
"Xin Diwei, dari mana kau mengetahui bahwa ada orang yang berniat untuk melakukan ledakan di sini?" tanya seorang lelaki tua yang juga merupakan bagian dari panitia dengan alis berkerut.
"Salah satu dari peserta kompetisi ini yang memberi tahu saya Senior Lu," balas Xin Diwei, raut wajahnya sudah dapat mendeskripsikan pikirannya yang sedang dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan terkait kejadian ini, terutama mengenai Zhishu.
"Apa gadis dengan rambut putih tadi yang memberitahumu?" tanya pria bernama Lu Xi-Wang itu sembari menatap Xin Diwei yang masih termenung.
"Jika Senior lebih memperhatikannya, gadis itu memiliki rambut perak, bukan putih.Gadis itu adalah putri pertama dari keluarga Ziong."
"Apa kau serius?! Mengapa selama ini aku tidak mengetahui itu? Keluarga Ziong adalah keluarga besar ternama, bagaimana mungkin gadis itu bisa ada disini tanpa penjagaan?"
"Entahlah Senior Lu, aku juga tidak mengerti.Ya, kita tidak perlu memusingkan hal itu.Lebih baik kita mengurus orang ini!" tegas Xin Diwei sembari menatap lelaki yang mencoba membuat ledakan di tempat itu dengan tajam.
"Hohoho, kau benar juga, harus kita apa-kan dia?" ucap Lu Xi-Wang dengan tawa menggema.
"Sementara Lu Xi-Wang sibuk mengurus laki-laki ini, aku akan pergi mencari Ziong Zhishu, aku penasaran dari mana dia mengetahui tentang kejadian ini," batin Xin Diwei.
"Senior Lu, bisakah anda mengurus hal ini seorang diri? Saya ada urusan sebentar, saya akan kembali lagi ke sini setelah urusannya selesai," ujar Xin Diwei sopan.
"Kau seharusnya tidak perlu izin kepadaku Xin Diwei.Kau adalah ketua panitia disini.Pergilah, selesaikan urusanmu, akan menyelesaikan masalah ini."
"Terima kasih Senior Lu," balas Xin Diwei dengan senyum lebar yang memberikan kesan ramah.
Setelah berpamitan, Xin Diwei kemudian mengedarkan pandangannya ke penjuru tempat itu dan tak butuh lama, ia bisa menemukan sosok gadis muda dengan rambut perak yang sedang berjalan menuju tangga.
***
Di sisi lain, Zhishu yang merasa sedang diperhatikan pun langsung menoleh ke arah meja panitia.Tapi ia tidak menemukan apapun disana, "rasa nya tadi ada seseorang yang memperhatikanku dari meja panitia.Hmmm.. ah sudahlah tidak penting juga."
Sesaat setelah Zhishu kembali mengarahkan pandangannya ke depan, tiba-tiba saja muncul seseorang dihadapannya, entah dari mana.
"Astaga!" spontan Zhishu kala melihat keberadaan seorang pemuda yang datang tiba-tiba dengan kecepatan angin.
Pemuda itu kemudian memegang paksa tangan Zhishu, dan berlari menuju ke bagian belakang lapangan kompetisi.Zhishu yang mendapat perlakuan seperti itu, sudah beberapa kali mencoba melepaskan tangannya dari cengkraman pria itu.
__ADS_1
Tapi sepertinya tenaganya yang sudah hampir terkuras habis itu tak berarti apa-apa bagi pemuda dihadapannya.Pada akhirnya, Zhishu hanya bisa menyesuaikan kecepatan berlarinya dengan pria itu agar tidak terjatuh.
"Sia*lan! Apa yang dilakukan pria ini?! Dasar Xin Diwei Baji*ngan! Dia membuat kekuatanku terasa lemah hanya karena cengkraman tangannya ini! Dia mau membawaku ke mana?!" batin Zhishu kesal.
Tak lama setelah itu, akhirnya Xin Diwei menghentikan langkahnya, ia juga melepaskan tangan Zhishu dari genggamannya.
"Ugh..." gumam Zhishu kala melihat pergelangan tangannya yang terlihat merah.
"Ada hubungan apa kau dengan sekte itu?"
"Sekte apa?" ketus Zhishu.
Xin Diwei tak menjawab pertanyaan Zhishu, ia hanya menunjukkan tatapan datarnya yang berubah menjadi tajam hanya dalam hitungan detik.
"Ke mana Xin Diwei ramah yang ku temui tadi? Apa dia benar-benar Xin Diwei? Mengapa sikapnya bisa sangat berbeda seperti ini?"
"Jangan hanya karena kau adalah anggota keluarga Ziong, kau bisa lepas dari hal ini."
"Eh.. tunggu! Aku mengerti maksudmu.." sambung Zhishu dengan antusias.
"Kau berpikir aku bagian dari sekte tengkorak karena aku mengetahui rencana lelaki tadi untuk meledakkan tempat ini? Jadi kau sudah tahu bahwa dia adalah pembunuh bayaran, ya?" tutur Zhishu percaya diri, karena ia sangat yakin tebakannya kali ini seratus persen benar.
