KONSULTAN CINTA

KONSULTAN CINTA
Tiga Teori Abah.


__ADS_3

Paijo Pov.


Puas saling suap-suapan, kini ku mencuci tangan. Menghilangkan semua kuman dan kotoran.


Setelah itu, Putri pamit pulang, namun ku cegah sebentar tuk saling bertukar pikiran.


"Apa kau sangat terburu-buru?" tanyaku sembari mendaratkan tubuh di atas kursi sofa minimalis.


"Ini bukan lagi terburu-buru, tapi darurat. Aku bahkan menukar jam kerjaku dengan Marni demi membawakanmu makan siang disini." Jawaban Putri membuatku sedikit tersentuh. Sebab, walau jutek dan cuek, rupanya dia masih bisa menjalankan tugas dan kewajiban sebagai seorang istri.


"Jadi ceritanya kau perhatian padaku ni?" sengaja ku goda dia, tuk mencairkan suasana. Tapi bukannya mereda, dia justru marah-marah.


"Perhatian! perhatian! gak usah ge'er deh jadi orang. Aku bukannya perhatian, tapi ku takut dosa," tandas Putri dengan sedikit penekanan.


"Takut dosa? emangnya dosa apa yang sudah kau lakukan?" tanyaku heran.


"Ya dosa sama suami lah!" seru Putri.


"Kan kalau seorang istri menolak permintaan suaminya, maka yang di dapat bukannya berkah, tapi dosa," lanjut Putri.


Oh, jadi Putri paham juga tentang dalil pernikahan? apakah dia benar-benar paham tentang tugas dan kewajiban sebagai istri di atas ranjang seperti teori Abah semalam?


Flash back on.


Author Pov.


Di rumah Abah, Paijo tengah berada di dapur tuk mengambil air minum. Namun, tiba-tiba Abah datang dan merangkulnya disana. Lalu kemudian mengajaknya bercerita.


"Paijo, apa kau sudah melakukannya?" tanya Abah dengan sedikit berbisik. Sebab ia takut suaranya akan di dengar oleh anggota keluarga lainnya, terutama ibu.


"Melakukan apa, bah?" tanya Paijo tak paham.


"Ya melakukan teori tiga D." Jawaban Abah membuat Paijo semakin bingung.


Kali ini teori apa lagi yang akan di sampaikan Abah pada Paijo? pasalnya, pria paruh baya itu senang sekali mengemukakan teori.


"Tiga D?"


"Iya, tiga D!" seru Abah.


Sungguh bukan maksud Paijo mengabaikan teori Abah, tapi kali ini pria itu benar-benar tak memahami ceritanya.


"Aku tidak tahu apa teori tiga D itu, bah!" balas Paijo sungguh-sungguh. Lalu kemudian,

__ADS_1


Plak!


Abah memukul kepala Paijo.


"Dasar kau ini! bikin malu Abah saja!"


Bikin malu Abah? bagaimana bisa Paijo membuat Abah malu? memangnya apa yang sudah di lakukan pria itu?


"Tiga D itu adalah didapur, disumur, dan dikasur. Apa kau paham sekarang?" lanjut Abah.


"Nggak," jawab Paijo polos, membuat Abah semakin geram.


"Is, dasar kau ini! kamu harus tahu teori itu, kalau mau cepat dapat anak!" seru Abah. Lalu kemudian ia mendekatkan wajahnya ke telinga Paijo. Namun, sebelum itu, Abah mengedarkan pandangannya seakan ingin memastikan situasinya aman terkendali alias tak ada yang mendengar percakapan mereka.


"Kemarilah," titah Abah kemudian.


Dengan polosnya, Paijo mengikuti instruksi Abah. Dia memasang kupingnya dengan seksama.


"Abah akan mengajarkanmu caranya teori ketiga." Paijo ingin menarik diri dari ajaran Abah, namun pria paruh baya itu menahannya.


"Tunggu dulu pergi! kau harus belajar!" cegah Abah, membuat Paijo semakin jengah.


