KONSULTAN CINTA

KONSULTAN CINTA
Malam Berdarah.


__ADS_3

Paijo Pov.


Ku pegang pipiku yang terasa panas selepas kecupan singkat dari Putri.


Jujur saja, ku terkejut ketika istriku itu tiba-tiba mendaratkan ciuman padaku.


Hal yang tak pernah ku bayangkan sejak dulu. Bahkan setelah kami menikah.


Kami memang tidur bersama. Tapi tak ada rasa yang kami punya. Entah akunya yang tak peka, atau memang aku pria pengecut. Tapi semenjak Putri mengecup pipiku, seperti ada aliran listrik yang mengalir deras ke sekujur tubuhku.


Lalu sengaja ku katakan, bahwa ia tak adil. Agar ia kembali mengecup pipiku yang satu. Tapi sesungguhnya ku menginginkan lebih dari itu.


Merasa gemas, ku ambil inisiatif tuk mengecup pipi tembem Putri.


Tindakanku yang cukup berani ini sukses membungkam mulutnya. Dia diam tanpa kata, setelah tadi berjingkrak ria.


Kali ini hasrat ingin memiliki semakin kuat. Tapi ku takut di tolak.


Malu sekali rasanya ketika menerima penolakan. Kendati hubungan sah secara hukum dan agama.


Lalu kemudian ku pegang tangan Putri. Memutar tubuh istriku ini.


Ku tatap dua bola matanya yang memiliki bulu lentik. Dan mengecup lama keningnya.


Ku harap Putri menyadari bahasa tubuhku. Sehingga dia tak terkejut.


Sudah empat hari menikah, tapi kami tak kunjung melakukannya. Padahal dia tak sedang ada tamu bulanan.


Lalu kecupan itu ku turunkan ke mata, dan berakhir di pipi.


Ingin lanjut ke bibir, tapi ku masih takut, sebab tak memiliki pengalaman dalam berciuman. Namun, hasrat itu semakin kuat di dalam sana. Dia meronta hebat seakan minta ingin di lepas.


Ku kembali menatap dalam mata Putri. Berusaha mencari tahu keinginannya disana. Tapi anehnya mata itu tak menatapku marah.


Mengetahui mimik Putri yang tak akan menolak, akhirnya ku mulai mencium bibir Putri secara lembut.


Kami pun mulai melakukannya secara perlahan. Menikmati indahnya sentuhan.


Bibir kami saling bertautan, seakan mencari kenyamanan.


Ku rengkuh dia ke dalam dekapan, dan mengecupnya berulang kali, hingga kami sama-sama haredang.


Kecupan manis kami tak berubah ritme sedari tadi. Sebab kami cukup menikmati seperti ini.


Namun, pelan-pelan setan mulai mengangkat tanganku, menyentuh bagian tubuh lain istriku.


Dia pun melakukan hal serupa, menyentuh belakang kepalaku seolah ingin memperdalam ciuman itu.


Lama-lama ku merasa situasinya semakin panas, membuat sekujur tubuhku gerah.


Ingin rasanya ku membuka baju celana, dan menindihnya disana, seraya menjalani teori tiga D Abah. Namun, lagi-lagi ku takut dia belum siap. Sehingga ku urungkan niat.


Ku lepas bibir tebal itu, dan menyatukan kening.


Nafas kami tersengal-sengal. Merasa sesak akan peristiwa saat ini.


Ku bisa merasakan dengan jelas deru nafas Putri. Dia pun sepertinya merasakan hal serupa.


Kami kembali saling menatap, dan akhirnya kami tersenyum bersama. Lalu kemudian bibir ini kembali pada formasi menyatu, bagai sedang melaksanakan variasi barisan.


Ku rengkuh lagi tubuh Putri, dan membawanya di atas tempat tidur.


Ku tindih dia, dan mengecupnya berulang kali.

__ADS_1


Kecupan itu ku turunkan ke leher, namun tak meninggalkan bekas disana. Sebab hasilnya pasti akan ketahuan bagi siapa saja yang melihat.


Putri Pov.


Paijo memutar tanganku, lalu mengecup lama keningku.


Ku terkejut akan hal itu, namun bahasa tubuhnya dapat ku baca, sehingga ku tak memberontak.


Ku biarkan Paijo bermain-main bersama bibirku, sebab ku juga menikmati itu.


Sentuhannya begitu lembut, hingga ku merasa damai. Tak ada paksaan dalam hati.


Ku biarkan ia melakukan lebih, dan menyentuh bagian tubuhku yang lain.


Mungkin sudah saatnya melakukan, sebab itu memang kewajiban.


Andai saja Paijo memintaku lebih awal, maka tak akan ku tolak.


Ku akui, bahwa keangkuhan mendominasi diriku, namun kewajiban seorang istri sangat terpatri dalam hati.


Kami saling menatap, hingga akhirnya bibir kami kembali bertautan.


Paijo membawaku dalam kedamaian. Dia menindihku tanpa beban, sebab ku juga menginginkan.


Pelan-pelan Paijo membuka bajuku, tanpa melepas bibirku.


Aku pun melakukan hal serupa, membuka bajunya juga.


