KONSULTAN CINTA

KONSULTAN CINTA
Sibuk.


__ADS_3

Ku kerjabkan mata, merasa berat tuk beranjak.


Ku raba-raba sekitar sisi kiri tempat tidur, dan tak ku dapati siapapun disana.


"Paijo kemana?" gumamku.


Ya, aku menyadari, bahwa statusku telah berubah menjadi wanita bersuami, yakni istri seorang Paijo Londo. Entah siapa nama lengkap suamiku itu. Katanya sangat panjang.


Ku masih terkulai lemah di atas pembaringan. Lelah sekali rasanya aktivitas semalam.


Tapi bukan aktivitas di atas ranjang, melainkan meeting dadakan di rumah sakit lewat via zoom.


Seharusnya ku hadiri rapat dadakan itu, sebab tugas dan kewajibanku. Tetapi kata direktur utama, ku masih berstatus pengantin baru. Tak seharusnya ku berada disana. Maka jadilah aku berjibaku dengan tugas lewat via zoom.


Anehnya itu direktur utama, katanya aku pengantin baru? tapi kok di suruh kerja juga? harusnya kan ku duduk cantik di ranjang pengantin. Tapi sayangnya ku duduk cantik di kursi sofa dengan laptop di atas meja dan mengabaikan Paijo yang terbaring pasrah.


Kami memang tidak berniat tuk melakukannya. Sebab tak ada rasa cinta. Hanya saja, sebagai istri ku harus sadar akan posisi. Jika dia meminta, maka akan ku beri. Tapi jika dia diam, maka dengan senang hati ku tahan. Hahaha.


Akhirnya ku beranjak bangun dari pembaringan menuju kamar mandi. Sebab waktu telah menunjukkan pukul delapan pagi. Waktunya membersihkan diri.


Ku basahi rambutku, merasa gerah dengan tumpukan ketombe di kepalaku.


Walau ku seorang dokter, bukan berarti ku tak punya ketombe.


Ketombe bisa datang pada siapa saja, tak pandang bulu dan usia. Walau telah di jaga, tetap saja dia muncul juga dan mengotori kepala.


Puas membersihkan diri, akhirnya ku beranjak pergi mengenakan baju dengan rapi. Tidak lupa jas putih lambang negara ini.


Tak lama kemudian Paijo datang dengan secangkir teh di tangan.


Semula ku pikir teh itu untukku. Namun, rupanya dia yang minum. Seketika senyumku pudar, merasa kecewa tak memiliki suami seromantis Tomi Iskandar.


Lagi pula, kenapa juga ku berharap dia membawakanku secangkir teh? bukankah dia tak peduli padaku?


Kemudian dia menawarkan tumpangan, tapi tawarannya hanya sekedar gurauan. Terbukti dari cara ia berbicara, yang katanya dia cuma sekedar buang kata.


Sejujurnya ku harap sekali dia yang mengantarku kerja. Tapi karena hatiku terlanjur kecewa, maka ku tolak saja dia.


Ku ulurkan tangan tuk salaman dengannya. Meminta izin tuk pamitan. Tapi yang ku lihat dia seperti kebingungan. Kemudian ia memberiku beberapa lembar uang kertas seakan ku ini wanita mata duitan.


Apakah dia pikir aku meminta uang jajan? dasar pria tak peka! sama seperti rupanya yang tak seberapa.


"Aku tidak butuh uangmu! aku hanya mau pamitan!" batinku menggerutu.


Setelah salaman, akhirnya ku beranjak pergi ke kantor. Mengerjakan segudang aktivitas yang tengah menungguku disana.


**


Setibanya aku di rumah sakit, ku sudah di sambut oleh pasien kesakitan yang dalam tahap pembukaan lima. Ibu itu menangis menahan sakit.


Seperti inikah nanti ku rasa ketika hendak melahirkan?


Hais...


Melahirkan. Melakukan saja belum, apa lagi mau melahirkan.


Seharian ini ku sibuk dengan segudang aktivitas, hingga melupakan pesanan Paijo.


Ya, tadi sewaktu sampai di rumah sakit, Paijo mengirimiku pesan, yang katanya dia pengen ku antarkan makanan.


Hedew... seperti anak kecil saja. Apa dia tidak bisa makan di luar bersama temannya? mengapa harus aku yang membawakan makanan? sungguh menyebalkan.


