
Author Pov.
Paijo duduk di atas ranjang, mengedipkan beberapa kali matanya. Dia canggung akan bayangan dua gundukan milik Putri, sang istri.
Hal pertama yang baru di lihat seumur hidup.
Beberapa kali Paijo berdiri dan duduk, berusaha untuk menenangkan diri. Namun, sekuat apapun dia mencoba, tetap saja bayangan itu masih ada.
Seakan bermain-main di pelupuk matanya.
Kini Paijo kembali duduk di atas ranjang. Membuka baju dan celana yang ia kenakan. Lalu kemudian mengambil pakaian tuk ia pakai tanpa mandi terlebih dahulu.
Ketika Paijo masih mengenakan setengah celananya, tiba-tiba Putri keluar dari kamar mandi dan melihat suaminya itu setengah telanjang.
Celana masih berada di lutut, sementara baju belum ia kenakan. Itu artinya seluruh tubuh Paijo di lihat oleh Putri selain senjata tumpulnya. Otomatis secara tidak langsung, Putri mendapat tontonan gratis dari Paijo.
"Aaakk--," teriak Putri dan Paijo secara bersamaan.
Putri memutar tubuhnya menghadap pintu kamar mandi.
Sementara Paijo buru-buru mengenakan celananya hingga sang senjata tumpul tertutup rapat.
"Mengapa kau tidak mengenakan pakaian?!" tanya Putri canggung sekaligus gemetar. Sebab baru pertama kali melihat tubuh mulus Paijo.
Jika kebanyakan pria memiliki otot kekar seperti yang ada dalam serial drama Korea, atau novel pujangga ala CEO, maka lain halnya dengan Paijo. Pria itu memiliki perut sedikit buncit, dan lemak jahat dimana-mana.
"Aku pikir kau belum selesai mandi," jawab Paijo tak kalah canggungnya.
"Berbaliklah, aku sudah selesai!" lanjut Paijo.
Dengan ragu-ragu, Putri memutar tubuhnya menghadap Paijo.
Dan ternyata benar, suaminya itu sudah selesai mengenakan pakaian lengkap.
"Apa kau tidak mandi?" tanya Putri.
"Apa kau ingin kita mandi bersama di dalam sana?!" Jawaban Paijo cukup ketus, namun sukses menyentak Putri.
Betapa tidak, wanita itu tak begitu menyadari, jika dirinyalah yang berada di kamar mandi itu sebelumnya.
"Ah, iya. Maafkan aku."
Putri dan Paijo kembali bersikap canggung. Dimana Putri tak kunjung mengenakan pakaian, hanya jubah mandi yang masih setia menutup tubuhnya.
"Apa kau masih ingin mengenakan jubah itu? atau kau ingin aku membantumu membukanya?" Tanya Paijo tak sungguh-sungguh. Dia sengaja mengajukan pertanyaan itu agar Putri tersadar dari kondisinya yang mengundang syahwat.
"Kalau begitu keluar lah!"
"Apa kau ingin melihatku memakai baju?" balas Putri.
"Untuk apa aku keluar? ini kan kamarku juga. Kalau mau pakai baju, silahkan masuk ke dalam kamar mandi. Jangan disini!" seru Paijo masih tak mau kalah.
"Tapi aku maunya disini!" seru Putri dengan nada tak terbantahkan.
Tak ingin berdebat, akhirnya Paijo keluar kamar dan membiarkan istrinya itu menggunakaan kamarnya sesuka hati.
"Dasar wanita aneh!" gerutu Paijo dari balik pintu kamar.
**
Selama sepuluh menit Paijo berdiri di depan pintu, menunggu Putri mengenakan baju.
"Apa sudah selesai?" tanya Paijo dari balik pintu.
"Masuk lah, aku sudah selesai!" jawab Putri dari dalam kamar.
Tak menunggu lama, Paijo pun masuk kedalam kamar dan mendapati istrinya sudah berpakaian lengkap pula.
Untuk sesaat keheningan menghampiri keduanya. Tak ada satupun dari mereka yang membuka suara.
__ADS_1
Lalu kemudian,
"Apa kau tidak ingin membeli jas baru?" tanya Paijo setelah beberapa saat diam.
"Ah, iya jasku," gumam Putri.
"Aku tidak berencana untuk mengganti jas itu," lirih Putri.
Tiba-tiba saja wajah wanita itu berubah menjadi sendu. Seperti kesedihan tengah menyelimuti hatinya.
"Sebenarnya apa istimewanya jas itu? apa pemberian dari kekasihmu?" tanya Paijo tanpa basa-basi.
Sebelum menjawab pertanyaan Paijo, Putri mengembuskan nafas berat.
"Itu pemberian dari profesorku yang sudah ku anggap sebagai orang tua sewaktu di Amerika," lirih Putri.
"Namanya Robert. Dia selalu mengajarkanku pentingnya menjadi seorang dokter bermoral. Jangan menguras ekonomi masyarakat lemah."
"Aku belajar banyak hal darinya. Termasuk cara membedakan orang yang tulus terhadap kita atau tidak," terang Putri.
Tanpa sadar, cerita itu mendekatkan keduanya hingga pelan-pelan hubungan yang semula canggung, menjadi lentur.
"Jadi pemberian profesornya? pantas saja dia begitu sedih," batin Paijo.
"Baiklah. Dimana kau menyimpan Jasmu?" tanya pria itu.
"Aku mengeringkannya di dalam kamar mandi tadi."
Ya, tadi sewaktu mandi, Putri langsung membersihkan jas putih itu dan mengeringkannya di dalam kamar mandi. Saking sayangnya terhadap benda pemberian profesornya itu, Putri tak ingin membilasnya di kamar mandi dapur dan menjemurnya disana.
