KONSULTAN CINTA

KONSULTAN CINTA
Keluarga Paijo.


__ADS_3

Seminggu setelah insiden tak di sengaja dan berakhir keseriusan, kini giliran aku yang bertemu keluarga Paijo.


Kalau boleh jujur, saat ini jantungku berdegup tidak karuan, merasa takut akan penolakan mereka.


Sebenarnya tak ada yang perlu di takutkan, sebab aku tak serius dalam pernikahan ini. Apa lagi mencintai Paijo. Tapi tetap saja aku harus menciptakan image baik di depan calon mertua.


Hais...


Mertua? ini sungguh di luar dugaan. Menjadi bagian dari keluarga asing yang sama sekali tak pernah ku bayangkan, sungguh tak ada dalam schedule hidupku.


Jika itu pacar asliku, maka tak masalah. Tapi ini Paijo, pria yang bulan lalu ku temui dalam insiden tak di sengaja, memalukan pula.


Ku hembuskan nafas panjang, seakan mencari kenyamanan.


Kini ku berdiri di depan pintu rumah Paijo. Rumah berlantai satu, namun berukuran besar, sekitar satu hektar.


Konon katanya, Ayah Paijo merupakan tuan tanah disini. Itu artinya Paijo memiliki warisan yang cukup besar. Haha


"Apa kau siap?" Pertanyaan Paijo membuyarkan lamunanku mengenai warisan Ayahnya. Hehehe.


"Sebenarnya aku takut. Cuma mau bagaimana lagi? apa iya, aku harus lari sekarang juga?" balasku lemas.


Sungguh ku pasrahkan diri kali ini, sebab tak ada solusi lain. Selain dari pada itu, situasinya semakin runyam. Mau mundur, sudah terlanjur. Mau maju juga, hati dan diri jadi sasaran. Bagai buah simalakama.


Ku lihat Paijo tersenyum, tapi seperti tengah mengejekku.


"Apa kau baru saja mengejekku?" tanyaku tak suka.


"Apa aku mengatakan sesuatu?" balas Paijo.


"His, menyebalkan!" gerutuku.


"Mau masuk atau kau lebih suka berdiri di depan pintu?"


Kenapa aku merasa Paijo sangat menyebalkan ya? tidak tahu apa kalau aku ini sedang gundah? benar-benar keterlaluan!


"Mau pulang!" jawabku ketus. Sekali lagi Paijo tersenyum mengejek.


"Ya sudah kalau kamu mau pulang. Aku sih tidak masalah. Toh orang tuaku belum tahu kalau anaknya akan segera menikah. Aku tidak rugi apapun disini. Tapi kamu? kamu yang rugi besar. Orang tuamu pasti akan mengamuk di rumah. Terutama ibumu. Jadi, silahkan pilih. Mau aman bersamaku, atau mau mati di tangan ibumu?"


Wah.... Paijo memberiku pilihan menakutkan. Tapi benar juga sih. Dia tidak rugi apapun disini, tapi aku yang menderita kerugian besar.


Bukan materi, tapi psikis. Dimana ibu pasti akan mengamuk sembari menjambak rambutku. Hi... serem...


Membayangkannya saja sudah menakutkan, bagaimana kalau beneran terjadi ya? pasti rasanya seperti ada pahit-pahitnya.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu. Kita masuk ke dalam," pasrahku. Tak ada pilihan lain. Aku harus tetap maju.


"Anak pintar." Paijo mengacak rambutku yang tergerai rapi.


"Jangan sentuh kepalaku! ini jadi berantakan!" kesalku.


"Jadi, baiknya aku sentuh bagian mana?"


Apa sekarang Paijo mau mengajakku bergulat di depan rumahnya? dasar pria aneh!


"Mau masuk atau tidak?!" tanyaku ketus seakan mengalihkan pembicaraan. Malas meladeni pria buruk rupa ini.


"Baiklah, ayo kita masuk."


Dan akhirnya kami pun masuk ke dalam rumah Paijo. Dalam rumah itu terlihat sangat klasik. Dimana furniturenya merupakan barang jadul dan antik.


Ornamen ruang tamu sangat kental sekali dengan adat Jawa. Sementara tiangnya seperti khas dari Bali.


Tanpa sadar ku berdecak kagum pada rumah yang satu ini. Sebab sangat unik sekali.


