KONSULTAN CINTA

KONSULTAN CINTA
Buka Baju.


__ADS_3

Paijo Pov.


Hari ini ku kembali mengawasi Putri seperti seorang suami yang posesif.


Dia yang ku awasi, kini duduk cantik di depan kantin rumah sakit.


Anehnya, dia masih duduk bersama pria yang ingin ku singkirkan, yakni dokter Awan.


Apakah Putri tak mengindahkan ancamanku barusan? ataukah dia sekedar ingin mencari kesenangan?


Ku masih duduk diam di sudut parkiran. Dan mengamati istriku yang tengah asik makan siang.


Ku ingin menghampiri mereka, tapi takut mengundang masalah.


Akhirnya ku putuskan tuk menyusun rencana, agar Putri tak dekat lagi dengan pria arogan seperti Awan.


"Awan, kau akan menyesali perbuatanmu yang sudah berusaha untuk mendekati istriku!"


"Mungkin kau masih belum tahu siapa wanita yang sedang coba kau dekati itu. Tapi sebentar lagi akan ada kejutan untukmu!" gumamku geram.


Lalu ku tinggalkan rumah sakit, dan melintasi macetnya jalanan, hingga menembus jantung kota, dan tibalah aku di sebuah wisma tempatku mengawasi proyek yang saat ini sedang mengalami pasang surut pembangunan.


"Joko, bagaimana perkembangannya hari ini? apakah penyediaan bahan sudah rampung?" tanyaku tegas, sembari membenahi kacamata besarku.


Ya, pasca pernikahan bulan lalu, kini ku kembali pada styleku yang cupu.


Jangan bertanya mengapa, sebab jawabannya ku suka.


Ku lebih nyaman seperti ini, menjadi diri sendiri.


"Sudah Tuan. Tapi banyak karyawan yang tetap mogok kerja hari ini," ucap Joko dengan nada menyesal.


Ku hembuskan nafas berat, dan menggaruk keningku yang tak gatal.


"Jadi mereka masih menuntut dana itu?" gumamku.


"Baiklah kalau begitu. Kau siapkan dana untuk karyawan yang mogok kerja," titahku kemudian.


"Tapi tuan, kita akan mengalami kerugian besar. Perusahaan kita sudah banyak mengeluarkan dana kali ini. Sementara belum ada pengembalian dari pihak sana," terang Joko khawatir.


Ku pahami kekhawatiran Joko. Dia adalah karyawan teladanku yang sangat profesional.


Dia cukup cakap dalam berbicara dan bertindak. Sejauh ini dia tak pernah membuatku kecewa. Ku selalu sependapat dengannya. Tapi kali ini ku harus menentang dirinya. Sebab nasib karyawan yang lain ada di tanganku saat ini.


"Aku tahu kau mencemaskan kondisi perusahaan kita Joko, tapi bagaimana dengan nasib karyawan yang lain? mereka bahkan mogok kerja karena dana yang di bawah kabur oleh seseorang yang tak bertanggung jawab," kenangku atas apa yang menimpa perusahaanku beberapa hari terakhir ini.


"Tapi perusahaan sudah banyak menutupi dana yang keluar Tuan. Tidakkah anda berpikir, bahwa pembangunan ini sebaiknya di hentikan? sebab kita tak mendapatkan keuntungan," jelas Joko yang membuatku berpikir.


Memang benar, jika tetap ku lanjutkan pembangunan wisma ini, maka sama saja ku cari mati. Perusahaanku bisa gulung tikar. Sebab dana yang ku gelontorkan tak sesuai dengan apa yang ku dapat dari pihak sana.


Tapi mau bagaimana lagi? ku tak suka mempermainkan prinsip dunia bisnis. Ku pasti bisa.


Sejauh ini ku mampu menyelesaikan setiap masalah. Walau tak seberat saat ini.


Belum lagi ku harus membujuk istriku Putri.


Aaakk--


Ternyata mengenal wanita membuatku setengah gila.


Coba saja dulu tak ku masuk dalam perangkap Putri, mungkin hidupku aman terkendali.


Ku tak akan menghadapi situasi seperti ini.


