
"Paijo!" pekikku. Sebab pria itu makin membuatku makin menggerutu. Betapa tidak, topik kali ini semakin keluar jalur keselamatan.
Rupanya di balik wajah cupu ini, tersimpan beragam jenis karakter. Salah satunya adalah menyebalkan.
"Kenapa? apa kau takut sekarang?" tanya Paijo masih dengan senyum gigi behelnya.
Ingin rasanya ku congkel behel itu dan membuangnya ke laut lepas agar tak mengganggu penglihatanku.
"Untuk apa aku takut padamu? memangnya kamu itu monster?" kesalku gak ketulung.
"Sudahlah, gak usah di lanjutkan lagi."
"Jadi, ini bagaimana? apakah kita harus fitting baju pengantin juga? emang itu penting?" tanyaku seakan mengalihkan pembicaraan. Lelah rasanya berdebat terus menerus dengan Paijo. Sebab ujung-ujungnya pasti aku yang kalah.
"Menurutmu?"
Waduh, dia balik nanya lagi. Aku kan baru saja mengajukan pertanyaan serupa, kenapa justru dia balik bertanya? dasar aneh.
"Kenapa kamu justru bertanya padaku?" tanyaku heran.
"Terus, menurutmu aku harus bertanya pada kaca mobil ini?!"
Ya ampun... Paijo... mengapa kamu sangat menyebalkan sih? apa iya aku harus melanjutkan pernikahan ini? tidakkah kami tak memiliki kecocokan sama sekali? menyebalkan.
"Terserah!" jawabku singkat, namun sengaja ku ketuskan suaraku agar ia tahu, bahwa aku sedang memprotesnya. Tapi bukannya meluruskan masalah, dia malah diam seribu bahasa.
Apa hati pria ini terbuat dari batu? dasar pria tak peka!
Karena merasa jengah, ku diamkan saja calon suamiku itu, agar tak terjadi perdebatan lagi.
Akhirnya selama sepuluh menit, kami diam membisu di dalam mobil. Sementara jarak tempat wedding organizer yang kami tuju belumlah sampai.
Dalam perjalanan itu, aku mulai berpikir panjang. Apa iya ku harus teruskan pernikahan ini?
Merasa ragu, akhirnya ku ajukan pertanyaan yang sukses menghentikan mobil Paijo di tengah jalan.
"Apa sebaiknya kita hentikan saja pernikahan ini?"
Mobil Paijo menepi, dan ia menoleh padaku dengan tatapan yang sulit untuk aku baca. Entah apa yang ia pikirkan, yang pasti ku tak suka tatapan itu. Sungguh menakutkan.
"Apa kau sedang mempermainkan perasaan orang tua dan keluarga kita sekarang? atau kau senang melakukan hal memalukan? atau kau wanita tak punya hati nurani? atau kau suka bermain lelucon tak senonoh seperti ini?!" Pertanyaan Paijo terdengar datar, namun menusuk ke tulang hingga ke paru-paru. Rasanya seperti tertusuk duri pohon jeruk nipis. Sungguh perih sekali.
Ku perhatikan dengan seksama wajah Paijo, kali ini dia seperti sedang memendam amarah di dalam sana.
__ADS_1
Apakah dia sedang marah padaku sekarang? apakah pertanyaanku tadi membuatnya tersinggung? entahlah.
"Paijo, bukan seperti itu," kataku berusaha untuk meluruskan.
"Lalu?"
"Begini, coba kamu bayangkan saja, setiap kita bertemu, kita selalu berdebat. Bahkan untuk hal-hal kecil kita selalu mempermasalahkannya. Lalu bagaimana bisa kita menikah? tidakkah kita tak memiliki kecocokan sama sekali? lalu untuk apa kita melanjutkan pernikahan ini?" terangku.
"Masih belum terlambat Paijo, belum ada yang hilang dari kita berdua. Baik itu kamu maupun diriku," lanjutku. Lalu kemudian,
"Keluar!"
Paijo mengusirku dari dalam mobilnya. Apakah dia baru saja marah padaku? tapi kenapa? bukankah penjelasanku sangat masuk akal? memang benar kan kami tak memiliki kecocokan sama sekali? setiap kali bertemu kami pasti berdebat. Lalu untuk apa kami hidup bersama? kalau ujungnya harus menderita?
"Paijo kau--" Ku tak percaya pada sikap Paijo. Menurutku dia meresponku terlalu berlebihan.
"Aku bilang keluar!" Kali ini Paijo meninggikan suaranya, dan di iringi dengan tatapan tajam.
Sungguh ku takut akan pria ini sekarang. Dia benar-benar marah padaku. Akhirnya ku putuskan untuk keluar dari mobil Paijo. Sebab, malu sekali rasanya bertahan di tempat yang tak di inginkan lagi. Walau asal muasal kemarahan itu berasal dariku. Tapi aku selalu menjunjung tinggi harga diriku. Sekali di suruh keluar ya ku keluar saja. Ngapain merengek pada pria coba?
