
Putri Pov.
Ku duduk diam dan kaku di atas kursi bersama pria yang lima belas menit lalu ku akui sebagai kekasihku, dan lucunya lagi, dia masuk dalam sandiwaraku. Dengan tegas dia mengaku sebagai calon suamiku. Sungguh berani. Pikirku.
Akhirnya ibu membawa kami masuk ke dalam rumah setelah drama rengekan Memet sang pria cupu usai. Dan jadilah sekarang kami seperti ini. Duduk diam di tengah-tengah tatapan selidik keluarga.
Ada Kak Alka, Ibu, Sakila, Veri, Aldi, dan juga Herlina, lalu di susul Reina serta anaknya. Tapi ternyata Reina sudah saling mengenal dengan Paijo dan mereka pun tampak sangat akrab sekali.
Entah mengapa ketika melihat kedekatan Paijo dan Reina, hatiku seperti terasa nyeri. Tapi aku berhasil menampiknya. Lagi pula, kenapa aku harus merasa terganggu dengan kehadiran Reina di antara kami? ini sungguh tak masuk akal.
Tapi tunggu, Reina dan Paijo sudah saling kenal sebelumnya. Apakah itu artinya Paijo yang di maksud Reina dulu adalah Paijo yang ini?
Oh astaga... mati aku. Aku seperti sudah menjilat ludahku sendiri.
Dulu ku hina dia, bahkan menolaknya sebelum bertemu. Dan sekarang dia ku jadikan sebagai calon suamiku. Sungguh memalukan.
Mengapa harus Paijo yang ini sih? aku kan jadi malu sendiri sama Reina.
Belum lagi wanita itu seperti sedang menahan tawa ejekan.
Hais... benar-benar memalukan!
Ibu meminta kami untuk menikah bulan depan. Jujur saja, pernyataan ibu membuatku cukup tercengang, walau sudah tahu resiko apa yang akan terjadi sejak awal. Tapi aku tak boleh menikah begitu saja dengan Paijo ini. Aku harus bernegosiasi dengannya terlebih dahulu.
Akhirnya aku pun membawanya ke taman belakang rumah. Tapi, bukannya menyelesaikan masalah, dia justru berulah, membuatku semakin kesal.
Rupanya pria ini tak bisa di remehkan. Penampilannya memang cupu dan culun, tapi egonya lumayan tinggi.
Aku memang menyukai tipe pria yang menjunjung tinggi harga dirinya, tapi please deh, jangan Paijo ini.
Belum lagi tatapannya yang seperti ingin mengerjaiku. Ku tanya tentang kebohongannya mengenai kata I love you, eh dia malah menjawabku I love you to.
Hampir saja aku baper. Tapi, meski tak jadi baper, tetap saja wajahku bersemu merah. Sebab tiga kata itu ku anggap sakral dalam hidupku. Karena belum pernah ada yang menyatakan tiga kata itu padaku.
Ya... meskipun terkesan bercanda, tapi tetap saja tiga kata tadi keluar dari bibir Paijo, pria yang akan menjadi suamiku. Dan yang paling penting adalah kata itu tertuju padaku.
Seperti ada gumpalan besar di dalam sana yang tengah berdenyut. Rasanya sungguh aneh.
Ingin marah, tapi tak kena. Ingin berteriak, tapi tak beralasan. Sungguh menyebalkan!
"Jadi bagaimana? apa keputusanmu?" tanyaku sedikit ketus.
__ADS_1
"Terserah padamu saja."
Oh halo...
Disini bukan cuma aku yang menjadi mempelai pengantinnya, tapi ada dia juga. Haruskah aku memutuskan sendiri? dasar pria aneh!
"Kenapa harus terserah padaku? kan kita berdua yang menikah, bukan cuma aku saja!" Sengaja ku ketuskan lagi kalimatku, agar ia tahu, bahwa aku sedang tak main-main.
"Biasanya, orang kalau memiliki kesalahan, pertama-tama yang harus di lakukan adalah meminta maaf terlebih dahulu. Bukannya malas bertingkah! atau jangan-jangan kau tidak merasa bersalah sama sekali?"
Hais... Paijo ini bikin hatiku tersentil. Memang benar sih aku yang salah disini. Seharusnya aku meminta maaf padanya. Dasar payah aku ini.
"Iya deh. Maaf," ucapku akhirnya tanpa melihat wajah Paijo.
"Yang tulus!"
What the hell!
Haruskah Paijo memintaku untuk mempertegas kalimatku? ini benar-benar membuatku kapok dalam berbohong.
Aku pikir dia bisa ku manfaatkan, tapi ternyata dia sulit untuk di lumpuhkan.
"Gadis pintar." Paijo mengusap rambutku dan membuatnya berantakan.
Tuh kan, aku jadi jelek. Kesel deh!
"Ih! jangan sentuh kepalaku!" larangku tak suka.
"Jangan belagu! kalau kita menikah juga seluruh tubuhmu akan ku sentuh!"
Oh my God...
Ternyata Paijo adalah pria mesum.. Sungguh menakutkan.
Lalu kemudian Paijo memasang wajah serius. Kali ini dia seperti sedang memikirkan bagaimana cara menjelaskan pada keluarga tentang kesalahan pahaman yang terjadi.
"Kita harus tetap menikah!" kata Paijo datar, tapi penuh penekanan, membuatku naik pitam.
Betapa tidak, bukannya memberi solusi, dia justru memperparah situasi.
"Apa kau bilang? kita harus menikah? apa kau sudah gila?" seruku tak terima.
__ADS_1
"Terus, menurutmu apa yang harus aku lakukan? apakah kau ingin aku membongkar kebohonganmu di depan keluarga?"
"Tidakkah kau dapat melihat betapa mereka sangat mempercayai kita?"
"Tidakkah kau pikirkan bagaimana perasaan mereka ketika tahu hubungan kita hanyalah sebuah sandiwara belaka?"
"Mereka akan hancur! apa kau paham?!"
He?
Mengapa Paijo jadi perhatian pada keluargaku? dia sungguh memikirkan bagaimana hancurnya hati ibu ketika tahu, bahwa kami tak sedekat itu.
Seketika aku merasa, bahwa Paijo merupakan pria bertanggung jawab dan memegangi teguh prinsipnya.
Jarang sekali ada pria seperti Paijo ini. Penampilannya memang culun dan cupu, tapi jika berbicara tentang harga diri, dia juaranya.
Hais... mengapa aku jadi memuji pria ini? aku pasti sudah gila.
"Lalu aku harus bagaimana?"
"Apakah kau bersedia untuk menikah denganku?" tanyaku ragu-ragu.
"Menurutmu?"
Hais... mengapa dia malah mengajukan pertanyaan? jawab saja napa?
"Ya mana ku tahu!" jawabku ketus.
Tak lama kami terdiam sejenak, memikirkan solusi apa yang harus kami putuskan. Dan akhirnya Paijo kembali berkata yang membuatku semakin tercengang.
"Kita akan menikah!"
"Ha?"
To be continued.
Assalamualaikum. Mohon maaf di part ini agak pendek ya readers? sebab author sedang terburu-buru karena ada urusan penting.
Sampai ketemu besok lagi ya?
Happy reading.
__ADS_1