
Sebulan sudah berlalu. Kesibukanku semakin bertambah, hingga ku melupakan pembangunan rumah sakitku.
Tak tahu apa yang akan di pikirkan Paijo tentangku. Padahal dia sudah mengirimkan gambar bangunan untukku. Tapi apalah daya, situasi dan kondisi tak mengizinkanku.
Seperti saat ini misalnya, ada banyak pasien yang harus menjalani operasi. Belum lagi laporan rutin yang harus ku selesaikan.
Menjadi wanita karir itu memang enak, tetapi ketika kesibukan menuntut kami harus on time, maka semua jenis pekerjaan di luar dari profesi akan kami kesampingkan.
Tapi tunggu, kenapa aku jadi memikirkan bagaimana tanggapan Paijo tentangku? bukankah kami tak sedekat itu?
Ah, aku pasti sudah gila. Terserah dia mau berpikir apa. Suka-suka dia lah. Aku juga tak peduli. Yang jelas, tugas dan kewajibanku di rumah sakit harus tetap berjalan.
**
Ku duduk di kursi makan seorang diri sembari menikmati secangkir kopi di temani sepiring roti.
Ku seduh kopiku yang masih asapnya mengepul itu, hingga dering ponsel membuyarkan konsentrasiku.
Ku letakkan cangkir kopiku di atas meja, dan beralih pada benda pipih milikku. Disitu terlihat jelas nama 'Ibu' yang melakukan panggilan.
"Halo, bu," kataku datar.
Ku dengar suara Omelan ibu yang begitu menggema dari balik ponsel milikku, membuat indera pendengaranku panas dingin.
Rupanya ibu menelponku hanya untuk menagih janji yang bulan lalu sungguh-sungguh ku lupakan.
Kalian pasti sudah tahu janji apa itu bukan?
Yap! masalah pernikahan.
Hedew...
Ibu ini membuat mood ku buruk di pagi hari. Padahal baru juga suasana hatiku membaik setelah di hadapkan dengan segudang aktivitas di kantor.
"Iya, bu iya. Sedikit lagi Putri akan ke rumah," kataku sembari menahan geram.
Andai saja bukan ibuku yang bertingkah, mungkin sudah lama ku semprot habis-habisan pakai cairan disinfektan, supaya nyaho sekalian.
Ku matikan ponselku dan meletakkannya di atas meja makan. Lalu ku seduh kembali kopiku tadi. Kali ini
kopi itu seperti pahit terasa, dan memakan roti seperti menelan duri. Sungguh sangat perih.
"Ibu benar-benar keterlaluan! bagaimana bisa dia menjodohkanku begitu saja tanpa memberitahuku terlebih dahulu? biar bagaimanapun juga aku yang di nikahkan disini, seharusnya ibu mempertimbangkan pendapatku juga. Tapi kenapa tiba-tiba pria itu sudah ada di rumah sekarang? pagi-pagi pula!" gerutuku.
Seketika ku lihat kopiku seperti tak bernafsu lagi. Segalanya terasa hambar. Tapi tak ada pilihan lain. Aku harus mengikuti apa kata ibu, sebelum dia benar-benar mengutukku seperti Malin Kundang seperti yang ia ancamkan padaku barusan.
"Ibu benar-benar keterlaluan. Bagaimana bisa dia mengancam anaknya sendiri akan mengutuknya menjadi batu seperti Malin Kundang? ada-ada saja!"
**
Author Pov.
Di rumah keluarga Prayoga, Sakila tengah menyusui bayinya yang masih berusia enam bulan.
Sementara sang suami usil, Alka tengah bermain kuda lumping pada putrinya yang bernama Shagun
"Hiya! hiya!" pekik Shagun seperti seseorang yang tengah menunggang kuda. Sementara yang menjadi kudanya adalah Alka sang Ayah.
__ADS_1
"Aduh, nak. Ayah sudah capek. Kita istirahat ya?" pinta Alka. Dia sudah bernafas tersengal-sengal, sebab hampir satu jam Shagun menjadikannya sebagai objek permainan.
"Tapi Shagun masih pengen main Ayah," rengek Shagun dengan mata berkaca-kaca. Bocah kecil itu sungguh menikmati permainan kuda lumping, kendati sang Ayah hampir kehabisan nafas.
Sakila yang melihat anak dan Ayah itu hanya bisa tersenyum. Dia juga tak bisa mencegah putrinya, sebab sangat jarang sekali Alka menyempatkan diri untuk bermain bersama putrinya itu. Karena kesibukan pria paruh baya tersebut semakin bertambah.
"Ya ampun anak ini. Kalau Ibumu yang memintaku untuk bermain kuda lumping ma tidak apa-apa, aku rela menjadi kudanya selama berjam-jam," gumam Alka, namun masih bisa di dengar oleh Sakila.
"Sayang!" pekik Sakila sembari mempertajam tatapannya, seakan ingin menelan mentah-mentah suami mesumnya itu.
"Ingat, Shagun masih anak kecil. Jangan kau rusak otaknya yang masih suci!" seru Sakila kemudian.
"Hehe. Iya, iya. Aku juga tidak bersuara keras kok. Dia pasti tidak akan dengar," elak Alka.
"Aku saja yang jaraknya cukup jauh, sudah bisa mendengar suaramu, apalagi Shagun yang nyata-nyatanya ada di atas pundakmu!" tandas Sakila. Kali ini emosinya terpancing, sebab Alka tak mau kalah.
"Iya, iya baiklah," kata Alka pasrah.
Keempatnya masih asik bercengkrama di dalam kamar, tak lama nenek mengetuk pintu kamar mereka.
Tok! tok! tok!
"Alka!"
"Ibu?"
