
Hari melelahkan akhirnya ku tempuh jua. Dimana Ibu kembali memintaku untuk menikah.
Hais...
Sungguh ku tak pandai menimbang rasa, karena dia adalah satu-satunya yang ku punya.
Ibu merupakan orang tua tunggal setelah Ayah tiada. Dia mendidik dan membesarkanku walau jarak memisahkan kita, yakni Indonesia dan Amerika.
"Putri, ingat usiamu, nak! dan yang terpenting adalah ingat usia ibu yang lebih dari baligh sekarang ini!" seru Ibu dengan suara yang mulai meninggi. Serasa ingin pecah gendang telingaku ini. Ibu benar-benar membuat indera pendengaranku merinding ngeri.
Suara itu terdengar begitu nyaring, hingga tetangga pun turut mendengar percakapan kami.
Menyesal aku mampir ke rumah ibu. Ku kira bisa makan enak sesuai harapan, tapi rupanya yang ku telan hanyalah omelan. Sungguh sialan!
"Iya, iya. Ini juga masih sementara nunggu jodoh, bu!" balasku sedikit bermalas-malasan. Sungguh ku tak suka topik pembicaraan yang satu ini. Membuatku cepat-cepat ingin pulang ke apartemen. Lalu kemudian,
Plak!
Ibu memukul lenganku cukup keras.
Haduh... sakitnya tuh disini. Tega sekali ibu memukul putrinya sendiri. Kan rasanya pedih. Hiks, hiks, hiks. Batinku menangis.
"Apa kau pikir jodoh itu bisa datang dengan sendirinya? makanya cari! cari!"
Ha?
Apa aku tidak salah dengar? ibu menyuruhku untuk mencari jodoh? memang ibu pikir aku ini wanita gampangan yang dengan mudahnya mencari jodoh di pinggir jalan?
Bukankah seorang wanita seharusnya menunggu di lamar? bukannya malah melamar.
Hais... ibu ini ada-ada saja. Mau jawab juga takut di pukul lagi. Terpaksa ku iyakan saja ucapannya supaya ibu diam.
"Iya, iya. Ntar Putri cari."
"Bila perlu aku pajang baliho di depan rumah ini yang bertuliskan, 'Sedang mencari jodoh'," balasku sembari menahan geram.
Sumpah! andai orang lain yang berkata demikian, sudah ku rebus air liurnya dan menyuruhnya untuk minum kembali. Tapi sayang, ibuku sendiri yang berkata-kata, membuatku bungkam seribu bahasa.
"Makanya, bi. Sama temanku saja yang bernama Paijo itu. Di jamin bahagia dunia akhirat deh!" Kali ini Reina yang berbicara. Dia baru saja datang untuk membuat susu buat anaknya yang berusia dua setengah tahun.
"Nah, benar kata Reina, Putri. Kamu sama Paijo saja." Ini lagi Ibu, sok mendukung. Seolah dia sudah pernah melihat Paijo saja.
Reina juga! kenapa dia tiba-tiba menyodorkan temannya yang bernama Paijo itu? bikin ilfil saja.
__ADS_1
Eh, ngomong-ngomong soal Paijo, apakah Paijo yang ku kenal sama dengan Paijonya Reina ya?
Ah, pasti berbeda. Emang cuma satu orang saja nama Paijo di dunia ini?
Tapi berbicara tentang Paijo Londo itu, kira-kira dia bersedia tidak ya untuk membantuku mendesain rumah sakitku? kata Marni, dia cukup lihai dalam bekerja. Dan yang paling penting adalah bertanggung jawab dan tepat waktu.
Besok dia menyuruhku untuk datang pukul 09.00 pagi. Padahal ada jadwalku operasi. Aduh, bagaimana ini?
"Hei! mengapa melamun? apa kau tertarik pada Paijo, teman Reina?" tanya ibu yang membuatku tersadar dari lamunanku mengenai Paijo.
Paijo... Paijo. Kau membuatku seperti kacang ijo yang terkelupas kulitnya. Sungguh bikin hati dongkol.
"Siapa yang melamun? Putri hanya sedang memikirkan pembangunan rumah sakitku di kota B," jawabku sambil berpikir.
Plak!
Satu lagi tamparan keras mendarat cantik di lenganku yang tak berdosa ini. Kali ini bukan hanya sekedar tamparan, tapi di barengi tatapan sangar sang Ibu Pertiwi. Hi... serem...
"Rumah sakit! rumah sakit!"
"Pikirkan saja terus rumah sakit itu! dan abaikan rumah tangga!" Kali ini ibu benar-benar menekanku untuk segera menikah.
Wajah dengan sedikit kerutan itu, kini berubah menjadi sendu. Membuatku semakin iba.
