KUTINGGALKAN CINTA

KUTINGGALKAN CINTA
CH 10


__ADS_3

"Via, maafkan aku. Aku hanya bisa membantu mengantarkan kamu ke sini, untuk yang lainnya. Maaf aku tidak bisa membantu. Kamu bisa bicarakan semua ini pada Papa kamu," ucap Andre menyalakan mobilnya dan tak mendengarkan kata-kata Via lagi.


Merasa semuanya percuma, di sepanjang perjalanan Via hanya diam dan menyandarkan kepalanya.


Via menatap jalan dari jendela dan mengingat wajah Rian.


Sesampainya di rumah, Via menjatuhkan tubuhnya di atas kasur empuknya dan menenggelamkan wajahnya di bantal.


"Via, apa kamu sudah memberitahu Rian?" tanya Bu Rini.


"Ma, Via tidak sanggup memberitahu Rian. Bagaimanapun hancurnya perasaan Rian Ma, tujuh tahun kita bersama. Apa Mama pikir? Ini akan mudah untuk Rian? Tidak Ma, Via dan Rian saling mencintai. Kenapa harus seperti ini? Via tidak bisa Ma," tangis Via pecah begitu juga dengan Bu Rini.


Bu Rini tau bagaimana Putrinya begitu mencintai Rian, tapi Bu Rini sejak awal sudah memberi peringatan untuk Via agar jangan terlalu berharap jauh dari hubungannya dengan Rian, Bu Rini tau persis bagaimana watak suaminya, yang pasti tidak akan menyetujui laki-laki berlatar belakang seperti Rian menjadi menantunya.


"Via, bukankah sejak awal Mama sudah memperingatkan kamu, untuk menjauh dari Rian, karana bukan hanya kamu yang akan sakit tapi juga Rian. Kamu tau bagaimana Papa kamu, kenapa masih nekat melanjutkan hubungan yang jelas tidak akan direstui Papa? sejak awal kamu mengenalkan Mama dengan Rian, Mama sudah memperingatkan, hubungan kalian tidak akan di restui Papa," ucap Bu Rini.


"Ma, apa salah Rian? kenapa Papa tidak mau memberi Rian restu? Rian anak yang baik dan bertanggung jawab," ucap Via.


"Kamu tau bagaimana Papa? yang sangat mengutamakan bibit, bebet dan bobot. Percuma kamu mau bilang apapun tentang Rian, itu semua tidak akan merubah pemikiran Papa," ucap Bu Rini.


"Ma, tolong Via Ma, Via tidak mau menikah dengan Andre. Via tidak mencintai Andre." rengek Via.


"Via, hampir perempuan di keluarga kita menikah tanpa cinta, begitu juga dengan Mama, tapi kamu lihat, semua baik-baik saja, seiring berjalannya waktu cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya," ucap Bu Rini.


"Ma, ini jaman apa? Kenapa Via masih harus mengikuti adat seperti itu?" protes Via.


"Ini bukan adat, Via. Ini hanya sebuah kebiasaannya di keluarga kita, karena ingin mendapatkan pasangan yang terbaik untuk anak perempuan mereka," ucap Bu Rini.


"Yang terbaik? bagaimana mungkin bisa terbaik Ma? ini masalah hidup Via Ma, Via tidak mau meninggalkan Rian, Via tidak bisa hidup tanpa Rian," ucap Via terisak.


"Pergilah Via, Pergi dari sini. Pergi yang jauh bersama dengan Rian, kalau kamu ingin menikah dengan Rian, karena jika kamu masih di sini, kamu tidak akan pernah bisa bersama dengan Rian." ucap Bu Rini yang tak tega memisahkan Rian dan Via. Tapi jika Via tidak pergi, bisa dipastikan Via pasti akan menikah dengan Andre. Laki-laki pilihan Pak Handoko.


"Apa maksud Mama?" tanya Via tak mengerti.


"Pergilah malam ini, bahagialah dengan Rian. Hanya itu yang bisa Mama katakan. Nanti malam di pertigaan, Sasa temannya Tia akan menunggu kamu di sana. Pergilah temui Rian, menikah dan bahagia bersama Rian," ucap Bu Rini mentap mata Via seraya memegang pipi Via lembut.

