
Pagi-pagi sekali diriku sudah mendarat cantik di kursi tugasku.
Yap! rumah sakit.
Aku harus melakukan tindakan operasi Caesar segera pada pasienku yang seharusnya di jadwalkan pukul 09.00 pagi. Namun, karena kondisi pasien semakin kritis, sehingga menyebabkan aku harus bergerak cepat.
Ada dua nyawa yang harus ku selamatkan disini. Lebih tepatnya aku hanyalah perantara, tetapi Allah yang menentukan.
"Marni, siapkan semua peralatan operasi. Ibu ini harus segera di selamatkan. Kondisinya semakin memburuk. Ada racun dalam tubuhnya yang menyebabkan ia kejang-kejang," titahku sambil bergegas menuju ruang operasi.
"Baiklah." Tanpa bertanya lagi, Marni mengikuti instruksiku.
Lalu ku berjalan cepat menuju ruang operasi, dan ku lihat seorang ibu terbaring lemah tak berdaya di atas ranjang bersalin.
Ku periksa denyut nadinya, detak jantung sang bayi, dan terakhir melakukan suntikan anastesi setelah memastikan kondisi sang Ibu aman terkendali.
Selama lima belas menit operasi Caesar berlangsung, dan beruntungnya sang Ibu juga bayinya dapat di selamatkan tepat waktu. Tak kurang satu pun.
Sungguh nikmat Tuhan yang maha dahsyat. Lima belas menit yang lalu sang ibu hampir meregang nyawa berserta bayinya. Namun, sang pencipta membolak-balikan segalanya. Hingga tak satu pun dari kami yang lalai. Semua karena campur tangan Tuhan.
Oe... Oe... Oe...
Suara bayi dengan berat 3,6 kg itu berkumandang nyaring hingga memenuhi ruang operasi.
Suara itu terdengar sangat merdu sekali bagi siapa saja yang mendengarnya.
Seketika hatiku tergerak untuk segera menikah dan memiliki mahluk kecil seperti yang baru saja lahir ini. Cara kerja Tuhan memang tak ada yang bisa menebak.
"Marni, segera bersihkan bayi ini. Aku akan menjahit perut Ibunya," titahku setelah bayi kecil nan mungil itu lahir.
Tanpa bertanya lebih, Marni mengikuti ucapanku dan keluar dari ruang operasi.
Sementara aku masih menggerakkan tanganku selayaknya seorang penjahit ulung.
Tanpa bergetar tanganku terus menyatukan kulit yang tadi ku bela. Dan akhirnya selesai juga.
Peluh sedikit membasahi keningku tanpa permisi, membuatku sedikit risih. Namun, tak menyakiti hati. Sudah tugas dan kewajibanku sebagai seorang dokter kandungan berkompeten.
"Darwis, setelah ini tolong antar pasien di ruang ibu dan anak untuk mendapatkan perawatan disana."
"Alhamdulillah kondisinya baik-baik saja," kataku sembari mencuci tangan.
"Baik, bu."
Pasca operasi Caesar usai, ku kembali ke ruanganku dan melihat jam yang melingkar di pergelangan tanganku. Ternyata waktu baru menunjukkan pukul 08.30 pagi.
Lalu ku sandarkan tubuhku pada kursi kebesaranku seakan sejenak ingin melepas penat.
__ADS_1
"Huff." Hembusan nafasku yang sedikit berat, sedikit melegakan hati seakan melupakan segala beban pikiran.
Masih asik menikmati istirahatku, ku dengar ponselku berdering nyaring menandakan sebuah pesan masuk.
Lalu ku ambil benda pipih itu dan melihat siapakah gerangan kiranya yang pagi-pagi sudah mengirimiku pesan?
Andai saja itu dari seorang pria, mungkin hatiku akan berbunga-bunga. Tapi sayang, sebuah email masuk menghiasi layar ponselku yang berukuran sedang, menjatuhkan semangatku yang tadinya hampir pulih.
Keningku berkerut penuh tanya ketika pesan email itu berupa gambar dena bangunan.
"Apa ini?" gumamku sembari menscrol layar ponsel milikku.
Ada sekitar dua belas gambar yang masuk.
Lalu ku lihat nama pengirimnya.
"Paijo?"
Oh astaga... karena tugas dan kewajiban, aku sampai lupa janjiku pada pria yang bernama Paijo ini.
Matilah aku, bagaimana kalau dia menolak untuk bekerjasama denganku? mana tak banyak ku tahu perusahaan konsultan di kota ini lagi.
Maklum saja, aku tak seberapa gaul untuk yang bukan bidangku. Ini saja Marni yang merekomendasikan Paijo.
