
Author Pov.
"Aaakk-- sakit," pekik Putri, membuat Paijo panik.
"Tahan dong!" seru Paijo sembari berusaha mencabut benda miliknya.
"Pelan-pelan cabutnya," teriak Putri.
"Ini juga sudah pelan-pelan!" balas Paijo tak tahan.
Teriakan Putri menggema hingga keluar kamar. Bahkan sampai ke kuping tetangga. Hingga Abah yang baru saja lewat pun merasa heran sekaligus bangga. Dia pun menguping dari balik pintu kamar putranya.
Ya, Abah merasa bangga, sebab ia pikir Paijo telah melaksanakan teori tiga D ala dirinya. Namun, Abah merasa kasihan pada Putri yang semakin mengencangkan suara seperti orang kesakitan.
Merasa kasihan, akhirnya Abah mengambil tindakan.
"Woi Paijo! hati-hati! kasihan tuh anak orang," teriak Abah dari balik pintu.
Paijo yang mendengar suara Abah, langsung menghentikan gerakannya.
"Iya, bah. Ini juga sudah hati-hati," jawab Paijo dari dalam kamar.
Merasa situasinya aman dan terkendali, Abah pun ber-iyes ria.
"Yes! rupanya Paijo benar-benar putra Abah!" kata Abah bangga.
Lalu kemudian pria paruh baya itu pun pergi dengan membawa sejuta kebahagiaan dihatinya.
Sementara di dalam kamar, Putri masih tengah menahan sakit. Sebab luka sobekan pada bagian bawah tubuhnya.
"Aku bilang pelan-pelan cabutnya. Sakit tahu! hu, hu, hu," pekik Putri. Kali ini di ikuti suara tangisan.
"Iya, ini juga sudah pelan-pelan," balas Paijo masih berusaha untuk mencabut sebuah benda tajam miliknya.
"Nah, tuh kan keluar darah di seprei," gerutu Putri.
"Nanti kamu ya yang membersihkan? aku masih kesakitan," lanjut Putri.
Lalu kemudian Paijo menunjukkan paku kecil di depan Putri.
"Nah, sekarang sudah tercabut."
"Kau jangan menangis lagi ya?" kata Paijo selembut mungkin sembari meniup pelan kaki Putri yang terluka akibat tertusuk paku.
"Bagaimana bisa benda ini ada di kamar kita? apa kau sengaja memasang jebakan untuk membuatku terluka?" tandas Putri masih dengan sisa-sisa air mata di pipi. Ia pun menaikkan ingusnya yang hampir turun.
"Siapa yang sengaja ingin membuatmu terluka?"
"Kau kan tahu sendiri pekerjaanku apa!" seru Paijo.
"Tapi bukan berarti harus ada paku juga di dalam kamar ini! apa kau tidak bisa menyimpan benda tajam ini di tempatnya?!" Putri masih marah. Di tambah lagi peristiwa semalam masih membekas di benaknya, membuat kemarahan wanita itu bertambah parah.
"Maafkan aku. Tapi aku tidak berniat untuk membuatmu terluka," ujar Paijo sungguh-sungguh. Namun, yang terluka ini masih menyimpan duka. Dia terus menggerutu, hingga memukul-mukul dada suaminya.
"Kau jahat! kau keterlaluan! aku membencimu! hu, hu, hu." Putri menangis sejadi-jadinya, membuat Paijo semakin heran.
Sebenarnya apa yang membuat istrinya itu menangis sesenggukan? padahal paku kecil tadi sudah tercabut. Tapi mengapa rasanya seperti benda itu masih tertancap disana?
__ADS_1
Ataukah ada hal lain yang membuat wanita itu meronta-ronta? tapi apa? pikir Paijo.
Lalu kemudian pria itu menangkup kedua pipi Putri dan menghapus air matanya.
"Hei, mengapa kau masih menangis, em?" tanya Paijo dengan suara yang mulai melunak.
"Bukankah pakunya sudah ku cabut?" lanjut Paijo masih dengan suara melunak.
Ia pun menyeka air mata itu dengan penuh kelemahan, hingga sang empunya pipi merasa tenang.
"Apa yang membuatmu marah padaku, em?" tanya Paijo sekali lagi.
Kali ini ia menatap dalam-dalam mata sayu nan berair itu. Ia seperti tengah menangkap sebuah kekecewaan disana. Tapi apa? entahlah.
Lalu kemudian Putri menundukkan kepalanya, merasa sadar bahwa ia sedang di tatap. Namun, Paijo menahan dagu wanita itu, hingga keduanya kembali bertatap-tatapan.
"Katakan padaku apa isi hatimu sekarang."
"Apa kau kecewa padaku?" Paijo masih terus mengajukan pertanyaan tanpa merasa jera. Walau sang wanita tak kunjung memberinya jawaban.
Putri pun menganggukkan kepalanya, mengiyakan pertanyaan Paijo.
"Apa itu, em?"