"Ada apa bu? sepertinya serius sekali?" tanya Alka heran. Ia melihat ibunya itu seperti sedang merisaukannya sesuatu.
"Begini Alka. Hari ini putra temanku akan datang ke rumah kita," kata Nenek.
"Terus?"
"Ibu apa-apaan mau menjodohkan Putri?"
"Apa dia sudah tahu perjodohan ini sebelumnya?" tanya Alka.
"Bulan lalu aku sudah memberitahu dia."
"Habis dia belum menikah-menikah juga. Terus dia tidak pernah mengenalkan pria manapun pada Ibu. Ibu kan jadi sedih," lirih Ibu.
"Ya ampun bu, bilang saja kalau ibu iri sama teman ibu yang putrinya sudah menikah beberapa bulan lalu kan? itulah sebabnya ibu memaksa Putri untuk segera menikah juga?" perkataan Alka membuat nenek bungkam. Dia membenarkan ucapan putra pertamanya itu.
Memang benar nenek iri pada temannya yang beberapa bulan lalu menikahkan putrinya. Namun, terlepas dari itu semua, nenek benar-benar ingin menikahkan Putri, agar lepas sudah tanggung jawabnya sebagai orang tua.
Seketika wajah Ibu berubah menjadi sendu.
"Bu, pernikahan itu tidak bisa di paksakan. Ini mengenai hati bu," ucap Alka dengan suara yang mulai melunak.
Mendengar perkataan Alka yang seperti sok bijak, nenek jadi tak terima. Ia mengeluarkan senjata ampuhnya yang membuat Alka bungkam.
"Hala... kamu juga dulu menikahi Sakila karena terpaksa. Iya kan?"
"Bukan dari hatimu! Ya... meskipun pada akhirnya kalian jatuh cinta. Tapi bisa saja kan Putri juga mengalami hal serupa seperti kalian?!"
Skak mati!
Alka tak bisa berkata-kata lagi. Memang benar ia menikahi Sakila karena dorongan dari dua menantunya. Walau pada akhirnya ada cinta di antara mereka, hingga menghasilkan dua anak.
__ADS_1
"Pokoknya Putri harus menerima perjodohan ini. Titik! tidak pake koma!" seru nenek dengan nada tak terbantahkan.
Alka mengembuskan nafas berat, merasa tak sanggup melanjutkan kalimatnya.
"Ya sudah kalau begitu. Terserah ibu saja."
"Saya ma ngikut. Kalau ibu Pertiwi sudah mengambil keputusan, maka panglimanya siap menjalankan perintah," balas Alka pasrah. Dia juga tak kuasa mencegah keinginan sang ibu yang sudah di ubun-ubun, hingga yang di nanti-nantikan datang jua.
Ting tong!
Suara bel pintu berbunyi.
"Itu pasti dia!" kata Ibu bersemangat. Lalu kemudian ia pun pergi begitu saja tanpa meminta izin kepada Alka dan Sakila, membuat sepasang suami istri itu geleng-geleng kepala.
"Ibu, ibu. Dia terlalu bersemangat untuk menikahkan Putri. Padahal mereka belum pernah bertemu sebelumnya," gumam Sakila, hingga sukses menimbulkan tatapan heran Alka.
"He?"
"Jadi kamu sudah tahu tentang perjodohan ini sejak awal?" tanya Alka tak percaya.
"Tentu saja aku tahu. Aku kan menantu di rumah ini. Lagi pula, nenek selalu terbuka padaku. Jadi aku tahu segalanya."
Alka hanya bisa geleng-geleng kepala melihat istrinya yang sungguh tahu segala persoalan keluarganya sendiri di bandingkan ia yang notabenenya adalah putra kandung dari nenek.
**
Di ruang tamu, seorang pria asing berpakaian rapi selayaknya Jojon tengah duduk manis di kursi sofa.
Dia menyeduh teh yang di sediakan tuan rumah satu menit yang lalu.
"Bagaimana kabar ibumu nak? apakah dia baik-baik saja?" tanya nenek basa-basi.
"Alhamdulillah ibu baik Tante. Tadi beliau menitip salam buat Tante," jawab pria itu.
"Jadi bagaimana? apakah kau bersedia untuk menikahi putriku?" tanya nenek tanpa basa-basi lagi. Dia seperti sudah tak sabar lagi untuk mengetahui jawaban putra dari temannya itu.
Pria itu menyeduh kembali tehnya, lalu meletakkannya di atas meja. Namun, sebelum ia berhasil menjawab pertanyaan nenek, Putri tiba-tiba datang dan menghentikan sejenak percakapan mereka.
"Assalamualaikum, ibu. Putri datang." Wanita itu berdandan tak seperti biasanya. Jika keseharian wanita itu bersentuhan dengan makeup, maka kali ini ia tampak natural. Entah apa yang sedang di rencanakan gadis cantik itu.
Melihat kedatangan Putri, pria tadi langsung berdiri dan menatap kagum wanita tersebut.
Sementara Putri berkerut kening.
"Siapa pria asing ini? apakah dia kandidat calon suamiku? tapi kenapa gayanya seperti Jojon ya?" batin Putri.
"Kamu sudah datang nak?" kata nenek.
"Perkenalkan, ini putra teman ibu yang ibu ceritakan itu. Ayo kenalan dulu," lanjut Ibu.
Pria itu mengulurkan tangannya dengan senang hati sembari tersenyum bahagia.
"Memet."
Ha?
Memet? apa tidak ada nama lain selain Memet? kenapa Putri harus bertemu pria aneh seperti ini sih? hedew... nasib, nasib. Pikir Putri.
__ADS_1
Lalu Putri pun akhirnya berkata, "Jangan lupa like, komen, vote, dan hadiahnya ya readers. Hehe."
To be continued.