
Kini ku duduk di kursi sofa selayaknya terdakwa. Dimana ibu Putri sebagai hakimnya, dan keluarga yang lain jaksa penuntut umumnya.
Sungguh jantungku berdebar-debar ketika melihat seluruh anggota keluarga wanita yang lima menit lalu mengaku sebagai kekasihku, dan ku pertegas dengan pernyataanku sendiri, bahwa aku adalah calon suaminya. Sungguh mengerikan!
Belum lagi tatapan penuh selidik ibu Putri, membuatku semakin tidak karuan. Namun, aku harus tetap stay cool. Jangan sampai harga diri dan reputasiku hancur gara-gara kebohongan konyol ini terbongkar. Itu sungguh bukan gayaku.
Aku memang terkenal culun dan cupu dari segi penampilan, sebab aku tak suka style modern, tapi harga diri serta tanggung jawab harus di junjung tinggi. Itulah prinsipku.
Puas melihat ibu Putri, kini ku edarkan pandanganku ke sisi kanannya. Dia adalah seorang pria paruh baya. Tatapannya penuh selidik, namun tidak dengan wanita di sampingnya. Dia sungguh manis. Usianya sekitar 23 atau 24 tahun. Tapi dia sedang menggendong bayi sekitar usia lima atau enam bulan.
Apakah wanita itu sudah menikah? jika iya, maka siapa suaminya? apakah pria paruh baya berkacamata yang duduk di sisinya itu? sungguh tak sepadan! Tapi itulah cinta, terkadang kotoran sapi di sangka coklat. Hehe.
Lalu ku beralih pada dua pria di belakang pria paruh baya itu. Namun, salah satu dari pria tersebut membuatku tercengang. Wajahnya sungguh familiar.
"Sepertinya aku pernah bertemu pria ini sebelumnya. Tapi dimana?" batinku.
Oh my God! dia adalah suami sahabatku, Reina.
Menyadari itu, akhirnya ku edarkan lagi pandanganku ke bagian dinding belakang dua pria itu, dan aku menangkap gambar Reina yang terpampang jelas dalam bingkai foto keluarga.
"Reina?" gumamku.
Astaga, mengapa aku tidak menyadari jika ini rumah Reina? rumah yang sama ketika dua tahun lalu ku kunjungi. Dan pria itu adalah suaminya. Tapi mungkin dia telah melupakanku. Terlihat jelas dari caranya menatapku. Tapi mungkin juga dia tak menyukaiku, sehingga ia bersikap biasa-biasa saja. Hehe.
Dan benar saja, kini Reina datang bersama seorang batita mungil dalam gendongannya.
Tatapan kami pun beradu. Lalu kemudian,
"Paijo?"
"Reina?"
Semua yang ada di ruangan itu tampak terkejut kala melihat kami seperti sudah saling mengenal sebelumnya.
Ya memang kami sudah saling mengenal kok. Kan kami sahabatan. Hehe.
"Sedang apa kamu disini?" tanya Reina antusias, tanpa menyadari bahwa aku sedang berada dalam situasi pelik, dimana aku menjadi terdakwa dalam kasus kebohongan salah satu anggota keluarganya.
"Ehem!" Suara deheman itu sungguh sangat keras. Nadanya pun seperti sedang menyinggung kami. Dan deheman itu berasal dari Ibu Putri.
Menyadari tatapan sangar wanita tua itu, Reina pun diam seketika.
"Jadi bagaimana? apakah kalian siap menikah bulan depan?" Pertanyaan itu keluar dari mulut ibu Putri. Nadanya tegas dan lugas, tanpa basa-basi.
"Ibu, tolong beri kami waktu berdua untuk berbicara. Kami ingin bernegosiasi tentang pernikahan itu." Kali ini Putri yang bersuara, membuatku sedikit lega.
Entah mengapa aku merasa sepertinya Putri ingin merencanakan sesuatu yang besar denganku. Tapi aku tak menghiraukan kodenya. Dia mengedipkan matanya seolah ingin mengatakan, bahwa kita harus bicara.
"Aku siap Tante," jawabku tegas tanpa melihat wajah Putri. Ku acuhkan saja dia agar ia semakin kesal. Siapa suruh menyeretku dalam masalah tak berbobot ini.
Mungkin saat ini wanita sombong itu tengah menggerutu dan mengutukku dalam hati. Tapi tak masalah. Sekali-sekali dia harus di beri pelajaran.
"Apa yang kau katakan barusan?" bisik Putri ke telingaku. Tapi, aku tak bergeming sama sekali. Aku justru menggodanya agar ia merasa di permalukan di depan keluarganya sendiri.
__ADS_1
"Apa ibu lihat putri ibu?"
"Dia sedang membisikan sesuatu di telingaku barusan," ucapku sembari tersenyum penuh arti.
Ku lihat wajah ibu Putri berubah menjadi cerah, yang tadinya sangar tak bersahabat.
Begitu juga dengan anggota keluarga lainnya. Mereka tampak penasaran dengan kalimat apa yang di bisikan oleh Putri padaku.
"Apa itu?" tanya seluruh anggota keluarga itu secara bersamaan.
Wah! sepertinya keluarga ini berasal dari keluarga kepo ya? sungguh kompak!
"Kalian mau tahu aja atau mau tahu banget...???" godaku sembari tersenyum menyeringai.
Ku lihat wajah mereka semakin penasaran.
"Mau tahu banget!" jawab mereka secara bersamaan lagi.
