
Ibu menatapku penuh amarah. Dia seakan ingin menerkamku mentah-mentah seolah melupakan aku ini adalah putrinya.
Sementara Memet masih terduduk di lantai dengan wajahnya yang penuh permohonan, membuatku semakin ingin menendangnya keluar.
Ibu mendekatiku yang sedikit ketakutan, lalu membisikku, "Apa yang kau lakukan Putri? mengapa kau menolaknya?"
Oh ayolah ibu, bukankah semuanya sudah jelas? aku tidak menyukai pria ini.
"Karena aku tidak menyukainya bu. Aku tidak tertarik dengannya," jawabku.
"Tapi kenapa kau tidak menyukainya? kurang apa sih dia?"
Kurang keren!
Ya ampun ibu... Apakah ibu tidak bisa melihat betapa kampungannya dia? sungguh menyebalkan!
"Bu, tolong jangan paksa Putri," rengekku masih dengan berbisik.
"Memangnya kenapa?"
"Karena Putri sudah memiliki kekasih!" jawabku bohong.
Tak ada pilihan lain. Aku harus merangkai kalimat hoax agar ibu percaya. Namun, ibu justru meninggikan suaranya membuatku malu minta ampun.
"Tapi kamu kan jomloh sejak lahir!" pekik Ibu.
Astaga... ibu. Tolong jangan terlalu jujur seperti itu. Paling tidak jaga harga diri Putri ibu. Hais... pening aku! pening!
"Tapi aku benar-benar memiliki kekasih bu," jawabku meyakinkan. Padahal dalam hati ketakutan.
Ibu masih ingin mendesakku untuk menerima pinangan Memet, tapi aku langsung menerobos pergi sebelum perjodohan konyol ini berjalan lebih jauh.
"Sudah lah bu. Putri sibuk!" Dan aku pun bergegas pergi keluar rumah, namun ibu berusaha untuk mencegahku. Tapi aku sudah terlanjur keluar. Dan dalam waktu bersamaan, seorang pria familiar datang ke rumah ibu. Entah apa yang membuat pria cupu yang satunya lagi datang kesini, yang pasti aku seperti merasa terselamatkan dengan adanya ia.
Alamak! Pucuk di cinta ulam pun tiba.
"Paijo?"
Ya, pria yang datang adalah Paijo. Dia menenteng sebuah gulungan kertas panjang dan melingkarkan di pundaknya. Pria itu berjalan mendekatiku.
Sementara ibu keluar mengejarku yang disusul Memet.
"Putri!" pekik Ibu.
Aku menoleh pada ibu yang sudah memasang wajah sangar. Lalu kemudian ku paling kan kembali wajahku ke Paijo dan berjalan mendekatinya, dan dengan beraninya aku melingkarkan tangan ke lengan pria itu.
Entah apa yang akan di pikirkan Paijo tentangku, yang pasti aku harus selamat dulu dari pria culun yang satunya sana. Setelah itu kita akan membahas masalah ini belakangan.
"Dia kekasih Putri!" seruku.
Seketika Paijo menatapku bingung plus terpaku. Tapi dengan cepat aku memasang wajah permohonan agar ia memahami situasiku. Namun, bukannya membantu, dia malah melepas tanganku.
Sementara ibu sudah mendekatiku yang takut-takut.
"Apa benar kamu pacar putri saya?" tanya ibu, membuatku malu. Betapa tidak, Paijo menatapku tajam sekaligus tak suka.
__ADS_1
Sebenarnya aku memaklumi sih tatapan Paijo itu. Habis akunya kelewatan. Tapi mau bagaimana lagi? aku sudah kehabisan akal.
"Maaf Tante. Saya bukan pacar putri Tante, tapi saya seorang konsultan yang ingin menemui putri Tante," jawab Paijo.
Hais... jujur amat sih ni bocah. Bohong dikit napa? kan gak setiap hari juga. Lagi pula berbohong demi kebaikan kan dapat pahala? hedew... Paijo... Paijo... dasar pria Bejo!
"Maksudnya konsultan cinta bu," kataku sembari tersenyum cengengesan selayaknya wanita murahan. Belum lagi ku lingkarkan kembali tanganku ke lengan Paijo sambil menyenderkan kepala ke pundaknya.
Hais... kenapa aku jadi seperti ini? apa yang akan di pikirkan Paijo tentangku nanti? mati aku.
Sekali lagi Paijo melepas tangan dan mendorong kepalaku, membuatku kesal ingin memukulnya.
Tolong kali ini bantulah aku Paijo...
Ingin rasanya ku teriakan kalimat itu, namun tatapan sangar Paijo membuatku tak berdaya. Dia ingin berkata jujur lagi.
"Begini Tante, sebenarnya saya--"
"Cukup!" seru ibu seraya menaikkan kelima jarinya di depan Paijo.
Aku terkejut dengan sikap ibu yang terkesan tegas itu. Padahal selema ini ibu fine-fine saja. Kenapa sekarang jadi serius?
