Kultivator Jenius Penentang Langit

Kultivator Jenius Penentang Langit
Bab 49: Kebal Racun


__ADS_3

Tiga Pembunuh bayaran itu masuk melalui jendela di kamar penginapan Zhishu yang kebetulan memiliki ukuran cukup besar.Masing-masing dari mereka membawa pisau kecil yang tipis, biasanya dilumuri dengan racun yang mematikan.


Meski memakai masker hitam yang menutup wajah.Ekspresi terkejut dari para pembunuh bayaran itu masih tampak dengan jelas, mata mereka melebar seketika saat melihat Zhishu yang sedang berdiri di hadapan mereka dengan pedang di tangannya.


Mata Zhishu yang tajam menatap para pembunuh bayaran itu dingin, ditambah dengan wajah datar nya yang sama sekali tidak menunjukkan takut berhasil membuat lawannya mundur beberapa langkah.


"Sekte Tengkorak yang mengirim kalian?"


Lagi-lagi, mereka tampak terkejut, kali ini dengan pupil yang lebih kecil.Mereka termenung beberapa saat, berusaha mencerna situasi, "bagaimana mungkin seorang gadis kecil langsung mengetahui identitas kami yang sangat rahasia? Ini tidak mungkin terjadi!" pikiran mereka bertiga serempak mengarah ke hal itu.


"Sepertinya benar ya?" tanya Zhishu lagi yang kali ini berhasil memecah lamunan ketiganya.


"Kau tidak perlu tahu!" teriak seorang dari mereka, lelaki dengan tubuh kurus tinggi itu langsung melesat ke arah Zhishu dan mengarahkan pisaunya tepat di jantung Zhishu.


Dua pembunuh bayaran yang tersisa menyilangkan tangan mereka, "mengapa rekan kita yang sebelumnya itu bisa mati hanya karena anak perempuan? Lihat saja, hanya dalam satu kali serang, gadis itu akan mati."


Mereka menganggap Zhishu pasti mati setelah menerima serangan dari temannya.Apalagi saat temannya dan Zhishu terlihat mematung selama beberapa saat, seakan ada yang sedang terjeda.


Tapi!


Tidak seperti yang mereka pikirkan, pisau yang seharusnya membunuh Zhishu saat ini sedang ditahan olehnya hanya dengan jari telunjuk dan jari tengahnya.


"Apa yang terjadi?!" ucap seorang pembunuh bayaran itu tercekat.


Sedangkan pembunuh bayaran kurus yang menyerang Zhishu tampak tak bisa berkata-kata.Ia berkali-kali berusaha menarik pisau itu dari tangan Zhishu namun gagal.


"Mengapa pisau ini susah sekali lepas? Padahal gadis ini hanya menahan pisauku dengan jari telunjuk dan jari tengahnya.Apa dia benar-benar kuat seperti yang telah dikatakan ketua? Aku tidak percaya!"


"Sudah? Nih, aku kembalikan pisaumu."


Zhishu melempar pisau itu dari jarinya.Pembunuh bayaran yang memang masih memegang pisau miliknya lantas juga terikut terbang ke belakang hingga menabrak dinding dengan kerasnya.


"Aghh!! Sial*an kau dasar perempuan jala*ng!" umpat pembunuh bayaran itu sembari mengerang kesakitan, dari ujung kaki hingga kepalanya, ia merasakan dingin yang teramat sangat hingga rasanya ia seperti tertusuk jarum kecil yang panas.


"Kau.. mengapa kau bisa tidak terpengaruh dengan racun sekte Tengkorak kami? Bahkan jika kau hanya menyentuhnya, detak jantungmu seharusnya sudah berhenti sekarang!"


Salah satu sudut bibir Zhishu terangkat, ia menyeringai kecil, wajahnya menampilkan rasa puas, "benar-benar melelahkan! Energi ku langsung terkuras habis! Tapi sepertinya cairan anti racun yang diberikan sistem itu sangat manjur, ya.. meski harganya memang mahal... setidaknya 95 poinku bisa pergi dengan tenang."


"Aduh... mau bagaimana lagi? Aku kebal racun soalnya.. ataukah racun kalian yang terlalu lemah, ya? Sepertinya begitu, sangat lemah hingga bahkan tidak meninggalkan bekas di kulitku," tutur Zhishu dengan nada merendahkan, ia juga menunjukkan jari jemari lentiknya yang tampak putih mulus tanpa bekas luka apapun.


"Benar-benar tidak masuk akal!" batin pembunuh bayaran itu tidak percaya.

__ADS_1


"Kalau begitu, mari kita serius sekarang!" ujarnya dengan wajah datar, "gadis muda tetaplah gadis muda. Dia masih sangat kecil bila harus berhadapan denganku, memangnya dia bisa apa selain menangis?"


Zhishu menghembuskan napasnya kasar, ia memasang kuda-kuda yang kuat sebagai bentuk kewaspadaan nya pada dua pembunuh bayaran itu.


"Apa kita perlu menyerangnya bersamaan?"


"Tidak perlu, aku akan maju seorang diri, kau sebaiknya mengurus dia."


"Baiklah, kalau begitu aku akan membawanya kembali ke sekte.Aku yakin kau bisa menghadapi gadis itu satu lawan satu,"


Laki-laki pembunuh bayaran itu tampak mulai menggendong temannya.


"*Hah? Dia mau mengembalikannya ke sekte? Itu tidak akan mungkin terjadi.Aku harus membunuhnya agar energi yang sudah ku keluarkan untuk membuatnya terluka parah tidak sia-sia."


