KONSULTAN CINTA

KONSULTAN CINTA
Terimakasih.


__ADS_3

Putri Pov.


Pasang surutnya sebuah hubungan telah kami lalui. Beruntungnya kami berhasil menaklukkan ego masing-masing. Yang semula tinggi, perlahan menyurut hingga ke dasar hati.


Apa bila ego mulai mendominasi, maka diam dan rela yang patut kami utamakan. Sebab ketentraman dalam hubungan lah yang sangat penting.


Dulu ku hina pria cupu ini. Ku injak harga dirinya yang tak pernah ku anggap ada. Ku sebut dia sebagai pria kampungan. Namun, pelan-pelan hatiku mulai menerima pria yang kini berstatus sebagai suamiku.


Pria yang dulu ku sebut culun dan kampungan, rupanya penuh perhatian dan pertanggung jawaban. Dia memang selalu jutek, berbicara dengan nada menyebalkan. Namun, di balik itu semua ada cinta yang tersemat di dalam sana.


Tak banyak orang yang tahu, betapa baiknya Paijo.


Aku pernah mendengar cerita ibu, yang katanya Paijo tak pernah percaya diri pada lingkungan sosialnya. Dia selalu di bully oleh teman-teman sebayanya. Namun, tak jarang seniornya.


Entah itu karena nama yang ia sandang begitu panjang, atau karena stylenya yang terlihat kampungan. Sehingga kebanyakan orang memandangnya sebagai pria norak.


Namun, di balik itu semua Paijo merupakan pria cerdas dan bertalenta tinggi.


Berbekal ajaran Abah dan pengalamannya di negeri sakura Jepang, Paijo berhasil meraih impiannya menjadi seorang konsultan.


Dia bahkan merekrut karyawan dalam jumlah besar. Dan anehnya lagi, Paijo justru mencari orang-orang yang menghinanya dulu.


Entah karena ingin pamer atau membuat orang-orang sombong itu jera dalam menghina sesama. Yang pasti, banyak hikmah yang ku petik dari sikap Paijoku ini.


Dia pria yang kini ku cinta, berbaring dalam dekapanku dengan balutan selimut tebal.


Kami tidak melakukannya semalam, hanya saja ku lebih suka bermanja-manja dengannya.


Dia selalu memberiku kenyamanan, memperlakukanku dengan baik. Bahkan ketika kami melakukannya, Paijo tidak agresif. Sehingga ku merasa tak tersakiti.


"Apa kau tidak berangkat ke kantor? ini sudah jam delapan pagi." Sekarang memang sudah pukul delapan pagi. Namun, suamiku ini masih asik menutup mata di temani balutan selimut.


"Aku masih menginginkan posisi seperti ini." Paijo berkata sembari menutup mata. Seakan enggan tuk melihat dunia. Padahal cahaya mentari sangatlah cerah hari ini. Bagai tak bermalas-malasan seperti yang sudah-sudah.


Musim hujan telah berlalu, kini mentari menyinari bumi, seakan ingin mengucapkan selamat pagi pada kami.


Ku tersenyum tipis melihat wajah Paijo yang seperti anak kecil.


Dia masih mengenakan behel kesayangannya. Dan di lengkapi kacamata besar miliknya.


Semula ku malu melihat penampilan suamiku itu. Tapi, pelan-pelan ku mulai terbiasa.


Disini ku ingin berkata, bahwa ternyata pria tampan rupawan di kalahkan oleh pria yang penuh pertanggung jawaban.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu. Aku mandi dulu. Hari ini ada seminar di wisma yang baru saja di bangun. Katanya wisma itu baru saja di resmikan. Jadi direktur tertarik untuk melaksanakan seminar disana." Ku sudah siap-siap untuk beranjak, namun kalimat Paijo menghentikan gerakkanku.


"Apakah nama Wisma itu adalah Wisma Anggoro?" Ku kerutkan kening, merasa heran bagaimana bisa Paijo tahu nama wisma itu.


"Bagaimana bisa kau tahu nama Wisma itu? apakah kau memiliki mantan kekasih disana?" tanyaku bernada sindiran.


"Emangnya kamu tidak tahu apa pekerjaan suamimu ini? wisma itu aku yang buat. Maksudku adalah perusahaanku lah yang mendirikan wisma itu. Sebagian besar masih dalam tahap pembangunan. Hanya saja ada beberapa kendala yang kami hadapi dalam proses pembangunan wisma itu," terang Paijo sendu.


Entah mengapa aku seperti mencium aroma kerugian disini.


Apakah suamiku ini mengalami penurunan bisnis? ataukah ada kasus penipuan dalam proses pembangunannya?


