KONSULTAN CINTA

KONSULTAN CINTA
Kenangan.


__ADS_3

Paijo Pov.


Ku duduk terdiam di depan jendela, sembari menatap pilu beberapa karyawanku yang tengah mengaduk campuran di lantai bawah. Sebagian dari mereka adalah orang tua renta yang seharusnya duduk manis di rumah sembari menikmati hasil pensiunan. Tapi karena tanggung jawab yang besar sehingga mengemban tugas seolah memaksa mereka untuk tetap menggunakan otot yang tak seberapa kuat lagi.


Dan di sudut pagar, sekali lagi netraku menangkap sosok pria muda belia yang baru saja menikah dan memiliki seorang putra berusia satu bulan. Tahun lalu ku ajak dia untuk bekerja padaku tanpa embel-embel ijazah atau lewat HRD seperti kebanyakan perusahaan. Saat ini dia tersenyum bahagia seperti tengah menunggu upah bulanan.


Sementara di sudut lainnya, seorang wanita paruh baya tengah kedatangan putranya yang masih berseragam SMA. Dia datang meminta uang jajan untuknya disekolah. Dengan senyuman merekah dan sukarela, wanita paruh baya itu mencabut selembar kertas uang seratus ribuan dan memberikan pada putranya.


Aku tahu siapa putranya itu. Dia adalah anak yang cerdas dan berprestasi. Dia bersungguh-sungguh dalam mengenyam pendidikan. Hampir setiap hari dia datang pada ibunya untuk memberitahukan seberapa tingginya nilai yang ia capai hari ini seolah mereka tak akan bersua di rumah.


Dan dalam waktu bersamaan, wanita paruh baya yang bernama Imah itu selalu bercerita padaku, betapa bangganya ia pada putra semata wayangnya itu.


Ima, seorang singel parent, harus berjuang melawan kerasnya kehidupan di tengah ibu kota yang di penuhi manusia-manusia munafik. Dia pernah tertipu mulut manis salah satu politikus ketika sedang mengepakkan sayapnya dalam dunia politik.


Dengan wajah bersahabat bermulut manis bagai madu asli, politikus itu mengiming-imingkan kehidupan layak jika ia nantinya terpilih menjadi salah satu orang nomor satu di kotanya. Dia berjanji, bahwa jika suatu saat nanti Imah mendapat kesulitan, maka dia dengan sukarela akan membantu, asal wanita paruh baya itu memboyong keluarganya untuk memilih dia.


Nyatanya, setelah terpilih dan menduduki kursi nomor satu di daerahnya, pria politikus itu justru bersikap cuek seakan tak Sudi memandang wajah Imah.


Dia membuangnya, menyudutkan, dan menghina wanita itu bagai sampah masyarakat. Padahal dulu dia sendiri yang datang padanya dan memohon suara banyak untuk terpilih dari jabatan yang ia duduki saat ini.


Dalam keputusasaan, Imah berjalan gontai, menyesali semua keputusannya memilih politikus sombong itu. Padahal saat itu ia sedang membutuhkan uang untuk operasi usus buntu putranya.


Saat itu Imah tak berdaya, dia yang semula hanya seorang buruh cuci di sebuah losmen tempat para ***** berkubang dosa disana, tentu saja tak mampu membayar biaya rumah sakit yang begitu tinggi. Hal mustahil lainnya adalah dia tak mungkin menjajakan tubuhnya di losmen itu untuk para pria hidung belang yang suka hidup foya-foya dan melupakan anak istrinya di rumah.

__ADS_1


Di saat itu, aku tak sengaja hampir menabrak tubuh gontai Imah yang sudah melintasi jalan raya tanpa tahu, bahwa lampu jalanan menandakan warna hijau.


Aku merasa iba padanya, dia menatapku kosong, lalu kemudian memohon seperti wanita tengah berputus asa. Di saat itulah hatiku tergerak untuk membantunya untuk bekerja padaku. Sekali lagi tanpa embel-embel ijazah.


Mungkin saat itu Imah menganggapku pria baik laksana malaikat. Tapi aku tak pernah menganggap diriku seperti itu, sebab hatiku masih berkubang dosa.


Lantas, sudi kah aku melihat mereka kembali ke jalanan lagi tuk meraup rejeki? sementara aku disini masih duduk diam membisu tanpa melakukan apapun. Aku tak tahu lagi harus berkata apa, melihat rentetan peristiwa yang bertubi-tubi datang padaku selama beberapa minggu ini.


Bermula dari hilangnya sang pemasok dana, perginya beberapa kontraktor, dan yang paling mengejutkan adalah menghilangnya seseorang yang memenangkan proyek wisma Anggoro. Mereka semua lenyap seperti di telan bumi. Meninggalkan aku disini yang menyelesaikan segala proyek setengah jalan menggunakan semua uangku.


