KONSULTAN CINTA

KONSULTAN CINTA
Pernikahan.


__ADS_3

Akhirnya hari yang dinanti-nantikan kini tiba jua. Dimana aku dan dia akan menikah. Tapi aku masih gugup dan tak bahagia, sebab dia bukan pria yang ku cinta.


Ku lihat ibu tersenyum haru ria. Merasa tak menyangka putrinya akan menikah jua.


Sementara kak Alka dan istrinya Sakila seakan tak mau ketinggalan kereta. Mereka turut menikmati wedding adiknya.


Ku masih duduk di dalam kamar dengan mengenakan kebaya putih. Memandang wajahku yang sudah cantik. Namun, hatiku seperti digelitik, merasa lucu bila ku ingat cara kami bersatu disini.


Lalu ku hembuskan nafas berat, seperti sedang memikirkan bagaimana kedepannya ujung pernikahan ini.


"Putri, apa kau sudah siap nak?" pertanyaan ibu membuyarkan lamunanku dari rasa takut akan ijab qobul.


"Belum," jawabku seadanya.


"Mengapa belum siap? bukankah kau sudah tampak rapi dan cantik sekarang?" Ibu benar-benar bahagia saat ini. Apa iya aku tega melunturkan bedak dan maskaranya jika ku beritahu, bahwa ku ingin hentikan pernikahan ini?


"Aku seperti ingin muntah!" kataku sedikit ketus. Namun, alih-alih iba padaku, ibu justru memfitnahku.


"Apa Paijo sudah mengambil jatah duluan sehingga kau ingin muntah?!"


Toeng!


Ajegile... ni emak-emak. Di sangka aku wanita apaan? emang aku seperti gadis murahan yang ada di pinggir jalan? bisa-bisanya ibu mengira aku hamil duluan. Emang aku gadis layangan?!


"Enak saja! Putri masih pucuk. Durenku belum terbelah sama sekali!" balasku kesal.


"Itu karena durenmu masih mengkal! makanya pakai karbit supaya cepat matang!"


Astagfirullahaladziim... Ibu... ibu. Kalau ngomong si katekate aje!


"Ibu! ibu pikir Putri buah-buahan? pakai karbitan segala!"


"Kan supaya durenmu matang. Habis itu rasanya pasti empuk."


"Percaya deh sama ibu. Paijo pasti akan menikmatinya."


Oh my God.... I don't belived.


Bagaimana bisa aku terlahir dari seorang emak-emak mesum? bagaimana bisa ia berkata demikian? dasar ibu-ibu alay.


"Ibu ini ngomong apaan sih? seharusnya ibu itu terharu melihat anaknya menikah. Nangis kek, atau peluk aku kek. Ini malah dikatain seperti buah-buahan!" gerutuku.


Sungguh ku tak percaya itu. Biasanya seorang ibu kan merasa sedih dan terharu ketika melihat putrinya menikah. Seperti yang ada dalam drama Korea gitu. Ibunya akan menangis haru sembari memeluk erat tubuh putrinya.


Lah, ibu gua? dia seperti sedang mengusirku dari keluarga Prayoga? semangat sekali ingin melihat aku nikah. Apa lagi dikatain seperti buah-buahan. Sungguh menyakitkan!


"Ngapain ibu harus menangis? orang bahagia gini kok!"


Nah, tuh kan? ibu senang banget berjauhan dari putrinya? menyebalkan!


"Ya sudah. Ayo keluar. Paijo sudah menunggumu di depan penghulu. Jangan biarkan dia sendirian disana," ajak ibu antusias.


Hais...


Ibu benar-benar tidak sabaran.


"Kenapa bukan ibu saja yang menikah sih?" kesalku gak ketulung. Lalu kemudian,


Plak!


Ibu memukul lenganku, hingga konde rambutku hampir terjatuh.


"Awww--, sakit Bu," pekikku sembari mengusap lenganku.

__ADS_1


"Itu balasan karena kamu sudah menjadi anak durhaka!"


Ha? anak durhaka? kenapa bisa aku jadi anak durhaka sekarang? bukankah saat ini ku turuti keinginan ibu untuk menikah? lalu mengapa aku di nilai durhaka?


"Kenapa ibu bilang begitu?!" ketusku.


"Karena kau sudah memaksa ibu untuk mengkhianatinya cinta Ayahmu!"


What? mengkhianati cinta Ayah? ibu ngomong apaan sih?


"Kapan Putri ngomong kaya gitu?" tanyaku sambil berkerut kening.


"Itu barusan kau menyuruh ibu menikah!"


Oh ya ampun ibu... itu cuma narasi bu, bukan kenyataan. Hedew... lama-lama aku bisa gila menghadapi emak-emak seperti ini.


Ku sungguh merasa jengah.


"Ayolah kita keluar. Lama-lama aku bisa gila disini!" ajakku akhirnya dengan perasaan dongkol.


