
Paijo Pov.
Ku tersenyum lucu ketika memandang wajah Putri yang tiba-tiba menjadi serius saat ku katakan mundur untuk menikahinya.
Dia menjadi tegang tidak karuan. Baru saja ia percaya diri, bahwa aku lah yang menginginkan pernikahan ini, tapi nyatanya dia yang membutuhkanku. Akhirnya dia termakan juga dengan sandiwara ini.
Sungguh konyol. Apakah dia setakut itu kehilangan diriku? hahaha. Dasar wanita sombong!
"Ehem! jangan mengada-ada! aku tidak menginginkan dirimu untuk menjadi suamiku!" Putri masih membantah tuduhanku. Padahal kenyataannya dia yang menginginkan pernikahan ini.
Sembari tersenyum mengejek, aku pun mengiyakan ucapannya, "Iya, iya aku yang menginginkan pernikahan ini. Pufff." Ku tahan tawaku ketika melihat wajah lucu Putri.
Dia memang cantik, dan ku akui itu. Tapi terkadang otaknya sedikit bergeser. Haha.
"Sudahlah! jadi bagaimana? apakah kau siap memberitahu ibuku, bahwa kita akan menikah?" Pertanyaan Putri seperti terkesan memaksa. Sebenarnya aku bukan tipe pria yang suka di paksa, tapi karena kasihan, aku pun pasrah menerima kenyataan.
"Iya, kita akan menikah."
"Aku bukan tipe pria yang suka membolak-balikan kata. Aku memegang teguh prinsipku, kendati harus menikahi wanita aneh sepertimu!" Sengaja ku ejek dia, agar dapat ku nikmati wajahnya yang lucu itu. Sebab wajahnya akan semakin lucu ketika marah.
"Is, kamu ini!" kesal Putri.
Tuh kan? dia semakin lucu saja? apa lagi bibirnya yang di buat manyun, sungguh menggemaskan!
Hei?? mengapa aku jadi memandangnya sebagai wanita? Ais..., aku pasti sudah gila.
"Ayo kita masuk ke dalam, dan memberitahu mereka, bahwa kita siap untuk menikah," ajakku mengakhiri perdebatan itu.
Ku lihat wajah Putri berubah menjadi sendu. Ia seperti pasrah menerima kenyataan yang ia sendiri tidak tahu akan berakhir seperti ini.
Aku memahami kekhawatiran Putri. Tentu saja tak mudah baginya untuk menikahi pria asing sepertiku, walau aku bukanlah pria bejat. Tapi ku sematkan janji tulus dalam hati, bahwa aku tidak akan pernah menyia-nyiakan dirinya. Kendati pernikahan ini terkesan sungguhan atau khayalan.
Tak masalah bagiku, yang terpenting aku sudah membantunya untuk keluar dari masalahnya sendiri.
"Tenanglah, aku tidak akan menyakitimu. Kau bebas menentukan pilihan serta jalanmu. Jika kau tidak menginginkan pernikahan ini, aku siap untuk mundur, tapi jika kau tetap ingin maju, maka aku akan memegang teguh ucapanku padamu dan juga keluarga ini," terangku berusaha untuk menenangkan Putri yang tampak ragu.
__ADS_1
Author Pov.
Mendengar ucapan Paijo, entah mengapa hati Putri menghangat. Dia percaya begitu saja pada ucapan Paijo yang sungguh-sungguh. Walau ada sedikit keraguan dalam hatinya. Tapi tak sebesar keyakinannya.
"Baiklah. Aku siap!" jawab Putri mantap. Akhirnya dua insan yang masih terbilang asing itu, masuk ke dalam rumah setelah lama berdebat.
Baik Paijo maupun Putri, keduanya tampak santai. Namun, ketegangan kembali terjadi ketika ruang tamu di rasa seperti ruang sidang. Dimana seluruh anggota keluarga masih tetap ada dalam ruangan besar tersebut.
Semuanya menantikan kehadiran Paijo dan Putri, dan mata mereka pun langsung tertuju pada dua orang yang baru saja masuk itu.
"Apa kalian sudah selesai berunding?" tanya Ibu Putri.
"Tawar menawar kali, bu," tambah Alka seakan menggoda adiknya.
"Susun rencana." Kali ini Reina yang berbicara.
"Apa kalian tidak bisa sabar?" sungut Putri. Lalu kemudian wanita itu beserta calon suaminya, Paijo duduk berdampingan di kursi sofa menghadap ibu.
"Jadi, apa keputusan kalian?" tanya Ibu tak sabar.
