
Putri Pov.
Hari ini kami sama-sama kembali pulang. Dimana Paijo menjemputku datang.
Sumpah demi apapun, hatiku sungguh riang gembira, melihat duhai suami telah tiba.
Dia bertanya kepadaku, bagaimana pekerjaanku hari ini.
Hais... pertanyaan Paijo serasa ada manis-manisnya gitu. Sungguh hatiku di baluti gula batu.
Rupanya dia bisa juga perhatian, walau tak menunjukkan secara terang-terangan. Namun, batinku cukup keteteran kala bertemu suamiku yang sekarang terlihat sangat tampan.
Haduh.... Putri, Putri. Dulu kau hina dia, sekarang kau menyanjungnya. Kau menjilat ludahmu sendiri wahai Putri Valeria Prayoga. Kutukku dalam hati.
Di perjalanan pulang, hujan pun mulai turun begitu deras, sebelum tadi di awali rintikan pelan.
Ku suka sekali hujan. Ingin rasanya ku turun bermain air di pinggir jalan selayaknya anak kecil yang di penuhi kebahagiaan.
Ku turunkan sedikit kaca jendela mobil, dan membasahi tanganku yang kering.
Rasanya sejuk sekali.
Air hujan itu merasuk hingga ke tulang belulangku. Dan aku pun tersenyum simpul atas rahmat Tuhan yang satu ini.
"Apa kau begitu menyukai hujan?" Pertanyaan Paijo tak mempengaruhi rasaku dalam menikmati sejuknya air hujan.
"Aku suka sekali hujan. Bahkan ingin rasanya aku turun disini dan bermain bersama hujan ini," jawabku sambil menutup mata seakan menikmati betapa meneduhkan air yang turun dari gumpalan awan hitam ini.
"Apa rasanya begitu menyenangkan?" tanya Paijo sekali lagi.
"Hmm." Masih tanpa melihat wajah Paijo, ku sandarkan kepala di sisi jendela, dan menikmati percikan air hujan yang sedari tadi membasahi tanganku.
"Jangan terlalu lama terkena hujan, nanti kamu sakit." Kalimat Paijo kali ini sukses mengalihkan perhatianku dan mengabaikan hujan yang ku sanjung.
Ku menoleh pada suamiku yang terus fokus pada kemudinya.
"Apa kau sedang mengkhawatirkanku sekarang?" tanyaku sedikit terkejut.
"Aku tidak mengkhawatirkanmu. Bukankah kau seorang dokter?"
Huh! dasar pria tidak romantis! jawaban macam apa itu? kalau tidak khawatir, lalu mengapa berkata seolah dia perhatian? dasar pria aneh!
"Lalu mengapa kau perhatian padaku?" tanyaku menahan kesal.
Ternyata sakit juga ketika mendapat perhatian palsu. Sungguh terlalu!
"Apa aku tidak boleh memperhatikan Istriku?" Pertanyaan datar, namun sukses menusuk ke sanubari.
"His! dasar pria menyebalkan!"
"Di tanya apakah dia sedang mencemaskanku, jawabannya tidak. Tapi katanya dia perhatian! dasar aneh!" gumamku sembari menahan geram.
Merasa jenuh dengan sikap Paijo yang tak peka, akhirnya ku balik pada derasnya hujan.
Hanya hujan lah yang memahami betapa panasnya hatiku saat ini. Dia pun menyejukkan jiwa yang beberapa saat lalu menggerutu.
**
Setibanya kami di rumah, hujan masih belum juga reda, hingga pakaian yang berada di jemuran basah kuyup, sebab tak kunjung di angkut oleh sang empunya rumah.
__ADS_1
Kemana kira-kira ibu dan Abah? mengapa sunyi sekali?
Sekedar informasi, jemuran di rumah Abah letaknya di samping halaman depan, dan tak memiliki atap. Sehingga pada saat hujan turun, maka pakaian itu akan basah kuyup.
Ku turun dari mobil tanpa mengenakan payung, sebab tak ada juga payung dalam mobil Paijo.
Lalu ku berlari pelan menuju jemuran yang sudah terhambur di atas tanah akibat tertiup angin kencang, seakan mengabaikan kesehatan.
Dan kemudian,
Sreeeek....
Jasku sobek.
"Aaakk--," pekikku sembari melihat jas putihku.
Seketika ku terkulai lemah di atas tanah, sembari menatap nanar jas kebanggaanku.
Sungguh ku benar-benar terluka, sebab jas kebanggaanku terkena besi yang tertancap di tembok pagar rumah.
Tak lama Paijo datang dengan sebuah payung di tangannya. Sehingga hujan tak lagi membasahi tubuhku. Namun, kali ini sejuknya hujan tak mampu menenangkan hatiku yang sedih. Sebab jasku tak sebanding nilainya dengan gemercik hujan ini.
"Mengapa kau mengambil pakaian itu? seharusnya kau masuk dulu ke dalam rumah dan mengambil payung. Akhirnya kamu basah kuyup," kata Paijo penuh penekanan. Namun, ku tak fokus pada ucapannya. Hatiku sungguh masih terluka sebab jasku yang sobek.
"Ayo berdiri, kita masuk ke dalam rumah," titah Paijo. Namun, ku abadikan dia.
