
Ku tatap dua bola mata Paijo, ada keseriusan di dalamnya yang seperti meronta-ronta. Dia sungguh memiliki niat baik untuk menyelamatkanku dari masalah yang sengaja ku buat. Walau terpaksa sih, tapi tetap saja aku yang bersalah disini.
Aku menarik Paijo dalam peliknya masalahku. Masalah yang bermula dari keputusan sepihak ibu.
Bagaimana ibu sih, enak saja mau menjodohkanku dengan pria tak jelas seperti Memet. Alhasil aku berakhir seperti ini.
Entah pertemuanku bersama Paijo merupakan takdir Ilahi atau sebatas kebetulan semata, yang pasti aku tidak suka situasi ini.
"Makanya, kalau mau bertindak itu harus di pikir dulu!" kata Paijo sembari membentakku seolah aku ini beneran istrinya.
Enak saja dia membentakku seperti ini. Lama-lama aku beri dia pelajaran. Tapi kasihan juga sih sebenarnya. Pasalnya aku yang bersalah disini. Dia hanya korban dari kebohonganku.
"Gak usah menyalahkan aku deh!"
"Bukankah kamu juga yang mengaku sebagai calon suamiku? aku kan hanya bilang pacar. Lah, kamu mempertegas dengan kata calon suami dan menantu!" Sengaja ku balas dia dengan menekan tiap bait kalimatku, agar ia tahu, bahwa dia juga turut bersalah dalam hal ini. Ya... meski aku pangkal akar dari masalah ini.
Egois sih sebenarnya, cuma mau bagaimana lagi? aku masih tak mau kalah disini.
Ku lihat Paijo menatapku tajam.
Serem juga tatapan pria ini. Mukanya saja yang cupu, tapi matanya itu loh. Mengerikan!
"Aku seperti itu karena ulahmu! paham?!"
Buset...
Suara Paijo menggema di taman belakang rumah. Sepertinya dia benar-benar marah kali ini.
Sebaiknya ku pasang wajah-wajah bersalah saja deh, supaya dia tak marah lebih lanjut lagi. Aku harus menurunkan egoku dulu untuk kali ini. Dari pada benjol? hehe.
"Iya deh, iya. Aku yang salah disini," kataku pasrah.
Ku lihat wajah serem Paijo seketika berubah normal. Bahkan warna mukanya sudah menjadi putih dari yang tadinya merah.
Sepertinya dia sudah tenang. Apa aku harus menaikkan egoku lagi ya? soalnya aku mulai tertarik berdebat dengan pria cupu yang satu ini. Aku seperti mendapat tantangan dalam beradu otak.
Ya... seperti yang kalian ketahui, bahwa salah satu hobiku adalah beradu otak selain menjahit perut pasien melahirkan.
"Tapi aku tidak sepenuhnya salah juga," lanjutku bergumam, dan ku balik lihat wajah Paijo yang kembali sangar.
Sebelum Paijo benar-benar memarahiku, aku pun langsung berdalih, "Iya deh, iya aku yang salah semuanya. Dan kamu yang paling benar disini. Puas Lo?!"
Ku kira Paijo sudah tenang. Eh, tahu-tahunya dia balik lagi jadi pria sangar. Menyebalkan!
__ADS_1
"Jadi cewek itu gak usah belagu!"
What? dia bilang aku belagu?
waduh...
Sepertinya otak pria ini perlu di beri pelajaran kali ya? awas kamu Paijo! hari ini ku biarkan kau berada di atas angin, tapi tidak untuk lain kali.
Ku tahan kegeramanku sembari mengeraskan rahang, dan berakhir dengan pengembusan nafas berat dan pasrah. Kali ini aku benar-benar menyerah.
"Jadi bagaimana? apakah kau sudah yakin dengan keputusanmu untuk menikahiku?" Kali ini nada pertanyaanku tak mengandung unsur perdebatan, sebab aku sudah cukup lelah untuk berdebat. Biarlah Paijo yang berpikir keras sekarang. Lelah aku, lelah.
Sebelum menjawab pertanyaanku, Paijo mengembuskan nafas berat terlebih dahulu, seakan ada beban besar yang menumpuk di atas pundaknya.
