KONSULTAN CINTA

KONSULTAN CINTA
Cemburu.


__ADS_3

Paijo Pov.


Pagi hari yang cukup mengejutkan, dimana Putri berteriak histeris akibat tertusuk paku.


Benda kecil dengan berukuran tiga senti itu membangunkanku pagi-pagi sekali setelah tadi sudah ku tunaikan kewajibanku sebagai seorang muslim. Namun, ku balik masuk ke dunia mimpi setelah kewajiban itu usai.


Eh, baru juga mau masuk dunia mimpi, tahu-tahunya Putri berteriak histeris.


Dia menangis sekencang-kencangnya seperti anak kecil.


Suara istriku itu menggema hingga ke seluruh ruangan. Bahkan Abah pun rupanya mendengar.


Entah apa yang di pikirkan oleh Abah tentang kami di dalam kamar. Pasalnya Abah berteriak dari balik pintu tuk menyuruhku berhati-hati.


Sepertinya Abah sudah salah paham terhadap kami. Mungkin dia berpikir aku telah menunaikan teori tiga D darinya.


Dan benar saja, Abah berpikir demikian. Terbukti dari pertanyaannya barusan. Yang katanya 'Bagaimana rasanya semalam.'


Jujur saja pertanyaan Abah ini membuat moodku hilang. Pasalnya ku sudah seperti pria murahan tanpa beban. Sebab melakukan dengan teriakan. Padahal sekalipun belum pernah kami bersentuhan.


Teriakan Putri, karena istriku itu tengah kesakitan akibat tusukan sebuah paku.


Namun, satu yang membuatku merasa seperti tersengat listrik pagi ini, yakni tertindih tubuh Putri.


Awalnya ku terkejut, tapi pelan-pelan hatiku mulai menerima sentuhan itu. Hanya saja ku tak bisa terlalu lama berada dalam posisi seperti tadi. Sebab ku tak tahu jika setan menghampiri dan membujuk kami. Jadi, ku sengajakan saja tuk menyuruhnya turun dengan dalih, bahwa badannya berat sekali. Padahal dalam hati menikmati.


Mungkin kalian berpikir, bahwa tak masalah jika mau melakukannya. Sebab hubungan kami sah secara hukum dan agama. Tapi, sebagai manusia berakal dan bermartabat, ku tak boleh melakukan tanpa persetujuan dari Istriku. Sebab ia bukanlah seorang pelacur yang harus ku paksa tuk memenuhi kebutuhan batinku.


Ku ingin kami melakukannya atas dasar suka sama suka.


Tapi, masalahnya adalah kami tak memiliki rasa. Oleh sebab itu, ku tolak mentah-mentah bujukan setan yang sepertinya merayuku. Terbukti dari reaksi tubuh bawahku yang mulai merespon keras. Namun, berhasil ku cegah.


Hanya saja, ku tatap mata Putri seperti tengah memendam sesuatu, tapi ia tak mau memberitahuku.


Ku coba bertanya apa isi hatinya, namun lagi-lagi ia hanya diam.


Ingin ku desak, tapi ku takut tertolak. Ingin ku bekap, tapi ku takut di sangka pria jahat.


Akhirnya ku coba tebak dengan menyinggung peristiwa semalam. Dimana ia bersikap aneh padaku ketika baru saja ku pulang tengah malam. Dia seperti tengah menungguku pulang.


Apakah ucapanku di kantor kemarin siang di anggap sungguhan? entahlah.


Tapi sepertinya iya. Sebab terbukti dari caranya berpakaian. Ia mengenakan daster ala emak-emak kos-kosan. Tidak seperti biasanya ketika ia tidur malam.


Dan sepertinya dugaanku benar. Sebab dari caranya menatapku ketika ku coba menyinggung peristiwa semalam, sungguh membingungkan.


Lalu ku jelaskan padanya, bahwa ku benar-benar sibuk kemarin. Walau sejatinya Putri tak bertanya. Hanya saja seperti ada beban di dadaku ketika wajah itu tak kunjung lurus juga.


Namun, setelah usai menjelaskan, Putri tersenyum simpul, seperti ada ketenangan yang menyelimutinya.

__ADS_1


Merasa masih memiliki kesalahan, akhirnya ku tawarkan ia tumpangan. Dan beruntungnya ia mau menerima tawaranku itu.


Dan Kini tibalah kami di sebuah rumah sakit tak asing. Dimana tempat ini dulu menjadi saksi bisu adikku Sukro di lahirkan oleh ibu.


"Jadi kamu bekerja di rumah sakit ini?" tanyaku setelah usai menghentikan mobil tepat di depan rumah sakit.