"Tapi laki-laki dihadapan ku ini adalah yang terkuat diantara mereka.Dia seakan menjadi benteng bagi dua orang temannya di belakang*."


"Sistem, teleportasi ke belakang pembunuh dihadapan ku ini.Aku ingin membunuh dua temannya yang berada di belakang.Enak saja mereka ingin kembali ke sekte dalam keadaan hidup," batin Zhishu penuh dendam.


[Baik, teleportasi menghabiskan 15 poin kontribusi, apa Anda setuju untuk melakukan teleportasi?]


"Cepat lakukan saja."


Tidak sampai satu kedipan mata, Zhishu sudah berada di tempat yang ia tuju.


Tanpa basa-basi lagi, Zhishu langsung menyerang dua pembunuh bayaran itu dengan pedangnya.


"A-APA?! DA-DARI MANA KAU DATANG?! JANGAN... JANGAN BUNUH A--"


SRAAK!


Dua tubuh pembunuh bayaran itu langsung terbelah menjadi dua.Zhishu membunuh dua pembunuh bayaran sekaligus hanya dalam satu tebasan.


Boom!


Pembunuh bayaran yang tersisa langsung mengarahkan serangannya pada Zhishu begitu menyadari keberadaannya.


Namun Zhishu berhasil menghindari itu bahkan sebelum serangan berbentuk kapsul itu mencapai setengah perjalanan.


Dengan kelincahannya, dalam satu detik saja, Zhishu kini sudah berada di titik buta lawannya.Tepatnya dibelakang tubuh lelaki itu.Baru saja pedangnya akan mendarat di tengkuk pembunuh itu, Zhishu sudah lebih dulu mendapat serangan balasan di tengah dadanya.


Ia seketika terlempar ke belakang.Sesaat sebelum menabrak dinding, Zhishu melakukan pendaratan yang cukup mulus meski masih dengan bantuan pedangnya.

__ADS_1


Zhishu berjongkok dan menjadikan pedangnya yang menancap di lantai sebagai tumpuannya.


"Lumayan..!" seru Zhishu bersemangat.


"Tertawalah sepuasmu gadis muda, karena kau akan mati hari ini!" teriak lelaki itu sembari melukai jarinya hingga mengeluarkan darah, darah itu kemudian menempel di pedang itu dan tidak sampai beberapa detik sudah menyerap dengan sempurna.


"Teleportasi, ke bagian samping pria itu!"


Zhishu yang awalnya berada di hadapan pria itu menghilang tanpa jejak.Tentu saja hal janggal itu membunuh lelaki bertubuh kekar itu dilanda kebingungan yang mendalam.


Bahkan sebelum ia dapat membatin dalam pikirannya, kepalanya sudah lebih dulu di tendang dengan Zhishu dari samping.Zhishu mencurahkan segala kekesalannya dalam tendangan itu hingga menghasilkan tendangan yang sangat kuat.


"Tendangan angin..!" ucap Lelaki itu dengan langkah yang masih sempoyongan.


Ia terduduk tanpa bisa melakukan apapun.Napasnya yang terengah-engah seakan beradu dengan hembusan napas Zhishu yang juga sedang tidak teratur.


"Aku bahkan belum melakukan apapun," ucap lelaki itu sembari menatap Zhishu dengan lesu.


"Kau pikir aku akan membiarkan mu mengeluarkan jurus milikmu itu? Aku akan langsung mati jika itu terjadi."


"Hehehe... memang itu tujuannya! Kau sudah kehabisan tenagamu 'kan?! Tapi kau perlu ingat, tenagaku habis hanya karena menahan dan menerima seranganmu.Aku masih memliki energi yang cukup untuk sekedar mengeluarkan jurus rahasiaku ini satu kali saja."


Lelaki itu berbicara dengan wajah mengerikan selayaknya seseorang yang memiliki gangguan mental, ia mulai bangkit dari duduknya dan seketika pedang yang ia pedang sudah tampil luar biasa dengan aura ungu pekat yang dikeluarkan nya.


"Matilah kau!"


"Aku terlalu meremehkan nya! Energiku sudah habis untuk menggertak mereka tadi.Sekarang, apa yang harus ku lakukan? Tidak ada cara lain!!"


Zhishu menahan serangan yang dilancarkan oleh pembunuh bayaran itu dengan susah payah.Ia merasakan sakit di seluruh bagian tubuhnya terutama bagian dao-nya yang berada di bagian perut.


"Uhukk!" Zhishu mengeluarkan batuk darah yang banyak setelah ia berhasil menahan serangan dari lawannya.


"Mengapa.. mengapa kau masih hidup? Bukankah seharusnya tenagamu sudah habis?! Apa kau..!!"


"Membiarkan energi spiritual dalam tubuhku benar-benar kosong, hahaha! Aku sudah gila, kan?! Ini semua karena dirimu!"


Kebanyakan Kultivator tidak akan pernah membiarkan tubuhnya benar-benar kosong akan energi spiritual. Apalagi saat sedang melakukan pertarungan.Karena secara sadar atau tidak sadar, kultivator yang tidak memiliki energi spiritual sedikitpun dalam tubuhnya akan langsung menggunakan energi dari api kehidupan mereka.


Ini sangat berbahaya dilakukan dan bisa menimbulkan kematian.Itu sebabnya sebagian besar Kultivator memilih untuk tidak mencobanya seumur hidup mereka.


"Sekarang aku tidak peduli akan api kehidupan ku.Jika aku harus mati hari ini, maka aku juga akan membawamu bersamaku!"

__ADS_1


__ADS_2