Entah setan apa yang merasuki kami berdua, hingga hasrat itu merasuk ke dalam sukma.


Padahal tak ada kata cinta diantara kami berdua, walau telah menikah.


Ku lihat tatapan Paijo semakin mendamba, dan ku juga tak dapat mengelak.


"Apakah boleh?" tanya Paijo, dan ku jawab dengan anggukan kepala.


Kami sama-sama terbuai dalam kamar yang di iringi derasnya hujan. Sehingga suara desahan demi desahan terdengar samar-samar, sebab tertutupi suara rintihan hujan yang terkena atap.


Dan semuanya terasa lebih ringan, setelah benda itu masuk ke dalam tubuhku.


Tak ada ketakutan seperti yang ku bayangkan.


Paijo memperlakukanku dengan baik. Tak ada unsur paksaan dalam situasi saat ini.


Kami sama-sama membutuhkan hasrat duniawi. Walau tak tahu apa yang akan terjadi setelah ini.


**


Pagi hari menjelang, ku rasa tubuhku remuk bagai tertindih karung beras.


Tulang-belulang terasa ngilu, kepala berdenyut-denyut. Sementara tubuh bawahku perih menggigil.


Ku lihat ada bercak darah menetes di atas seprei. Dan ku yakin itu adalah darahku.


Ya, semalam kami telah berhasil melakukannya berulang kali, hingga terjadilah malam berdarah seperti saat ini.


Ku lirik Paijo yang masih asik menikmati alam mimpinya, hingga tak sengaja ku tersenyum ramah.


Apakah peristiwa semalam telah menjadikan kami pasangan suami istri sungguhan? dan apakah itu artinya hubungan ini mengalami perkembangan?


Entahlah, yang pasti ku sudah kehilangan keperawanan.


Namun, ku tak mempermasalahkan hal itu. Sebab ku melakukannya dengan suamiku.

__ADS_1


"Selamat pagi." Paijo tiba-tiba bersuara, dan memeluk pinggangku manja.


Sungguh ku terkejut akan sikapnya. Dia tak seperti sebelumnya.


Apakah malam berdarah semalam menggeser otaknya menjadi normal? ataukah dia masih berada dalam dunia khayal?


"Pagi juga," jawabku akhirnya setelah beberapa saat membatin.


"Apa kau kesakitan?" Kali ini pertanyaan Paijo membuatku malu tujuh keliling.


Sumpah demi apapun, ingin rasanya ku menghilang saja dari kamar ini untuk beberapa waktu. Sebab tak sanggup menatap mata suamiku itu.


"Tidak usah di bahas!" jawabku sedikit ketus.


Sebenarnya ku sengaja mengetuskan suara, agar dia bisa peka. Sebab ku tak mau membahas masalah malam berdarah.


"Kenapa harus begitu? apa kau malu?"


Hais...


Ini orang dikasih tahu jangan di bahas, eh dia malah bahas juga. Apa dia tidak tahu kalau saat ini ku sedang malu? dasar pria menyebalkan!


"Aku mau mandi!" seruku seakan mengalihkan pembicaraan. Agar ia bungkam. Namun, alih-alih diam, Paijo justru mengajukan pertanyaan yang sukses membuatku merasa seperti gadis murahan.


"Apa kau masih malu? atau justru kau menginginkan diriku? sebab tanganmu masih berada di atas pahaku."


Deg!


Benarkah itu? oh ya ampun... sungguh memalukan. Tanganku masih terkait di paha Paijo.


Buru-buru ku lepas tanganku, dan membuang wajah yang entah harus ku simpan dimana.


"Ehem! tadi itu tidak sengaja!" ucapku, yang di ikuti dengan senyuman usil Paijo.


Paijo Pov.


"Tidak sengaja atau kau masih menginginkannya...???" godaku sambil tersenyum mengejek.


"Is, kau ini!"


"Aku bilang aku tidak menginginkannya! mengapa kau memaksa sekali?! bilang saja kalau kau yang masih menginginkannya?! kenapa harus menjual namaku?!" Ku lihat wajah Putri bersemu merah akibat menahan malu dan marah.


Kedua rasa itu seolah muncul secara bersamaan. Lalu ku sengajakan ia menjawab dengan sebuah gombalan.


"Kalau aku menginginkannya, apa kau akan memberiku lagi?" kataku sambil menatap damba.


"Paijo!" teriak Putri.


"Hahahaha." Ku tertawa lepas. Merasa puas mengerjai Putri.


Sungguh ku suka wajahnya yang lucu. Dia sungguh menggemaskan.


"Maafkan aku. Aku hanya bercanda saja. Haha," ucapku tulus, namun masih dengan sisa-sisa tawaku.


"Kau pria menyebalkan!" gerutu Putri.


Lalu kemudian,


Cup!


Ku kembali mencium bibir Putri, dan membuatnya bungkam.


Ku tahu setelah ini dia tak akan marah, sebab sejatinya seorang wanita apabila telah di sentuh dengan ciuman, maka kemarahan tak akan ada artinya.

__ADS_1


Sssttt... itu kata Mbah Google. Hehe.


To be continued.


__ADS_2