
Pernikahan kami semakin dekat, tinggal menghitung minggu saja, dan di mulai dari minggu lalu, jantungku berdegup tidak karuan. Sebab memikirkan jadi seorang istri dari pria asing sungguh membuatku frustasi.
Sebenarnya masih bisa ku hentikan pernikahan ini, tapi seperti yang di katakan Paijo dulu, aku mau aman di tangannya atau mati dalam kemarahan ibu.
Terlebih lagi hati ibu akan patah ribuan kali, sebab anak gadisnya membuat keluarga Prayoga malu.
Ku tak pantas menyalahkan siapapun dalam hal ini, termasuk ibu. Lebih-lebih Paijo. Sebab calon suamiku itu hanyalah korban dari keusilanku. Alhasil kami harus dipersatukan dalam ikatan pernikahan yang tak terduga sebelumnya.
"Mengapa melamun?" Pertanyaan Paijo membuyarkan lamunanku dari pernikahan ini.
Oh iya, sekarang kami dalam perjalanan menuju fitting baju pengantin.
Setelah pertemuan dua keluarga Prayoga dan Paijo beberapa hari yang lalu, kedua orang tua kami memutuskan untuk menggelar acara pernikahan secara besar-besaran. Sebab aku adalah anak bungsu dari ibu, sementara Paijo putra pertama Abah. Jadi, mereka berharap akan tercipta pernikahan megah. Dimana dari pihak keluarga Prayoga akan menjadi pernikahan terakhir putrinya, sementara dari pihak Abah, ini yang pertama kalinya.
Sebenarnya aku dan Paijo menolak, tapi apalah daya, kami hanya di anggap tikus kecil dari Ibuku dan Abah Paijo.
"Aku baru teringat sesuatu," balasku akhirnya.
"Apa?"
"Sebenarnya apa tujuanmu ke rumah ibuku waktu itu? dan dari mana kau mendapatkan alamat rumah itu? bukankah aku tidak pernah memberimu alamat dan kartu pengenalku?" tanyaku secara beruntun.
Aku baru teringat insiden memalukan itu. Sebenarnya apa yang membuat Paijo tiba-tiba datang ke rumahku dulu? Padahal alamat dan identitasku saja tak pernah ku berikan.
"Ada seorang wanita cantik dan anggun serta baik dan tidak sombong yang memberiku alamat rumahmu."
Apa? seorang wanita cantik dan anggun, serta baik hati dan tidak sombong? apa baru saja dia memuji wanita lain di depanku? awas kamu Paijo. Belum menikah saja kau sudah memuja wanita lain. Bagaimana kalau kita sudah menikah nanti? terlebih lagi tak di dasar karena cinta.
Tapi mengapa aku harus terganggu dengan pernyataan Paijo barusan? seharusnya aku tak peduli. Mau dia memuja wanita lain kek, atau mahluk planet sekalipun, seharusnya aku tak peduli. Tapi kenapa sekarang justru hatiku tercubit ya?
Ini semua pasti karena aku terlalu memikirkan pernikahan konyol ini. Iya, pasti karena itu.
"Lalu?" tanyaku kemudian setelah beberapa saat berunding dengan hatiku.
"Lalu aku ke rumahmu untuk menunjukkan desain bangunan seperti yang kau inginkan. Sebenarnya aku berusaha untuk menghubungimu, tapi karena aku tidak memiliki nomor ponselmu, jadi aku bertanya saja pada wanita cantik itu. Emailmu pun tidak aktif lagi."
__ADS_1
Apa tadi Paijo bilang? dia menghubungi Marni? apakah itu artinya selama ini mereka kontek-kontekkan? dasar pria buaya berhidung belang!
"Itu karena aku sibuk! makanya aku tidak pernah membuka email," balasku ketus.
Entah mengapa mengingat Paijo menyebut Marni sebagai wanita cantik, kok rasanya pengen menangis ya? apa karena aku tak pernah di puji olehnya?