"Apa kamu pikir aku percaya begitu saja, ha?" tandas ibu kemudian.
Ha?
Apa maksud ibu?
Lalu kemudian Memet si pria culun itu mendekati kami bertiga.
Astaga... pria ibu benar-benar membuatku naik pitam. Mau di tendang kayanya ni orang.
Lalu ku beralih melihat Paijo yang seperti sedang menahan tawa. Aku tahu dia sedang menertawakanku dalam hati.
Awas saja kalau sampai dia berani menertawakanku, akan ku buat dia cacat seumur hidup!
Hais... nasibku benar-benar apes hari ini. Haruskah aku pasrah menerima pinangan Memet?
"Putri! ikut ibu ke dalam, dan kita selesaikan urusanmu dan Memet!"
"Pokoknya kau harus segera menikah dengan Memet!" seru ibu dengan nada tak terbantahkan.
Astaga... kenapa jadi seperti ini? aku pikir kedatangan Paijo sedikit membantuku, tapi kenapa justru Memet yang merdeka? apes... apes...
Ibu mulai menarik tanganku, dan ku pasang wajah penuh permohonan pada Paijo, agar ia tahu, bahwa aku butuh bantuannya. Aku harus di selamatkan sekarang juga. Lalu kemudian,
"Tunggu Tante!" Paijo menghentikan Ibu.
Dia melangkah dua baris ke depan, dan melepas tangan ibu.
Hei, ada apa ini? mengapa tiba-tiba Paijo melepas tangan ibu dan melihatku? tatapannya datar sih, tapi seperti tersirat makna mendalam.
Kemudian Paijo menggenggam tanganku erat sembari berkata, "Aku memang bukan kekasih Putri Tante, tapi calon suami dan menantu Tante."
What the hell! oh my God. Apa yang baru saja di katakan Paijo?
__ADS_1
Calon suami? calon menantu? kenapa dia berkata seperti itu? apakah wajah permohonanku tadi membuatnya berubah pikiran dalam kurun waktu sekejab?
Seketika aku menganggap Paijo pria terkeren yang pernah aku temui.
Kalimat tegas dan lugasnya itu seperti yang terdapat dalam serial telenovela zaman bahula. Sungguh romantis dan indah.
He?
Pria terkeren? otakku pasti sudah geser sebelah. Bagaimana bisa aku memuji Paijo setinggi langit hanya karena dia menyelamatkanku kali ini? itu pun belum tentu juga membuat ibu percaya padanya.
Ibu menatap Paijo penuh selidik. Namun, pria ini tak bergeming. Pertahankan dirinya sungguh teguh dan kokoh.
Ternyata di balik penampilannya yang cupu, dia memiliki karakter yang berbeda. Paijo seperti pria yang memegang teguh prinsip dan harga dirinya.
I like it.
"Apa benar begitu?" tanya Ibu padaku, namun tatapan matanya tak beralih dari Paijo.
Keduanya seperti seseorang yang saling menginterogasi satu sama lain.
"Seperti yang putri Tante katakan tadi, aku adalah calon Suaminya," jawab Paijo tegas.
Ha? calon suami? kapan aku bilang begitu? bukannya tadi aku hanya bilang, bahwa dia adalah kekasihku? bukan suamiku!
Akting Paijo memang tiada duanya. Salut aku. Walaupun bohong, tapi kan demi kebaikan. Jadi, tak masalah. Hehe.
"Baiklah kalau begitu. Kalian harus menikah bulan depan!" seru ibu dengan nada tak terbantahkan.
Aku tersenyum ria ketika mendengar keputusan ibu. Akhirnya aku bebas dari pria yang bernama Memet itu.
Urusan Paijo belakangan lah. Yang pasti Memet sudah didiskualifikasi dari perjodohan ini.
"Tapi Tante, akulah calon suami yayang Putri yang sebenarnya," rengek Memet. Pria itu menangis sesenggukan di depan ibu.
Kasihan dia. Harus merasakan patah hati dini.
Habis mau saja menerima perjodohan konyol ini. Alhasil kamu patah hati kan? haha. Aku tertawa jahat dalam hati.
"Nanti aku Carikan gadis lain yang lebih keren dari Putri!" kata Ibu.
"Tapi aku maunya Putri yang ini," rengek Memet sekali lagi.
"Kalau begitu res dulu celanamu supaya putri-putri yang lainnya tidak melarikan diri ketika melihatmu!"
Ngek???
Res leting?
Seketika aku langsung menurunkan pandanganku ke arah res leting Memet. Dan benar saja, res leting pria itu turun dan menunjukkan tonjolan pada bagian tengah tubuh bawahnya.
"Hahahaha." Aku dan Paijo tertawa bersama seakan kami adalah sepasang kekasih sungguhan.
To be continued.
Like, komen, vote, dan hadiahnya ya readers. Terimakasih.
__ADS_1
Happy reading.