__ADS_1


"Ma..! maksud Mama.. Bela pergi dari rumah ini?" tanya Bela tak percaya dan membulatkan matanya.


"Kamu ingin bersama Rian kan? pergilah, jangan berpikir terlalu banyak, di sini kamu tidak akan mungkin bisa menikah dengan Rian," ucap Bu Rini.


Malam ini saat semua tertidur, Via pelan-pelan keluar dari rumah, Sasa dan juga beberapa temannya sudah menunggu Via di pertigaan. dan mengantarkan Via menuju stasiun.


"Sa, terima kasih. Kamu sudah membantuku." ucap Via sampai di depan stasiun kereta api.


"Iya Kak Via, Tia sudah menceritakan semuanya. Kami do'akan, semoga Kak Via bahagia dengan Kak Rian," jawab Sasa.


"Kalian pulang lah, ini sudah malam jadi hati-hati. Kakak akan segera masuk," ucap Via masuk ke stasiun menunggu jadwal pemberangkatan kerta api.


***


Dret... dret...


Panggilan masuk di ponsel Rian.


"Assalamu'alaikum," jawab Rian.


"Via, kenapa malam-malam begini telpon? kamu ini di mana? kenapa seperti ada suara kereta?" tanya Rian.


"Iya, Rian. Saat ini aku sedang di stasiun kereta, aku akan pergi. tolong temui aku di stasiun S. kamu bisa kan ke sana?" tanya Via.


"Baiklah, ini sudah malam Via. Kenapa kamu nekat malam-malam begini perginya?" Rian khawatir.


"Nanti setelah ketemu aku akan menceritakan semuanya," jawab Via.


Setelah menunggu hampir tiga jam, kini kereta yang di tunggu Via datang dan Via bergegas masuk ke dalam kereta.


Sepanjang perjalanan Via merenung, tak menyangka kalau dirinya akan melakukan hal seperti ini, Pak Handoko yang sangat menentang hubungannya dengan Rian membuat Via nekat melakukan ini.


Menempuh perjalanan dua jam di dalam kereta kini Via sampai di stasiun S, dan Rian pun telah sampai di sana.


"Via," panggil Rian menghampiri Via.

__ADS_1


"Rian," ucap Via dengan mata berkaca-kaca menahan rindu yang membuncah.


"Kamu kenapa nekat seperti ini? sebenarnya ada apa?" cerca Rian.


"Kita bicara di sana ya?" ucap Via menunjuk kursi.


"Baiklah kita duduk dulu," jawab Rian.


"Rian, sebenarnya. Papa menjodohkan aku dengan laki-laki pilihan Papa," ucap Via terisak.


Jleb...


Bagai tertusuk pisau yang sangat tajam, hati Via terasa sakit.


"Rian, aku tidak mau menikah dengan Andre. Aku mencintai kamu Yan," tangis Via.


"Aku antar kamu pulang, aku akan bicara dengan Papa kamu," ucap Rian.


"Tidak Rian, kita tidak bisa pulang. Saat aku pulang, aku yakin saat itu kita pasti tidak akan pernah bertemu lagi, percuma kamu bicara sama Papa, karena hasilnya akan sama. Papa tidak akan mendengarkan kamu." ucap Via.


"Lalu kamu maunya bagaimana?" tanya Rian.


"Bawa aku pergi jauh, kita akan menikah meski tanpa restu Papa," ucap Via.


"Jangan gila Via, aku memang mencintai kamu. Tapi menikah dengan kamu tanpa restu itu tidak mungkin. Kamu itu perempuan, dan seorang ank perempuan membutuhkan wali ayahnya untuk menikah." ucap Rian.


"Tapi hal itu tidak akan mungkin terjadi Yan, Papa ku tidak akan pernah merestui hubungan kita," tegas Via.


"Setidaknya biarkan aku mencoba dulu." jawab Rian.


"Rian, kamu tidak tau siapa Papa ku. Apapun yang akan kamu katakan, percayalah itu tidak akan merubah keputusan Papa, bahkan malam ini aku bisa meninggalkan rumah karena bantuan Mama dan Tia, mereka yang menyuruh kita untuk pergi yang jauh," ucap Via.


^Happy Reading^


Jangan lupa, like, comment dan Vote ya terima kasih🙏😘💕

__ADS_1


__ADS_2