
Kini kami telah sampai ke tujuan. Tempat dimana kami harus memfitting baju pengantin.
Namun, ku lihat Putri seperti masih marah padaku.
Hais...
Ini yang paling ku benci dari wanita. Sekali marah harus di bujuk oleh pria. Setelah itu si wanitanya jadi lebih besar kepala.
Ku lihat itu terjadi pada Ibu dan Abah. Tiap kali ibu marah, Abah pasti membujuknya dengan berbagai macam rayuan gombal.
Katanya, Mau di belikan berlian lah. Ibu Cantika lah. Tak ada wanita secantik ibu di dunia ini lah. Hingga ingin rasanya ku muntah mendengar rayuan maut Abah.
Hais... parah.
Wanita benar-benar membuat pria serba salah. Dia mau ini lah, mau itu lah. Sementara merayu wanita bukanlah gayaku. Sungguh ku tak pandai melakukan itu.
"Turunlah," kataku datar.
"Hmm." Jawaban Putri membuatku memahami satu hal. Ternyata kalau wanita sedang merajuk, jawabannya cuma 'hmm' saja ya? Dasar wanita! maunya di mengerti terus.
Apa iya aku harus merayunya sekarang? enak saja mau di rayu. Itukan bukan gayaku!
Walau ku buruk rupa, tapi ku masih berwibawa. Asal jangan memaksakan ego ketika salah. Tapi, disini kan aku yang terluka, bukannya dia. Lalu kenapa justru dia yang marah? sungguh parah.
Dan kami pun sama-sama keluar dari mobil menuju ruang fitting.
Setibanya kami disana, rupanya wanita yang bernama Weni itu sudah lama menunggu kami.
"Kalian kan yang calon pengantin doble P?" tanya wanita bernama Weni tersebut.
Doble P? istilah darimana lagi itu?
Lalu kemudian aku dan Putri saling memandang, merasa heran sekaligus aneh pada sebutan nama tersebut.
"Doble P? siapa doble P?" Kali ini Putri yang mengajukan pertanyaan.
"Ya kalian berdua," jawab Weni.
"Kalian Paijo dan Putri kan?" tanya Weni kemudian.
"Iya," jawabku dan Putri secara bersamaan.
"Nah, oleh sebab itu, kalian di beri julukan doble P sama kedua orang tua kalian."
Oo... jadi, maksudnya doble P itu Paijo dan Putri?
Baru ngeh aku. Lagi pula ibu ada-ada saja. Ngapain coba pake singkatan nama segala? bikin rempong saja.
"Baiklah kalau begitu, mempelai wanitanya silahkan ikut saya untuk fitting baju pengantinnya. Dan yang mempelai pria, silahkan ke sebelah sana."
"Baju pengantinnya ada disana," titah Weni.
Dan akhirnya ku pakai baju pengantin yang di maksud wanita tadi.
Dalam hatiku biasa-biasa saja dari pakaian ini, tak ada yang istimewa. Tapi, karena ingin menghargai ibu dan Abah, maka ku biarkan saja mereka bereksperimen sesuka hati.
Setelah ku coba pakaianku, kini ku duduk di kursi sofa sembari menunggu Putri usai memfitting baju pengantinnya.
Sungguh lama sekali. Sekitar lima belas menit usai ku fitting bajuku tadi.
Dasar wanita, selalunya kalau mau dandan pasti lama. Gerutuku dalam hati.
Setelah itu, Putri keluar dari ruang fitting dengan sebuah gaun putih bertabur mutiara yang menutupi tubuhnya. Rambutnya masih di gerai bebas seperti sediakala. Namun, ku tak terpesona akan kecantikan wanita ini. Sebab, gaya angkuhnya.
Ku akui jika Putri merupakan wanita tercantik dari sekian banyak wanita yang ku temui. Ingat, ku temui ya? bukan ku pacari. Kalau pacar ma... saya gak punya, tapi kalau cuma temui alias lihat-lihat doang, itu sering. Haha.
Balik lagi pada sikap calon Istriku ini.
Keangkuhan sangat melekat padanya, dan sulit untuk aku lumpuhkan. Sebab ia selalu memelihara egonya. Jadi, ku pandang datar saja wanita yang sejatinya sangat cantik ini, yakni Putri.
"Bagaimana tuan Paijo?" tanya Weni.
Biasa saja!
Ingin ku berkata demikian, tapi takutnya dua wanita di depanku ini akan tersinggung. Ntar aku di amuk dua wanita lagi. Kan gak serem tuh kalau wajahku jadi benyok gara-gara penilianku?
