kalau mau bermesraan, jangan berisik!" teriak Abah.
Lalu aku dan Putri saling memandang. kemudian,
"Hahahaha." Kami tertawa terbahak-bahak. Merasa lucu akan sikap kami sendiri.
"Abah mendengar kita," ucapku dengan sisa-sisa tawaku.
"Kamu sih! makanya jadi pria itu jangan mesum!" tandas Putri dengan tawanya pula.
Lalu ku hentikan tawa, dan menatap dalam-dalam mata istriku, Putri.
"Jadi, apa kau sudah memaafkanku?" tanyaku dengan nada serius. Dan akhirat tawa Putri pun mereda juga.
"Apa aku mengatakan sesuatu?"
Toeng!
Apa Putri sedang mengerjaiku sekarang?
__ADS_1
"Hei, bukankah tadi kita tertawa bersama?" protesku tak terima.
"Tapi bukan berarti kau sudah ku maafkan!"
Oh ayolah Putri... buang sikap angkuhmu, dan masuklah dalam dekapanku. Ku pasti membuatmu nyaman di sisiku.
"Ayolah sayang, jangan seperti itu. Bukankah kau menyukai buah persikku?" ucapku akhirnya mengakui buahku seperti buah persik ala istriku.
Dapat ku lihat Putri seperti tengah menahan geli. Dia hendak menertawakanku disini.
"Aku mau mandi!" tutur Putri seraya beranjak pergi. Namun, ku cegah ia dengan menahan dirinya.
"Hei, kau mau kemana? kita belum selesai bicara," cegahku dengan tatapan mendamba.
"Lepaskan aku Paijo. Kau bau liur tahu!"
"Aku tidak peduli! kau harus bertanggung jawab!" tegasku.
"Aku tidak mau. Hahaha, Paijo geli!" Ku sengaja menggelitik Putri kembali. Lalu kemudian,
"Woi Paijo! kecilkan suara kalian!"
Rupanya Abah masih mendengar kami.
Kami pun saling memandang satu sama lain.
"Mandi bareng yuk?" ajakku sembari tersenyum nakal.
Lalu Putri mendorongku saat ku lengah. Dan akhirnya dia terlepas dari genggamanku.
"Dasar pria mesum, we..." Ku tersenyum lucu akan sikap Putri yang seperti anak kecil saat ini.
Dia menjulurkan lidah, mengejekku betapa bahagianya dia ketika menang satu kosong dariku.
"Sssshhh-- kau sungguh menggemaskan!" ucapku sembari menahan gemas.
Ya, mendadak Putri ku anggap wanita menggemaskan. Padahal dulu sangat menyebalkan.
Entah karena mulai jatuh cinta, atau karena berdirinya buah persikku. Yang pasti hanya satu, saat ini ku benar-benar menginginkan dia.
"Aku menunggumu," teriakku dari balik pintu sembari tersenyum bahagia.
"Aku tidak mau..." balas Putri dari dalam kamar mandi.
Begitulah hubungan kami. Selalu bertengkar dan berdebat. Namun, tak jarang sayang-sayangan, lalu bermesraan.
Kami masih belum saling mengungkap rasa. Namun, pelan-pelan hatiku menginginkan dia.
Ku tahu Putri juga merasakan hal serupa, yakni butuh pengakuan cinta. Tapi, akan ada saatnya dimana kami akan saling membuka diri dan mengucap cinta.
Momen itu akan terlaksana dengan lancar dan indah ketika sesuatu yang ku persembahkan untuk Putri telah selesai.
Apakah itu persembahan Paijo untuk sang istri tercinta? silahkan komen dibawah ini ya readers.
__ADS_1
Happy reading.