
Hari ini kembali ku di jemput suamiku. Seperti biasa, dia tak berdiri di depan pintu. Namun, satu yang membuat otakku lumpuh, ku di tanya oleh dokter baru.
"Selamat sore nona Putri," tanya dokter baru itu, yang bernama Priawan dan sering ku sapa Awan.
"Sore juga," balasku ramah, seakan mengabaikan suamiku yang disana.
"Apakah nona dokter ingin pulang?" tanya Awan sekali lagi.
Jika di lihat dari lagaknya, dokter ini seperti menaruh rasa padaku. Tapi mungkin hanya sekedar perasaanku saja, sebab Awan memang orangnya ramah.
"Iya," jawabku seadanya.
"Apakah nona dokter membawa kendaraan?" Pertanyaan kali ini membuatku semakin penasaran.
Apakah dia berencana mengantarku pulang?
"Memangnya kenapa? apakah kau ingin mengantarku pulang?" tanyaku berniat menguji. Namun ternyata dia memang patut di puji. Sebab memiliki niat baik dan tulus terhadap seorang wanita. Tapi sayang, ku sudah ada yang punya. Hahaha.
"Jika nona dokter berkenan, maka aku siap untuk mengantar anda pulang."
Nah, tuh kan benar? dia berniat untuk mengantarku pulang?
Dasar pria. Tidak bisa di percaya. Dia seperti seseorang yang baik, tapi ku tak suka gayanya yang terkesan blak-blakan. Aku lebih suka yang sedikit arogan. Sebab rasanya lebih menantang. Asik...
Belum juga ku jawab dokter Awan, Paijo lebih dulu berdiri di dekatku dan bertanya apakah aku belum ingin pulang.
Sumpah mati, Paijo membuatku hendak jantungan. Sebab dia muncul seperti setan gentayangan tanpa undangan.
Memang tadi ku lihat dia di mobil, tapi tak berselang lama, dia sudah berdiri di sisiku seperti hantu.
"Apa kau lebih suka berdiri disini?" tanya Paijo datar. Tapi entah mengapa nadanya seperti ada penekanan ya? apakah itu artinya dia sedang marah?
"Nona dokter, apakah dia sopir anda?"
Sumpah! pertanyaan Awan kali ini menggelitik hati.
Ku ingin tertawa lepas, namun ku takut ketahuan. Akhirnya ku putuskan tuk melakukan kebohongan. Dengan niat, ingin tahu bagaimana reaksi seorang Paijo Londo ketika menjadi pria cemburuan.
"Iya, dia sopirku," jawabku bohong sembari menahan tawa.
Dapat ku lihat dengan jelas wajah tak suka Paijo. Dia menatapku tajam, seakan ingin menerkamku dalam dekapan.
"Oh, jadi nona dokter ada sopir yang menjemput nona?" tanya Awan.
Ku kerutkan kening, merasa heran atas pertanyaan barusan.
"Memangnya kenapa?" tanyaku.
"Hehe, tidak apa-apa nona. Hanya saja, kalau nona dokter tidak ada sopir, aku siap mengantar anda pulang kok."
Duar!
Kali ini tepat sasaran. Paijo semakin kegeraman.
Dia menggenggam tangan sembari mengeratkan rahang. Seperti hendak melayangkan pukulan.
"Ah, iya. Aku juga siap di antar oleh dokter. Hanya saja saat ini tidak bisa. Masalahnya ada sopir. Mungkin lain waktu saja ya?" Sengaja ku katakan kalimat pancingan, agar Paijo semakin kelimpungan. Sebab ku suka dia menjadi pria cemburuan. Agar kita bisa cinta-cintaan.
__ADS_1
Hais... Putri... Putri. Sepertinya kau benar-benar jatuh cinta pada suami cupumu ini.
"Baiklah kalau begitu, saya permisi nona dokter. Sampai ketemu besok," pamit dokter Awan.
"Baik dokter," balasku.
Seperti yang belum di ketahui dokter Awan, bahwa aku telah menikah. Jadi, dia tak memiliki salah disini. Tapi akulah biang keroknya.
Ku suka cari gara-gara, sebab itu ampuh menimbulkan rasa. Dengan demikian, aku bisa bermanja ria bersama Paijoku tercinta.
Hahahaide!
"Jadi aku seorang sopir?" Kali ini Paijo bersuara.
Dia menatapku tajam.
"Hehe. Aku hanya bercanda saja. Jangan di ambil hati," elakku.