"Tapi tunggu, dari mana dia tahu alamat emailku? perasaan kemarin aku tak meninggalkan identitas apapun."
"Ya sudahlah. Gambarnya sudah masuk juga. Ngapain harus berpikir keras lagi?"
Semula ku pikir pria bernama Paijo ini angkuh dan arogan, tapi ternyata dia baik juga.
Sebenarnya aku sudah tidak ingin melanjutkan rencanaku untuk memakai jasanya dalam membangun rumah sakit. Sebab setelah ku pikir-pikir semalam, sepertinya aku tak akan tepat waktu untuk menemui pria itu di kantornya, dan dia juga pasti akan tersinggung, sebab aku tak memenuhi janjiku. Tapi ternyata dia malah mengirimiku gambar desain bangunan lewat email.
Jika ku perhatikan dari caranya bersikap, dia seperti seseorang yang on time dan bertanggung jawab. Itulah sebabnya aku berencana untuk mengurungkan niatku memakai jasanya.
Sebuah email berisi beberapa gambar desain bangunan terpampang jelas di layar ponselku.
Tak sengaja ku tarik kedua sudut bibirku membentuk senyuman aneh disana.
"Apa sebaiknya aku balas saja ya pesan ini?" gumamku sembari menimbang-nimbang apa yang harus aku lakukan.
Lama berpikir, akhirnya aku memutuskan untuk membalas email Paijo yang berbunyi :
"Terimakasih atas kiriman gambarnya. Mohon maaf karena saya tidak bisa menepati janji untuk ke kantor anda. Sebab ada pasien mendesak yang harus melahirkan."
Setelah mengirim pesan itu, ku letakkan kembali ponsel milikku. Dan sedetik kemudian sebuah balasan pesan pun masuk.
"Tidak masalah. Lagi pula saya juga sedang tidak berada di kantor."
__ADS_1
Oh, jadi dia mengirimiku gambar desain bangunan karena sedang tak ada di kantor?
Baguslah kalau begitu. Aku tak perlu merasa bersalah karena tak menepati janji.
**
Author Pov.
Di sebuah lokasi perumahan, seorang pria dan puluhan karyawannya tengah mengerjakan pekerjaan kasar. Salah satunya adalah Paijo.
Ya, Paijo turut serta dalam membantu karyawannya yang tengah mengaduk campuran bahan bangunan, yakni semen dan pasir.
Dia tak malu sama sekali seperti kebanyakan pemimpin lainnya. Padahal jika di pikir-pikir, dia merupakan pemilik perusahaan konstruksi terbesar. Tapi dia tak segan dan malu tuh. Jadi wahai anak muda generasi milenial, jangan sok gengsi dalam bekerja. Sebab gengsi tak akan memberimu makanan.
"Mamat, perbanyak jumlah semennya, atau bangunan ini tak akan berdiri kokoh. Usahakan tiga banding lima," kata Paijo memberi perintah. Namun, tak melepas sekopnya.
"Baik pak," jawab pria yang bernama Mamat itu.
Tak lama suara ponsel Paijo berdering singkat, menandakan adanya pesan masuk.
Dia melepas sekopnya dan mengambil benda pipih miliknya dari saku celana.
Di lihatnya sebuah email masuk.
From: Putri Valeria.
Ternyata pesan itu dari Putri.
Tanpa melanjutkan pekerjaan lagi, Paijo pun berlalu meninggalkan beberapa karyawannya yang masih berada di lokasi perumahan.
"Rupanya kau berhati mulia juga. Aku pikir kau wanita angkuh," gumam Paijo sembari tersenyum manis, seakan melupakan peristiwa tak mengenakan kemarin.
Lalu ia pun membalas pesan singkat itu dan kembali ke kantornya.
Sebenarnya Paijo hanya datang meninjau pekerjaan di lapangan. Sebab pihak perumahan sudah mendesak dirinya untuk menyelesaikan pembangunan itu walau waktunya masih panjang. Tapi bahasa kalbunya tak dapat berbohong. Ia pun dengan suka rela membantu karyawannya disana.
Sebenarnya Paijo di beri waktu tiga bulan masa pembangunan, tapi pihak perumahan mempercepat waktunya karena ada target yang harus mereka capai.
Ya... begitulah bisnis. Harus ada target dan pencapaian. Jika tidak, maka orang tak akan mendapat apa-apa.
To be continued.
Maaf di episode ini masih garing ya gays? tapi sedikit lagi rasa garing itu akan mencair. Hehe.
Jangan lupa like, komen, vote, dan hadiahnya ya readers.
Happy reading.
__ADS_1