Kultivator Jenius Penentang Langit

Kultivator Jenius Penentang Langit
Bab 44: Menang dengan Sangat Mudah


__ADS_3

"Bagaimana dia bisa melakukannya?!" batin Ji Hongki dengan alisnya yang hampir saling bertaut.


Zhishu melangkah mendekat ke arah Ji Hongki yang masih dalam posisi tersungkur, dia berdiri dengan tegak dihadapan lelaki dengan bibir tebal itu.


"Kau mengatakan tidak ada yang bisa kau dapat dariku selain kemenangan?" tanya Zhishu dengan tatapan tajam bak laser panas.


Ji Hongki membalas tatapan Zhishu dengan angkuh, "heh, hanya karena kau memukulku satu kali bukan berarti kau aka--"


Bruaghh!!


Zhishu melayangkan kepalan tangan yang kaya dengan energi spiritual miliknya tepat di pipi kiri Ji Hongki, "arghhh!" teriak Ji Hongki menggelegar, dengan tangan gemetar, ia menyentuh pipi kirinya yang terasa berdenyut nyeri.


"Bagaimana dengan dua pukulan?"


"Kau--"


Bruak!!


Kali ini Zhishu memukul pipi kanan Ji Hongki tak kalah keras dari sebelumnya, "sepertinya dua pukulan masih tidak cukup bagimu."


"Siala*n kau! Hanya ini yang kau punya?! Kalau begitu aku akan mengeluarkan jurus--"


"Arghhh!" teriak Ji Hongki lagi kala pukulan Zhishu kembali mendarat di wajahnya.


"Bahkan dengan pukulan saja kau tidak bisa melawanku, bagaimana jika aku mengeluarkan jurus milikku? Bukankah itu akan membuatmu mati?" ujar Zhishu dengan senyum meremehkan.


Ji Hongki menatap Zhishu penuh amarah, "kau akan mendapat balasan atas semua yang kau--"


Bruughh!!


"Kau..!!!" Geram Ji Hongki, urat lehernya menggurat seakan ingin keluar dari tempatnya.


Brugh!!


Zhishu menatap malas ke arah Ji Hongki yang terus menerus mengatakan hal tidak penting.


"Sampai kapan kau akan terus mengatakan omong kosong?" tanya Zhishu datar, ia kemudian mengarahkan kembali pukulannya ke wajah Ji Hongki.


Kali ini Zhishu tidak hanya memukul sekali, tapi berkali-kali.Ia terus menerus melayangkan pukulannya dengan wajah santai tanpa ada sedikitpun ekspresi kelelahan yang terpancar di wajahnya.

__ADS_1


"Argh!"


"Ughh! Arghhh!"


"Hentikan!! Akhhh!"


Teriakan kesakitan dari Ji Hongki menggema di setiap sudut tempat pertandingan itu.Para penonton dan anggota keluarga besar di ibu kota menyaksikan kejadian itu dengan tubuh mematung.Tak ada yang bisa dilihat dari wajah mereka selain ekspresi terkejut dan heran, beberapa dari mereka juga terlihat simpati pada Ji Hongki.


"Ji Hongki dipukul tanpa ampun!"


"Aku yakin dia bahkan tidak sempat bernapas!"


"Hahaha! Kau benar, dia terus dipukul seperti itu tanpa bisa berbuat apapun! Apa perempuan bernama Zhishu itu benar-benar sangat kuat?"


"Ji Hongki hanya terlihat seperti anak kecil di hadapan gadis itu, dia seperti kehilangan reputasinya sebagai seorang jenius di Keluarga Ji."


"Hei, hei.. tidakkah kau lihat wajah Ji Hongki itu? Dia sangat mirip dengan seorang anak yang habis dimarahi oleh ibunya! Hahaha! Matanya sudah berkaca-kaca, bukankah dia akan menangis sebentar lagi?"


Begitulah kira-kira ucapan-ucapan dari penonton yang sedang ramai membicarakan suasana pertandingan dihadapan mereka.Orang-orang itu sungguh terlihat bersemangat dalam membahas hal itu.


"Wu Huan, mengapa kau terlihat cemberut?" tanya Wu Jungwo dengan raut wajah heran.


"Bukankah ini yang kau harapkan? Zhishu terlihat menguasai arena, dia pasti akan menang.Mengapa kau terlihat kecewa?"


"Ayah, kau tidak mengerti.Ji Hongki bukanlah lawan bagi anak yang sungguh sangat berbakat seperti Zhishu. Lihatlah ke sana, anak itu seperti bermain-main disana! Aku kasihan dengan Ji Hongki, dia pasti langsung kehilangan harga dirinya begitu saja."


"Jika lawannya terlalu mudah begitu, bagaimana aku bisa mengetahui kemampuan bertarung Zhishu saat ini? Anak monster itu mungkin diam-diam sudah memiliki kekuatan yang setara denganku," sambung Wu Huan dengan wajah malas.


Wu Jungwo menarik napas kasar kemudian menghembuskannya dengan perlahan, senyum tipis mengembang diwajahnya, "kalau begitu kau sebaiknya belajar saja dengannya.Perkembangannya sungguh diluar akal sehat, kau mungkin bisa meminta beberapa petunjuk darinya agar kau bisa melakukan penerobosan."


"Mengapa tidak ayah saja yang memberitahuku? Apa pendekar suci itu sangat pelit ilmu?"


