KONSULTAN CINTA

KONSULTAN CINTA
Geram.


__ADS_3

Putri Pov.


Hari demi hari ku lalui bersama pria yang tak pernah mengucap kata cinta sama sekali. Walau begitu, dia tetap penuh kasih.


Paijo Londo Suryo Cipto Mangunkusumo Wiradmojo Sudibyo. Nama yang cukup panjang sebagai manusia.


Anehnya, nama ini ku hafal dalam waktu singkat. Ku semat di dalam hati, sembari mengucap syukur. Sebab menikahi pria seperti Paijo.


Dia yang selalu ku hina, perlahan mulai ku suka.


Dia yang tak tampan, tak juga rupawan. Namun, sikapnya penuh pertanggung jawaban.


Ku akui, bahwa aku adalah wanita angkuh. Selalu menghina pria stupid, cupu, dan genit. Terlebih lagi kampungan. Tapi perlahan ku takluk di tangan si cupu lewat takdir Tuhan.


Meski begitu, ku suka cari gara-gara. Sebab dia tak kunjung mengucap cinta. Sementara ku mau dia berucap demikian, agar hatiku senang.


Namun, alih-alih bersatu, kami semakin menjauh. Entah apa yang membuat suamiku itu lebih sering pulang tengah malam.


Katanya sedang banyak proyek, tapi jika di tanya lokasinya dimana, dia bungkam. Sebenarnya proyek apa sih? sehingga Paijo pulang sampai larut malam?


Hari ini dia kembali memintaku tuk membawakan bekal makan siang. Dengan hati riang ku bawakan di perusahaan. Sebab ku yakin kami akan kembali suap-suapan. Namun, alih-alih beradegan romantis, dia justru sibuk tanpa melihat wajahku.


"Makan siangnya sudah datang," ucapku dengan nada seolah ingin memberi suprise. Namun, sang empunya bekal makan siang tak kunjung menoleh.


Lalu sengaja ku hentak wadah makan siangnya. Agar ia peka.


"Ini makan siangnya!" kataku dengan sedikit hentakan.


"Simpanlah disitu, aku masih sibuk!" katanya datar.


Oh ya ampun... aku datang di waktu siang bolong. Menembus teriknya matahari. Membela macetnya jalanan. Menerobos padatnya jadwal persalinan. Tapi ku tak dapat balasan.


Ya Allah... ampuni dosa hamba-Mu ini.


"Apa kau tidak ingin makan siang?" tanyaku penuh harap.


Ya, ku berharap Paijo peka dan balik menyapaku. Tapi, dia tampak masih sibuk. Sehingga ku menggerutu.


Ku lihat Paijo sedang menggambar dena sebuah bangunan. Entah bangunan apa itu, ku tak ingin tahu. Yang ku inginkan adalah makan siang bersama Paijo sembari menikmati kebersamaan.


"Ayo kita makan siang bersama," ajakku.


"Apa kau tidak bisa lihat aku sedang sibuk?!"


"Kau pulang lah! aku bisa makan sendiri."


Duar!


Bagai di sayat-sayat sembilu hatiku ini. Dia membuatku terluka sekaligus kecewa.


Mengapa harus marah kalau ingin makan sendiri? kan bisa bicara baik-baik.


Mungkin saat ini mataku berkaca-kaca, merasa sedih dan terluka dalam waktu bersamaan.

__ADS_1


"Maafkan aku. Aku pikir kau ingin makan siang bersamaku. Sehingga kau memintaku untuk membawakanmu makanan," lirihku sedih.


"Bukankah sudah ku katakan padamu, bahwa aku sedang sibuk?"


"Sekarang pergilah!"


Apakah Paijo mengusirku sekarang? padahal ku sedang kelaparan.


"Baiklah," pasrahku akhirnya.


Ku pulang dengan perasaan hancur dan hampa. Sungguh Paijo membuat hatiku terluka.


Jika dia tak ingin makan siang bersamaku, lalu mengapa menyuruhku untuk datang? padahal ku sudah berharap di suapi olehnya.


Atau mungkin akunya yang terlalu percaya diri, bahwa dia peduli padaku. Nyatanya aku yang terlalu berharap. Sehingga hatiku patah sebelum memulai hubungan baru bersama Paijo.


**


Paijo Pov.


Sumpah, hari ini ku benar-benar sibuk. Sehingga sakit lambungku kumat.


Beberapa kali meminum obat, tapi tak ada khasiat.


Ku minta Putri tuk membawakanku jatah makan siang. Sebab ku ingin mengulangi momen suap-suapan. Namun, alih-alih mengulang momen, ku justru merusak suasana. Dimana ku bentak dia.


Sebenarnya ku tak sengaja melakukan itu. Sebab ku benar-benar sibuk.


