
Paijo Pov.
Ku terbaring di atas tempat tidur. Menunggu Putri yang tak kunjung pulang.
Sementara mataku mulai lelah. Akhirnya ku tertidur pulas dengan perut yang masih kosong hingga malam hari tiba.
Lalu ku rasa tempat tidur seperti bergoyang, namun lampu masih juga padam.
Apakah Putri sudah pulang?
Tiba-tiba ku rasa tubuhku seperti tertindih seseorang. Dan baunya sangat tak asing di indera penciuman.
Dan ternyata benar, istriku akhirnya telah kembali pulang.
"Dari mana?" tanyaku dengan suara serak.
Dapat ku rasa, sepertinya Putri terkejut akan diriku yang tak sadar ia tindih.
Mungkin dia terlalu lelah, hingga tak sadar aku ada di bawah tubuhnya.
Putri berniat tuk bangun, tapi ku tahan tubuhnya dengan melingkarkan kedua tangan di pinggangnya.
Ku kunci dia disana, agar tak berada jauh dariku.
"Lepaskan aku!" pinta Putri.
Ku tahu dia masih marah padaku atas insiden tadi siang. Tapi disini hatiku juga sakit dan terluka. Sebab dia memilih tuk berbohong dan pergi bersama pria lain.
"Aku tanya dari mana?" tanyaku sekali lagi sembari menahan geram.
Saat ini ku masih bisa menahan emosi. Sebab tak ingin terpancing. Namun, sikap Putri yang arogan membuatku tak sabar dan berjung bentakan.
"Lepaskan aku!" seru Putri seraya berusaha untuk melepaskan diri.
"DARIMANA?!" Akhirnya ku tinggikan suara. Merasa marah pada Putri yang tak kunjung memberi jawaban.
"Lepaskan aku. Kau menyakitiku Paijo," lirih Putri.
Dapat ku rasa, dia seperti menahan tangis.
Lalu ku kecup pundaknya, sebelum akhirnya ku kembali bertanya dengan suara yang mulai melunak, "Dari mana, em?"
Perlahan Putri tak memberontak lagi. Dia justru berbaring di atas dadaku, seakan melepas penat disana. Lalu ku renggangkan pelukan, agar ia bisa bernafas lega.
Tak lama ku dengar sebuah isakan.
"Hiks, hiks, hiks."
Apakah Putri sedang menangis sekarang? tapi apa yang membuatnya menangis seperti ini? apakah sikapku tadi sudah melewati batas?
Akhirnya ku balik badan Putri, menjadikannya di bawah tubuhku.
"Apa kau menangis?" tanyaku dengan suara pelan. Agar Putri tak ketakutan.
Sementara lampu kamar masih belum ku nyalakan. Jadilah kamar kami remang-remang.
__ADS_1
"Kau keterlaluan!"
"Aku membencimu! hu, hu, hu." Tangis Putri tiba-tiba pecah seketika. Dia seperti wanita tengah patah hati.
Dalam keremangan malam, masih dapat ku lihat wajah sendu Putri.
Wajah itu di tutupi beberapa helai rambutnya.
Lalu ku pindahkan rambut itu ke belakang telinga, dan mencium lembut keningnya.
Terakhir ku satukan kening kami, hingga deru nafasku dan Putri seolah beradu kecepatan.
"Maafkan aku karena membentakmu tadi. Aku tidak sengaja melakukannya," ucapku tulus. Namun, masih dengan menyatukan kening.
Beruntung ku tak bau mulut, sebab ku pakai penyegar mulut. Jika tidak, maka Putri pasti akan merasa muntah.
"Kau keterlaluan!"
"Kau membuatku berangan-angan jauh. Kau mengangkat diriku setinggi langit, lalu membuangku ke dasar laut!"
"Kau membuat perasaanku seperti terjun payung. Kau sukses membuat hatiku naik turun! aku membencimu! hu, hu, hu," ucap Putri menggebu-gebu.
Owww... jadi dengan kata lain Putri baper dengan sikapku yang jutek toooo.
Ok fix. Tak akan ku buat dia terjun payung lagi. Akan ku buat dia terjun ke atas tubuhku saja.
Asik! asik! jos!
"Kalau begitu, katakan padaku. Dengan siapa tadi kau pergi, em?" tanyaku sembari mendaratkan ciuman di bibir.
Ku tatap matanya dalam keremangan, menjadikan malam ini seperti di awang-awang.
"Lupakan masalah dengan siapa aku pergi tadi. Tapi katakan padaku, mengapa kau tiba-tiba berubah? kau membentakku seperti tanpa beban."
