
"Hmm jadi begitu.Tapi bu, aku sudah bisa merasakan kebahagiaan yang aku harapkan selama ini, yaitu bisa kembali diperhatikan oleh ibu! Jadi.. apa itu artinya kutukannya sudah patah?"
"Belum, ada beberapa kejanggalan yang ibu pikirkan.Ibu bingung mengapa ibu bisa lolos dari mantra kutukan itu, mantra kutukan dari musuh leluhur keluarga Han itu sangat kuat.Jadi tidak seharusnya Ibu bisa keluar dari rasa kebencian, padamu."
Zhishu memegang dagunya lembut, "apa mungkin mantra kutukan itu sudah melemah? Mungkin karena mantra itu sudah dibuat ratusan tahun lalu..?"
"Itu tidak mungkin Zhishu, mantra kutukan itu bersifat abadi, tidak bisa dihindari dan tidak akan pernah melemah.Tapi sangat mungkin untuk dipatahkan."
"Mantra kutukan itu juga belum bisa dikatakan benar-benar patah karena Ayahmu masih berada di dalamnya," ucap Han Wei dengan mata sendu yang meratap lesu, ia kemudian menghembuskan napas panjang, "entah kejadian ini memang termasuk dalam kutukan itu, atau memang ada konsekuensi besar yang harus ditanggung atas ini."
Zhishu memeluk ibunya erat, "kutukan sekuat apapun yang ditujukan padaku, aku pasti akan bisa melawannya."
"Perkataan yang bagus, ibu ingin kau selalu mengingat apa yang kau ucapkan itu," ucap Han Wei sembari membalas pelukan Zhishu.
Setelah memeluk ibunya cukup lama, Zhishu baru menyadari bahwa di atas sana, tepatnya di kursi penonton yang terletak paling atas, terdapat seseorang yang perawakannya tak asing lagi bagi Zhishu.
Di pikiran Zhishu langsung muncul bayangan seorang pembunuh bayaran yang ia lihat semalam.Meski kemarin Zhishu melihat orang itu masih memakai pakaian pembunuh bayaran yang menutup hampir semua bagian tubuhnya.Tapi Zhishu yakin, dia adalah orang yang sama.
Mata milik pria itu sangat mudah dikenali, dia bahkan tidak mengubah bentuknya sama sekali, manik mata berwarna cokelat dengan banyak bintik hitam dibawahnya, serta sebuah tahi lalat yang cukup besar di bagian hidung di dekat mata.
Zhishu benar-benar mengingat semua yang ia lihat kemarin.
Sesudah melepas pelukan dari ibunya, Zhishu mencium pipi ibunya lembut karena sang ibu akan segera kembali ke kediaman Ziong.Han Wei pun tak lupa membalas ciuman anaknya itu sebelum beranjak dari tempat itu.
Selepas ibunya pergi, Zhishu juga meninggalkan balkon yang sebelumnya hanya diisi oleh ibu dan dua pengawalnya.Zhishu berniat untuk mendatangi panitia pertandingan, baru kemudian kembali lagi ke rombongan keluarga Wu.
__ADS_1
Saat sudah sampai di depan meja panitia, Zhishu langsung mendatangi salah satu dari mereka dan menanyakan apa yang telah menjadi tujuannya dengan sopan, "permisi tuan, saya ingin bertemu dengan ketua panitia."
Lelaki berusia sekitar 20 tahunan itu menunjukkan raut wajah ramah yang membuat Zhishu sedikit terpesona. Zhishu tampak salah tingkat saat itu, seharusnya ia tidak memalingkan wajahnya dari pria itu.
"Saya adalah ketua panitia acara ini, nona Zhishu.Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya pria itu lembut.
"Padahal dia masih muda tapi sudah menjadi ketua panitia? Padahal banyak orang yang lebih tua darinya disini, tapi terserahlah, mungkin dia memiliki kekuatan yang layak atau mungkin dia memiliki seseorang dibelakangnya," batin Zhishu.
"Begini tuan..."
"Anda bisa memanggil saya Xin Diwei, nona Zhishu."
"Baiklah Tuan Xin Diwei, saya ingin memberi tahu Anda sesuatu terkait keamanan kompetisi kali ini."
Pria itu mulai menampilkan raut wajah serius yang terlihat menawan, mata biru tua miliknya itu tampak cocok dengan pembawaan karakternya yang hangat.
"Baiklah, saya harap Anda mempercayai saya.Ada seseorang lelaki yang sedang duduk di bangku paling atas.."
Mendengar ucapan Zhishu, Xin Diwei langsung mengedarkan pandangannya ke tempat yang telah diberitahukan oleh Zhishu.Manik matanya menjelajah ke berbagai arah.