Sempat ku bertanya, mengapa tidak makan bersama teman. Eh, dia hanya menjawab, apa gunaku sebagai istrinya dia?


Oh ya ampun Paijo... kau benar-benar membuat otakku semakin Bejo.


Tak ada pilihan lain, ku harus menjalankan kewajiban. Walau hati bersungut-sungutan, ku harus tetap menjaga senyuman.


Baru juga sehari menjadi suami, dia sudah belagu. Bagaimana kalau setahun? mungkin dia akan menyuruhku berhenti kerja. Keterlaluan!

__ADS_1


Tapi walau ku menggerutu, tetap saja ku bawakan ia serantang makanan yang ku belikan di restoran depan. Setelah itu ku bawakan ia di perusahaan.


Setibanya aku disana, semua mata tertuju padaku.


Samar-samar ku dengar suara sumbang, yang katanya, "Wow, cantik sekali istri tuan Paijo. Betapa beruntungnya dia."


Ya iyalah beruntung. Secara kan aku memang sudah cantik dari sononya. Tak perlu di ragukan lagi itu mah... hehe.


"Maaf nona, apa Anda sedang mencari tuan Paijo?" tanya seorang wanita seksi.


Sepertinya dia sekretaris pribadi suamiku.


"Iya. Apa dia ada di dalam?" tanyaku sesopan mungkin.


"Iya Nona."


"Baiklah kalau begitu, aku ingin bertemu dengannya," kataku.


Baru juga ku ancang-ancang tuk masuk ke dalam, eh tahu-tahunya wanita seksi itu mencegahku.


Ada apa ini? mengapa tiba-tiba dia mencegahku? apa dia masih belum tahu, kalau aku istri bosnya? tapi karyawan di lantai bawah, semua langsung tahu, bahwa aku adalah Nyonya Paijo Londo.


Ku kerutkan kening, merasa heran pada sikap wanita ini.


"Maaf nona, anda tidak boleh masuk sebelum membuat janji terlebih dahulu," ujar wanita itu.


Nah, tuh kan benar? dia belum tahu siapa aku. Awas kamu wahai wanita seksi.


Huf... sabar Putri. Tahan emosimu, jangan mengamuk disini, atau kau akan di anggap orang gila.


"Saya istri bapak Paijo Londo, pemilik perusahaan ini. Apa saya boleh masuk nona cantik?" sengaja ku datarkan kalimat, namun bernada sindiran.


Seketika mata wanita itu membulat, dan menundukkan kepala.


"Maafkan saya nyonya. Saya tidak tahu kalau anda adalah istri Tuan Paijo. Saya sekretaris baru disini nyonya. Ini hari pertama saya bekerja," ucap wanita itu penuh sesal sembari menunduk kepala.


Oh, karyawan baru toh? pantas saja dia tidak tahu. Berbeda dengan karyawan dibawah sana. Mereka langsung menghafal wajah cantikku. Sebab sewaktu di pesta, mereka hadir semua.


"Lupakan saja. Maaf jika sikapku kurang berkesan di hatimu," ucapku tulus.


"Jadi, apakah aku bisa masuk sekarang?" lanjutku.


"Tentu saja nyonya."


Dan akhirnya ku masuk juga di ruang suamiku, Paijo Londo sebelum tadi beberapa kali ku ketuk pintu. Namun, tak ada jawaban.


Setibanya aku disana, ku lihat Paijo sedang sibuk menggambar, hingga tak menyadari kedatanganku.


Sengaja ku letakkan rantang makanannya di atas meja kerja dengan sedikit hentakan. Agar ia tahu, bahwa aku sudah datang.


Brak!


"Ini pesananmu," ucapku datar, namun penuh penekan. Namun, alih-alih berterimakasih, dia justru membentakku.


"Apa kau tidak bisa mengetuk pintu terlebih dahulu?"


Oh hallo... beberapa kali pintunya ku gedor, tapi dia tak kunjung bersuara juga. Apa harus ku berteriak keras hingga mendatangkan seluruh karyawan disini?


"Tadi sudah ku ketuk, tapi kau tak kunjung bersuara. Jadi aku masuk saja," jawabku sembari menahan geram.


