
Pertanyaan Paijo membuatku tercengang sekaligus tak percaya. Bagaimana bisa dia mengatakan, bahwa aku wanita tak laku-laku?
Ya..., meski kenyataannya begitu, tapi kan tak perlu di perjelas juga kali? aku kan jadi malu.
Paijo benar-benar membuat perasaanku jatuh bangun. Semula dia membawaku ke awan, lalu kemudian menjatuhkanku me dasar bumi hingga hati dan jiwaku retak.
Dia memang pandai membalikkan keadaan. Yang tadinya aku menang bagai di awang-awang, kemudian di banting hingga patah tulang.
Hae.... Paijo memang pria aneh.
"Apa kau pikir aku tak selaku itu?!" bantahku.
"Begini-begini aku juga punya mantan kali." Ku tak mau kalah dari pria Bejo yang satu ini. Enak saja mengatakan aku tak laku-laku.
"Mantan pasien, iya."
Ya ampun Paijo... Untuk kali ini saja kamu mengalah dulu. Kenapa dia selalu ada soal ada jawaban ya? sungguh menyebalkan!
"Mantan pacar lah!"
"Emang kaya kamu yang tak pernah pacaran!" balasku tak mau kalah. Dan ku lihat wajah Paijo berubah jadi merah.
Apakah itu artinya dia belum pernah pacaran?
Hais... gayanya saja selangit, tapi pengalaman nol. Haha.
Aha! akhirnya aku punya senjata ampuh untuk melumpuhkan lawan yang satu ini. Paijo pasti tak akan berkutik kali ini.
"Hei, kenapa wajahmu berubah jadi tegang begitu? apakah kau belum pernah pacaran sebelumnya?" ejekku sembari tersenyum jahat.
"Jangan bilang kau belum pernah pacaran? hahaha." Kali ini aku yang berada di atas angin. Mendapat bahan bullying seperti ini membuatku bahagia bukan main.
Kena kau Paijo!
Emang enak rahasiamu ketahun?
Ku balas kau! hahaha.
"Ehem! aku tidak seperti itu ya?" Paijo mulai mengklarifikasi masalah percintaannya yang bernilai nol.
"Aku bukannya tidak laku sepertimu, tapi aku sengaja menyibukkan diri agar tak bertemu wanita cerewet seperti dirimu!"
Alasan klasik! bilang saja kalau tidak laku! haha.
"Gak usah sok imut deh! bilang aja kalau kamu jomblo sejak lahir. Hahaha." Ku tertawa jahat penuh ejekan, dan rupanya topik kami kali ini sukses membungkam kecerewetan Paijo.
"Gak usah bahas tentangku! tapi ceritakan padaku bagaimana kau bisa berakhir di jodohkan dengan pria bego tadi? kamu itu wanita cantik dan cerdas, ngapain coba mau sama pria culun seperti tadi?"
What? Paijo baru saja memujiku?
__ADS_1
Cantik? cerdas?
Oh ya ampun Paijo... Jangan juga jujur-jujur amat lah. Aku kan jadi malu. Hehe.
"Jadi akhirnya kau mengakui kecantikan dan kecerdasanku ni?" godaku sembari menyibakkan rambutku yang sengaja ku blow.
"Iddih! baru juga di puji sekali, sudah besar kepala!" gumam Paijo, tapi masih bisa ku dengar.
"Mau cerita atau tidak? atau aku pulang ni?!" Paijo sangat pintar membalikkan situasi. Dia jadi ingin mengancamku pergi. Sungguh dia lucu sekali. Hihihi.
Ku hembuskan nafas berat, dan mungkin wajahku pun berubah menjadi sendu. Kali ini ku mulai berbicara serius, tanpa adanya perdebatan.
"Sebenarnya ibu tidak memaksaku untuk menikah, tapi dia tak punya pilihan lain. Aku yang terlalu sibuk dengan karir dan juga hidupku, hingga melupakan masa depanku."
"Ibu telah berusaha keras untuk membuatku mengerti tentang pentingnya pernikahan selama ini, tapi aku selalu menolak itu."
"Aku tahu yang aku lakukan ini salah, tapi aku benar-benar ingin sukses dulu sebelum menikah," terangku.
"Tapi kamu kan sudah sukses sekarang?"
"Maksudku, kamu adalah seorang dokter sekaligus manager di rumah sakit tempatmu bekerja. Lalu apanya lagi yang belum sukses?" Aku memahami pertanyaan Paijo ini. Kebanyakan orang di luar sana memang menilaiku sebagai wanita sukses, tapi kadar sukses versi diriku jauh berbeda.
Aku ingin memiliki rumah sakit sendiri. Dan Alhamdulillah aku sudah mengumpulkan dana dari hasil kerja kerasku selama ini.
"Aku ingin memiliki rumah sakit sendiri. Itulah mengapa aku sering menunda yang namanya pernikahan," lirihku sendu.
Mataku menjadi berkaca-kaca ketika mengingat alasan di balik impianku ini. Sebenarnya aku memiliki alasan konkrit, mengapa aku bertekad untuk membangun rumah sakit dan mengabaikan rumah tangga.
"Apa kau tidak memikirkan bagaimana perasaan ibumu ketika mengetahui anak gadisnya tak menikah-menikah? menjadi seorang ibu adalah pekerjaan berat, Put. Dan akan menjadi lega rasanya ketika orang tua melihat putrinya menikah."