Hais... Aku pasti sudah tidak waras sekarang. Bagaimana bisa aku mengharapkan pujian dari pria cupu seperti Paijo?
"Jadi Marni memberimu alamat rumah Ibu?" tanyaku lebih lanjut.
"Sebenarnya dia memberiku alamat apartemenmu, tapi ketika aku kesana, kamu tidak ada. Jadi aku meminta lagi alamat lain selain apartemen itu. Eh, setelah dapat, tahu-tahunya aku terjebak."
"Apa maksudmu dengan terjebak?" tanyaku sinis.
Sungguh pernyataan Paijo kali ini membuatku tersinggung.
"Iya, aku terjebak oleh seorang wanita yang mengaku-ngaku sebagai kekasihku. Alhasil, jadilah aku seperti sekarang ini. Terjebak dengan wanita aneh."
Plak!
Mungkin Paijo akan menilaiku sebagai wanita kasar. Sebenarnya aku tidak pernah seperti ini. Ini di luar dari gayaku. Tapi entah mengapa bersama Paijo aku berubah menjadi orang lain.
"Mengapa kau memukulku?"
"Apa seperti ini sifat seorang dokter?" tanya Paijo kesal.
"Itu pelajaran untukmu karena baru saja menghinaku!" balasku tak mau kalah.
"Menghinamu?" Pertanyaan Paijo yang satu ini membuatku semakin naik pitam.
Apa dia pura-pura hilang ingatan sekarang untuk menghindari kemurkaanku?
"Iya, menghinaku! bukankah baru saja kau mengatakan, bahwa aku wanita aneh?" tandasku tak suka.
"Apa aku menyebut namamu tadi?"
__ADS_1
Oh ayolah Paijo. Bahkan tikus got juga tahu, bahwa yang kau sebut sebagai wanita aneh tadi adalah aku.
"Kamu memang tidak menyebut namaku, tapi tadi kita sedang membahas diriku. Bukan wanita cantik dan anggun serta baik hati dan tidak sombong seperti yang kau puja-puja tadi!" jawabku kesal.
Kali ini ku berada di luar kendali. Entah mengapa Paijo selalu membuatku naik tensi. Lama-lama aku bisa mati dini kalau begini.
Belum juga jadi istri, aku sudah makan hati. Bagaimana kalau menikah nanti? sungguh Paijo pria makan puji!
Author Pov.
Mendengar jawaban Putri, Paijo pun tersenyum usil. Dia merasa calon istrinya itu tengah menahan sesuatu di dalam sana.
"Apa baru saja kau cemburu?" goda Paijo sembari tersenyum mengejek. Namun, kali ini Putri tak mau terpancing dalam permainan Paijo, sebab wanita itu sudah cukup lihai dalam mengenal sifat calon suaminya tersebut. Dia sangat pandai membolak-balikan keadaan.
"Idih! siapa yang cemburu? ogah!" jawab Putri tanpa melihat wajah Paijo.
"Tapi kenapa aku seperti mencium aroma cemburu ya?" goda Paijo sekali lagi, membuat Putri semakin murka.
"Apa kau seorang peramal yang dapat mengetahui isi hati seseorang, apakah dia sedang cemburu atau tidak?" tandas Putri dengan suara yang mulai meninggi.
Dia benar-benar berada di luar kendali. Padahal bukan topik ini yang di bahas semula tadi.
"Mengapa kau malah marah? aku kan hanya bertanya saja," kata Paijo santai seperti di pantai, dan tak sepanik ketika berada di klinik.
"Lihat jalanmu! fokus menyetir! jangan banyak bicara! atau kau mau mulutmu ku sumbat?!" balas Putri masih dengan suara meninggi. Namun, tak membuat Paijo gigit jari. Dia justru semakin tersenyum manis.
Sembari tersenyum nakal, Paijo pun berkata, "Mau dong di sumbat olehmu bu dokter."
"Paijo!"
To be continued.
Like, komen, vote, dan hadiahnya ya readers.
Happy reading.
__ADS_1