KONSULTAN CINTA

KONSULTAN CINTA
Rumah Abah.


__ADS_3

Hari pertama menikah, akhirnya kami memutuskan untuk tinggal di rumah Abah.


Semula ku menolak, sebab ku ingin hidup mandiri. Tapi kata Abah, dia ingin berbagi ilmu di dapur, di kasur, dan di sumur bersamaku.


Entah apa maksud dari tiga istilah Abah itu, ku hanya ngikut saja. Ibarat anak ayam yang patuh pada induknya.


Sementara ibu mertua dengan senang hati melepas putrinya. Bukan karena tak sayang, apa lagi tak cinta. Hanya saja ibu cukup bangga melihat Putri berbakti pada suaminya.


Dan akhirnya disinilah kami sekarang, di rumah Abah.


"Paijo, apa kau sudah menerapkan teori yang Abah ajarkan padamu semalam?" tanya Abah. Dan entah mengapa pertanyaan ini membuat lambungku semakin mules. Ingin muntah rasanya.


Sumpah, ku tak paham apa maksud Abah.


"teori apa, bah?" tanyaku bingung.


"Ya teori disumur, didapur, dan dikasur." Abah mulai menjelaskan.


"Nah, karena sekarang kita sudah ada keran air, maka teori sumur gugur dengan sendirinya."


"Sementara teori dapur, kan ada pembantu. Istrimu pasti bisa belajar pelan-pelan, dan Abah tidak mengwajibkan itu."


"Tapi untuk teori dikasur, khusus yang ini harus! kalian berdua wajib tahu!" Abah sengaja menekan kata harus dan wajib seakan kata itu merupakan ilmu terpenting di dunia ini.


Tapi sumpah ya, ku masih belum memahami apa maksud dan tujuan Abah.


Entah karena otakku yang lemot, atau karena kurangnya pengalaman hidup?


"Abah, sebenarnya apa maksud dari teori ini? aku masih belum mengerti," ucapku sungguh tak paham.


"Kalau kamu belum paham, kamu bisa belajar secara otodidak," jawab Abah, membuatku semakin tak paham.


Apakah teori dikasur bisa lewat otodidak? tapi bagaimana caranya? sumpah ku tak tahu.


Mungkin usiaku terbilang dewasa, tapi pikiranku Sungguh kolot. Semua ajaran teori Abah tak ada yang masuk dalam otakku. Kecuali itu ilmu tentang tehnik sipil, maka akulah juaranya. Hehe.


"Emang ada?" sangsiku.


"Tentu saja ada." Jawaban Abah terlihat sungguh meyakinkan. Apa lagi sorot matanya. Mata itu seperti tak melakukan penipuan.


Merasa tak tertarik dengan teori Abah, akhirnya ku putuskan untuk mengalihkan pembicaraan.


"Baiklah, nanti aku akan belajar. Sekarang aku harus ke kantor dulu. Masih banyak proyek yang harus ku kerjakan." Sengaja ku selipkan alasan pekerjaan dalam pengalihan perhatian Abah. Agar dia tak mengemukakan teorinya lebih jauh lagi. Sebab, jika ku berkata atas nama pekerjaan, maka Abah pasti akan bungkam.


"Baiklah kalau begitu, nanti sore kau pulang cepat supaya Abah mengajarkanmu teorinya secara jelas," terang Abah antusias.

__ADS_1


Abah seperti pria energik yang tak pernah pudar. Semangatnya seakan mengalahkan pejuang 45.


"Baiklah Abah. Nanti aku akan cepat pulang," balasku seakan memberi harapan palsu. Padahal ku niatkan untuk berlama-lama di kantor. Agar Abah tak mengajarkanku teori tak masuk akal itu.


"Oh iya. Itu harus!"


Ku lihat wajah Abah seperti tengah memikirkan sesuatu. Sembari tersenyum aneh, Abah pun bersiul.


"Ada apa sih dengan Abah sebenarnya? apa ibu tak membiarkannya tidur di kamar semalam? aneh!" gumamku.


Lalu ku pamit undur diri untuk ke kamar, menemui Istriku disana.


Entah dia sudah mandi dan berdandan, atau masih berjibaku dengan segudang aktivitasnya semalam.


Ya, semalam Putri menghabiskan waktu bersama pekerjaannya hingga dini hari.


Entah apa yang dia bahas bersama rekan kerjanya melalui Via Zoom. Ku juga tak mau tahu. Sebab itu bukan jurusanku. Biarlah ku beri ia privasi. Agar nanti ku tahu diri, bahwa Putri bukan hanya milikku, tapi juga milik pasiennya.