Zhishu tersenyum kecil menatap Xin Diwei, ia tampak sedang berpikir keras hingga dahinya terlihat sedikit berkerut, "Aneh, siapa sebenarnya Xin Diwei ini.Dia tahu mengenai sekte tengkorak, itu berarti dia juga tahu tentang asal para perampok yang tersebar di ibu kota ini.Aku yakin dia punya cukup kekuasaan untuk berbicara pada Kaisar terkait masalah ini.Tapi sepertinya, dia sedang berusaha menyelesaikan masalah ini secara diam-diam... atau mungkin dia bergerak di bawah komando seseorang?"
Belum sempat Zhishu menyelesaikan berbagai pertimbangan dan kemungkinan dalam pikirannya, suara Xin Diwei sudah lebih dulu memecah lamunannya.
"Kau menggunakan otakmu dengan baik meski sedikit lambat dalam berpikir.Yang kau katakan itu benar.Jadi, apa kau adalah bagian dari mereka?" tanya Xin Diwei pelan namun mengintimidasi.
"Tentu saja tidak, tuan Xin Diwei.Kau adalah musuh dari mereka?"
Xin Diwei menatap lekat mata Zhishu, ia memperhatikan gerak-gerik Zhishu, namun tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa Zhishu sedang berbohong.
"Kau tidak perlu tahu lebih banyak.Perbincangan ini, anggaplah tidak pernah terjadi.Jika kau berani membocorkannya, aku sendiri yang akan membunuhmu."
__ADS_1
"Baiklah.." ucap Zhishu pelan, ia susah payah mempertahankan kontak mata dengan Xin Diwei yang seakan memberinya tekanan gravitasi tinggi, ia kesulitan bernapas saat itu.
Rasanya seperti ingin minta maaf terus menerus pada Xin Diwei jika menatap matanya yang dingin itu.Mata biru tua yang tadinya dilihat Zhishu sebagai sesuatu yang indah kini lebih terlihat seperti lautan luas yang menyimpan monster.
"Zhishu! Zhishu!"
Mendengar namanya dipanggil oleh seseorang, Zhishu spontan menoleh ke belakang dan melihat seorang perempuan berpakaian sederhana yang sedang berlari ke arahnya, perempuan itu tak lain dan tak bukan adalah Wu Huan.
Mengetahui bahwa Wu Huan akan segera menghampirinya, Zhishu berniat untuk segera memberitahu Xin Diwei agar pergi dari tempat itu.Ia takut Wu Huan akan terus menerus membahas hal ini mungkin sampai ia mati.
Namun belum sempat Zhishu mengatakan satu kata, Xin Diwei sudah tak terlihat lagi di pandangannya.Mungkin beberpa detik setelah suara Wu Huan terdengar, Xin Diwei langsung pergi dalam sekejap mata.
"Ada apa Kakak Wu?"
"Aku sedikit geli memanggilnya kakak, jujur saja," batin Zhishu.
"Zhishu, ibumu... meninggal."
Mendengar penuturan Wu Huan, pupil mata Zhishu menyusut, jantungnya berdegup tidak beraturan, "apa! Apa yang terjadi?!! Kau becanda? Ibuku tadi masih bersamaku, dan dia sehat.Tidak mungkin ibuku meninggal!"
"Zhishu, dia mengalami kecelakaan kereta saat perjalanan pulang ke kediaman Ziong.. Entah mengapa kudanya tiba-tiba mengamuk."
"Tapi ibuku adalah orang yang kuat, dia tidak mungkin meninggal karena kecelakaan kecil seperti itu.Dia pasti bisa menyelamatkan dirinya sendiri, dia bisa keluar dari kereta itu dalam sekejap atau dia bisa membunuh kuda yang mengamuk itu tanpa mengeluarkan satupun jurusnya," ucap Zhishu panjang lebar, ia menentang kenyataan bahwa ibunya sudah meninggal.
"Zhishu, aku mengerti apa yang kau rasakan.Tapi sekarang, kita harus pergi dan melihat mayat ibumu."
Zhishu termenung di tempat itu, ia tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya.Tatapannya kosong, seperti orang yang tidak memiliki jiwa.
"Apa ini adalah konsekuensi yang ibu maksud... Bu?"
"Zhishu, ayo naik ke kereta kuda.Aku akan memberi tahumu mengenai kecurigaan ku," bisik Wu Huan di telinga Zhishu.
Zhishu menatap mata Wu Huan sesaat setelah ia mencerna ucapan dari wanita itu, "ini adalah takdirku, takdirku karena menjadi orang yang menerima kutukan.Lucu sekali, apa aku benar-benar tidak akan pernah bahagia? Langit, memangnya apa yang telah ku lakukan di kehidupanku sebelumnya hingga kehidupanku saat ini sangat tragis?"
__ADS_1