Putri menjadi dilema. Antara ingin menyampaikan uneg-unegnya semalam, atau justru memendam rasa. Sebab, jika ia menceritakan betapa kecewanya ia semalam, maka bisa jadi Paijo akan besar kepala, sebab Putri sudah menantinya.
Sementara itu, jika ia masih tetap diam, maka Paijo tidak akan mengetahui apa kesalahannya, dan bisa jadi pria itu akan mengulangi kesalahan yang sama.
Tapi bukankah mereka tak saling cinta? lalu mengapa Putri harus marah? dan kenapa juga Paijo harus peduli terhadap perasaan istrinya? bukankah dia juga jauh lebih membenci istrinya itu? entahlah.
"Lupakan saja!" ucap Putri akhirnya setelah beberapa saat bernegosiasi dengan hatinya.
"Aku mau mandi!" lanjut Putri sembari beranjak berdiri. Namun, karena masih merasa kesakitan ia pun terjatuh dan menindih tubuh Paijo.
Sekali lagi keduanya saling menatap terpaku. Lalu kemudian,
"Ah, maafkan aku," ucap Putri canggung sembari bergerak berdiri. Namun, Paijo menahannya. Pria itu mengunci tubuh Putri hingga membuatnya tak berdaya.
Pria itu menatap dalam-dalam manik mata yang tak lagi sayu tadi.
Paijo mulai memahami satu hal sekarang, yakni peristiwa semalam.
"Apa kau menungguku semalam?" tanya Paijo dengan suara sedikit serak.
Deg,
Bagaimana bisa Paijo tahu kalau semalam Putri menunggunya? apakah pria itu memiliki ilmu kebatinan? pikir Putri.
"Aku tidak menunggumu!" seru Putri.
"Benarkah?" tanya Paijo dengan tatapan yang sulit untuk di artikan.
Merasa salah tingkah, akhirnya Putri sedikit memberontak tuk di lepas.
"Lepaskan aku!" pinta Putri.
"Kalau aku tidak mau, bagaimana?" Pertanyaan Paijo seakan memompa detak jantung Putri menjadi semakin kencang. Bagai sedang melakukan ujian akhir Nasional.
__ADS_1
Lalu Paijo memindahkannya beberapa helai rambut Putri ke bagian belakang telinga wanita itu.
"Apa kau marah karena aku pulang terlambat semalam, em?"
Duar!
Putri ketahuan.
"Aku tahu kau sedang menungguku. Tapi aku tidak berniat untuk mengabaikanmu samalam. Hanya saja aku masih memiliki banyak kerjaan di kantor. Aku pikir kau tidak akan marah padaku. Tolong maafkan aku, em?"
Putri Pov.
Permintaan maaf Paijo meluluhkan hatiku yang beku.
Semalaman ku tak tenang, setelah yang tadinya ku pikir mendapat penolakan. Tapi, ternyata dia memiliki aktivitas yang tak dapat di tinggalkan.
"Jadi, apa kau bisa turun sekarang?" kau sungguh berat."
Oh ya ampun Paijo... tidakkah kau seharusnya menikmati tubuhku di atas perutmu? kenapa mala menyuruhku turun?
Hais...
Dasar pria tak peka!
"Maafkan aku," ucapku canggung sembari berpindah tempat dari atas tubuh Paijo.
Ku benar-benar salah tingkah sekarang. Untuk pertama kalinya baru ku merasakan perasaan aneh seperti ini.
Debaran jantung yang semakin kuat, dan hatiku yang seperti pelan-pelan mulai terbuka.
Apakah ini namanya cinta? tapi mustahil rasanya. Sebab kami tak mungkin bersatu seperti kebanyakan orang.
"Apa kau tidak ingin pergi ke rumah sakit?" tanya Paijo sekali lagi.
Ah, iya rumah sakit. Bagaimana bisa aku sampai lupa tempat kerjaku itu?
Ini pasti gara-gara sentuhan tubuh Paijo. Sehingga otakku seperti lumpuh.
"Aku mandi dulu," ucapku akhirnya seraya beranjak berdiri.
"Biar aku antar."
Tiga kata Paijo yang satu ini semakin membuatku tak berdaya. Ada rasa ingin lebih dekat lagi tuk bersamanya.
Lalu ku tatap mata suamiku itu, berusaha mencari kesungguhan disana. Sebab tawarannya yang pertama sekedar gurauan belaka.
"Aku sungguh-sungguh." Kali ini kesungguhan itu benar adanya. Dia tak bercanda.
Tanpa sadar ku tersenyum tipis, merasa bahagia atas tawaran suamiku ini.
Hais... Paijo... Aku padamu deh.
Rupanya kau pria romantis. Walau tak kece badai, tapi aku cukup puas terhadap sikap dan perilakumu.
To be continued.
Hayo... siapa yang berpikir jorok dalam part kali ini? hahaha
__ADS_1
Like, komen, vote, dan hadiahnya ya readers.
Happy reading.