
Putri Pov.
Pasca kembali dari kantor Paijo, mata dan batinku seakan membayangkan wajahnya di ujung sana.
Wajah cupu nan culun itu seakan tengah mengejekku di sepanjang perjalanan. Dia tersenyum nakal sembari menggodaku.
Hais...
Aku pasti sudah gila. Membayangkan apa yang baru saja di lakukan olehnya.
Dia menyuapiku dengan penuh ikhlas, walau tanpa cinta.
Kini ku daratkan tubuh di kursi kebesaran milikku. Lalu mulai fokus pada segudang aktivitas di depanku.
"Putri, tadi direktur utama mencarimu." Suara Marni membuatku terkejut.
Wanita dengan poni di wajahnya itu tiba-tiba muncul tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Ya ampun Marni, kau membuatku terkejut saja!" gerutuku.
"Memangnya ada apa Pak Oka mencariku? bukankah semua laporan penyuluhan sudah ku berikan padanya tadi siang?" tanyaku.
"Bukan masalah itu, tapi dengar-dengar katanya ada dokter baru yang dari Nusantara Sehat yang baru saja masuk ke rumah sakit ini. Dan beliau ingin kamu yang membimbingnya."
Ku angguk-anggukan kepala, pertanda memahami apa yang Marni kata.
"Baiklah kalau begitu. Tolong tangani pasien atas nama Ibu Nori. Dia ada di ruang bersalin saat ini. Dan tolong pelajari kasusnya. Jangan sampai salah penanganan," titahku tegas.
Begitulah aku, jika menyangkut pekerjaan. Ku akan berubah jadi wanita elegan yang di segani. Namun, ketika berada di rumah terutama di dekat Paijo, mendadak ku jadi wanita mati kutu.
**
Setibanya aku di ruangan direktur, rupanya dokter yang baru saja masuk itu sudah menungguku disana.
Mereka menyambutku dengan penuh suka cita seakan akulah pemilik rumah sakit ini.
Selama hampir satu jam kami berbincang-bincang. Memperkenalkan semua tentang rumah sakit ini.
Sembari mentraningnya, ku ajak dokter baru itu untuk melihat-lihat kondisi rumah sakit kami. Agar ia tahu, seberapa besar potensi dan pencapaian rumah sakit ini. Namun, ku tak menyebut, bahwa aku salah satu pemegang saham di rumah sakit ini. Sebab itu bukan gayaku.
Puas mentraning dokter baru itu, akhirnya ku memutuskan tuk pulang ke rumah.
Hari ini ku kembali lebih cepat dari biasanya. Sebab ku ingin menunggu suamiku yang masih disana.
Ya, ku ingin menyambut Paijo dengan baik kali ini. Walau sedikit terpaksa, tapi ku tak boleh mengabaikannya.
Lebih-lebih ia memintaku tuk menunggunya di rumah.
Sembari tersenyum, ku bayangkan ia berbisik di telingaku tadi.
Bisikan itu seakan menggema hingga ke pori-pori.
__ADS_1
Haduh... aku pasti sudah tidak waras sekarang. Membayangkan pria cupu menyentuhku. Tapi, sayang dia adalah suamiku. Ku tak kuasa menolak semua itu.
Setibanya aku di rumah Abah, ku lihat ibu tengah memijit punggung adik iparku Sukro.
Sebenarnya ku merasa aneh dengan keluarga ini. Sebab namanya yang unik, membuatku ingin tertawa ngakak.
Betapa tidak, nama Abah katanya panjang seperti jalan tol. Lalu nama Paijo katanya menghabiskan kertas ujian nasional. Terus adiknya juga sama.
Hedew... bagaimana kalau kami memiliki anak ya? pasti Abah akan memberinya nama yang panjang kali lebar juga.
"Kamu sudah pulang nak?" tanya ibu, membuyarkan lamunanku dari nama-nama putranya.
"Ah, iya bu." Ku hampiri ibu mertuaku itu. Lalu mencium punggung tangannya. Kemudian adik iparku Sukro mencium punggung tanganku.
"Mba Putri cantik sekali dengan seragam putih itu. Aku juga mau dong punya istri seperti mba Putri," ucap Sukro sembari tersenyum ala nyengir kuda.
Lalu kemudian,
Plak!
