
Paijo Pov.
Sungguh ku pahami perasaan Putri yang tengah resah akan diriku. Rupanya istriku ini perlahan mulai khawatir dengan kondisiku yang sedang menghadapi situasi pelik akan bisnisku.
Semula ku pikir hanya satu oknum tak bertanggung jawab yang mengelabuiku dalam proses pembangunan wisma Anggoro. Namun, ternyata lebih dari satu orang.
Anehnya, orang itu tak meninggalkan jejak. Hingga dia sulit untuk ku lacak. Joko, karyawan teladan yang ku anggap sebagai keluarga, yang notabenenya memiliki kemampuan dan pengalaman mumpuni dalam menjejaki seseorang, nyatanya mampu ia taklukkan.
Entah siapa oknum itu, yang pasti disini aku kewalahan.
Pun sebaliknya, dia dengan cekatan mengelabui kami. Memporak-porandakan perusahaan yang ku bangun dengan susah payah.
Dari perusahaan itu banyak karyawan menggantungkan hidupnya disana. Memberi makan anak istrinya. Bahkan tak jarang memberangkatkan haji ibu bapaknya.
Aku sengaja merekrut semua orang yang membullyingku dulu untuk mengangkat harkat dan martabat mereka. Sebab, rata-rata orang yang membullyingku dulu memiliki kehidupan jauh dari kata layak.
Mereka hanya sok keren di depan orang-orangnya banyak. Terutama manusia cupu sepertiku, agar di anggap berkuasa. Nyatanya mereka bukanlah siapa-siapa.
Disitulah hatiku tergerak untuk mengubah pola pikir yang menurutku sangat kuno dan kampungan mereka. Membullying dan merendahkan hidup orang lain sungguh bukan perbuatan terpuji dimana mahluk yang bernama manusia, apa lagi Tuhan.
Sebagian besar orang memandang diriku kampungan dan rendahan hanya karena penampilanku yang culun dan tampak norak. Sangat jarang orang menilai manusia berdasarkan nurani dan kredibilitas. Kalaupun ada, maka itu tergolong langkah. hanya tiga persen dari seratus persen populasi manusia di bumi ini.
Kali ini ku masuk dalam kubangan kebimbangan, merasa tak berdaya menghadapi tantangan dari balik sosok misterius yang entah dimana keberadaannya.
Beruntungnya ku masih memiliki wanita yang beberapa bulan ini menemani dan menghiasi retina serta hariku.
Dia, Putri Valeria Prayoga. Sang gadis angkuh yang berhasil ku taklukkan dengan penampilan culunku. Pertahanannya roboh dengan sekali dekapan hangat dan kenyamanan yang ku tawarkan. Walau tak jarang dia masih menyebalkan.
Namun, sikapnya itu justru menjadi bahan tuk mengukir tawa dalam hariku. Dia selalu sukses membuatku menarik kedua sudut bibirku tuk membentuk berbagai macam jenis senyuman.
Putri merupakan potret wanita tangguh ditengah kerasnya kehidupan. Walau sejujurnya dia bukan berasal dari kalangan menengah kebawah. Melainkan seorang gadis modis bergaya internasional, namun berlabel pedesaan.
Ya, Putri merupakan gadis melenial. Namun, tak melupakan norma-norma kehidupan. Sungguh langkah gadis seperti dia.
Semula ku pikir sikapnya yang angkuh merupakan sebuah turunan karena merupakan dari kalangan pejabat. Namun, rupanya sikap angkuh yang ia pelihara, dikarenakan tak ingin mahluk yang bernama manusia berjenis kelamin pria merendahkan dirinya. Itulah mengapa dia memelihara sikap angkuh dan arogan. Tapi nyatanya Putri hanyalah gadis biasa yang memiliki hati mulia.
Terbukti dari setiap pengakuan pasien yang diam-diam ku interogasi demi mengetahui siapa sebenarnya istriku ini. Maklum saja, kami menikah bukan berdasarkan cinta, melainkan karena kesalahpahaman.
**
Kini ku masih berkubang dalam kamar yang di baluti selimut tebal. Ditemani istriku yang setia.
__ADS_1
"Apa kau tidak ingin berangkat ke kantor? ini sudah jam delapan pagi." Perkataan Putri tak membuatku beranjak. Padahal waktu sudah menunjukkan hampir siang. Bahkan mentari sudah menampakkan sinarnya sedari tadi, seakan ingin menyapa kami.
