KONSULTAN CINTA

KONSULTAN CINTA
Preeklampsia (Keracunan kehamilan).


__ADS_3

Putri Pov.


Pasca peristiwa malam berdarah, hubunganku dan Paijo sedikit ada perbedaan. Dimana kami lebih sering bersentuhan, walau tak sampai bercumbuan.


Aku yang suka di belai manja, dan dia yang tak suka di goda. Jadi kami klik satu sama lain.


Setiap hari dia mengantar dan menjemputku. Walau tak sampai depan pintu. Namun, ku cukup bersyukur, sebab ku takluk di tangan suamiku.


Mungkin cinta tak harus terucap, rindu tak harus tersampaikan. Namun, bahasa tubuh tak dapat berbohong. Kami saling membutuhkan.


Hari ini banyak pasien yang harus ku tangani. Salah satunya ibu dengan kasus keracunan kehamilan atau dalam bahasa medisnya pre-eklampsia.


Keracunan kehamilan atau yang akrab disebut dengan preeklampsia merupakan salah satu kondisi dalam kehamilan yang tidak bisa dianggap enteng. Hal ini bahkan berisiko dialami oleh setiap ibu hamil.


Jika tidak segera dideteksi sejak awal, keracunan kehamilan bisa membahayakan nyawa janin dan juga ibunya. Preeklampsia biasanya mulai menyerang ibu hamil sejak usia kehamilan 20 minggu ke atas.


Gejala preeklampsia pada tiap perempuan berbeda-beda. Namun tanda umum yang paling mudah terlihat adalah adanya proteinuria (protein tinggi pada urine) dan hipertensi (tekanan darah tinggi).


Nah, apa saja yang bisa menjadi penyebab terjadinya preeklampsia saat hamil?


Pertama, plasenta tidak berkembang dengan baik.


Selama tahap awal kehamilan, pembuluh darah khusus yang bertugas mengantarkan nutrisi ke dalam rahim akan bertumbuh melebar menjadi plasenta. Ketika pembuluh darah ini tidak sepenuhnya berkembang, maka plasenta pun tidak bisa berkembang dengan baik.


Hal ini karena tidak cukupnya asupan nutrisi yang didapat oleh plasenta. Kondisi ini juga bisa menyebabkan terjadinya preeklampsia.

__ADS_1


Meski belum diketahui secara pasti apa penyebab pembuluh darah dan plasenta tidak berkembang dengan baik, namun kemungkinan salah satunya adalah karena faktor genetik.


Kedua, adanya riwayat keluarga.


Seperti disebutkan sebelumnya, genetik memegang peranan penting dalam risiko seorang ibu hamil mengalami preeklampsia.


Apabila ibu punya anggota keluarga yang dulunya pernah mengalami preeklampsia, misalnya ibu atau saudara perempuan, maka risiko ibu untuk juga mengalaminya akan menjadi semakin besar.


Pun demikian, jika pada kehamilan pertama ibu pernah mengalami preeklampsia, berikutnya di kehamilan anak kedua ibu juga berisiko kembali mengalami kondisi tersebut.


Faktor ketiga adalah usia di atas 35 tahun.


Usia ibu saat hamil juga turut berperan pada faktor risiko preeklampsia. Apabila seorang perempuan hamil dengan usia di atas 35 tahun maka lebih besar pula risikonya mengalami preeklampsia.


Namun, masih belum diketahui dengan pasti apa sebenarnya yang menyebabkan faktor usia ibu juga berperan dalam menyebabkan preeklampsia. Diduga kuat hal ini karena faktor kualitas dan kuantitas sel telur yang kian menurun seiring pertambahan usia perempuan.


Tekanan darah menjadi salah satu hal yang berkaitan dengan preeklampsia. Oleh sebab itu, segala sesuatu yang berhubungan dengan tekanan darah tinggi pun dikhawatirkan bisa menjadi penyebab preeklampsia.