Semula ku berniat tuk mandi, tapi mendengar cerita Paijo, akhirnya ku urungkan niat dan duduk di tepi ranjang bersamanya.


"Apa semuanya baik-baik saja?" Nada pertanyaanku tak mendesak, tak pula menekan. Ku hanya melembutkan suara. Agar ia mau cerita.


Sebagai istri ku harus siap mendengar suka duka suamiku. Agar ia merasa tak sendirian. Bukankah sudah seharusnya seperti itu?


Namun, alih-alih bercerita, Paijo hanya melempar senyuman manis padaku. Seakan enggan untuk bercerita.


Dia seperti menutupi dukanya.


Ini yang aku tidak suka dari seorang Paijo Londo. Dia selalu menikmati dukanya sendirian, tanpa harus berbagi padaku. Padahal ku selalu membagi suka dukaku dengannya. Tidakkah dia harus bersikap sepertiku?


"Semuanya baik-baik saja, kau jangan khawatir, em?" Paijo memegang pipiku hangat. Tapi, ku bisa merasakan ada aura kecemasan disana. Tapi apa?


Dalam dunia bisnis sudah pasti akan mengalami pasang surut. Tak ubahnya sebuah hubungan, pasti mengalami pasang surut juga. Namun, sebagai manusia yang berakal, kita harus mampu mengubah pola pikir agar tak seperti sendirian.


"Iya."


"Kau mandilah. Aku masih ingin berbaring sejenak." Nada suara Paijo masih saja lirih. Seperti tengah menyiratkan sebuah duka.


Merasa tak ingin membuatnya sedih, maka ku hibur dia dengan permintaan jenaka.


"Mandi bareng yuk?" pintaku sembari tersenyum nakal.


Sengaja ku kedipkan sebelah mata, agar Paijo tertarik akan godaanku yang semula tak terpikirkan.


"Apa kau sedang menggodaku sekarang?" Kali ini mimik Paijo mulai berubah. Yang semula berduka, perlahan bersuka cita.


Apakah itu artinya ajakanku berhasil? kalau iya, maka ku patut bersyukur.


"Anggap saja begitu." Lalu ku tarik baju Paijo dan membawanya ke kamar mandi.

__ADS_1


Dia pun hanya menurut padaku, seperti kerbau yang tengah di colok hidungnya tanpa perlawanan.


Kali ini kami akan melakukannya di kamar mandi. Walau ragu, tapi ku harus menghibur suamiku.


"Apa kau yakin kita akan melakukannya disini?" Saat ini kami berdiri di depan bathup. Memandang ragu benda berbentuk oval tersebut.


Benarkah kami akan melakukannya disini?


Mendadak ku menjadi ragu. Tapi ku tak boleh mundur. Sebab suamiku lagi butuh hiburan. Walau harus sakit pinggang, namun ku rela demi Paijoku tersayang.


Asik-asik, jos!


"Aku yakin!" jawabku mantap setelah beberapa saat bernegosiasi dengan hatiku.


Perlahan ku kecup bibir Paijo. Kali ini aku yang memulai permainan. Mendominasi permulaan.


Ku rengkuh tubuhnya yang sedikit berbeda. Kali ini Paijo sedikit lebih kurus, seperti pria yang kekurangan nutrisi.


Mungkin pekerjaan membuatnya lupa makan. Sehingga mengubah postur tubuhnya yang tak seperti dulu lagi.


Kini Paijo membalas ciumanku, dan membawaku masuk ke dalam bathtub itu.


Ku nyalakan keran air, agar kami sama-sama basah dan menikmati adegan baru ini.


Dapat ku rasa buah persik Paijo mengeras dalam balutan celananya yang pendek.


Pun, diriku yang kini mulai basah pada bagian bawah tubuhku.


Kali ini kami sama-sama berhasrat, seakan melupakan duka sejenak. Walau setelah ini kami harus di hadapkan dengan segudang aktivitas yang padat.


Dan segalanya terasa lebih ringan, saat semburan hangat masuk ke dalam rahimku.


Paijo bergerak naik turun. Sehingga menciptakan gelembung air di atas bathup.


Kami sama-sama mendesah, seakan tengah mengaduh nafas siapa yang lebih panjang.


Kini ku merasa sesuatu yang nikmat akan keluar dari dalam tubuhku. Hingga sukses membuatku meremang sembari menyebut nama suamiku.


"Paijo..."


Selesai sudah hasrat duniawi kami tersalurkan. Hingga deru nafas kami saling bersahutan.


Kami sama-sama tersenyum bahagia. Saling memandang satu sama lain.

__ADS_1


"Terimakasih," ucap Paijo tulus.


To be continued.


__ADS_2