"Aku masih nyaman dalam posisi seperti ini." Ku masih memejamkan mata, seakan enggan melihat dunia.
Sejujurnya hatiku masih gundah, memikirkan bagaimana nasib karyawanku yang tengah di pertaruhkan saat ini.
Ingin ku bercerita segala keluh kesahku pada Putri, namun bayangan kesibukan dan beban kerja yang memenuhi padatnya jadwal Putri, membuatku mengurungkan niat.
Dia pun seperti memahami kondisiku yang tengah gundah. itulah sebabnya dia bertanya. Namun, sebisa mungkin ku tutup rapat semua agar terlihat baik-baik saja.
Ku tahu Putri dapat merasakan betapa aku sangat gelisah saat ini. Namun, sebagai wanita berakal, dia tak mau memaksakan kehendak tuk membuatku bercerita. Dia hanya menginterupsiku, bahwa apapun yang terjadi dia tetap akan berada disisiku.
Sungguh ku terenyuh akan pengakuan wanita angkuh di depanku ini. Dia yang semula ku pikir kekanak-kanakan, justru mumpuni dalam mengartikan isi hatiku.
Dalam tatapan yang di paksakan, ku bisa menangkap sebuah mimik penghiburan. Putri tengah berusaha melawan rasa antara ingin beranjak pergi atau tetap berdiri disisiku dan menghibur diriku yang resah.
Dia pun memilih tuk tetap bersamaku dengan gayanya yang baru dan tergolong cukup berani. Untuk pertama kalinya dia mengajakku bergulat didalam kamar mandi. Walau sejujurnya dia juga ragu.
Keraguan itu dapat ku lihat dari sorot matanya yang menatap ragu bathup. Namun, dalam seperti sekian menit, Putri menjawabku mantap.
"Aku yakin!" Kemudian Putri memulai permainan dengan mendaratkan ciuman dibibirku yang masih berbau air liur yang memiliki enzim busuk. Namun, sepertinya dia tak berniat tuk mengubah pendiriannya yang ingin membuatku nyaman dan terhibur.
Merasa terpancing, akhirnya ku tuntun dia tuk masuk kedalam bathub dan melakukannya disana.
Terlebih lagi hormon di pagi hari masih mendominasi libidoku yang berada di ubun-ubun.
Walau harus menahan sakit pinggang, namun tetap ku jalankan kewajiban. Membuat Putri hidup dalam kenyamanan. Walau sejatinya perasaanku terbagi dua. Antara ku dirumah dan di kantor.
Bayang-bayang kebangkrutan perusahaan seolah bermain di ujung netraku yang terasa panas akibat dari permainan Putri yang terasa nikmat.
Kali ini ku tak begitu berkonsentrasi. Menyadari betapa rumitnya kasusku kali ini.
Tapi ku masih bergerak naik-turun secara teratur. Sehingga menciptakan gelembung air di atas bathup tempat kami melakukannya. Sebisa mungkin ku harus menutupi hasratku yang tak seberapa membuncah, sebab sekali lagi benakku terbagi dua.
Lalu ku merasa libidoku seperti hendak tersalurkan, mengeluarkan cairan putih ke dalam rahim Istriku.
Pun dalam waktu bersamaan, Putri merasakan hal serupa. Dimana dia juga mengejang hebat manakala hasratnya tersalurkan. Seakan Sel telur dan spermaku berlomba tuk beradu kecepatan membentuk suatu gumpalan darah dan menjadi manusia.
Lalu kemudian,
"Paijo..." Putri mendesahkan namaku sembari ambruk dalam dekapanku. Kemudian ku ucap kata terimakasih atas usahanya dalam menghiburku. Walau sejujurnya ku tak butuh bercinta saat ini. Tapi aku sangat menghargai usaha Istriku yang selalu berniat mulia. Itulah sebabnya ku tak segan tuk mengumbar kata terimakasih. Kalimat yang sulit ku lontarkan untuk manusia munafik yang semula datang padaku dan menyuguhkan proyek murahan. Namun, nyatakan dia pergi tanpa jejak. Hingga membuat jiwa karyawanku bagai hidup dalam kungkungan kemelaratan.
__ADS_1
**
Di perusahaan tempat ku dirikan beberapa tahun silam. Tempat dimana banyak manusia yang ku pungut di pinggir jalan meraup pundi-pundi uang.
Disini, di ujung ruangan yang terpampang sebuah jendela. Dari balik jendela itu, dapat kulihat sebagian besar karyawanku bekerja keras. Ada yang tertawa lepas, dan ada pula yang berdebat siapa yang lebih dulu memegang sekop dan semen.