"Pertama, kau harus memakai sarung saja. Jangan pakai dalaman. Kau pancing dia dengan menaikkan sedikit sarungmu."


"Oh ya ampun Abah... Di kira aku ini pria murahan apa? lagi pula, untuk apa belajar teori itu? kalaupun aku mau, kami harus sama-sama saling menerima dulu. Ini cinta juga tidak! hedew..." batin Paijo.


"Pokoknya kau jangan bikin malu Abah! seorang pria itu harus bisa memulai lebih dulu. Harus aktif, jangan tunggu di beri kode. Tapi kau yang harus memberinya kode."


Flash back off.


Paijo Pov.


Kini ku tarik kedua sudut bibirku membentuk senyuman usil.


"Jadi, kalau aku memintamu, kau tidak akan menolakku ni?" godaku sekali lagi. Sengaja ku bertanya demikian, sebab ingin ku tahu perasaanya mengenai teori Abah yang ketiga. Namun, ku lihat wajah Putri seketika berubah menjadi merah merona.


"Memintaku?"


"Bicara apa kau ini?!" tandas Putri canggung.


Ya, Putri menjadi canggung sebab pertanyaanku. Dan aku pun hanya tersenyum simpul. Sebab, ku tahu dia juga masih malu-malu. Entah sebenarnya dia mau atau tidak.


"Ya, bicara tentang dosa terhadap suami lah!"

__ADS_1


"Bukankah tadi kau bilang, bahwa jika seorang istri menolak permintaan suaminya, maka yang di dapat bukannya berkah tapi dosa?"


"Nah, sekarang ku ingin kau menjalankan tugas dan kewajibanmu sebagai istriku," godaku untuk yang kesekian kalinya.


Kali ini wajah Putri pucat pasih. Seperti tak teraliri darah. Wajah cantik nan elegan itu mendadak tak berdaya.


"Aku pergi dulu!" ujar Putri seraya beranjak pergi. Namun, ku tahan ia dan memeluk pinggangnya.


Sengaja ku biarkan ia baper, agar runtuh sifat angkuhnya itu.


"Hei, kau mau kemana? aku belum selesai bicara," cegahku seraya memeluk pinggangnya dan mendekatkan wajah.


Ibarat kata, face to face. Hehe.


Ku lihat mimik Putri sejenak terpaku, merasa heran dengan sikap beraniku. Lalu kemudian,


"Lepaskan aku!" pinta Putri seraya memberontak agar ku lepas pinggangnya.


"Katanya takut dosa? kok sekarang memberontak?" Ku masih menggoda dia dengan sedikit usapan di pipinya.


Jangan di sangka pria cupu tak tahu yang namanya usapan pipi ya? walau belum pernah berpengalaman, tapi ada sedikit ilmu dari Abah. Hehe.


"Tapi tidak begini juga kali," jawab Putri dengan suara yang tak dapat ku artikan.


Dia seperti berlagak menolak, tapi nadanya kok aneh ya? apa lagi bahasa tubuhnya. Seperti sedang menarik ulur gerakan. Antara mau dan tidak.


Lalu ku sematkan senyuman licik di kedua sudut bibirku, guna mengerjai Istriku itu.


"Tunggu aku nanti malam," bisikku sedikit mendesah. Padahal sejatinya ku tak tahu apa-apa. Hahaha.


Lalu kemudian ku lepas Putri, dan membiarkannya pergi, tanpa perduli lagi tentang apa yang ingin ku negosiasikan tadi.


Ku gelengkan kepala, merasa lucu akan tingkahnya.


Rupanya Putri tak sekeren sikapnya. Dia hanya belagu dalam banyak hal, tapi ketika sengaja ku sentuh, dia seperti luluh.


To be continued.


Assalamualaikum. Mohon maaf baru bisa update ya? sebab masih sibuk.


Oh iya. Author ingin mengucapkan selamat hari raya idul adha. Mohon maaf lahir dan batin. Semoga Allah memberikan perlindungan kepada kita semua. Aamiin...


Happy reading.

__ADS_1


__ADS_2