Terlebih lagi Putri. Hatinya masih terluka saat ini. Sebab ku suruh turun dari mobil tadi.
__ADS_1
Akhirnya ku putuskan saja untuk bersandiwara memuji ia. Agar Putri merasa senang jua.
Tak ada salahnya berbohong demi kebaikan dunia, dari pada kacau? mending bohong sekalian, supaya aman.
"Cantik," jawabku datar. Namun, ku pasang wajah seolah mengagumi sosok Putri. Dan... yes!
Akhirnya berhasil juga. Putri tersenyum simpul.
Hais... rupanya wanita itu kalau di puji, mau setinggi apapun kemarahannya terhadap pria, pasti akan hilang dengan sendirinya.
"Dasar wanita kampungan! angkuh! sombong, keras kepala pula!" batinku.
"Nah, tuh kan? apa saya bilang. Pasti calon suamimu akan memuji kecantikanmu. Sebab, baju ini sangat cocok untukmu." Kali ini Weni sang desainer yang berbicara.
Ingin rasanya ku muntahkan semua isi perutku. Sebab, merasa eneg pada pujian wanita itu.
Memang benar apa kata orang ya? seorang penjual tak akan pernah menjatuhkan dagangannya, meski barang itu tak terlalu istimewa. Tapi, Dimata mereka sungguh sangat berharga.
Hmmm... duit... duit. Lagi-lagi karena duit. Mereka memuji produknya sendiri demi sebuah duit. Padahal biasa aja tuh! atau mungkin karena siapa yang kenakan baju itu? hingga ku pandang biasa saja?
Jujur saja ya? tak ada yang istimewa dari baju pengantin itu. Atau mungkin karena wanita yang ku benci yang mengenakannya? sehingga hal bagus, ku anggap buruk. Entahlah.
"Baiklah kalau begitu, sekarang kita pulang."
"Sudah selesai kan fitting bajunya?" tanyaku.
"Iya sudah Tuan Paijo. Anda bisa membawa pulang calon istri anda. Tapi di buka dulu ya bajunya?"
"Ingat, jangan mengintip!" jawab Weni dengan senyuman menggodanya.
Idih! siapa yang mau mengintip wanita sombong itu? bahkan jika dia berpose telanjang di depanku, tak akan ku bernafsu. Aku bukan pria mesum tahu!
Sepuluh menit kemudian, Putri keluar dari ruang fitting. Dan anehnya, dia masih mendiamiku.
Sepertinya dia masih marah padaku. Apakah harus ku bujuk dia dengan sejuta kata pujangga milik Abah? tapi itu bukan gayaku.
Lalu aku harus bagaimana?
Hai... Ngapain juga ku pikirkan dia? mau dia marah kek, mau dia terjun payung kek, itu urusannya. Aku tak peduli. Siapa suruh jadi wanita belagu dan bertingkah? akhirnya kau kena juga.
Di mobil pun dia masih tak bersuara, hingga ku putar musik untuk menghilangkan kejenuhan. Tapi, wajah Putri seperti biasa-biasa saja.
Apakah dia baik-baik saja? ataukah dia sedang terluka? entahlah. Tapi, dia seperti tengah menahan sakit di dalam sana.
Merasa penasaran, akhirnya ku hentikan mobil di tepi jalan, dan bertanya apa yang ia rasakan.
"Apa kau baik-baik saja?" tanyaku datar, namun ada sedikit kecemasan dalam hatiku.
Walau ku ketus padanya, tapi bukan berarti ku tak memiliki hati nurani.
Namun, Putri tak menjawabku. Dia seperti tengah menggigil sekarang. Akhirnya kepanikan menyelimuti diriku.
"Kau kenapa Putri? apa kau sakit?" tanyaku lagi. Lalu ku pegang kening wanita itu, dan ku rasa suhu tubuhnya sangat panas.
"Putri, kau demam," kataku cemas.
Lalu kemudian ku lihat dia terisak.
"Hiks, hiks, hiks." Sungguh ku panik saat ini. Belum pernah ku alami peristiwa seperti ini. Sungguh sulit sekali.
"Hei, mengapa kau menangis? apa kau kesakitan? mengapa tidak katakan padaku kalau kau sedang sakit tadi?" tanyaku panik.
Sungguh ku tak bisa menahan rasaku untuk tak mencemaskan dia. Walau dia menyebalkan, tapi biar bagaimanapun juga dia tetap seorang wanita yang harus ku jaga.