Tanpa berkata-kata, Paijo langsung mengambil jas Putri dan mengeringkannya dengan setrika.
"Hei, apa yang kau lakukan? apa kau ingin merusaknya?" tanya Putri heran.
"Kau diamlah, aku ingin membantumu," jawab Paijo.
Tak ingin berdebat, Putri pun menuruti ucapan suaminya itu. Dan duduk diam menyaksikan gerakan lincah Paijo yang tengah menyetrika jasnya.
"Ternyata kau ada bakat menjadi tukang menyetrika," goda Putri sembari tersenyum usil.
"Apa kau ingin aku menyetrika wajahmu yang kusut itu?!" seru Paijo tanpa melihat wajah Putri. Dia terus asik menggerakkan setrikanya seperti seseorang yang handal bekerja di londry.
"Mau dong di setrika pria tampan sepertimu," balas Putri masih dengan aksi menggodanya.
Sejenak Paijo menghentikan gerakannya. Lalu kemudian ia melanjutkan kembali kegiatan menyetrikanya itu sembari tersenyum tipis, hampir tak terlihat.
"Nih, sudah kering. Sekarang kita akan membuatnya utuh kembali," ucap Paijo seraya menunjukkan jas Putri tadi.
"Maksud kamu?" Putri tak memahami maksud Paijo, sehingga keningnya berkerut penuh tanya.
"Ya dijahit lah! mau diapakan lagi?" tandas Paijo.
"Tapi aku tidak tahu caranya menjahit," kata Putri dengan suara sedikit manja.
"Tenang saja, aku akan mengajarimu."
"Benarkah itu? asik..." Putri begitu riang ketika Paijo berniat baik untuk mengajarkannya menjahit.
Selain dari pada itu, jas kesayangannya dapat ia kenakan lagi seperti sediakala.
**
Sementara itu, Abah melewati kamar Paijo, dan mendengar suara mencurigakan dari dalam kamar.
Suara itu teramat sangat besar dan dapat di dengar oleh siapa saja yang melintasi kamar tersebut.
Merasa penasaran, Abah pun mendekatkan kupingnya ke pintu kamar Paijo.
"Ayo masukin ke lubangnya," titah Paijo.
__ADS_1
"Ini juga sudah berusaha untuk di masukin," jawab Putri.
"Tapi itunya belum masuk," kata Paijo.
"Iya, karena lubangnya terlalu Sempit," balas Putri.
"Kalau begitu biar aku bantu memasukkannya," ucap Paijo.
Sementara Abah yang menguping, tersenyum cengengesan. Merasa berhasil memiliki putra cerdas seperti Paijo.
"Wah, ternyata Paijo benar-benar putra Abah. Dia sungguh berinisiatif," gumam Abah sembari tersenyum usil.
Namun, bukannya pergi, Abah justru melanjutkan aksi mengupingnya. Merasa penasaran akan percakapan Paijo dan Putri.
"Emang harus keluar masuk seperti ini ya?" tanya Putri.
"Iya. Sudah seharusnya seperti itu," jawab Paijo.
"Wah, seru juga ya kalau keluar masuk seperti ini. Dapat menyatukan dua sisi yang terbuka," kata Putri sekali lagi. Sehingga Abah yang berada di balik pintu semakin merasa lucu.
Dia tertawa kecil, hingga sang istri datang dan menjewer telinga Abah.
"Aaakkk--," pekik Abah.
"Sakit, bu. Aw, aw, aw." Abah mengusap-usap kupingnya yang kesakitan dan merah.
"Abah ini bikin malu saja! ngapain disini sambil menguping seperti itu?" tanya ibu penuh penekanan, sembari menatap tajam Abah.
"Hehehe, anu bu. Itu anu." Abah jadi salah tingkah. Dia tersenyum ala nyengir kuda.
"Itu anu, itu anu. Ayo pergi dari sini! bikin malu saja!" Ibu menjewer telinga Abah lagi sembari membawa pria paruh baya itu pergi dari pintu kamar Paijo.
Sementara di dalam kamar, akhirnya Putri telah menyelesaikan jahitannya.
"Ye... berhasil. Aku berhasil," seru Putri seraya tersenyum riang gembira. Dia melompat-lompat kegirangan hingga tak sadar mencium pipi Paijo.
Cup!
"Terimakasih," ucap Putri tulus.
Paijo yang merasa terkejut pun akhirnya memegang pipi bekas ciuman Putri.
Dia tersenyum tipis.
Menyadari kesalahannya, akhirnya Putri terdiam. Dia baru menyadari, bahwa Paijo sedari tadi diam tanpa kata.
"Maafkan aku. Aku terlalu bahagia," ucap Putri canggung.
"Tidak adil!" seru Paijo.
Mendengar kata itu, Putri berkerut kening.
"Tidak adil? apanya yang tidak adil?" tanya Putri tak paham.
"Masa cuma pipi kiri saja yang di cium? kalau pipi kanannya bagaimana?" jawab Paijo dengan raut wajah tak terbaca.
Deg,
Pipi kanan? waduh? mati aku. Bagaimana bisa aku mencium Paijo tadi? batin Putri sembari mengutuk diri.
"Kalau begitu aku saja yang melengkapinya."
Cup!
Paijo mencium pipi kanan Putri, sehingga jas yang tadinya ada di tangan wanita itu jatuh ke lantai.
Terkejut iya, malu apa lagi.
Lalu kemudian Putri memegang pipi bekas ciuman Paijo sembari tersenyum heran.
__ADS_1
Apakah Paijo baru saja menciumku? apakah itu artinya dia.... ah, sudahlah. Ini pasti karena jas putihku.
To be continued.