"Ya, mau bagaimana lagi? jelas lah kita harus menikah." Paijo juga turut pasrah sepertiku. Walau dengan nada terpaksa. Tapi ada sedikit kelegaan dalam hatiku, sebab ia memegang teguh prinsipnya yang tak suka memutar balik kata.
"Apa kau yakin?" ujiku.
"Sebenarnya aku tidak yakin. Karena melihat dari sifatmu yang egois dan angkuh itu, sepertinya aku akan mati berdiri."
Astagfirullah... Seburuk itu kah aku dimatanya?
Apa dia bilang tadi? egois dan angkuh? Paijo ini kalau bicara suka benar. Sungguh keterlaluan!
Apa yang sebenarnya terjadi pada hatiku? mengapa seperti ada denyutan sakit di dalam sana? aku pasti sudah tidak waras.
"Ya sudah kalau begitu! kita tidak usah menikah. Tapi..." Paijo menggantungkan kalimatnya, menyisakan rasa penasaran dalam benakku.
"Tapi apa?"
"Tapi kau harus menanggung semua kemarahan keluargamu disana. Aku tidak mau ikut-ikutan!" lanjut Paijo kemudian.
What the hell. Paijo benar-benar sukses membuat hatiku Bejo.
Baru kali ini aku menemukan pria yang sulit untuk aku lumpuhkan otaknya. Justru aku yang pening disini.
"Enak saja! ini juga masalahmu, bukan cuma masalahku! kau yang melengkapi kebohonganku!"
"Ya... aku akui, bahwa aku akar dari masalah ini. Tapi jika kau tidak mempertegas pernyataanmu dengan berkata, bahwa kau adalah calon menantu ibu, maka semuanya tidak akan berakhir seperti ini!" Aku tak mau kalah sekarang. Situasinya semakin berbelit-belit.. Padahal tinggal bilang sepakat atau tidak untuk menikah. Bereskan? tapi kami berbeda disini, kami masih terus berdebat.
"Baiklah kalau begitu, sekarang kita masuk ke dalam rumah dan beritahu mereka, bahwa kita hanya merupakan rekan kerja, bukan calon pengantin seperti yang kita karang tadi!" Paijo menarik tanganku, dan berniat ingin membawaku masuk ke dalam rumah agar menemui keluarga untuk berkata yang sebenarnya.
Apakah Paijo ingin aku di siksa oleh ibu dan kak Alka? ini sungguh gawat darurat.
__ADS_1
"Aku tidak mau!" tolakku sembari mengempaskan tangan Paijo.
"Lalu kamu mau apa?"
Kami bertengkar seperti selayaknya sepasang kekasih yang tengah merajut kasih. Sungguh lucu sekali.
Padahal dekat juga tidak. Cinta apa lagi.
"Apakah kau ingin aku membuka kedokmu sama keluarga di dalam sana? atau kau ingin menikahi pria cupu tadi?"
Apa? pria cupu tadi?
Oh hello... kamu juga pria cupu kali Paijo. Tahu diri dong jadi orang.
"Katakan padaku!"
Astaga, aku kaget dengan bentakan keras Paijo kali ini.
"Iya, iya." Pasrahku.
"Iya apa?!" tanya Paijo.
"Iya aku mau menikah denganmu!" Sengaja ku balikkan situasi agar seakan Paijo yang menginginkan pernikahan ini, bukan aku. Jadi aku tidak terkesan murahan. Keren kan? haha.
"Kalau kau berulah lagi, aku tidak akan membantumu! apa kau paham sekarang?!"
Hais... Paijo, Paijo. Kau sungguh keren kali ini. Tidak apa-apa di sangka tak waras akunya, yang penting kau memakan umpanku sekarang.
Nanti satu Minggu menjelang hari pernikahan, kita akan selesaikan kekonyolan ini semua. Untuk sekarang biarlah seperti ini dulu.
Maafkan aku ya Paijo? karena ulahku kamu jadi ikutan Bejo. Hehe.
"Sebenarnya mengapa ibumu menjodohkanmu sama pria bego tadi? apa karena kamu sudah tidak laku lagi?"
"Ha?"
To be continued.
Assalamualaikum. Mohon maaf ya readers baru update. Soalnya kemaren habis ada kedukaan lagi. Jadi gak sempet mengetik. Sampai ketemu nanti sore ya.
Like, komen, vote, dan hadiahnya ya readers.
Happy reading.
__ADS_1