"Ayo kita ke rumah sakit," ajakku akhirnya setelah tak kunjung mendapat jawaban.
"Aku tidak mau!" jawab Putri akhirnya setelah lama diam.
"Tapi kamu sedang sakit Putri."
Haruskah kita berdebat lagi sekarang? tidakkah situasinya semakin mencekam? lalu kenapa dia tidak mau ku bawa ke rumah sakit?
"Pokonya aku tidak mau!" kali ini Putri seperti tengah merajuk padaku.
Oke, ku turunkan egoku sekarang. Dan ku rayu dia seperti ala-ala gaya Abah di rumah.
"Baiklah kalau begitu. Kamu mau aku melakukan apa, em?" tanyaku dengan suara yang sengaja ku lunakkan agar tersentuh hatinya. Dan benar saja, Putri akhirnya luluh juga. Dia pun berkata manja ala gadis Korea.
__ADS_1
"Aku lapar."
Ngek?
Jadi Putri lapar? makanya sampai keringat dingin?
Hedew... Tahu begitu tidak usah ku gunakan senjata Abah. Bikin malu saja!
"Kalau lapar, kenapa tidak bilang? kan kita bisa makan dulu, sebelum fitting baju." Ku kembali meninggikan egoku, merasa kesal pada wanita itu.
"Habis tadi kamu menyuruhku turun."
Hais...
Suaramu itu put, put. Kau mendayu-dayu supaya ku luluh.
Tapi sebenarnya kasihan juga sih dia, hari ini dia terus terkena omelanku.
"Baiklah, ayo kita cari tempat makan, em?" Kali ini suaraku benar-benar lunak. Tak disengaja seperti sebelumnya.
"Aku ingin makan kepiting," Rajuk Putri masih dengan suara manjanya.
"Iya, iya. Sekalian dengan wajannya juga kau makan," godaku untuk mencairkan suasana.
"Is, kau ini." Putri memukul pelan lenganku. Dan ku tarik kedua sudut bibirku membentuk senyum kelegaan disana.
Akhirnya Putri tak marah lagi padaku. Terbukti dari cara ia memandangku. Dan kami pun saling melempar pandangan, lalu kemudian,
"Hahaha." Kami tertawa bersamaan. Entah apa yang membuat kami tergelitik. Yang pasti, saat ini kami sama-sama enjoy.
Merasa baik-baik saja, tanpa sadar ku angkat tanganku dan ku usap pipi Putri. Entah apa yang mendorongku untuk menyentuh pipinya.
Apakah karena tawanya yang ternyata terdengar meneduhkan hati? ataukah karena suaranya yang tiba-tiba ku anggap merdu sekali?
Ah, sial!
Mengapa aku jadi begini? ini pasti gara-gara kepiting tadi!
"Ah, maafkan aku," ucapku sedikit gugup sembari melepas tanganku.
Mungkin saat ini Putri sedang memandangku aneh. Sebab tiba-tiba ku salah tingkah.
"Baiklah kalau begitu, ayo kita cari makan," kataku seakan tak mau lama-lama larut dalam situasi yang semakin ku rasa aneh.
"Tunggu!" cegah Putri sembari menahan tanganku yang sedikit lagi meraih setir mobil.
"Apa?" tanyaku.
"Minta maaf dulu," rajuk Putri masih dengan suara manjanya, membuatku ingin muntah.
Bagaimana bisa dia semanja ini padaku? apakah itu artinya dia mulai menerima kesalahannya?
Oke, baiklah. Sekali lagi ku turunkan ego agar semuanya berjalan seperti sedia kala.
"Baiklah, maafkan aku karena membentakmu tadi. Dan maafkan aku juga yang menurunkanmu di tengah jalan," ucapku tulus.
Lalu kemudian,
Bug,
He?
Putri memelukku? apa yang sebenarnya terjadi?
Ini lagi jantung. Mengapa mendadak berdegup kencang? apakah itu artinya aku pria normal? sebab baru pertama kalinya merasakan keanehan dari seorang wanita.
Sentuhan ini membuatku merasakan sensasi luar biasa. Tapi apa?
"Terimakasih," kata Putri masih dengan posisi memelukku.
Dan tanpa sadar ku tarik kedua sudut bibirku membentuk senyuman aneh disana.
Akhirnya hubungan kami baik-baik saja sekarang. Tak perlu ada yang di perdebatkan lagi. Walau tak tahu menjelang esok hari. Apakah kami masih tetap seperti ini.
To be continued.
Like, komen, vote, dan hadiahnya ya readers.
__ADS_1
Happy reading.