"Ibu, maafkan Putri yang belum bisa memenuhi permintaan Ibu." Kemudian ku lepas tubuh kecil nan rapuh itu dan beralih menatapnya penuh kasih.
"Ibu, pernikahan itu bukan ajang perlombaan, bu. Putri tahu, bahwa ibu iri melihat anak teman ibu yang baru-baru ini menikah bukan?"
Baru-baru ini anak teman ibu menikah. Dan disitulah ibu mendapat hasutan lagi dari teman-temannya, membuat ibu kembali terpancing untuk memaksaku menikah.
Katanya, "Kok putrimu belum menikah-menikah juga? kan dia sudah tua. Hahaha."
Sungguh ibu-ibu menyebalkan! ingin rasanya ku cobek mulut mereka dengan ulekan sambal terasi. Biar nyaho sekalian!
"Bu, andai saja aku mau, banyak kok yang tertarik sama Putri, tapi disini Putri harus belajar bertanggung jawab pada diri sendiri dulu, baru sama suami. Pembangunan rumah sakit itu bukan untuk ku jadikan sebagai patokan kesuksesan Putri, tapi sebagai ladang amalan Putri untuk orang-orang tak mampu," terangku sedikit berbohong.
Mau tahu dimana letak kebohonganku?
Yap! di bagian kalimat, yang kataku banyak orang yang tertarik padaku. Tapi sebenarnya itu sebatas narasi doang. Sejauh ini belum ada yang tertarik padaku. Entah apa kurangnya diriku.
Cantik iya, sukses apa lagi. Tapi kok gak ada yang minat? hehe.
"Tapi Putri. Kau juga harus mengingat usia ibu yang sudah tak lagi muda, nak," lirih ibu.
__ADS_1
Sejujurnya aku kasihan pada ibu. Dia sungguh-sungguh ingin melihatku menikah. Tapi apalah daya, jodoh tak kunjung datang jua.
"Bu, usia itu bukan di tentukan oleh pernikahan anak-anaknya. Apa ada jaminan, ketika Putri menikah nanti Ibu akan segera meninggal? tidak kan? semuanya ada di tangan Tuhan, bu," terangku sekali lagi.
Susah juga ya membuat Ibu-ibu mengerti akan pemikiran anak muda zaman sekarang?
Kalau dulu kan yang penting udah baligh dan pintar masak udah boleh menikah atau di nikahkan lewat perjodohan. Tapi sekarang kan zamannya sudah berubah. Kesuksesan lah yang utama. Itu sih menurutku.
"Nenek, apa yang dikatakan bibi ada benarnya juga kok. Pernikahan itu bukan ajang perlombaan. Dan tidak mungkin kan bibi yang mencari jodohnya sendiri? Tapi jodoh itu sendiri yang akan datang ke rumah ini dan meminang anak nenek yang cantik ini." Kali ini Reina yang berbicara membelaku.
Hais... Pujianmu itu Rei, Rei. Ingin rasanya ku beri kau emas permata sebagai balasannya. Kau sungguh menyelamatkanku kali ini dari permintaan Ibu.
Lalu ku lihat wajah ibuku berubah menjadi sendu, namun pasrah.
"Ya sudah kalau begitu. Kalian urus lah semuanya. Ibu tinggal tunggu kabar baiknya saja. Semoga Tuhan belum mencabut nyawa Ibu beberapa menit kedepan nanti."
He?
Apa ibu sedang putus asa sekarang? kok kedengarannya serem ya?
"Ibu, ibu. Kok ngomongnya kaya gitu sih? Putri tetap akan menikah, bu. Tapi sama orang yang tepat. Apa Ibu mau melihatku menderita lahir batin karena menikahi pria tak bertanggung jawab?" Ku pura-pura kan saja memasang wajah sendu agar ibu merasa iba padaku.
Sementara Reina seperti sedang menahan tawa, sebab ia tahu aksiku yang sedang merayu ibu.
"Iya, iya. Kali ini ibu setuju dengan pendapatmu. Tapi bulan depan kau tetap harus menikah. Titik! tidak pakai koma!" Lalu kemudian Ibu pergi meninggalkanku dengan senyum penuh kemenangannya.
Ha?
Apa ibu becanda? tadi katanya tinggal menunggu kabar baiknya saja. Kok sekarang seperti pemaksaan ya?
Ternyata omongan ibu tak bisa di percaya juga. Ibu pemberi harapan palsu!
Seketika ku merasa nasibku apes. Ternyata melawan ibu negara sungguh tak akan pernah berhasil.
Lalu kemudian Reina berbisik padaku, "Sama Paijo saja, bi."
Ngek???
To be continued.
Hargai aku lewat like, komen, vote, dan hadiahnya ya.
Happy reading.
__ADS_1