
Ku masih diam terpaku menatap pria cupu di depanku, tanpa memperdulikan tangannya yang terulur panjang ke arahku.
Sembari tersenyum, dia menunggu balasan uluran tangan itu.
Dalam hati aku pun berkata, "Senyumnya saja sudah membuatku muak, apa lagi sifatnya."
Sungguh ingin ku tolak pria ini dan menyuruhnya pergi. Namun, aku tak kuasa melihat tatapan sangar ibu negara yang begitu tajam, setajam belati.
Terpaksa aku pun menerima uluran tangan itu sembari tersenyum kaku.
"Putri," kataku. Lalu kemudian ku lepaskan tangannya dan duduk di sisi ibu negara.
"Silahkan duduk nak Memet. Ibu mau ke dapur dulu. Kalian ngobrol saja ya?"
Hai... Ibu pura-pura ke dapur lagi. Padahal sebenarnya dia sengaja ingin meninggalkan kami berdua. Memangnya aku akan tertarik pada pria culun ini? sungguh menyebalkan!
Tiba-tiba saja suasana berubah menjadi hening. Tak ada satu pun dari kami yang bersuara.
Bukannya grogi, hanya saja aku benar-benar malas untuk membuka kata pada pria asing ini.
Dia pun begitu, seperti salah tingkah padaku.
Ku lihat tangannya berkeringat, bahkan untuk menyeduh teh saja dia gemetar.
Apakah itu artinya ini pengalaman pertama pria ini? mengapa dia gemetar seperti seseorang yang kelaparan?
Tapi sudahlah. Terserah dia mau gemetar atau kejang-kejang sekalipun. Bukan urusanku. Aku hanya memenuhi permintaan ibu yang menyuruhku untuk datang ke rumah ini.
Lama kami diam membisu, akhirnya muncul juga pertanyaan dari bibir pria culun ini.
"Apakah kamu seorang dokter?"
Mendengar pertanyaan tak berbobot itu, membuatku semakin merasa garing.
Bukannya dia sudah tahu sejak awal, bahwa aku seorang dokter? ngapain harus bertanya lagi coba? dasar pria genit!
"Iya," jawabku seadanya. Lalu kemudian,
"Kamu cantik."
Wussh...
Bukannya bersemu merah, aku kok seperti ingin muntah ya? di puji pria beginian rasanya seperti ada pahit-pahitnya gitu.
Betapa tidak, sembari malu-malu dia berkata demikian.
Ingin rasanya ku tumpahkan teh itu di wajahnya biar nyaho sekalian.
"Makasih," jawabku sedikit ketus.
Sungguh ku tak suka situasi ini. Terlebih lagi prianya. Aku benar-benar benci.
Ibu benar-benar membuatku muak. Perjodohan macam apa ini? setidaknya ibu mencarikanku pria keren seperti Brad Pitt, atau paling tidak seperti aktor Bollywood Shahrukh Khan. Kan enak tuh di pandang mata. Adem rasanya.
Tapi ini pria culun yang menjadi kandidat calon suamiku? hedew.... pusing pala Barbie.
Tak lama Ibu datang dengan nampan di tangannya. Sepertinya pria ini benar-benar di perlakuan istimewa oleh ibu. Sangat jelas terlihat dari cara ibu membawakan sebuah nampan berisi buah-buahan, cake, dan dan juga secangkir teh.
Memang berapa cangkir sih pria ini harus meminum teh? bukannya tadi dia sudah meminum teh? bahkan cangkirnya masih ada di atas meja. Ibu terlalu berlebihan!
"Silahkan di cicipi cake ini nak Memet."
__ADS_1
"Cake ini Putri yang buat loh tadi."
Apa? aku yang buat? haduh... Ibu ini paling bisa berbohong.
Sejak kapan aku membuat cake itu? padahal aku saja baru muncul di rumah ini setelah sebulan berjibaku dengan pekerjaan yang menguras tenaga dan waktu.
Bagaimana bisa ibu berkata begitu? ini lagi pria cupu ini. Bisa-bisanya dia tersenyum malu-malu begitu? mengapa dia percaya begitu saja tanpa bertanya lebih dulu?
"Terimakasih Tante," ucap Memet.
"Silahkan di lanjutkan obrolannya ya? ibu mau ke kamar Sakila dulu. Shagun pasti membutuhkan ibu disana."
Terus saja basa-basi bu. Sekalian tinggalkan kami dari rumah ini. Bawa serta kedua cucu ibu ke mall hingga malam hari tiba. Sungutku dalam hati.
Lalu ku beralih melihat pria cupu di depanku ini. Ternyata wajahnya merah merona seperti kepiting rebus. Sungguh menjijikkan.
Mengapa pria ini terlihat seperti banci ya? seharusnya aku yang malu-malu disini, kenapa jadi dia yang tersipu?
"Makanlah cake dan buahnya," kataku dengan nada bermalas-malasan.
"Iya." Sekali lagi dia tersipu malu. Ingin rasanya ku benturkan kepala pria ini ke tembok, biar jebol sekalian.