"Lakukan saja apa yang aku perintahkan Joko!" titahku tegas.


"Tapi Tuan--"


"Aku tahu apa yang harus ku lakukan Joko. Jadi, lakukan saja apa yang aku perintahkan padamu!" Kali ini nadaku tak terbantahkan.


Ku sudah menemukan jalan. Walau masih belum ada kepastian, tapi pasti ku sanggup lewat berkat Tuhan.


"Baiklah Tuan Paijo."


Akhirnya Joko mau mengikuti ucapanku.

__ADS_1


Ku suruh dia tuk menarik semua dana dalam rekening perusahaan tuk ku gunakan membayar upah karyawan.


27 wisma yang ku bangun demi perkembangan teknologi negeri ini, perlahan meraup keuntungan jika ku mampu memutar balik keadaan.


**


Kini saatnya ku balik pulang, berharap istriku lebih dulu datang.


Namun, alih-alih ada penyambutan, ku justru mendapat kesialan.


"Putri belum pulang?" gumamku setelah menyaksikan kekosongan kamarku.


Ku duduk lemas di atas ranjang seraya melepas dasi kupu-kupu yang bisa ku kenakan.


Kacamata besar ku letakkan di atas nakas, dan berbaring di tempat tidur seraya menatap langit-langit kamar.


"Disini dulu kami melakukannya. Walau tanpa cinta, tapi kami sama-sama suka," kenangku pada malam pertama kali bersatu dalam arti sebenarnya.


Ku hembuskan nafas berat, merasa sunyi bila tak ada Putri.


Dia memang wanita angkuh. Sikapnya yang arogan dan suka menghina, perlahan membuatku lupa siapa dia.


Bagaimana dulu dia menipu keluarga, dan membawaku dalam perangkapnya.


Semua kenangan itu membuatku tersenyum simpul.


Dia yang semula hanya sebagai rekan kerja, kini menjadi partner hidup dunia akhirat.


"Putri, maafkan aku yang egois," gumamku sendu.


"Aku tahu, bahwa tanpa sengaja ku sudah membuat perasaanmu seperti terjun payung. Aku tahu kau akhirnya luluh dengan sikapku."


"Kau yang terkenal angkuh, harus luluh dalam dekapan pria cupu sepertiku."


"Aku tahu ini tak mudah bagimu, tapi ku juga begitu. Sangat sulit melepasmu bersama pria lain. Terutama itu pria angkuh seperti Awan."


"Andai saja kau tahu perangai sebenarnya rekan kerjamu itu, mungkin saat ini kau sudah memindah tugaskan dia."


Ku bermonolog di dalam kamar, sembari mengenang peristiwa tadi siang. Dimana Putri tersenyum riang bersama pria yang bernama Awan.


Lama terdiam, akhirnya ku memasuki alam mimpi.


"Apakah sudah pagi?" gumamku sembari menguatkan lemak-lemak tubuhku.


Jika ku sebut otot, aku bukan pria berotot. Jadi, ku sebut saja lemak. Sebab banyak lemak jahat dalam tubuhku.


Lalu ku menoleh pada sisi kiriku, yang kini terbaring seorang wanita yang semalam ku tunggu.


"Putri? akhirnya kau kembali," gumamku bahagia.


Lalu ku peluk tubuh istriku itu, dan menghirup aroma tubuhnya yang ku rindukan.


Ingin ku kecup dia. Lalu kemudian,


Bug!


"Awww--" pekikku sembari mengusap hidungnya yang terbentur lantai.


"Putri? dimana dia? mengapa tiba-tiba menghilang?" gumamku.


"Apakah aku sedang bermimpi barusan?"


Lalu ku edarkan pandangan, dan ternyata benar. Ku sedang bermimpi bertemu istriku.


Ku hembuskan nafas berat. Merasa rindu akan belaian Putri.


Ku akui, baru sekali menyentuhnya, tapi sukses membuatku ketagihan.


Hanya saja kesibukan menuntut kami tuk tidak mengulang momen malam pertama itu. Tapi kali ini ku benar-benar rindu akan istriku.