Ketika ku sampai di kamar, Putri sudah berdandan rapi. Tubuhnya di tutupi jas putih, lambang seorang dokter di negeri ini.


"Kau sudah siap ke kantor?" tanyaku sembari menyeduh teh yang baru saja ku buat di dapur tadi.


"Hmm," jawab Putri seadanya.


"Mau ku antar?" tawarku.


Lagi pula siapa yang peduli dengan penilaiannya terhadapku? toh ku juga tak suka padanya. Apa lagi cinta!


Tapi karena ku rasa memiliki tanggung jawab terhadap dia, maka ku tawarkan saja sebuah jasa. Toh belum tentu dia terima.


"Gak usah!"


Nah, tuh kan? apa aku bilang. Dia menolak.


"Baiklah kalau begitu. Aku juga tidak berniat untuk mengantarmu," ucapku santai sembari duduk di tepi ranjang dan meletakkan cangkir tehku di atas nakas.


"Lalu kenapa kau bertanya?" ucap Putri.


"Aku hanya sekedar menawarkan tumpangan. Kalau tidak mau juga tak masalah." Sekali lagi ku santai menanggapi wanita angkuh ini. Tapi tidak dengan dirinya. Dia cukup sensitif terhadap tiap bait jawabanku.


"Kalau gak niat, gak usah sok menawarkan jasa!" Kali ini ku lihat wajah cantik Putri berubah menjadi seperti nenek lampir. Dia marah terus menerus.


"Aku kan hanya coba-coba saja. Siapa tahu situ mau." Ku masih menyantaikan diri, selayaknya piknik di pantai dekat sini.


"Gak usah sok baik! aku masih bisa jalan sendiri. Lagi pula, aku gak mood jalan sama pria cupu sepertimu!" Entah mengapa kalimat Putri yang satu ini seperti membenarkan dugaanku selama ini, bahwa dia lebih mengutamakan kualitas fisik dibanding kualitas ilmu diri.

__ADS_1


Dan ku seperti terhempas ke dasar lautan api hingga tenggelam dan tak bisa kembali.


Namun, ku masih tetap santai, merasa tak perlu panik seperti di klinik.


"Baiklah kalau begitu. Selamat jalan dan selamat bertugas," ucapku tulus.


"Oh iya. Kau boleh gunakan mobilku. Karena mobilmu masih di rumah ibu," lanjutku.


Lalu kemudian Putri mengulurkan tangannya padaku, membuat keningku berkerut.


Dia mau apa? mau minta duit bensin? tapi kemarin aku baru saja isi sampai full. Apakah itu artinya duit untuk jajan?


Oke baiklah, aku akan memberinya duit. Sebagai suami, ku harus bertanggung jawab penuh.


Lalu ku buka laci nakas, dan mengambil dompetku disana.


Ku tarik sepuluh lembar uang merah, dan ku berikan padanya.


"Ini duitnya, untuk jajanmu," ucapku sembari menyodorkan uang tadi.


Ku sudah seperti seorang Ayah yang memberi duit jajan pada putrinya. Haha


"Aku tidak butuh duit ini!" ujar Putri seraya mengembalikan duit tadi.


Lah, kalau dia tidak mau duit, lalu dia mau apa dariku? bukankah tadi dia menginginkan sesuatu?


"Lalu kau mau apa? mau duit beserta dompet ini?" tanyaku bingung. Namun, Putri tak menjawabku. Dia hanya berdecak kesal sebab akan tanggapanku.


Lalu kemudian, Putri meraih tanganku yang memegang dompet dan mencium punggung tangan itu sembari berkata, "Aku mau salim."


Oh, jadi dia mau salim padaku? mengapa aku tidak tahu?


Rupanya dia gadis peka dan Solehah juga ya? tangan suami di cium sebelum bekerja.


Oke fix! ku buang jauh-jauh penilaianku tentangnya yang semula ku anggap dia gadis pecinta fisik semata. Tapi... ah, sudahlah.


"Aku berangkat dulu," pamit Putri akhirnya.


Dan ku masih diam membisu menatap bekas kecupan Putri ditanganku.


Lalu ku tarik kedua sudut bibirku membentuk senyuman kebahagiaan disana.


To be continued.


Like, komen, vote dan hadiahnya ya readers.

__ADS_1


Happy reading.


__ADS_2