"Begini Putri, kata Ibu kita akan menikah dalam waktu dekat ini. Apa kau sudah siap?"
Ha?
Menikah dalam waktu dekat ini? apa aku tidak salah dengar? bukankah kita baru saja berkenalan? paling tidak ada jeda waktu beberapa bulan untuk saling mengenal. Mengapa sudah mengambil keputusan?
Ini lagi, kenapa dia sudah menyebut ibu pada ibuku? padahal tadi dia menyebut Tante. Apa secepat itu otaknya berputar? dan mengapa dia menanyakan kesiapanku sekarang? seperti kita mau bertempur di tempat tidur saja!
"Ah, maafkan aku. Tapi sepertinya kau sudah salah paham terhadapku," kataku sembari memaksakan senyuman.
Lalu kemudian,
Ngek???
Memet bersimpuh di kakiku sembari memohon agar aku tak menolak cintanya. Dan jangan lupa wajahnya yang cupu itu, sungguh muka-muka permohonan.
Ingin rasanya aku memuntahkan roti dan juga kopi yang ku minum tadi di wajah pria menyebalkan ini.
"Lepaskan tanganku!" seruku seraya bergidik ngeri. Betapa tidak, dia menciumi punggung tanganku berulang kali, membuatku semakin merasa jijik.
"Tolong jangan tolak cintaku bebi."
He?
Bebi? sejak kapan namaku berubah menjadi bebi? pria ini benar-benar membuatku muak.
Lalu kemudian ku dorong saja pria itu sampai terguyur ke lantai.
"Lepaskan aku!"
Bug!
Memet akhirnya terjatuh ke lantai, dan kepalanya pun terkena sudut meja.
Dalam hati ku berkata, "Rasakan itu! siapa suru bersimpuh di kakiku seperti pria yang tak punya harga diri? aku sungguh benci pria seperti itu! minimal dia harus memegang teguh prinsip dan harga dirinya. Jangan terlihat seperti pria murahan!"
Ku pasang wajah-wajah bersalah, agar ia tak tersinggung. Kasihan juga sih sebenarnya. Sebab dia terjatuh dengan posisi yang sungguh memalukan. Belum lagi kepalanya yang terbentur meja. Sungguh membuatku ingin tertawa ngakak.
"Maafkan aku Memet. Aku benar-benar tidak bisa menerima cintamu," kataku pura-pura bersalah. Padahal dalam hati ber-iyes ria.
__ADS_1
"Tapi kenapa beb?"
Hais... beb? ingin rasanya ku remas mulut pria ini sampai miring dan kaku.
Enak saja memanggilku beb? emang aku ini ayang bebnya? hedew... menjijikan!
"Karena aku tidak tertarik padamu," jawabku masih dengan pura-pura bersalah.
"Aku akan berubah beb. Aku akan melakukan yang terbaik untukmu, asal kau menerima cintaku."
"Please beb, jangan tolak cintaku!"
Haduh... aku harus bagaimana ini? kenapa dia berubah jadi agresif seperti ini? sungguh menyebalkan wajah cupu nan culun ini.
"Ayo Putri, berpikir. Jawaban apa yang harus kau berikan pada pria kampungan ini," batinku.
"Ayolah beb," rengek Memet sekali lagi, membuat otak kancilku bereaksi. Seperti ada lampu yang terang benderang di atas kepalaku.
Aha!
Aku ada ide.
"Aku mencintai orang lain!" jawabku akhirnya setelah bernegosiasi dengan otak kancilku.
"Mencintai orang lain? siapa dia?"
Haduh... masih lanjut juga rupanya. Pikirku, dengan memberitahukan, bahwa aku mencintai orang lain, pria ini akan jera. Tapi rupanya dia masih berusaha juga.
"Sama kekasihku lah!" jawabku tegas.
"Tapi kata ibu kamu jomloh sejak lahir."
Ha?
Benarkah ibu berkata demikian? ibu ini benar-benar tidak bisa menjaga rahasia putrinya sendiri.
Seketika aku merasa seperti wanita yang tak laku-laku.
"Itu hoax! aku sudah punya pacar!" jawabku singkat.
"Tapi--".
"Sudahlah! pokoknya aku tidak mau menikah denganmu! titik! tidak pake tanda tanya!"
Keputusan sudah ku ambil. Terserah bagaimana perasaan pria ini. Mau dia patah jadi tujuh bagian kek, atau seratus sekalian, aku tak peduli. Yang pasti aku ingin bebas dari cengkraman pria kampungan seperti Memet.
Kalau ibu mau marah padaku, tidak masalah. Paling marahnya cuma sebentar saja. Setelah itu dia luluh lagi. Tinggal ku cium saja pipi Ibu. Hehe.
Lalu kemudian,
"Putri!"
"Ibu?"
To be continued.
Assalamualaikum. mohon maaf ya gays, karena terlambat update. Entah mengapa proses reviewnya lama sekali. Padahal dari kemarin stor naskah, belum lolos-lolos juga.
Sekali lagi mohon maaf ya readers.
Happy reading.
__ADS_1