Ibu memukul lengan Sukro.
"Belajar dulu yang benar! baru SMA sudah mau menikah! mau di kasi makan apa istrimu nanti?" tandas ibu.
"Is, ibu ini tidak mengerti zaman!"
"Aku kan hanya berkhayal doang. Membayangkan betapa nikmatnya memiliki istri seperti mba Putri." Sumpah, jawaban Sukro membuatku tak mampu berkata-kata.
Lalu kemudian ibu kembali memukul lengan Sukro.
Plak!
"Belajar dulu yang benar seperti kakakmu. Maka Abah akan menikahkanmu dengan seorang wanita berinisial B," jawab ibu.
"B?" tanya Sukro polos.
"Iya B, alias badut. Hahaha."
Ku saksikan betapa hangatnya keluarga ini. Mereka bercanda gurau sembari menggelitik satu sama lain.
Rupanya keluarga Paijo tak setegang yang ku bayangkan. Mereka hangat dan juga menyenangkan. Hingga tak ku sadari, pelan-pelan hatiku mulai menerima keluarga ini.
**
Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Namun, Paijo tak kunjung pulang. Padahal ku telah menunggunya selama berjam-jam sembari mengenakan pakaian andalan, yakni daster emak-emak kos-kosan.
Sengaja ku pakai itu, tuk menarik perhatian suamiku. Sebab ku ingin menjalankan kewajiban sesuai permintaannya tadi siang.
Namun, yang di tunggu tak kunjung datang, membuatku kelimpungan.
Hedew... Paijo, Paijo. Kau benar-benar membuatku seperti orang lain.
__ADS_1
Bagaimana bisa aku berakhir seperti ini? menjadi wanita patuh akan suami?
Tapi itu kewajiban sih. Tak boleh ku jadi istri durhaka seperti yang ada di serial televisi.
Lama menunggu, hampir saja ku terlelap dalam balutan daster. Kali ini ku sungguh-sungguh tak sanggup menunggu lebih lama lagi.
Hatiku mulai panas, seakan siap tuk marah.
"Kenapa Paijo belum juga pulang? ini kan sudah pukul dua belas malam. Padahal aku bela-belain cepat pulang demi dia."
"Masih banyak yang harus ku kerjakan di rumah sakit, tapi dia justru membuatku seperti orang bodoh disini!" geramku gak ketulung.
Lalu ku lihat pintu kamar terbuka, menampakkan wajah familiar tengah berdiri disana.
Dia santai tanpa beban.
"Mengapa baru pulang?" tanyaku dengan sedikit penekanan.
Jika dalam serial telenovela, seorang istri menyambut suaminya dengan senyuman, maka lain halnya denganku. Ku ketus tanpa ampun.
"Banyak proyek," jawab Paijo seadanya.
Banyak proyek? apa dia pikir aku tak banyak proyek juga di rumah sakit? bahkan kerjaanku lebih berat di bandingkan dirinya. Ada banyak nyawa yang ku tangani disana. Tapi ku rela pulang cepat demi dia.
"Banyak proyek?" kataku.
"Kalau banyak proyek, lalu mengapa kau menyuruhku untuk menunggumu di rumah tadi?" kesalku akhirnya meletup-letup.
Kali ini ku benar marah. Ingin rasanya ku cabik-cabik wajah tenang nan culun itu.
Dia seperti pria tanpa beban hidup. Sementara aku disini tengah makan hati.
Lagi pula, kenapa juga ku harus berharap? dia pasti hanya mengerjaiku tadi.
Oh ya ampun...
Sepertinya ku sudah masuk dalam perangkap pria cupu yang satu ini.
"Kapan aku menyuruhmu untuk menungguku?"
Toeng!
Nah tuh kan? apa aku bilang. Dia hanya mengerjaiku tadi. Rupanya dia tak seserius wajahnya.
Seketika ku merasa seperti gadis murahan yang ada di pinggir jalan.
Malu sekali rasanya di abaikan.
"Lupakan saja. Aku ngantuk!"
Ku tarik selimut dan berbaring disana. Walau hati patah, ku harus tersenyum cerah. Atau dia akan mengira ku tergila-gila padanya. Padahal ku hanya sekedar mengikuti apa ucapnya.
__ADS_1
To be continued.