Semua dapat ku lihat wajah itu dengan jelas dari ruangan kebesaranku.
"Joko, lihatlah mereka yang ada disana. Mereka tersenyum cerah tanpa tahu, bahwa senyuman itu sebentar lagi akan sirna ketika mengetahui fakta, bahwa perusahaan ini telah mengalami kerugian."
"Bagaimana kita akan membayar upah mereka? apakah kita harus memberitahu mereka, bahwa saat ini perusahaan tengah mengalami coleph, sehingga memaksa mereka untuk membungkus senyuman itu?" lirihku sembari menatap iba pada beberapa karyawanku yang tengah mengaduh campuran di lantai bawah.
"Maafkan saya tuan jika kali ini saya lancang." Suara Joko seperti menyiratkan sebuah saran. Namun, ku masih enggan membalikkan badan tuk menghadap dirinya.
"Katakan saja Joko. Aku sedang tidak ingin bertukar ide pada siapapun." Ku hembuskan nafas berat, seakan beban itu mengungkung pundakku.
"Begini Tuan, bagaimana kalau wisma itu kita mengatasnamakan perusahaan. Atau nama tuan sekalian. Agar kita bisa menjualnya dengan leluasa untuk menutupi upah karyawan yang tuan cemaskan saat ini." Saran Joko ada benarnya juga. Tapi aku bukanlah seorang pencuri. Wisma itu bukan milikku yang bisa ku jual sesuka hati. Walau sebenarnya ada banyak jerih payah dan hasil keringat karyawanku disana. Tapi tetap saja, wisma itu bukan milikku. Oknum tak bertanggung jawab itu hanya memakai jasaku. Tapi dia hilang entah kemana.
Kali ini ku balikkan badan menghadap Joko yang menatapku penuh harap. Agar sarannya ku benarkan.
"Terimakasih atas saranmu Joko. Kau memang karyawanku yang paling setia dan berkompeten. Tapi kita bukanlah seorang pencuri. Perusahaan ini ku bangun bukan dari hasil korupsi atau menipu daya rakyat jelata. Melainkan dari hasil jerih payahku selama bertahun-tahun lamanya." Ku pegang kedua pundak Joko, dan menatap mantap pria yang penampilannya tak jauh berbeda dariku itu.
"Tapi kita tidak punya pilihan lain tuan." sarkas Joko. Guratan kecemasan sangat kentara di wajahnya yang cupu sepertiku.
"Atau bagaimana kalau tuan meminta bantuan pada istri Anda untuk menutupi upah karyawan?" imbuh Joko yang di ikuti dengan tatapan tajamku.
Kali ini ku sungguh tersinggung. Aku tidak bisa membawa-bawa Putri dalam masalahku. Apa lagi mengenai uang.
Kami memang suami istri, tapi bukan berarti aku berhak memanfaatkan dirinya yang memiliki karir cemerlang. Selama ini aku yang menafkahi dia dengan segenap usahaku. Tanpa tahu seberapa banyak gaji yang ia punya.
"Apa kau gila Joko?" tatapanku tajam hingga menembus netra hitam pria di depanku ini.
"Aku tidak ingin melibatkan istriku dalam kasus sialan ini!" imbuhku tak terima.
"Tapi kita tidak punya pilihan lain tuan." Aku membenarkan ucapan Joko. Tapi aku sungguh tak bisa mematahkan prinsip hidupku yang ku junjung tinggi selama ini.
Kini ku berada dalam dilema. Antara ingin menjadi pencuri atau menjadi seorang pengemis pada istri sendiri.
"Keluar lah Joko. Aku ingin sendirian," titahku memilih tuk sendirian dalam ruangan yang mana bisa ku tumpahkan segala keluh kesahku disana.
Tanpa membantah lagi, Joko pun akhirnya keluar meninggalkanku disini yang masih berkabut duka. Hatiku gundah gulana. Jiwaku rentan ketika melihat senyuman karyawanku yang sebentar lagi akan pudar.
__ADS_1
Bagaimana lagi cara mereka mencari nafkah di tengah kejamnya dunia? bagaimana caranya mereka membawa pulang sekarung beras setiap bulan yang ku bagi-bagikan di perusahaan? bagaimana caranya mereka menyekolahkan anak-anaknya di sekolah elit seperti yang mereka impikan? dan masih banyak lagi pertanyaan dalam benakku yang sulit untuk ku pecahkan sendirian.
To be continued.