"Iya. Memangnya kenapa?"


"Tidak kenapa-kenapa. Hanya saja di rumah sakit ini dulu---"


"Kau punya mantan pacar?"


Ngek??


Sejak kapan ku punya mantan pacar disini? apa Putri kesambet setan merah?


Hadew... Putri, Putri. Belum juga selesai bicara, langsung di sela begitu saja. Padahal maksudku adalah ku mau memberitahu dia, bahwa adik iparnya lahir di rumah sakit tempatnya bekerja.


Kenapa dia jadi beralih pada topik pacaran? apa dia pikir aku ini pria murahan?


Tapi, kenapa wajahnya jutek seperti itu? apakah dia sedang cemburu?


Kerjain aaah...


"Apa kau sedang cemburu?" sengaja ku goda ia. Agar ku lihat bibirnya yang di buat manyun. Pasalnya, bibir itu akan terlihat lucu ketika sedang manyun. Bentuknya akan terlihat seperti pantat ayam yang hendak membuang kotoran. Hahaha.


"Awas saja kalau kau bertemu mantanmu disini, akan ku colok matamu!" Ucapan Putri yang blak-blakan membuatku tercengang.


Benarkah dia sedang cemburu? seorang wanita angkuh seperti Putri, blak-blakan berbicara soal cemburu?


"Hahahaha." Ku tertawa lepas, merasa lucu akan sikap dan ucapannya yang katanya ia cemburu.


Semula ku sangka itu hanya sekedar gurauan, tapi rupanya ucapannya merupakan kenyataan.


Putri cemburu!


Terbukti dari caranya menatapku tajam. Tatapan itu sungguh menakutkan. Hingga membuat bulu kudukku merinding.


Akhirnya ku hentikan tawaku, dan berubah menjadi canggung.


"Ehem!" dehemku, tuk menetralkan perasaanku. Namun, tatapan Putri masih juga tajam, seperti belati yang hendak menusuk perut.


"Awas saja kalau sampai aku lihat kau bersamanya, akan ku teriaki kau maling!" ucap Putri seraya beranjak pergi.


Ha? maling? apa wajahku seperti penjahat? kenapa dia memperlakukanku seperti itu?


Tapi ku suka caranya berbicara. Dia cukup terbuka akan isi hatinya.


Paling tidak, ku bisa tahu apa yang di suka, dan apa yang di benci olehnya.

__ADS_1


Ku rasa Putri benar-benar cemburu.


Tanpa kusadari, hatiku mulai bereaksi. Aku pun merasakan ada sesuatu yang istimewa dari istriku ini.


**


Putri Pov.


Seharian ini ku seperti dokter tak profesional. Dimana mataku selalu terngiang-ngiang pada suamiku.


Tiang infus ku sangka tubuhnya.


Lebih-lebih pada percakapan singkat kami berdua tadi pagi.


Hatiku sungguh panas, sebab membayangkan Paijo memiliki mantan kekasih di rumah sakit ini.


Tapi siapa mantan kekasihnya? apakah dia Marni?


Ah, rasanya tidak mungkin. Tapi mereka cukup lama saling mengenal. Apakah itu artinya... ah, sudahlah. Dari pada main tebak-tebakan dengan hati sendiri. Lebih baik ku tanya langsung sama orangnya sekalian. Mumpung dia ada disini.


"Marni, apa aku boleh bertanya padamu?" tanyaku mulai ancang-ancang tuk menyusun pertanyaan.


Wanita berponi itu tengah membantuku menyusun laporan ibu hamil minggu ini.


"Tentu saja boleh," jawab Marni tanpa melihat wajahku.


Dia benar-benar serius pada pekerjaannya. Hingga ia tetap fokus pada layar laptop miliknya.


"Sudah berapa lama kau mengenal Paijo?" tanyaku tanpa basa-basi.


"Tiga tahun," jawab Marni seadanya. Namun, ia masih tetap fokus pada pekerjaannya.


Apakah itu artinya dalam waktu tiga tahun mereka sempat menjalin hubungan?


"Apa kau dan Paijo memiliki kedekatan yang lebih dari sekedar teman?" Pertanyaanku kali ini sukses membuyarkan konsentrasi Marni.


Ia pun langsung menghentikan ketikannya, lalu beralih menatapku aneh.


Apakah dia sedang berpikir, bahwa aku sedang menginterogasinya?


Mampus aku!


Mengapa aku tidak bisa mengendalikan diri sekarang?


Ini semua pasti karena Paijo!


Awas kau Paijo! nanti akan ku jewer kupingmu ketika pulang nanti!


To be continued.

__ADS_1


__ADS_2