"Masalah rejeki, jodoh, dan maut, Allah yang tentukan. Tapi tergantung juga dari kitanya. Apakah kita mau memilih untuk menjalani hidup sendiri, atau menikah. Allah itu tidak akan pernah mengubah nasib hamba-Nya, sampai hamba-Nya itu sendiri yang berusaha untuk mengubahnya."
Aku terpaku akan kearifan Paijo kali ini. Dia memang pria Bejo, tapi tidak bejat. Terbukti dari caranya membuatku memahami arti sebuah hubungan darah.
"Tapi aku memiliki alasan tersendiri mengapa aku harus memiliki rumah sakit," lirihku.
Haruskah aku bercerita kepada Paijo tentang alasanku yang sebenarnya? tidakkah aku sudah berlebihan? mengingat hubungan kami tak sedekat yang di bayangkan.
"Apa alasanmu?"
Tuh kan Paijo menanyakan alasanku.
Ais... Aku jadi dilematis.
Mau cerita, takutnya dia mengira aku wanita sok akrab. Tak cerita pun takutnya nanti di anggap aku mengada-ngada.
Hedew...
"Baiklah kalau kau tidak ingin berbagi denganku. Lagi pula kita tak sedekat itu bukan?"
__ADS_1
Kenapa aku merasa nada suara Paijo seperti kecewa padaku ya? apakah itu artinya dia mulai membuka diri sebagai temanku? atau akunya saja yang terlalu percaya diri? ah, sial sekali!
"Sebenarnya aku memiliki pengalaman buruk dulu," lirihku mulai bercerita.
"Pengalaman buruk?"
"Iya, pengalaman buruk. Dulu sewaktu zamannya Ayah berjuang dalam mengejar impiannya untuk membahagiakan kami, beliau tak pernah mengeluh, hingga akhirnya kami tahu, bahwa selama ini Ayah berjuang melawan penyakit mematikan."
"Saat itu kami tak memiliki uang sama sekali. Bahkan untuk makan sehari-hari pun sangat sulit. Kami sempat membawa Ayah ke rumah sakit waktu itu, tapi pihak rumah sakit menolaknya. Aku juga tidak tahu apa alasannya kala itu, hingga akhirnya Ayah mengembuskan nafas terakhir dalam kondisi mengenaskan. Itulah sebabnya aku bertekad untuk membangun rumah sakit, agar tak ada yang bernasib seperti Ayahku."
"Aku ingin melindungi keluarga dan juga orang banyak," ceritaku. Akhirnya ku buka tabir rahasiaku yang ku simpan rapat-rapat, dimana tak seorang pun yang tahu. Anehnya aku mau membukanya bersama Paijo. Padahal dia pria asing yang baru ku kenal. Itu pun karena salah paham.
"Putri, tidak ada salahnya berniat menyelamatkan orang banyak, tapi kita tak memiliki kuasa untuk melawan takdir dan juga ajal."
"Aku tahu niatmu sangat mulia. Bahkan aku salut padamu ketika mengetahui fakta itu. Tapi bukan berarti kau mengenyampingkan pernikahan. Maksudku adalah rejeki itu bisa sepuluh kali lipat lebih banyak dari ketika kita hidup sendiri alias belum menikah. Sebab ada yang namanya rejeki suami istri, apa lagi anak."
Sekali lagi ku terpaku pada Paijo. Kebijaksanaannya bukan sebuah kemunafikan.
Banyak pria di luar sana yang sengaja merangkai kata hanya untuk sebuah simpatik.Tapi sepertinya tidak dengan pria yang satu ini. Sepertinya sih.
"Mengapa aku merasa kau seperti tak sabar lagi untuk menikahiku ya?" godaku seakan ingin mengalihkan pembicaraan. Sebab ku tak mau mendengar lebih jauh lagi kearifan Paijo. Ntar aku jatuh cinta beneran lagi.
Hahahaide...!
"Ehem! aku bukannya tidak sabar lagi untuk menikahimu! Tapi aku berusaha untuk membuka otakmu yang sempit ini!" balas Paijo sembari mendorong pelan kepalaku. Tapi tak membuatku sakit hati. Sebab ku tahu dia tak serius.
"Hai... bilang saja kalau sudah kebelet nikah!" godaku sekali lagi, dan kali ini sukses membuat wajah Paijo merah plus salah tingkah.
Sepertinya aku mulai tahu kelemahan Paijo. Dia akan berubah jadi canggung ketika topik pembicaraan mengenai percintaannya. Dia pasti ingin menghindar. Haha.
"Yang kebelet mau nikah itu kamu! bukannya aku!"
"Yang di jodohkan sama pria bernama Memet tadi siapa? dan yang tak laku-laku juga siapa?" Kali ini Paijo benar-benar di luar jangkauannya. Aku yang menang kali ini.
Yes!
"Iya, iya. Aku yang kebelet nikah, dan kamu kebelet pipis. Iya kan...?? hahaha." Sungguh jahat sekali tawaku ini. Mungkin jika aku adalah pria, Paijo pasti sudah memukul diriku yang menyebalkan. Hehe.
"Tertawa saja terus! supaya aku tak mau menikahimu!"
"Jangan!" Tiba-tiba ku cegah Paijo ketika ia berniat untuk mundur. Lalu kemudian ku lihat wajahnya yang kini tersenyum penuh kemenangan.
"Sekarang lihatlah, siapa yang kebelet mau menikah? hahaha."
Sungguh keterlaluan Paijo. Ternyata dia cuma mau mengerjaiku saku. Aku sudah seperti wanita murahan sekarang! sungguh memalukan.
Ini namanya senjata makan tuan!
To be continued.
__ADS_1
Like, komen, vote, dan hadiahnya ya.
Happy reading.