Enak saja dia main marah-marah. Padahal ku sudah bela-belain membawakan makanan pesanannya. Bukannya berterimakasih, dia malah membentakku. Sungguh terlalu!


"Makanan apa yang kau bawakan untukku?" tanyanya.


"Lihat saja sendiri!" jawabku ketus.


Sungguh sakit hatiku, sebab dia membentakku. Padahal ku juga sibuk, tapi demi kewajiban, ku lupakan pasienku.


"Baiklah kalau begitu, suapi aku!"

__ADS_1


"Ha?"


What the hell.


Dia menyuruhku menyuapinya? apa dia tidak punya tangan sendiri? dasar pria manja!


Merasa lelah tuk berdebat, akhirnya ku turuti saja maunya dia.


Dengan menahan geram, ku suruh dia membuka mulutnya.


"Buka mulutmu, aaaaa..." Paijo sudah seperti anak balita. Dia makan dengan suapan.


Lalu kemudian dia mengambil makanan itu dan balik menyuapiku.


"Buka mulutmu, biar ku suapi."


He? mengapa dia tiba-tiba berbaik hati? apakah pria ini kesambet setan durjana?


"Aku bisa makan sendiri!" jawabku ketus.


"Biar ku suapi! kau belum makan siang juga kan?" tandas Paijo.


Hei, bagaimana bisa dia tahu, bahwa aku belum makan siang? apa dia seorang dukun?


"Bagaimana kau bisa tahu aku belum makan siang?" tanyaku heran.


"Terlihat dari wajahmu yang pucat!"


Seketika ku tersenyum tipis, merasa bahagia memiliki suami sepertinya. Walau dia orang yang cuek, tapi tak melupakan kewajiban.


Terharu sekali rasanya dia dapat tahu ku tengah menahan lapar.


"Apa sangat kentara?" tanyaku sekali lagi masih dengan senyuman di pipi.


"Sudahlah, jangan banyak tanya. Aku tahu cacing-cacing di perutmu sedang mendemo sekarang."


Adudu... Paijo... Paijo... Kau benar-benar menggemaskan.


Satu yang baru ku tahu sekarang. Dia tipikal pria yang tak mudah menunjukkan rasa simpatiknya terhadap wanita, tetapi diam-diam peka terhadap rasa.


Hahai... asik...


**


Paijo Pov.


Hari ini sengaja ku suruh Putri tuk membawakanku jatah makan siang. Sebab ku tahu dia pasti melupakan jadwal makannya.


Mau tahu dari mana informasi itu ku dapat?


Yap! dari ibu mertua. Beliau memberiku wejangan untuk selalu menjaganya, dan terus mengingatkan agar makan siang terus terjaga.


Tapi karena ku bukan tipe pria perhatian, maka ku suruh saja dia tuk membawakanku makan siang. Agar ku tahu, bahwa dia baru saja melakukan makan siang.


Jika ku bertanya lewat telepon, maka sulit untuk di percaya. Sebab kami tak saling menatap. Lagi pula ku tak mau dia kege'eran sebab ku perhatikan. Lama-lama dia pikir ada benih cinta dariku, padahal ku hanya sekedar menjalankan tugas dan kewajiban.


Hari ini ku benar-benar sibuk, hingga tak sadar Putri sudah ada di depanku.


Tiba-tiba dia menghentakkan rantang makananku, membuatku sungguh terkejut. Akhirnya ku bentak dia. Sebab merusak mood baikku.


"Apa kau tidak bisa mengetuk pintu terlebih dahulu?" Ku lihat wajahnya pucat. Bukan pucat karena sakit, melainkan tengah menahan amarah.


Ku sadar yang ku lakukan itu salah. Jadi sengaja ku suruh dia menyuapiku, agar ku punya kesempatan tuk menutupi kesalahanku dengan menyuapinya juga.


Sebab, ku baca di google. Katanya seorang wanita sangat suka jika di perhatikan. Apa lagi dalam posisi kelelahan. Salah satunya dengan metode suap-suapan.


Sebenarnya hanya alasanku saja, ku bilang dia belum makan siang. Eh, tahu-tahunya tebakanku benar. Jadi, ku suapi saja dia. Walau ini bukan gayaku, tapi ku rela demi menutupi salahku.


To be continued.

__ADS_1


Like, komen vote dan hadiahnya ya readers. Terimakasih.


Happy reading.


__ADS_2