Tapi aku juga sih sebenarnya yang keterlaluan disini. Cuma mau bagaimana lagi? bukankah nyatanya kami tak memiliki kesamaan? lalu untuk apa di lanjutkan sandiwaranya?
Setelah ku turun dari mobil Paijo, akhirnya pria itu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Tanpa sadar, air mataku menetes. Entah karena apa. Tapi kepergian Paijo seperti menyisakan luka di dalam sana.
Seketika ku sesali ucapanku tadi. Tapi aku tak boleh goyah. Masih belum terlambat. Aku masih utuh, dan masih perawan!
**
Paijo Pov.
Ku lajukan mobilku dengan kecepatan tinggi setelah memastikan Putri keluar. Hatiku seperti terluka ketika mendengar pernyataan Putri yang ingin membatalkan pernikahan.
Sebenarnya ku tak marah karena dia menghentikan proses pernikahan kami yang sudah berjalan sekitar tujuh. puluh persen. Toh, kami tak saling mencintai. Apa lagi merasa ingin memiliki. Tapi, ku menyayangkan sikapnya yang terkesan memainkan perasan keluarga.
Apa dia pikir hanya perasaannya yang perlu di di perhatikan disini? apa dia pikir hanya dirinya yang terlibat dalam pernikahan ini? keluargaku juga sudah terlibat cukup jauh. Terlebih lagi Abah dan Ibu. Mereka sangat bahagia dalam menyambut pernikahan putranya. Apa lagi ini merupakan yang pertama.
Hati mereka akan hancur berkali-kali lipat jika mengetahui fakta, bahwa calon menantunya bukanlah wanita idaman seperti yang selama ini di bayangkan. Jadi, wajar saja jika aku marah. Sebab ku takut hati ibu dan Abah hancur karena keegoisan seorang wanita yang baru ku kenal.
Apakah semua wanita seperti ini? ataukah cuma dia seorang yang berhati egois?
"Aaakkk--" teriakku penuh amarah.
__ADS_1
Ku pukul setir mobil, lalu menepikannya di tepi jalan.
"Putri kau benar-benar keterlaluan!"
"Apa kau pikir kau bisa seenaknya saja mempermalukan Abah dan Ibu?"
"Jika itu hanya mengenai dirimu, aku tak peduli. Tapi kita sudah melangkah terlalu jauh. Akan ada banyak pihak yang terluka jika kita harus mundur," kataku seorang diri.
"Tidak akan ku biarkan kau mempermalukan keluargaku. Kita harus tetap menikah!" Ku bulatkan tekad untuk terus maju.
Ya, aku harus lanjut, sebab langkahku sudah terlalu jauh menempuh perjalanan panjang menuju proses pernikahan yang bahkan diriku pun tak mau. Tapi karena iba, ku memutuskan untuk membantunya. Namun, yang ku bantu ternyata tak memiliki hati nurani.
Lama berunding dengan hati nuraniku, akhirnya ku putuskan untuk memutar balik mobil dan kembali ke tempat dimana tadi ku turunkan Putri.
Beruntung wanita itu masih duduk diam di tempat. Entah apa yang ia lakukan disana. Ku tak mau tahu, sebab ku masih mengutamakan amarahku, agar ia tahu, bahwa aku sedang memprotesnya.
Ku hentikan mobil tepat di depan Putri. Dan ku lihat dia sedang tak mau menatapku. Aku tahu dia tersinggung dengan sikapku, sebab ku suruh dia turun. Tapi aku yang lebih tersakiti disini.
Dia sesuka hati membolak-balikan hati manusia. Dia suka mempermainkan perasaan orang. Jadi, jangan salahkan siapapun jika kau juga turut terluka sebab ulahmu sendiri Putri.
"Masuklah!" titahku tanpa melihat wajah Putri.
Sungguh ku masih kesal pada wanita ini. Tapi, ku tahu dia juga terluka. Jadi, ku turunkan sedikit egoku, agar ia merasa sedikit lega. Namun, dia masih juga keras kepala. Putri tak mau masuk ke dalam mobil.
Merasa kesal, aku pun mengencangkan gas mobilku agar ia tahu, bahwa aku sedang marah padanya.
Dan.... bingo!
Putri akhirnya masuk ke dalam mobil dengan wajah kusut.
Lalu kemudian ku lajukan mobilku dengan kecepatan tinggi.
Kali ini kami sama-sama memutuskan untuk diam.
Tak ada perdebatan seperti yang sudah-sudah. Sebab ego kami masih sama-sama tinggi disini.
Aku yang masih tersinggung akan sikap Putri yang selalu mempermainkan perasaan orang lain, dan dia yang kesal padaku karena menurunkannya di tengah jalan tanpa ampun.
To be continued.
Like, komen, vote, dan hadiahnya ya readers.
Oh iya, maaf kemarin bukannya tak update, tapi proses reviewnya yang lama. Terimakasih.
__ADS_1
Happy reading.