"Kalau ayah tau caranya, sudah sedari lama ayah memberitahunya," balas Wu Jungwo singkat, jawaban dari Ayahnya itu berhasil membuat Wu Huan termenung sembari mengarahkan pandangannya pada Zhishu.


"Haruskah?" batin Wu Huan penuh tanda tanya.


Di arena pertarungan, terlihat Ji Hongki yang sudah mencapai batasannya.Wajahnya sudah dipenuhi lebam, belum lagi dada kirinya yang terus menerus terasa sakit seperti tertusuk-tusuk jarum panjang berulang-ulang kali.


Bruk!

__ADS_1


Ji Hongki kehabisan energinya, ia merasa lemas hingga untuk duduk pun dia tidak sanggup.Jangankan untuk duduk, mengangkat kepalanya saja energi dalam tubuhnya sudah tidak cukup.


"PERTARUNGAN KETIGA DIMENANGKAN OLEH ZHISHU, PERWAKILAN DARI KELUARGA WU!"


Zhishu menyunggingkan senyum puas, ia melompat turun dari arena pertarungan dengan percaya diri.Ia juga melirik ke arah balkon dimana keluarganya berada, ia menatap ayahnya dengan senyum menyeringai.


Ekspresi yang ditunjukkan oleh Zhishu seakan sedang berkata, "bagaimana? Kau terkejut?"


Napas Ziong Meng seketika tertahan kala ia menerima tatapan dari Zhishu yang jelas ditujukan padanya itu. Han Wei tak kalah terkejut dengan sikap yang diambil Zhishu ditengah orang ramai ini, wanita dengan rambut cokelat pirang itu spontan menoleh ke arah Ziong Meng dan hanya bisa melihat suaminya itu sedang mematung dengan mata melebar.


Senyuman Zhishu semakin tampak melebar setelah melihat ekspresi yang ditampilkan oleh Ayahnya yang kejam itu.Zhishu melanjutkan kembali perjalanannya menuju ke balkon keluarga Wu.


Ketika ia sampai di tempat yang ia tuju, ia sama sekali tak melihat ekspresi terkejut ataupun kagum dari tiga orang yang berasal dari keluarga Wu itu.


"Mereka terlihat biasa saja? Apa kemampuanku itu tidak cukup membuat merek terkejut? Sudah ku duga, aku masih hanya seorang pendekar yang sangat lemah, aku harus bertambah kuat!"


"Mengapa kau diam disitu?" tanya Wu Huan menyadarkan Zhishu dari lamunannya.


Zhishu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, tak lupa ia juga menunjukkan senyum kuda, "tidak ada apa-apa, hanya memikirkan sesuatu yang aneh."


"Sungguh aneh hingga rasanya aku ingin memutar balik waktu dan melihat apa yang telah kalian saksikan sebelumnya hingga kalian sama sekali tidak terkesan dengan kemampuan gadis muda sepertiku," batin Zhishu sembari berjalan menuju tempat duduk yang ia tempati sebelumnya.


"Lumayan."


Satu kata yang keluar dari mulut tetua yang sok dingin itu membuat kuping Zhishu hampir melayang, "haha, pujian pertama setelah aku menang telak melawan Ji Hongki! Lumayan katanya? Aku tau dia hanya gengsi untuk mengakui bahwa kemampuanku luar biasa.."


Zhishu, Wu Huan dan Wu Jungwo memusatkan perhatian mereka sepenuhnya pada Wu Ge yang sepertinya akan mengeluarkan ucapan lagi.


"Kau berhasil membuat keluarga Ji yang sangat membanggakan Ji Hongki itu bungkam."


"Lihatlah kepala keluarga Ji itu, ia sedang menatapmu dengan sinis.Mereka sepertinya marah dengan hasil pertandingan ini, kau akan melakukan apa di situasi seperti ini? Perlu diingat bahwa keluarga Ji adalah salah satu keluarga besar di ibu kota," sambung tetua Wu Ge, ia menanti jawaban dari Zhishu dengan disertai tatapan penasaran.


Zhishu balik memandang kepala keluarga Ji dengan tatapan yang tak kalah sinis, "Memangnya siapa keluarga Ji itu? Huh, aku bahkan tidak pernah mendengar mereka sebelumnya, mereka hanya merasa bahwa mereka sangat kuat padahal orang sepertiku saja tidak akan tau mereka jika aku tidak mengikuti kompetisi ini."


"Hanya keluarga besar di ibu kota, berbeda dengan keluarga ku yang memang merupakan salah satu keluarga besar di seluruh kekaisaran.Aku tidak takut dengan keluarga Ji itu.. sama sekali*!"


"Aku tidak takut, aku bertanding secara adil.Kalau ada yang harus disalahkan, maka salahkan lah Ji Hongki yang terlalu lemah.Menahan pukulanku saja ia tidak sanggup, apalagi membalasnya?"


"Aku menyia-nyiakan waktuku, jika ia tidak ingin kembali dengan wajah lebam seperti itu, maka menyerahlah dari awal, bukannya malah meremehkanku," ujar Zhishu santai seperti orang yang sama sekali tidak ada beban.

__ADS_1


Mendengar jawaban dari Zhishu, pupil mata Wu Ge seketika menyusut, ia membuka sedikit mulutnya secara tidak sadar, "apa keluarga Ji yang sangat kuat itu benar-benar tidak mampu membuat seorang gadis muda sepertimi takut, Zhishu? Sebenarnya, dimana letak kelemahanmu?"


__ADS_2