"Habis penampilanmu persis seperti sopir taksi. Keren dikit kek. Supaya aku lebih percaya diri mengakuimu sebagai suamiku!" Alasan klasik. Namun, sukses menggigit. Paijo lebih sering agresif.
"Nanti kalau aku berpenampilan menarik dan tampan, kau akan menyesal!" seru Paijo percaya diri.
"Kenapa memangnya? apakah wajahmu akan berubah seperti Shahrukh Khan kalau sudah berdandan?"
"Yang ada nanti kau seperti pria kekurangan bahan. Hahaha," ejeku sembari tertawa lepas.
"Kita lihat saja nanti!"
"Jangan salahkan aku jika banyak wanita yang menggilaiku jika ku ubah penampilanku!"
"Jangan remehkan pria cupu sepertiku, atau kau akan menyesal seumur hidup!"
Hais... aku jadi ketakutan.
Sumpah, ku takut kehilangan. Padahal dulu ku hina dia seperti pria kampuan.
"Kau ini bicara apa? aku kan hanya bercanda saja," ucapku sedikit takut.
Sengaja ku rangkul tangannya, agar ia luluh dan tak marah. Namun, alih-alih memaafkan, dia justru mengabaikan.
"Lepaskan tanganku!"
"Kau pergilah bersama dokter tampanmu tadi!"
"Aku juga ingin menjemput wanitaku!"
Ngek???
Wanitaku? apakah Paijo memiliki wanita lain selain diriku? apakah dia berselingkuh di belakangku?
"Apa kau berselingkuh?" tanyaku geram.
Sumpah, ku tak bisa tahan dengan adanya perselingkuhan.
"Apa aku berkata begitu?" kata Paijo
"Jangan mengalihkan pembicaraan!" Kali ini ku benar-benar marah. Walau semula aku yang salah. Tapi tak ku sangka dia bermain kata, membuat hatiku lelah.
__ADS_1
"Aku tidak sedang mengalihkan pembicaraan. Bukankah sekarang aku menjemput wanitaku?" ujar Paijo sembari tersenyum usil di iringi dengan kedipan sebelah mata.
Hais... rupanya dia sedang mengerjaiku. Padahal semula aku yang berniat membuatnya cemburu. Eh, tahu-tahunya aku yang menjadi wanita cemburuan. Ini namanya senjata makan tuan.
"Lihatlah, siapa yang cemburuan sekarang?"
Ha?
Jadi Paijo sudah tahu niatku sejak awal? tapi kenapa mimiknya seperti menunjukkan cemburu ya? Paijo benar-benar pria susah di tebak.
"Sangat kentara ya?" tanyaku malu-malu.
"Tentu saja sangat jelas!"
"Matamu tak dapat membohongiku. Mungkin kau cerdas dalam urusan kedokteran, tapi aku ahli dalam pengalihan perhatian," balas Paijo sembari mengedipkan sebelah matanya.
Walau mata itu di baluti kacamata besar, namun dapat ku lihat warnanya.
Warna mata itu mencerminkan kecerdasan.
Ya, Paijo merupakan pria cerdas yang pernah ku temui. Dia mampu membolak-balikan otakku yang sering angkuh.
Sementara ku selalu kalah, dan tak pernah menang. Namun, dia selalu menjadi pria tenang, walau telah menjadi pemenang.
Paijo Pov.
Enak saja Putri ingin ku cemburu.
Dia memang tak mengatakan apapun padaku. Tapi dari lagaknya, dia seperti sedang mengujiku.
Semula ku memang marah, sebab tak suka Putri dekat bersama seorang pria. Namun, setelah ku turun dan mendekati mereka, entah mengapa auranya seperti berbeda.
Apakah Putri sedang mengujiku sekarang?
Ok fix!
Ku ikuti apa kata tokoh figuran.
Lalu sengaja ku pasang wajah cemburuan, agar Putri merasa senang. Padahal sebenarnya ku sama sekali tak merasa kegeraman.
Biarkan dia merasa berada di atas awan. Setelah ini akan ku balikan keadaan.
Dan.... bingo!
Ku berhasil membalikkan posisi, yang semula ku di bawah, kini menduduki tingkat dewa.
Putri cemburu!
Walau tak berkata demikian, tapi sikapnya yang posesif menjadi salah satu acuan tuk berpikir, bahwa ia merupakan wanita cemburuan.
Dan lihatlah, siapa yang cemburu sekarang? Putri bukan?
Lalu ku balikkan badan, dan menarik salah satu sudut bibirku, membentuk senyuman penuh kemenangan.
To be continued.
Like, komen, vote, dan hadiahnya ya readers.
__ADS_1
Happy reading.