KONSULTAN CINTA

KONSULTAN CINTA
Marahan.


__ADS_3

Paijo Pov.


Ku masih mendiamkan Putri yang juga turut mendiamiku.


Kami sama-sama keras kepala disini. Jadinya hubungan kami yang semula ada kemajuan, kini mengalami penurunan.


Mungkin sejatinya sebuah hubungan sering mengalami pasang surut. Tapi dalam kasusku, hubungan kami lebih banyak surutnya dibanding pasangnya.


Entah karena menikah tanpa cinta, atau karena ego semata.


Ku lihat lagak Putri seperti tak memiliki niat tuk meminta maaf padaku. Tapi, ku diam saja. Agar tak di tahu oleh ibu dan Abah.


Saat ini kami sedang sarapan bersama. Ada juga Sukro disana.


"Kakak, nanti kalau aku sudah tamat SMA, aku langsung kerja di perusahaan kakak, ya?" pinta Sukro yang tiba-tiba bersuara dalam kesunyian sarapan pagi.


"Mau jadi apa kamu disana? mau jadi tukang batu?" jawabku ketus.


"Jadi konsultan seperti kakak lah!" balas Sukro percaya diri.


"Hala... menggambar saja kamu tidak bisa! bagaimana mau menjadi seorang konsultan?" sangsiku dengan nada meragukan.


"Hais... kakak ini belum tahu siapa adiknya!"


"Begini-begini, aku jago melukis loh, kak," kata Sukro penuh percaya diri sekali lagi.


Satu yang ku suka dari adikku ini. Dia memiliki kepercayaan diri yang begitu tinggi. Walau sering ku banting, namun dia tetap bangkit.


"Melukis gunung, iya," ejekku sembari menghabiskan sisa sarapanku dan meminum air putih.


"Gunung kembar ya, kak?" balas Sukro.


Lalu kemudian,


Pppffft...


Tak sengaja ku sembur air ke wajah adikku itu.


Dia menyeka air berserta sisa sarapan yang tadi ku makan.


Semuanya berantakan di wajah Sukro.


Sungguh ku menyesal. Tapi anggap saja itu sebagai balasan karena sudah berkata jorok.


Lalu kemudian,


Plak!


Abah memukul kepala adikku, Sukro.


"Dasar kacang tanah!"


"Apa kau belajar menggambar gunung di sekolah sampai kau ingin memperdalamnya di kantor kakakmu?!" bentak Abah.


"Is, Abah ini bicara apa sih sebenarnya? aku kan hanya berkata yang sesungguhnya," elak Sukro.

__ADS_1


"Anak ini benar-benar."


"Gunung kembar apa yang kau gambar Sukro?!" tanya Abah dengan nada yang mulai meninggi.


"Apa Abah tidak tahu ada gunung kembar di bumi ini?" Sukro balik bertanya.


Sementara ku masih memperhatikan mereka. Seakan membiarkan anak dan ayah beradu otak.


"Tentu saja tidak ada gunung kembar!"


"Dasar kacang tanah!" tandas Abah.


Sumpah, ku ingin tertawa ngakak haha hihi ketika melihat perdebatan anak dan bapak ini.


Mereka seperti guru dan murid yang tengah beradu argumen mengenai pendapat para ahli. Siapa yang akan menjadi pemenangnya kali ini? pikirku dalam hati.


"Abah ini tidak tahu apa-apa."


"Di dunia ini memang ada gunung kembar."


"Coba Abah berdiri di depan gunung sambil memegang cermin, maka gunung itu akan menjadi dua. Itu artinya gunungnya kembar bukan?" terang Sukro sembari berlari menuju pintu keluar. Sebab takut akan terkena amukan Abah.


"Hahaha." Ku tertawa lepas. Merasa lucu akan perbuatan adikku.


kali ini Abah kalah satu kosong.


Namun, perlahan tawaku berubah menjadi sumbang. Sebab ku lihat Putri tak merespon sama sekali.


Apakah dia masih marah padaku?


Lalu kemudian,


Ibu dan Abah sama-sama menatapku penuh tanya.


"Apa?" tanyaku seraya membalas tatapan ibu dan Abah.


