KONSULTAN CINTA

KONSULTAN CINTA
Efek Pelukan.


__ADS_3

Putri Pov.


Ku refleks memeluk tubuh Paijo yang baru saja mengakui kesalahannya padaku.


Menurutku, sangat langkah apabila seorang pria mau meminta maaf dikala dia tak bersalah.


Ya, aku menyadari, bahwa Paijo tak bersalah sama sekali, sebab aku lah terdakwanya disini.


Tapi Paijo? dia bahkan rela melakukannya demi menjaga aku yang tengah kesakitan.


Ya, entah mengapa ku rasa seperti ingin muntah. Apakah karena lapar? tapi tadi ku sudah sarapan.


Ataukah karena Omelan Paijo? entahlah. Yang pasti, hatiku terluka ketika tadi ia membentakku. Padahal sejak dulu ku terbiasa dengan omelan kak Alka. Tapi kenapa rasanya berbeda ya?


Sakit sekali rasanya ketika Paijo yang melakukan itu? apakah karena selama pertemuan kami, hampir tak pernah dia semarah ini? lagi pula, akunya yang bersalah disini.


Kemudian ku tarik tubuhku yang tiba-tiba memeluknya. Dan ku rasa suhu tubuhku kembali normal seperti sedia kala.


Wah! sepertinya efek pelukan mulai bekerja. Tubuh Paijo membuatku nyaman seketika.


Hais... aku pasti sudah gila.


Akhirnya ku salah tingkah, merasa canggung akan sikapku sendiri.


"Ah, maafkan aku," ucapku sembari menundukkan kepala. Merasa malu dengan tingkahku.


Lalu kemudian,


Cup!


Paijo mengecup keningku, membuat jantungku berdegup kencang.


Hei! mengapa Paijo berani mengecup keningku? dan entah mengapa ku tak marah. Seharusnya ku bentak dia. Tapi kenapa rasanya seperti nyaman ya? aku pasti sudah gila.


"Kita pergi sekarang?" Pertanyaan Paijo menghentikanku dari nikmatnya kecupan.


Waduh?? nikmatnya kecupan.


Oh wahai Putri Valeria Prayoga, sadarlah nak. Jangan jadi wanita bego di depan pria, atau kau akan di anggap rendah.


"Iya," jawabku akhirnya.


**


Paijo Pov.


Entah mengapa bibirku lantang mengecup kening Putri.


Apakah karena terbawa suasana, atau karena efek pelukannya? entahlah. Tapi tiba-tiba ku lihat ada sisi lain yang spesial dari wanita ini. Dia seperti wanita baik-baik yang tak ingin harga dirinya di rendahkan. Itulah sebabnya ia melakukan perlawanan, dan aku bisa memahami itu sekarang.


Ku kembali melajukan mobil, mencari restoran yang bisa di jadikan tempat sandaran perut. Dan akhirnya kami sampai juga di sebuah restoran minimalis.

__ADS_1


Kami masuk dan duduk saling berhadapan. Lalu kemudian Putri memanggil pelayan untuk memesan makanan.


"Saya pesan kepiting rica-rica, udang saos tiram, kerang, cumi goreng, sama nasi putih dan es tehnya ya mba?" kata Putri.


Aku baru tahu, ternyata Putri menyukai semua jenis seafood. Terbukti dari banyaknya makanan yang ia pesan.


Ternyata tidak salah ku pilih restoran ini, sebab semua jenis makanan kesukaan Putri ada disini.


"Kamu mau pesan apa?" tanya Putri padaku.


"Sup iga," jawabku seadanya.


"Minumnya?"


"Air putih."


Dan pelayan berjenis kelamin wanita itu pun pergi dengan catatan menu makanan pesanan kami.


"Kamu pesan begitu banyak makanan, apakah bisa di habiskan?" tanyaku sangsi.


Sungguh ku ragu dengan Putri, apakah ia bisa menghabiskan makan sebanyak itu atau tidak. Sebab, jika di lihat dari postur tubuhnya, sangat mustahil jika ia mampu menghabiskan makanan sebanyak itu.


"Tentu saja aku bisa menghabiskannya."


Waduh? yang benar saja. Apakah perutnya terbuat dari karet gelang hingga bisa menampung makanan sebanyak itu? benar-benar ajaib. Pikirku.


"Oh iya, ngomong-ngomong mengapa tadi kau berniat untuk membatalkan pernikahan kita?" tanyaku hati-hati. Agar Putri tak tersinggung dan marah lagi. Sebab geli rasanya jika ku membujuk seorang wanita yang tengah merajuk.


Ada sup iga untukku, dan kepiting rica-rica, cumi goreng, udang saos tiram, serta kerang, di lengkapi dengan nasi putih dan es tehnya.


Aku hanya bisa menelan salaviku, merasa takut pada jumlah makanan yang tersaji begitu banyak di atas meja.


Apakah dia benar-benar bisa menghabiskan makanan ini? kalau iya, apakah Putri merupakan titisan siluman singa yang mampu menghabiskan makanan dengan porsi banyak?


Kami pun makan dalam diam. Dan ku lihat Putri menyantap makanan itu dengan lahap, hingga habis tak tersisa.