Sebelum menjawab pertanyaan itu, Putri dan Paijo saling memandang, lalu kemudian mereka kembali menghadap Ibu.
Semua yang ada disitu tersenyum bahagia, terutama ibu. Wanita tua itu tak henti-hentinya mengucap syukur dalam hati, sebab anak gadis satu-satunya akhirnya mau menikah juga.
"Benarkah itu?" tanya ibu haru.
"Tentu saja benar, bu. Kami siap untuk menikah. Sekarang ibu tidak perlu khawatir lagi. Akan ada yang menjaga Putri di mulai dari sekarang," tutur Paijo sungguh-sungguh.
Mata Putri kembali tertuju pada pria yang akan menjadi calon suaminya itu. Dia merasa tertegun ketika mendengar kalimat yang tak di sangkanya akan keluar dari orang asing seperti Paijo.
Benarkah pria ini akan menjaga Putri sampai akhir nanti? apakah pernikahan ini benar-benar akan terjadi? jika memang hanya sebuah sandiwara, mengapa Paijo berani mengumbar janji? tidakkah dia sudah berlebihan disini? pikir Putri.
"Terimakasih nak. Akhirnya ada juga yang menjaga putri ibu. Selama ini aku khawatir kalau dia tidak akan pernah menikah. Dia lebih memilih untuk mengembangkan karirnya di banding harus berumah tangga," lirih ibu.
Paijo tersenyum akan kekhawatiran calon ibu mertuanya itu.
__ADS_1
"Sekarang ibu tidak perlu mencemaskan Putri. Dia tanggung jawabku sekarang," balas Paijo sungguh-sungguh.
"Wah, Putri. Akhirnya pria ini berhasil menghapus status jomlomu yang sejak lahir. Haha." Kali ini Alka yang berbicara. Pria paruh baya berkacamata itu tak mau ketinggalan momen bahagia adiknya, meski dengan sedikit godaan garing.
"Is, Kakak ini. Aku tidak jomblo sejak lahir!" bantah Putri.
"Iya tidak sejak lahir, tapi sejak lima belas tahun yang lalu. Hahaha." Ketawa jahat Alka sungguh menggema hingga memenuhi ruangan tersebut. Dimana semua orang sudah pasti terganggu.
"Kak Alka juga jomblo sejak dulu. Untung Sakila mau menerima Om-om seperti Kakak. We...," balas Putri tak mau kalah. Wanita yang berprofesi sebagai dokter itu memajukan lidahnya seakan mengejek sang Kakak.
"Aku Om-om tampan loh. Sedangkan kamu perawan tua. Hahaha." Alka sungguh keterlaluan. Dia menghina adiknya di depan calon iparnya sendiri, membuat ibu naik pitam dan memukul kepala pria tersebut.
Plak!
"Aaakk--" pekik Alka sembari memegang kepalanya yang terasa sakit.
"Apa kau tidak bisa diam sedikit saja? kau ini sungguh membuat adikmu malu!" bisik ibu ke telinga Alka, namun masih bisa di dengar oleh Paijo.
Pria itu akhirnya menahan tawa, merasa lucu akan keluarga Prayoga. Betapa tidak, Paijo mengira Alka yang memiliki garis wajah dingin, siapa sangka mempunyai selera humor yang begitu tinggi.
"Aku hanya menggodanya saja, bu. Kenapa ibu malah memukul kepalaku?" sungut Alka.
"Itu karena kamu sudah keterlaluan! bikin malu saja!" kesal ibu.
Merasa dirinya terpojokkan, Alka beralih pada Sakila, berharap mendapat pembelaan. Namun, sayang seribu sayang, wanita muda itu justru mendukung ibu mertuanya.
"Emang enak? siapa suru jadi pria usil? sekarang rasakan itu!" kata Sakila sembari tersenyum mengejek, membuat Alka semakin kesal.
"Iya baiklah. Aku yang salah. Jadi rencananya kapan kalian menikah?" Kali ini Alka berubah jadi serius. Tak ada candaan dalam nada pertanyaannya.
"Aku masih harus memperkenalkan Putri kepada keluargaku dulu. Setelah itu barulah kami memutuskan kapan pernikahan itu akan berlangsung," jawab Paijo.
"Ha? bertemu keluarga Paijo? apakah itu artinya pernikahan ini sungguhan? mampus aku!" batin Putri tak percaya.
To be continued.
__ADS_1
Like, komen, vote, dan hadiahnya ya readers.
Happy reading.