"Dia memakai hanfu sederhana berwarna kuning, dia memiliki tahi lalat di bagian mata dekat hidung dan di bagian bawah matanya terdapat banyak bintik hitam."
Pandangan pria itu terkunci di satu titik, "baik, saya melihat orang yang anda maksud.Apa yang ingin dilakukan oleh pria itu?"
"Kemungkinan besar dia akan membuat ledakan di area kompetisi ini.Saya tidak tahu pasti senjata apa yang akan dia gunakan, tapi saya berpikir itu akan membuat sebuah ledakan yang akan membunuh banyak orang."
__ADS_1
"Jika yang Anda katakan itu benar, maka keselamatan semua orang sedang terancam saat ini.Tapi dari mana Anda mengetahuinya? Adakah bukti bahwa orang itu benar-benar akan melakukan hal yang Anda katakan? Bagaimanapun, keselamatan orang banyak itu bukan hal yang bisa dipermainkan," jelas Xin Diwei detail, ia menunjukkan tatapan penuh curiga pada Zhishu.
Zhishu sadar akan apa yang sedang dipikirkan oleh pemuda dihadapannya itu, Zhishu menatap malas, suasana hatinya tiba-tiba memburuk, "aku tidak peduli kau percaya atau tidak.Yang pasti aku sudah memberitahu informasi ini padamu."
Setelah mengatakan itu, Zhishu langsung pergi menjauh dari meja panitia dengan membawa rasa kesal dalam dirinya.
"Mengapa kau terlihat cemberut?" tanya Wu Huan saat melihat Zhishu yang baru saja sampai.
"Jangan berbicara padaku dulu selama beberapa waktu atau aku akan mengeluarkan ucapan yang membuatmu sakit hati."
Wu Huan diam mendengar jawaban dari Zhishu, ia kemudian beralih menatap ke bagian samping arena tempat dimana pemandu acara berada.
"PERTANDINGAN BABAK KEDUA TELAH BERAKHIR! PERTANDINGAN TERAKHIR DARI KOMPETISI PERSAHABATAN ANTARKELUARGA BESAR DI IBU KOTA AKAN DILAKSANAKAN BESOK!!!" teriak pemandu acara yang menuai sorotan dari para penonton, mereka bersorak sorai dengan suara keras hingga menimbulkan suasana yang ricuh.
Di tengah suasana gaduh itu, lelaki yang sebelumnya telah Zhishu tetapkan sebagai orang yang akan membuat ledakan itu baru saja mengeluarkan beberapa benda berbentuk seperti pil yang memiliki warna hitam, yang tak lain adalah batu baozha.
Batu baozha telah dikenal sejak lama sebagai alat ledak yang efektif di kalangan Kultivator.Batu ini bekerja bila sudah dialirkan energi spiritual yang cukup besar.Meski bentuknya kecil, tapi ledakan yang dihasilkan tidak main-main, bahkan dengan satu buah batu baozha saja sudah bisa menghasilkan ledakan sejauh 20-30 meter.
Zhishu mengamati setiap pergerakan dari lelaki itu dengan instens, tak ada hal yang kabur dari penglihatan Zhishu.Bahkan di keadaan yang sedang tidak kondusif saat ini, Zhishu masih bisa menyadari benda kecil seperti batu baozha yang baru saja dikeluarkan oleh pria itu dari kantungnya.
Baru saja Zhishu akan beranjak dari tempat duduknya untuk menghentikan tindakan lelaki itu.Zhishu melihat sudah ada seseorang yang mencengkram tangan pembunuh bayaran itu.
Setelah pergerakan dari pembunuh bayaran yang sedang menyamar itu dikunci oleh seorang lelaki dewasa misterius, kini Zhishu mengurungkan niatnya untuk pergi ke sana.
Zhishu memperhatikan kejadian yang ada dihadapannya dengan antusias.Zhishu menatap puas wajah pembunuh bayaran itu yang tampak ketakutan karena rencananya sudah ketahuan.Tak lama setelah itu, pria yang ada disampingnya membawa pembunuh bayaran itu pergi, sepertinya menuju ke tempat para panitia berada.
__ADS_1
"Mungkin laki-laki itu adalah orang yang di kirim oleh Xin Diwei.Aku akui dia orang yang cukup waspada meski awalnya membuatku naik darah."
"Hmm... Kalau dipikir-pikir memang sudah seharusnya seorang ketua panitia memiliki sikap teliti dan tidak mudah percaya pada orang asing.Apalagi aku tidak memiliki bukti tadi, jadi wajar dia tidak mempercayaiku. Tapi untungnya dia tetap tidak meremehkan ucapanku. Dengan begitu, dia berhasil menyelamatkan nyawa orang-orang yang ada disini," batin Zhishu, yang secara tak sadar telah membaca karakter Xin Diwei.