Sejak awal aku sudah menaruh curiga pada orang-orang munafik itu, tapi karena mengatasnamakan rakyat jelata, hatiku perlahan tergugah untuk menolong sesama. Nyatanya manusia tak ada yang benar-benar menggunakan nuraninya, mereka sekolompok kaum munafikun yang memeras keuntungan dari jerih payah rakyat jelata.


Disini ku ingin berkata, bahwa aku bukanlah malaikat berhati mulia yang tak memiliki dosa sama sekali, tapi setidaknya aku tak menipu siapapun dalam meraup pundi-pundi rupiah maupun dolar.


"Paijo, makan siangnya datang!" Suara Putri yang begitu menggelegar menyadarkanku dari lamunan keterpurukan dan kekejaman para kaum munafikun.


"Letakkan saja di meja. Sebentar lagi aku akan makan." Aku menatap wadah bekal makan siangku tanpa nafsu. Sungguh hatiku saat ini masih berkabut duka seakan menggores nestapa yang kian lara.


Aku masih takut akan bayang-bayang kemelaratan para karyawanku. Aku tidak ingin mereka hidup seperti gembel di jalanan seperti yang sudah-sudah.


kebanyakan karyawan memang adalah dari kalangan menengah kebawah. Rata-rata berpendidikan tamatan SMA. Tapi jangan salah sangka, mereka sangat cerdas dan bertalenta. Hanya saja tuntutan pendidikan yang begitu tinggi, sehingga memaksa mereka untuk memupus angan dan cita-cita.


"Apa yang sedang kau pikirkan, em?"

__ADS_1


"Apa semuanya baik-baik saja?" Pertanyaan Putri menyiratkan sebuah kecemasan. Namun, ku masih berusaha untuk tak melibatkannya dalam masalahku. Bagiku, dia cukup tahu saja seberapa besarnya usaha suaminya dalam memberi nafkah.


"Aku baik-baik saja. Kemarilah!" Ku tuntun Putri untuk duduk di atas pangkuanku dan memeluknya dari belakang. Ku hirup aroma tubuhnya yang selalu sukses membuatku mabuk kepayang.


"Apa kau tidak ada kerjaan sekarang? sampai dokter sibuk sepertimu datang ketempat yang tak seharusnya?" tanyaku sembari mengusap ceruk leher putri dengan hidungku.


"Hei, mengapa kau berkata seperti itu? ini kan perusahaan suamiku? bagaimana bisa kau mengatakan tak seharusnya?" Pertanyaan Putri kali ini membuatku tersentak. Dia memutar tubuhnya menghadap diriku dan menatapku intens. Hampir saja aku membongkar rahasia perusahaanku yang di ambang kebangkrutan.


"Maksduku kau kan seorang dokter sekaligus manager rumah sakit, tentu saja dengan profesi itu sudah cukup menguras waktumu. Tapi kau malah datang kesini dan membawakanku makan siang." imbuhku seakan berusaha untuk menyembunyikan sesuatu yang menyesakkan dada.


"Maafkan aku Putri, aku harus menyembunyikan semua dukaku darimu," batinku merasa bersalah.


"Karena kamu suamiku. Sebisa mungkin aku harus menjalankan kewajiban walau hanya serantang makan siang. Atau--" Putri menggantungkan kalimatnya, beralih menatapku penuh damba dan jenaka. Aku hafal tatapan ini, tatapan yang selalu memabukkan ketika kami hendak bergelut di atas tempat tidur.


Hais... Putri benar-benar menggoda. Walau di tengah nestapa yang mendera. Nyatanya hatiku goyah seakan mengalahkan logika.


"Atau menggunakan tubuhku untuk bersenang-senang. Haha." Tawa Putri pecah. Dia seperti sedang berbahagia. Entah apa yang membuat tawa itu begitu menggema. Namun, satu yang patut ku syukuri, Putri tetap tersenyum bahagia walau hatiku menangis menjerit di tengah kubangan masalah bertubi-tubi.


"Apa kau menginginkanku sekarang?" Ku pasang wajah seakan mendamba, padahal batinku menjerit menangis pilu. Mengingat nasib buruk perusahaanku.


"Tidak sekarang, kita bisa melakukannya di rumah nanti malam. Hari ini aku benar-benar sibuk sekali. Aku hanya punya waktu setengah jam berada di luar kantor. Setelah itu aku harus kembali bekerja. Dan itu aku gunakan untuk menemuimu disini." Putri berdiri hendak bergegas pergi. Dia mencolek daguku sembari mengerlingkan mata.


"Aku pergi dulu. Sampai ketemu nanti malam." Putri akhirnya pergi, meninggalkan aku dengan ciuman singkat di bibir dan pipi.

__ADS_1


"Teruslah seperti itu sayang. Kau harus terus tersenyum bahagia. Aku tidak akan membiarkan senyuman itu pudar dari bibirmu," gumamku pilu.


To be continued.


__ADS_2