Jika biasanya para wanita menyambut hangat hari pernikahannya, maka lain halnya denganku.


Disini ku menggerutu sambil gigit jari. Dimana terlintas sebuah peristiwa yang ku sesali, yakni pertemuanku dan Paijo, calon suamiku ini.


**


Akhirnya ku duduk di samping Paijo, pria yang kini resmi menjadi suamiku setelah beberapa saat lalu mengikrarkan ijab qobul di depan penghulu.


Dan seluruh para saksi berteriak.


Sahhhh....


Lalu kemudian di susul dengan suara sumbang dari luar.


Putus perjaka!


Pucuk patah!


Asik-asik! tarik mang! semongko!


Oh ya ampun... sumpah demi onta di Arab, aku benar-benar malu mendengar teriakan iblis durjana itu.


Ingin rasanya ku sumbat mulut mereka dengan roti donat, biar nyaho sekalian.


**


Malam harinya, kami melaksanakan pesta secara besar-besaran di gedung Pancasila.


Dan kali ini suamiku Paijo tak mengenakan kacamata besarnya.


Ahai, Paijo suamiku. Perutku seperti di gelitik ketika ku sebut Paijo sebagai suamiku.


Eh, ngomong-ngomong, Paijo tampan loh malam ini.


Dia tampil berbeda sekarang. Lain halnya ketika ijab qobul tadi pagi.


Kacamatanya di lepas dan berganti lensa mata. Terus behelnya di lepas juga. Entah di simpan kemana behel itu. Di museum kan kali? haha.


Dan jangan lupa, cara berpakaiannya tak seperti Jojon lagi.


Pokonya dia tampil maksimal deh malam ini. Keren....👍👍👍


Eits???

__ADS_1


Hati-hati Putri... style nya boleh berubah, tapi dia tetap orang yang sama. Sebulan lalu kau tipu dia mentah-mentah. Dan kau mengajaknya menikah. Sekarang tanggung sendiri akibatnya. Hahaha.


"Tidak...," pekikku tiba-tiba.


Lalu ku lihat Paijo menatapku heran sembari menaikkan kedua alisnya, seakan ingin bertanya, "Ada apa?"


Lalu ku gelengkan kepala. Merasa aneh dengan yang ku rasa.


"Bagaimana bisa aku tiba-tiba berteriak di acara pernikahanku sendiri? untung di tutupi suara musik. Jika tidak, maka aku pasti di sangka orang gila," gumamku.


**


Paijo Pov.


Pagi hari menjelang, ku persiapkan diri untuk mandi. Sebab akad nikah sebentar lagi.


Ku pakai parfum dengan jumlah banyak agar terkesan wangi. Walau sejatinya aku memang wangi.


Lalu ku ambil baju dan peci, untuk ku kenakan di akad nikah hari ini.


Lenganku terlilit jam tangan cantik, walau harganya bukan selangit. Tapi aku harus tampil percaya diri hari ini, sebab sekarang ku jadi raja sehari.


Kini ku duduk di depan penghulu dan para saksi. Menunggu calon istriku keluar dari persembunyiannya.


Dan saatnya telah tiba, ia pun keluar dengan begitu anggunnya.


Seketika ku menyadari, betapa cantiknya Putri. Atau karena efek make-up nya yang mahal. Entahlah, yang pasti, aku cukup menikmati wajah ini. Wajah yang sebentar lagi akan ku pandang setiap kali bangun di pagi hari.


Dan akhirnya ku ikrarkan janji suci pernikahan. Dimana ku sebut namanya dengan lantang. Dan di ikuti dengan teriakan setan, "pecah perawan!"


Hedew.....


Memikirkan saja aku sudah gemetar, apa lagi memecahkan perawan?


Sungguh terlalu itu suara sumbang! membuatku terbang melayang.


**


Malam harinya, ku sengajakan melepas kacamata dan menggantinya dengan lensa. Lalu ku lepas behel dan menyimpannya disana. Agar ku terlihat tampan rupawan.


Tujuanku hanya satu, ku tak mau melihat istriku malu sebab memiliki suami cupu sepertiku.


Hahahaide! istri nie...


Cie.... yang sudah punya istri. Uhui!


Jadi malu sendiri menyebut Putri sebagai istri. Hihihi.


Lalu ku dengar suara Putri berteriak.


"Tidak...!"


Entah apa yang membuat istriku itu seperti tengah ketakutan. Ataukah dia merasa malu di tonton sejuta umat? atau dia menyesali pernikahan ini? tapi aku kok merasa enjoy? apa jangan-jangan aku....


Ah, tidak mungkin! ini pasti efek suara sumbang yang katanya 'Putus Perjaka."


Lalu ku tatap nanar tubuh bawahku yang sebentar lagi akan hilang keperjakaannya sembari berkata, "Kau harus kuat nak."


To be continued.


Like, komen, vote, dan hadiahnya ya readers.


Happy reading.

__ADS_1


__ADS_2