Masih terduduk di atas lantai, Putri masuk dengan wajah kusut.


"Apakah dia baru saja pulang dari rumah sakit? pakaiannya masih sama seperti kemarin. Itu artinya dia menginap di rumah sakit. Atau jangan-jangan... ah, tidak mungkin!" batinku curiga.


"Kau baru pulang?" tanyaku yang membuat Putri terkejut.

__ADS_1


"Astagfirullah. Kau membuatku kaget saja!" seru Putri sembari memegang dada.


"Iya. Semalam aku menginap di rumah sakit. Banyak pasien yang melahirkan. Belum lagi aku harus mentraning dokter baru yang magang di rumah sakit itu. Mereka membutuhkanku disana. Akhirnya aku memutuskan untuk menginap," terang Putri.


Jika ku baca dari nada suaranya, sepertinya dia sudah tak marah lagi padaku.


Ku tak peduli apa penjelasannya barusan, yang ku tahu dia tak memiliki selingkuhan.


Ku ber-iyes ria dalam hati. Merasa gembira melihat duhai kekasih.


Hais... rasanya sejuk sekali rasa ini. Aman dan damai.


"Semalam aku menunggumu," ucapku sedikit manja.


Ku sandarkan kepala di pundaknya, tuk mengungkapkan betapa ku rindu dia.


"Apa kau tidak mandi semalam?" Pertanyaan Putri sukses membuat kepalaku terangkat menghadap dirinya.


"Kenapa memangnya?" tanyaku heran.


"Kamu tidak ganti baju! bau tahu!"


Oh my God.


Putri benar, aku lupa mandi semalam. Ini semua karena terlalu lama menunggu Putri. Sampai-sampai ku lupa mandi.


"Ini semua karenamu!" protesku.


"Kenapa bisa karenaku?" Nada Putri tak terima dengan tuduhanku.


"Karena kau membuatku menunggu terlalu lama! kamu juga tidak menelponku, bahwa kau menginap disana!" protesku sekali lagi.


"Hp-ku mati. Aku juga lupa membawa charger. Maaf ya?"


Putri menatapku sesal sembari memegang pipiku.


Apakah itu pertanda dia telah memaafkanku?


Bagaimana bila ku coba singgung masalah kemarin. Akankah dia kembali marah padaku?


"Ehem, Putri. Jadi begini. Sebenarnya aku--," Sungguh ku gugup mengutarakan maksud dan tujuanku yang menginginkan dirinya saat ini.


"Sebenarnya apa?" tanya Putri.


Kali ini dia mulai membuka baju di depanku.


waduh??!


Apakah Putri tak merasa malu padaku? walau aku suaminya, tapi tetap saja ku tak bisa melihat penampakan seperti begituan.


Tubuh bawahku mulai bereaksi dengan cepat.


Dia berdiri cukup lihai dalam balutan ****** *****.


"Mengapa buka baju disini?!" tanyaku sembari membuang wajah ke sembarang arah.


Malu sekali rasanya melihat lekukan tubuh istriku yang bohai.


Apa dia tidak tahu perasaanku saat ini? perbuatannya sungguh mengundang syahwat!


"Karena ini kamarku!" tandas Putri.


Oh iya benar. Ini kamar Putri juga. Lalu mengapa aku harus memprotesnya? dasar payah aku ini.


"Ehem!" ku berdehem terlebih dahulu, sebelum akhirnya ku bergumam, "kau menggodaku."


Putri melepas bajunya, dan menyisakan baju dalam, namun celana masih ia kenakan.


"Apa aku terlihat seperti wanita penggoda?!" Kali ini Putri kembali pada perangainya yang arogan. Tapi tak melunturkan kecantikannya yang menawan.


"Oh ya ampun. Apa dia tak bisa melihat buahku yang mulai menonjol di bawah sini?" gumamku kesal.


Entah bagaimana ceritanya Putri sampai bisa melihat sesuatu yang menonjol di bawah tubuhku. Hingga ia mengucapkan kalimat tak masuk akal.


"Apa kau sedang memikirkan sesuatu yang mesum?"

__ADS_1


"Ha?"


To be continued.


__ADS_2