"Sebenarnya ada apa denganmu? kau memintaku untuk membawakanmu makanan, tapi kau justru menyuruhku pulang!"
"Aku pikir kita bisa suap-suapan tadi siang, tapi nyatanya kau seperti orang kesetanan!" protes Putri.
Lalu ku nyalakan lampu, merasa penasaran akan raut wajah istriku yang tengah memprotesku.
Dan... tring!
Lampu menyalah.
"Matikan lampunya!" seru Putri sembari menutup wajah.
Ku tahu dia sedang malu sekarang. Tapi ku tetap penasaran. Bagaimana bentuk wajah Putri ketika sedang marahan.
"Kalau aku tidak mau bagaimana?" godaku sembari tersenyum jenaka.
"Aku ini sedang marah Paijo! jangan menggodaku! aku tahu trikmu sekarang. Kau berusaha membuatku tenang dengan menggodaku bukan?"
"Jika dulu hatiku gampang luluh, tapi sekarang tidak lagi!" tandas Putri seperti... sungguh-sungguh?
Benarkah kali ini Putri marah padaku? tapi seharusnya aku juga berhak marah disini. Sebab dia pergi bersama pria lain.
__ADS_1
Selain dari pada itu, aku juga sudah meminta maaf padanya, walau tak sepenuhnya salah. Tapi mengapa dia masih marah?
"Baiklah kalau begitu," kataku sembari beranjak bangun.
"Aku tidak mau tahu, besok kau harus memecat dokter yang bernama Awan dari rumah sakit!" tegasku tanpa terbantahkan.
Kali ini Putri bungkam.
Dia pikir ku tak tahu siapa yang menemaninya dalam duka tadi siang.
Lalu kemudian ia bangun dan menatapku penuh selidik.
"Apa tadi kau mengikutiku?" tanyanya.
"Apa aku harus memberitahumu, kalian makan siang dimana? apa aku harus memberitahumu seberapa bahagianya kau ditemani olehnya? Kau bahkan tak menungguku pulang!" tandasku tak suka.
"Jadi mulai besok aku tidak ingin melihat dokter kampungan itu berada di sekitarmu! atau kau berhenti kerja sekalian! dan relakan impianmu menjadi seorang dokter teladan!" Tiap bait kalimatku ku ucap dengan penuh penekan. Agar Putri paham, bahwa ku benar-benar memprotesnya kali ini.
Sungguh hatiku panas terbakar cemburu. Namun, jika di tanya apakah ku cinta Putri? maka jawabannya adalah tidak!
Sumpah, aku tidak jatuh cinta pada istriku ini. Tapi ketika melihatnya bersama pria lain, hatiku seperti kebakaran jenggot.
Panik iya, kesal apa lagi. Lebih-lebih marah. Ingin rasanya ku bunuh dia.
Apakah karena pria yang bernama Awan itu merupakan bawahanku dulu? sehingga ku merasa kalah di bandingkan dia?
Ya, sejujurnya adalah Awan, pria yang kini berprofesi sebagai dokter itu sebelumnya merupakan bawahanku.
Dia bekerja paruh waktu padaku, sampai akhirnya menjadi seorang dokter seperti sekarang.
Dulu dia menjadi gelandangan di pinggir jalan. Lalu ku ajak dia bekerja padaku agar dapat mencapai impiannya untuk menjadi seorang dokter spesialis dalam.
Hanya saja, dia berlagak tak mengenaliku beberapa waktu yang lalu.
Padahal dia sukses dari hasil upayaku. Tapi sudahlah. Mungkin sejatinya manusia seperti dia.
Terkadang ada beberapa orang yang dalam sekejap bersikap seperti kacang lupa pada kulitnya ketika kesuksesan berhasil ia gapai. Salah satunya adalah dokter Priawan atau yang akrab disapa Awan.
"Apa kau sedang mengancamku sekarang?" tanya Putri.
"Terserah padamu. Pilihan ada di tanganmu!"
"Aku tidak peduli kau menjadi apa kedepannya nanti. Namun, satu yang pasti. Aku masih sanggup memberimu makan walau kau bukan seorang dokter lagi. Apa kau paham sekarang?!" Kali ini nadaku benar-benar tak terbantahkan.
Ku sungguh marah, benar-benar marah.
Namun, bukan karena cinta. Melainkan karena merasa kalah dari seorang bawahan lama yang begitu angkuhnya di depanku.
To be continued.
Like, komen, vote dan hadiahnya ya readers.
Terimakasih.
Happy reading.
__ADS_1