Lalu kemudian tak sengaja ku tendang sebuah pot bunga hias berukuran kecil di lantai, membuatku terkejut bukan main.


Bagaimana bisa aku teledor seperti ini? sungguh memalukan sekali.


"Apa kau tidak menggunakan matamu dengan baik?"


Rumah ini sangat jauh berbeda dengan rumah ibu. Dimana hanya berlantai satu, tapi berukuran sangat besar.


Sementara rumah ibu berlantai dua dan tak sebesar rumah Paijo. Bahkan masing-masing pintu di rumah ini, sama semua.


"Kau tunggu lah disini, aku akan memanggil Abah dan Ibu dulu," kata Paijo.


Abah dan Ibu? apakah itu artinya aku harus bertemu kedua orang tua calon suamiku?


Hais... calon suami. Ingin muntah rasanya ketika ku sebut calon suami.


Tanpa menjawab ucapan Paijo, aku menganggukkan kepala. Membiarkan dia yang pergi ke dalam sana.


Ku duduk tegang di atas kursi sofa, dan memandang seluruh isi ruang tamu.


"Sungguh menakjubkan," gumamku kagum.


Ya, aku berdecak kagum pada rumah ini. Betapa tidak, kondisinya sangat bersih dan rapi.


Di saat ku masih menikmati indahnya ruang tamu itu, ku lihat seorang pria paruh baya keluar dari arah samping bersama wanita paruh baya.

__ADS_1


Tubuhnya tinggi semampai, berkulit putih, berhidung pesek, dan berkumis tebal. Bahkan ketebalan kumisnya mengalahkan kumis Pak Raden.


Tapi kalau di lihat-lihat, wajah pria paruh baya itu persis seperti Paijo. Ibarat kata, pria itu versi tua Paijo.


Apakah dia Bapaknya Paijo? kira-kira begitu lah. Sebab wajahnya mirip sekali.


Melihat mereka semakin dekat, akhirnya ku berdiri dengan rasa was-was. Dia pun melihatku dengan seksama. Sungguh aku gugup kali ini.


Dulu sewaktu menghadapi profesorku saat ujian skripsi, aku tidak takut sama sekali. Tapi, bertemu pria berkumis tebal ini, sungguh menakutkan sekali.


Tatapannya intens, dia pun memakai kacamata kecil yang di letakkan pada bagian hidung.


Wah, sepertinya bapak dan anak sama saja. Sepertinya keculunan Paijo merupakan turunan dari bapaknya. Cuma bedanya Paijo memakai kacamata besar. Hehe.


"Apa dia wanita yang membuatmu tergila-gila?" ucap pria paruh baya itu pada Paijo.


Tergila-gila? sejak kapan Paijo tergila-gila padaku? sebenarnya apa yang di katakan pria itu pada bapaknya?


Paijo paling bisa membuat karangan bebas. Hmmm...


"Iya, Abah, Ibu. Namanya Putri." Paijo mulai memperkenalkanku. Lalu kemudian ibunya memegang pipiku sembari berkata, "Kamu cantik sekali, nak."


Sungguh hatiku bergetar ketika pujian itu terucap dari bibir Ibu Paijo. Yang tadinya jantung ini dag-dig-dug ser, perlahan hilang seiring dengan usapan hangat ibu Paijo. Rasanya sungguh nyaman sekali. Bahkan hatiku pun terasa sejuk.


Apakah itu artinya keluarga ini menerimaku?


Entah mengapa lega rasanya ketika senyuman ibu Paijo begitu tulus padaku.


"Terimakasih Tante," jawabku akhirnya setelah lama mengagumi sosok calon ibu mertuaku.


Hahahaide! calon ibu mertua nie... ingin rasanya ku muntahkan semua isi perutku.


Dan akhirnya kami pun berkenalan sembari bercengkrama bersama.


Meminum secangkir teh dan pie buah buatan ibu Paijo.


Aku sungguh menikmati kebersamaan kami, rasanya kental sekali. Meski baru pertama kali bersua, tetapi membuat tentram hati.


Dan semuanya terasa lebih ringan. Tak setakut yang ku bayangkan.


Dari segi wajah memang Abah Paijo sangat menakutkan. Tapi setelah berbagi cerita, segalanya lebih mudah.


To be continued.


Assalamualaikum. Maaf telat update terus. Sebab masih ada tahlilan tujuh malam.

__ADS_1


Happy reading.


__ADS_2