Proyek pembangunan wisma, mendadak bermasalah. Dikarenakan dana yang dibutuhkan rupanya milik negara.


Dimulai dari kontraktor, tukang batu, tukang kayu, dan lain sebagainya. Belum lagi biaya bahan pembangunan yang sudah setengah jalan.


Sementara wisma yang di bangun bukan hanya satu atau dua bangunan, melainkan lebih dari sepuluh bangunan.


Apa tidak keok jika ku harus mengganti rugi dana yang ada? sementara para karyawan tak mau tahu itu semua. Yang menjadi fokus mereka adalah upah tetap berjalan. Sebab pihak perusahaan sudah memakai jasa mereka.


Sementara disisi lain, ku ingin mempersiapkan sesuatu untuk istriku. Tapi belum saatnya tuk bercerita. Sebab belum rampung semua.


Di tengah tumpukan pikiran yang memenuhi otakku, tiba-tiba Putri masuk dan membawakanku makan siang. Namun, ku abaikan dia.


Dapat ku merasa, bahwa dia belum juga makan siang.


Sebenarnya ku iba padanya. Sebab di tengah kesibukan yang padat, Putri menyempatkan diri tuk menemuiku. Namun, karena desakan dari ribuan karyawan membuatku bingung dan bimbang. Akhirnya ku lampiaskan kekesalan pada wanita yang sejatinya tak tahu apa-apa itu.


Ku suruh dia pulang tanpa beban. Walau hatiku merasa kasihan. Namun, ku tak ada pilihan.


"Aaakkk--," teriakku frustasi.


Ku lempar pena di atas meja. Merasa marah pada diri sendiri yang gagal.


"Maafkan aku Putri. Kau harus terkena imbas dari pekerjaanku yang tak kau pahami. Ku harap kau tak akan menaruh dendam padaku," lirihku.


Sungguh ku tak sengaja melakukan itu semua.

__ADS_1


Ingin ku kejar dia, tapi lagi-lagi proyek di depan mata seolah menahanku tuk tetap tinggal. Akhirnya ku memilih tuk menyelesaikan tugas dan mengejar Putri yang mungkin masih ada di halaman parkiran.


Ku telpon Joko, salah satu karyawan teladanku.


Ku suruh dia tuk membantuku sejenak. Agar ku masih bisa mendapati Putri. Namun, sebelum ku gapai Istriku itu, dia lebih dulu pergi bersama seorang pria tak asing di mata.


"Dokter Awan?" gumamku sembari mengeratkan rahang.


Sungguh ku kesal tiada tara. Sebab ku tinggal semua kerjaan demi dia. Namun, ternyata Putri pergi bersama pria lain.


Apakah mereka sudah janjian sebelumnya? atau Putri sedang mencari tempat pelampiasan?


Hatiku benar-benar panas kali ini. Belum lagi proyek yang berjalan amburadul. Membuat sebagian besar jiwaku meradang.


Ku tahu dia marah, tapi tak seharusnya dia pergi bersama pria lain bukan?


Merasa marah, akhirnya ku ikuti Putri dan menelponnya.


"Kau dimana sekarang?" tanyaku lewat sambungan telepon.


"Kenapa emangnya?"


Tuh kan dia marah? tapi ku tak suka caranya menjawabku. Sebab ku tahu dia bersama pria lain.


"Aku tanya kau dimana?!" tanyaku sekali lagi dengan suara satu oktaf lebih tinggi.


"Di jalan!"


Sumpah ku tak suka cara Putri menjawabku.


Aku juga tahu dia sedang berada dijalan. Tapi jangan mengetuskan suara.


Lalu mobil mereka berhenti di sebuah restoran di pinggir jalan. Mereka pun turun bersama.


"Bersama siapa?" Kali ini nadaku datar, namun sambil menahan geram. Sebab ku tahu dia pergi bersama siapa dan dimana.


Saat ini mereka sedang berada di restoran. Sangat jelas ku lihat Putri lewat jendela mobil.


"Bersama teman!" jawab Putri.


"Sudahlah. Aku sedang sibuk!" lanjut Putri.


Tut! Tut! Tut!


Sambungan telepon terputus.


"Aaakkk--," pekikku sembari memukul setir mobil.


Ku eratkan rahang, merasa geram pada istriku yang tengah duduk tertawa disana.


Mereka tampak seperti menikmati menu makan siang. Padahal ku juga belum makan.


Merasa sakit hati, akhirnya ku putuskan tuk pulang ke rumah dan menunggunya disana.

__ADS_1


Setelah itu, akan ku cerca dia dengan sejumlah pertanyaan. Agar hatiku tampak lebih lapang.


To be continued.


__ADS_2