Sementara ku lihat sup igaku yang masih setengah utuh, seakan sup itu tengah mengejekku dan berkata, "Kau lemah sebagai pria. Sebab di kalahkan oleh seorang wanita."


Setengah mangkok saja sudah membuatku kenyang, bagaimana kalau porsi jumbo? mungkin aku akan muntah saat itu juga.


"Sebenarnya aku tidak bermaksud untuk menyakitimu tadi."


"Ha?" apakah Putri sedang menjawab pertanyaan yang setengah jam lalu ku ajukan?


"Aku hanya merasa, bahwa kita tidak cocok satu sama lain. Takutnya kita berdua yang akan menderita."


"Maksudku adalah selama ini kita selalu berdebat, dan ku rasa dalam perdebatan itu aku menemukan perbedaan yang cukup jauh di antara kita."


"Aku hanya takut, jika suatu saat nanti, pernikahan ini justru menyisakan luka di antara kita," terang Putri.


Oh, jadi maksudnya seperti itu to...?

__ADS_1


Oke baiklah. Aku bisa menerima alasan itu. Tapi bagaimana dengan keluarga kami? apakah mereka akan menerima begitu saja keputusan kami untuk membatalkannya pernikahan ini?


"Lalu, apa yang akan kau katakan pada keluarga kita?" tanyaku datar, namun sungguh ku penasaran akan isi hati wanita ini.


Ku lihat Putri mengembuskan nafas berat, seperti sedang tak bertenaga. Padahal ia baru saja menghabiskan makanan dalam porsi jumbo.


"Itu dia yang aku khawatirkan," lirih Putri.


"Sebenarnya aku tidak ingin menyeret Keluargamu dalam masalah ini."


"Aku pikir, dengan hanya bersandiwara sebentar, tak akan membuat ibu semakin penasaran. Eh, tahu-tahunya justru dia yang lebih bersemangat dalam mengurus pernikahan kita."


"Semula ku pikir, bahwa ini tidak akan berlangsung lama hingga melibatkan anggota keluarga, tapi rupanya ibu bergerak cepat dari yang aku duga."


"Tolong maafkan aku karena menjadikanmu korban dalam masalahku," terang Putri.


Sejujurnya ku terenyuh ketika mendengar pengakuan Putri. Akhirnya dia menjadi wanita dewasa yang berani mengakui kesalahannya. Dan yang paling penting adalah dia berani meminta maaf padaku.


"Sebenarnya aku tidak merasa di rugikan disini. Justru aku bersyukur, karena aku tak perlu repot-repot mencari pendamping hidup. Sebab kau sendiri yang datang padaku," godaku sembari tersenyum nakal.


"Is, kau ini! seharusnya kau memarahiku. Bukan malah bersikap santai," gerutu Putri.


"Tadi aku membentakmu sedikit, kau langsung sakit. Bagaimana jika aku benar-benar marah padamu? mungkin kau akan kejang-kejang sampai mulut berbusa. Hahaha." Sengaja ku goda ia, sebab ku tak mau ia merasa harga dirinya terluka karena kesalahpahaman yang dulu pernah ada.


"Itu karena kamu membuatku ketakutan!"


Nah, aku lebih suka Putri yang seperti ini. Merajuk sembari menggerutu. Sebab, jika ku tahu ia menyimpan rasa bersalah, maka aku akan jadi tak tega padanya.


"Kamu tidak perlu merasa khawatir. Aku juga tidak menginginkan pernikahan ini, tapi kita berdua tidak boleh mundur."


"Apa kau tidak merasa iba pada keluarga kita? mereka akan sedih dan terluka berjamaah kalau sampai pernikahan ini batal. Terlebih lagi ibumu. Dia yang paling terluka disini. Sebab harapan besar itu telah tertanam dalam hatinya."


"Coba renungkan itu baik-baik. Jika ini hanya menyangkut diriku, maka ku tak akan pernah mempermasalahkannya sebab belum ada niatku untuk menikah. Tapi kita sudah melangkah terlalu jauh. Ada dua keluarga yang terlibat disini," terangku mencoba membuat Putri mengerti.


"Kau memang benar. Seharusnya aku tidak memainkan sandiwara ini dan menyeretmu dalam masalahku. Tolong maafkan aku," lirih Putri.


Apakah wanita angkuh ini benar-benar menyesali perbuatannya sekarang? atau ini hanya sesaat, sebab ku traktir makan? entahlah.


"Sudahlah, jangan di pikirkan lagi. Sekarang kita sudah sampai sejauh ini. Tak ada yang perlu di sesali," balasku.


"Lalu bagaimana dengan kekasihmu? apakah dia tidak marah padamu? atau kau sudah memutuskannya?"


Ha?


Sejak kapan aku memiliki kekasih? apakah Putri belum tahu kalau aku juga seorang jomblo sejak lahir?


Seketika ku merasa seperti terhempas ke dasar laut. Merasa tak laku-laku sejak dahulu.


To be continued.


Harga aku lewat vote, komen, like, dan hadiah ya.

__ADS_1


Happy reading.


__ADS_2