"Kenapa masih disini? apa kau ingin bermain hujan?" Sekali lagi Paijo bertanya. Namun, ku masih diam seraya menatap nanar jasku itu.
Lalu kemudian Paijo mengambil pakaian yang ada di tanganku. Tetapi ku masih belum beranjak juga, hingga Paijo menuntunku untuk berdiri dan masuk ke dalam rumah.
"Mandi dan gantilah pakaianmu, atau kau akan terkena sakit flu," ucap Paijo.
"Sebenarnya ada apa? mengapa kau diam saja? apa kau sakit sekarang?" Kali ini ku bergeming. Ku respon Paijo dengan sebuah tangisan kencang.
"Huaaaaa...." tangisku sekuat tenaga.
Mungkin Paijo saat ini mengira aku sedang kerasukan setan. Tapi ku tak perduli. Ku masih ingin meluapkan emosi.
"Hei, mengapa kau menangis? apa ada yang sakit?" tanya Paijo panik. Lalu kemudian ku tunjukkan jasku yang sobek tadi sembari sesegukan.
"Jasku sobek," lirihku pilu.
Paijo Pov.
Ha? Putri menangis karena jas putihnya sobek?
Kan masih bisa beli yang baru. Lalu mengapa dia harus menangis kencang seperti tengah menghadapi kedukaan?
"Mengapa kau menangis hanya karena sebuah jas? kan masih bisa beli yang baru?" tanyaku heran.
Sembari menangis sesenggukan, Putri pun berkata, "Ini pemberian dari seseorang yang sangat berharga di sepanjang karirku."
Jujur saja, jawaban Putri kali ini membuat hatiku merasa aneh. Seperti ada gumpalan hitam yang memenuhi organ tubuhku itu. Sehingga mempengaruhi pernapasanku.
Pemberian seseorang? apakah itu dari kekasihnya? romantis sekali. Pikirku.
"Nanti akan ku ganti yang baru," ucapku datar.
"Tidak mau!"
__ADS_1
Hais...
Kenapa dia keras kepala sekali? apakah jas itu sangat berharga baginya? sehingga mengabaikan kesehatannya sendiri!
Padahal pakaian yang tadinya ia kenakan, belum juga tergantikan.
"Baiklah, baiklah. Terserah padamu saja. Tapi ganti dulu pakaianmu, atau kau akan sakit. Aku tidak mau merawat orang sakit sepertimu!" Sengaja ku ucap kalimat tak berfaedah itu, agar ia meresponku. Sebab, ku tahu dia tak suka jika ku pancing dengan kalimat menyebalkan.
Dan... binggo!
Akhirnya Putri meresponku, dan mengabaikan jasnya yang jelek itu.
Putri menatapku tak suka. Tatapan itu sungguh tajam. Sehingga mempengaruhi rasa benciku akan jas itu.
Hei, mengapa aku jadi membenci jas tak berdosa itu? apakah karena pemberian dari kekasih Putri? entahlah.
"Aku juga tidak memintamu untuk merawatku!"
"Lagi pula aku ini seorang dokter!" jawab Putri geram.
"Dokter kok cengeng!" cibirku sembari tersenyum mengejek. Sengaja terus ku pancing dia. Agar melupakan sejenak jas kumal itu.
Entah mengapa, melihat jas yang di kenakan Putri, membuat hatiku tak suka.
"Dokter juga manusia!" tandas istriku ini.
"Kalau manusia, ya mandi sana!"
"Jangan tidur dengan pakaian basah dan di temani jas jelek itu!" cetusku tak suka.
Ku lihat Putri masih ingin menjawab ucapanku, tapi ku cegah dia dengan menggendong dirinya dan membawa wanita itu ke kamar mandi.
Ku siram dia dengan air hangat, agar tubuhnya tetap terjaga. Sebab ku tak mau dia menderita akibat jas brengsek tadi.
"Aaakk--," pekik Putri.
"Kenapa kau mebawaku kemari?!" ku lihat Putri begitu marah. Tapi ku tak peduli.
Lalu tiba-tiba perhatianku teralihkan oleh dua gundukan besar di depanku.
Seketika ku palingkan wajah, merasa malu atas yang ku tatap barusan.
"Mengapa memalingkan wajah? apakah kau ingin lari dari kesalahanmu?"
"Jawab aku! mengapa kau menggendongku dan menyiramku begitu saja? apa kau sengaja, ha?"
Hais... Putri ini benar-benar membuatku frustasi.
Dia terus mendesakku. Sementara dua gundukan itu membuat sakit mataku.
"Lalu, apa kau ingin aku membawamu ke atas tempat tidur dan bermain panjat tebing disana?!" jawabku ketus.
Kali ini Putri bungkam. Dia tak lagi bersuara. Mungkin akhirnya dia sadar, bahwa aku juga pria normal.
"Keluar lah!" titah Putri akhirnya.
Tanpa berpikir panjang, akhirnya ku keluar dari kamar mandi dengan perasaan aneh di dalam sana.
Semoga saja hujan ini tak kunjung reda. Agar hati Putri tetap terjaga kesejukannya. Sebab, jika rembulan datang, maka niscaya hujan itu pasti membawa serta senyuman Putri yang begitu mengagumkan. Doaku dalam hati.
__ADS_1
To be continued.