"Apa kalian sedang ada masalah?" Kali ini ibu yang bertanya.


"Ah, tidak kok. Kami baik-baik saja," jawabku bohong sembari menghabiskan sisa air minumku tadi.


"Aku berangkat dulu ya, bu, Abah."


"Assalamualaikum." Ku cium punggung tangan ibu dan Abah, sebelum akhirnya pergi meninggalkan mereka.


**


Ku lihat Putri masih berada di garasi rumah. Dia seperti ingin mengendarai mobil sendiri.


Lalu ku tarik lengannya sebelum ia berhasil membuka pintu mobil itu.


"Katakan padaku, apa yang membuatmu marah, em?" tanyaku sembari memegang erat lengan Putri.


"Lepaskan tanganku!" seru Putri.


"Tidak, sebelum kau memberitahuku!" balasku tak mau kalah.

__ADS_1


"Aku bilang lepaskan aku!" Kali ini Putri menatapku tajam. Entah apa yang membuat dirinya begitu berubah. Padahal tatapannya perlahan mulai bersahabat semenjak kami resmi menjadi suami istri dalam arti sesungguhnya.


Tapi sekarang? tatapan itu kembali tajam, hingga menembus jantungku yang berdegup kencang.


Tak mau membuatnya tersakiti, akhirnya ku lepas tangannya dan membiarkan ia pergi begitu saja.


Tanpa kusadari, hatiku mulai menerima hubungan ini.


Air mata yang tak pernah menetes dengan alasan karena wanita, kini tumpah bagai tak terbendung lagi.


Sebenarnya apa yang membuat hatiku sakit seperti ini? hingga ku teteskan air mata. Padahal ku tak cinta dia. Tapi kenapa rasanya seperti ada sesuatu yang mengganjal di dalam sana?


"Aku pasti sudah gila!" kutukku pada diri sendiri.


"Bagaimana bisa aku jatuh cinta pada wanita angkuh seperti dia?"


"Apakah ini benar-benar cinta? rasanya mustahil!" elakku.


Ku masih belum yakin akan perasaan ini. Tapi rasanya sungguh kuat terpatri di dalam hati. Sampai rasanya ku ingin mati jika tak melihat Putri.


Dia istriku yang ku nikahi karena sebuah kesalahpahaman. Perlahan ku terima dia walau sangat menyebalkan.


Tapi di balik sikapnya yang angkuh, tersimpan sosok yang rapuh.


Dia juga wanita cantik dan cerdas. Selalu membantu sesama tanpa di ketahui oleh siapapun.


Ku tahu itu dari Marni. Wanita yang menjadi asistennya di rumah sakit.


"Baiklah Putri. Kau boleh marah padaku sekarang. Tapi tidak akan ku biarkan kau tertawa bersama pria lain seperti kemarin!"


"Akan aku pastikan Awan kehilangan pekerjaannya jika dia berani merebutmu dariku!" gumamku sungguh-sungguh.


**


Kini ku berada di depan rumah sakit tempat kerja istriku, Putri.


Ku awasi dia, seakan tak ikhlas melihatnya bersama pria lain disana.


Ku ingin pastikan, bahwa dia benar-benar memindah tugaskan Awan ke rumah sakit lain.


Memang Putri bukanlah direktur utama rumah sakit tempatnya bekerja. Tapi dia bukan orang sembarangan dalam dunia medis.


Posisinya sebagai manager rumah sakit itu, tentu saja bisa ia gunakan untuk mengambil keputusan.


Egois memang, tapi kali ini ku tak akan membiarkan milikku di sentuh orang.


Sudah cukup ku mengalah dahulu. Kini tidak lagi. Sebab Putri adalah istriku. Bukan wanita yang hendak mengencaniku.


Dia yang ku nikahi atas dasar nama Tuhan. Dimana ku sebut namanya dengan lantang.


"Saya terima nikah dan kawinnya, Putri Valeria Prayoga binti Abdul Qodir Prayoga, dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"


To be continued.


Like, komen, vote, dan hadiahnya ya readers. Terimakasih.

__ADS_1


Happy reading.


__ADS_2