Hais... keluarga ini benar-benar kompak sekali. Di buat kalimat hoax saja percaya. Dasar netizen!
"Katanya--" Sengaja ku gantungkan kalimatku, membuat mereka semakin penasaran.
Ku lihat wajah itu satu persatu benar-benar tak sabar ingin tahu.
"Katanya--" Sekali lagi ku gantungkan kalimatku. Kali ini wajah Putri yang ku lihat. Rupanya dia juga tengah menunggu kelanjutan kalimat yang sengaja ku gantung.
"Katanya dia, I Love You," ucapku akhirnya. Dan ku lihat ada kelegaan di wajah seluruh anggota keluarga itu, mereka pun mengembuskan nafas lega.
Ha?
Bibi? bagaimana bisa Putri adalah bibi Reina? berarti kalau aku menikah dengan wanita sombong ini, otomatis aku menjadi Paman Reina dong?
Oh my God.... Tidak......
Seketika ku merasa terjebak dalam sandiwaraku sendiri.
Ini namanya keluar dari kandang singa, masuk ke mulut buaya. Sungguh bahaya!
"Efek terlalu lama menjomblo dia." Kali ini pria paruh baya itu yang berkata. Entah siapa namanya, aku masih belum tahu. Lagi pula kami belum berkenalan sejak tadi.
"Putri, kenapa kamu tidak memberitahu ibu kalau kau memiliki calon suami semanis ini?" kata ibu sembari mencubit gemas pipiku. Dan aku pun hanya bisa tersenyum kaku. Merasa aneh dengan keluarga ini.
Apakah seperti ini sikap mereka terhadap tamu? sungguh hamble dan juga welcome. Aku jadi merasa lebih ringan di bandingkan setengah jam yang lalu.
Rupanya keluarga ini tak sesangar yang ku bayangkan. Mereka sangat baik terhadapku. Tapi satu yang ku sesalkan. Aku memulai hubungan ini dengan kebohongan.
Mau jujur, aku sudah telanjur bohong. Mau mundur, aku sudah terlanjur maju. Jadi, ku putuskan untuk berhenti membatin. Biarkan Putri yang mengambil keputusan kali ini.
"Maaf semuanya, kami masih harus bicara!" seru Putri sembari menarik tanganku untuk mengikuti dirinya.
Dia membawaku ke taman belakang rumah, meninggalkan anggota keluarga lainnya yang masih berada di ruang tamu. Entah apa yang mereka pikirkan tentangku.
Ini semua karena ulah si wanita sombong yang satu ini. Aku jadi terjebak dalam sandiwara konyol.
__ADS_1
"Apa yang baru saja kau katakan pada ibuku tadi?"
"Mengapa kau mengambil keputusan secepat itu tanpa bertanya lebih dulu padaku?"
"Apakah aku ini sekedar patung manekin yang menjadi pajangan di ruang tamu tadi?"
"Aku ini masih hidup dan berakal!" tanya Putri secara beruntun. Wajahnya sungguh aneh ketika sedang marah-marah. Seperti nenek gayung saja!
"Baguslah kalau kau masih memiliki akal!" balasku datar, namun menusuk ke ulu hati. Terbukti dari tatapan mata Putri yang semakin geram padaku.
"Paijo!" pekik Putri.
"Iya, iya. Aku mengaku salah," kataku akhirnya merasa bersalah. Tapi aku tak sepenuhnya salah ya? dia yang mulai duluan. Aku hanya mengikuti arus. Jadi, jangan salahkan denai kalau keluarganya berpikiran yang tidak-tidak terhadap wanita sombong ini.
"Mengapa tadi kau berbohong pada keluargaku?" tanya Putri.
"Berbohong?"
"Apanya yang bohong?" Ku balas Putri dengan sebuah pertanyaan pula. Namun, ku lihat wajahnya semakin geram, dan kali ini ia bersemu merah.
"Kamu bilang I love you tadi," ucap Putri tanpa melihat wajahku. Sepertinya wanita ini sedang menahan sesuatu di dalam sana. Tapi apa? apakah kata I Love You itu merupakan kalimat sakral untuknya? sebegitu spesialnya kah tiga kata itu? kok aku merasa biasa-biasa saja ya? meski tak memiliki pengalaman dalam percintaan sebelumnya, tapi kata cinta bukanlah sesuatu yang istimewa untukku.
Sekali lagi ku perhatikan sikap Putri yang kali ini seperti salah tingkah. Kerjain ah...
"Apa kau bilang tadi?" tanyaku pura-pura tak tahu. Lalu kemudian Putri menatapku tajam.
"I love you!" seru Putri.
"I love you to!" godaku, dan balasanku ini sukses membuat wajah Putri bersemu merah. Padahal tiga kalimat itu merupakan seruan hoax alias bohong. Haha.
Dasar wanita! di umpan tulang ikan saja, mau. Haha.
Sejak kapan aku mencintai gadis sombong ini? amit-amit deh.
Lalu kemudian Putri pun berkata, "Jangan lupa like, komen, vote, dan beri hadiahnya ya readers."
Happy reading.
Mohon maaf proses reviewnya lama banget. Sudah dua hari tertunda terus. Entah ada gangguan sistem atau apa.
Sekali lagi mohon maaf ya readers.
Sambil menunggu, silahkan mampir ke karyaku yang lainnya ya.
Wanita Lucu Itu Istriku (Tamat)
Marinaku (Tamat)
I love you paman (Tamat).
__ADS_1