Termasuk di antaranya adalah gaya hidup pasif atau jarang olahraga dan hobi mengonsumsi makanan cepat saji. Beberapa pola makan yang diketahui bisa meningkatkan risiko tekanan darah tinggi yakni makan garam berlebihan, kurang minum air putih, makan gorengan dan terlalu sering minum minuman beralkohol.


Faktor kelima, kegemukan.


Perhatikan juga berat badan ibu sebelum dan saat hamil, ya. Kondisi ini juga turut berperan pada risiko preeklampsia.


Obesitas yang terjadi saat indeks massa tubuh berada di atas 25 atau lebih, juga turut meningkatkan risiko terjadinya preeklampsia pada ibu hamil.

__ADS_1


Meski belum jelas apa kaitan antara kegemukan dan preeklampsia, namun kegemukan diduga dapat meningkatkan tekanan darah yang menjadi penyebab preeklampsia.


Faktor keenam, hamil janin anak kembar.


Kehamilan dengan janin kembar juga menjadi salah satu penyebab preeklampsia yang mungkin terjadi. Hal ini karena saat hamil kembar, tubuh Mama biasanya akan melakukan penyesuaian yang lebih kompleks dibandingkan jika hamil janin tunggal.


Jika pada kehamilan janin tunggal preeklampsia biasanya terjadi pada usia di atas 20 minggu, maka pada kehamilan janin kembar kondisi ini mungkin bisa terjadi lebih awal.


Preeklampsia dapat menyebabkan kerusakan jangka panjang pada ginjal dan hati, serta dapat meningkatkan risiko penyakit jantung di kemudian hari.


Ketujuh, adanya penyakit tertentu.


Beberapa jenis penyakit tertentu juga diketahui bisa menjadi penyebab preeklampsia, salah satunya seperti sindrom antifosfolipid atau antiphospolipid syndrome (APS), atau yang disebut juga sindrom Hughes. Sindrom ini adalah gangguan autoimun yang menyebabkan darah jadi mudah membeku dan menggumpal. Kondisi ini biasanya disebut juga sebagai penyakit darah kental.


Pada sindrom antifosfolipid, sistem imun menghasilkan antibodi yang menjadikan darah lebih kental dibanding kondisi normal, sehingga dapat berisiko menimbulkan gumpalan darah di pembuluh darah arteri maupun vena. Gumpalan darah yang terbentuk ini dapat mengakibatkan pengidap sindrom antifosfolipif mengalami preeklampsia.


Oleh sebab itu, jangan anggap enteng pentingnya rutin berkonsultasi dengan dokter dan mencari tahu seperti apa riwayat kesehatan di keluarga.


Itulah tujuh faktor penyebab ibu mengalami keracunan kehamilan atau dalam istilah medis dikenal dengan sebutan preeklampsia. Apabila Anda ingin memprogram anak, maka sebaiknya berkonsultasi ke dokter atau bila memiliki satu atau lebih dari faktor penyebab terjadinya keracunan kehamilan, maka jangan takut untuk memeriksakan diri.


(Dalam part ini author membahas tentang topik keracunan kehamilan. Sebab hal ini biasa terjadi pada ibu hamil di usia tujuh bulan. Berhubung salah satu tokoh utama dalam novel ini adalah seorang dokter kandungan, maka tidak ada salahnya berbagi ilmu pengetahuan. Tidak ada maksud lain dari topik ini. Author hanya sekedar berbagi ilmu dan saling mengingatkan. Sebab author juga pernah mengalami hal demikian, dan rasanya sungguh tak nyaman.)


To be continued.


Sampai ketemu besok lagi ya readers. Mohon maaf di part ini hanya bercerita tentang ilmu kedokteran, walau hanya secuil kisah. Tapi bagiku cukup berharga. Semoga kita selalu dalam lindungan Allah SWT. Aamiin.

__ADS_1


Happy reading.


__ADS_2