KUTINGGALKAN CINTA

KUTINGGALKAN CINTA
CH 11


__ADS_3

Sekeras apapun usaha Via untuk memberitahu seperti apa Pak Handoko, tetep saja tak membuat Rian mundur, Rian semakin nekat membawa Via kembali pulang ke rumah. Karena Rian adalah laki-laki yang cukup faham tentang agama, sehingga Rian tidak mau menikah dengan Via tanpa restu dari ayahnya, Apalagi seorang perempuan yang membutuhkan walinya untuk menikah. Semua itu tidak bisa Rian abaikan begitu saja.


"Rian, sebelum kita sampai rumahku pikirkanlah kembali, apa benar kamu akan membawaku pulang ke rumah? Karena jika kamu benar-benar mengantarkan aku pulang, itu berarti kamu sudah siap kehilangan aku," ucap Via saat kendaraan umum yang mereka kendarai akan mendekati kediaman Pak Handoko.


"Via, apapun hasilnya kita tetep harus mencoba," jawab Rian.


"Jika hasilnya, Papa tetep tidak merestui kita. Apa kamu sudah siap kehilangan aku?" tanya Via.


"Sesungguhnya Alloh sudah mentakdirkan dengan siapa kita berjodoh jika memang Alloh mentakdirkan kita untuk bersama, pasti akan ada jalan untuk kita bersama. Tapi jika Alloh tidak mentakdirkan kita untuk bersama, seperti apapun usaha kita untuk bersama, pasti tetap tidak akan bersama," ucap Rian.


"Yan, jadi itu jawaban kamu? tidak adakah upaya dari kamu untuk mempertahankan aku? Aku mengira kamu sangat mencintai aku, tapi ternyata hanya sebesar ini cintamu?" keluh Via.


"Kamu salah Via, justru ini karena aku mencintai kamu. Untuk apa saat ini aku mengajak kamu pulang dan bertemu dengan Papa kamu, kalau bukan aku mencintai kamu dan aku ingin bertemu Papa kamu, justru untuk memperjuangkan cinta kita." jawab Rian.


Via yang sudah kehabisan kata-kata hanya bisa pasrah, karena Rian memang seseorang yang tidak mundah untuk merubah keputusan yang sudah dia buat.


****


"Jadi maksud Mama, Via kabur dari rumah?" Pak Handoko berdiri lantaran terkejut mengetahui Via kabur dari rumah.


"Sepertinya begitu pah, karena pakaiannya sudah tidak ada di lemari." ucap Bu Rini


menyembunyikan kepanikannya.


"Pasti dia menemui laki-laki pecundang itu," ucap Pak Handoko kesal.


"Pah, kenapa sih Papa begitu keras kepala? Bagaimana jika Via nekat dan kawin lari dengan Rian? Kita justru akan kehilangan anak kita pah, kenapa Papa tidak mencoba memberi kesempatan kepada Rian pah" bujuk Bu Rini


"Memberi mereka kesempatan? Tidak akan pernah! jika Via nekat pergi dengan laki-laki pecundang itu, berarti Via bukan anak kita." jawab Pak Handoko.


"Pah, kenapa bicara seperti itu? Via itu anak kita pah," Bu Runi kesal.


"Tapi dia sudah memilih jalan hidupnya,"

__ADS_1


Pak Handoko adalah orang yang cukup keras kepala.


Tok..! Tok..! Tok..!


"Sepertinya ada yang datang, biar Mama lihat dulu ya pah," ucap Bu Rini membuka pintu.


"Assalamu'alaikum tante," ucap Rian.


"Wa-Walaikumsalam, Rian, Via kenapa kalian?" ucap Bu Rini tampak bingung.


"Untuk apa kamu ke sini? Dan kamu Via, bukankan kamu sudah pergi dari sini, untuk apa kamu kembali?" sahut Pak Handoko.


Via hanya diam menundukkan kepala.


"Om, tante, kedatangan saya ke sini untuk meminta restu pada om dan tante, Saya sangat mencintai Via dan saya sangat berharap Om mau memberikan kami restu," ucap Rian.


"Jangan mimpi kamu, laki-laki pecundang seperti kamu. Tidak akan pernah pantas menjadi menantu saya. Sampai matipun saya tidak akan pernah merestui hubungan kalian." ucap Pak Handoko.


"Astaghfirullah, pah. kenapa Papa tega bicara seperti itu," sahut Via yang sejak tadi diam.


"Rian, berdiri Rian. Papa tidak akan merubah keputusannya, bukankan aku sudah katakan jangan pernah melakukan ini, karena semua itu percuma, hati Papa ini terbuat dari batu, Rian. Seharusnya kamu tidak menyuruhku pulang, seharusnya kamu mengajakku untuk kawin lari, bukan kembali ke rumah seperti ini," ucap Via dengan nada tinggi


Plak..!


Pak Handoko menampar pipi Via.


"Masuk ke rumah," bentak Pak Handoko.


"Om, jangan sakiti Via! pukul saya, pukul saya saja! tapi jangan sakiti Via," ucap Rian yang masih bersimpuh di kaki Pak Handoko.


"Rian, berdirilah nak," ucap Bu Rini membantu Rian berdiri.


"Pulanglah Rian, Tante tidak ingin ada keributan di rumah ini," ucap Bu Rini.

__ADS_1


"Tante, Rian dan Via saling menyayangi, tolong beri kami restu," Rian menyatukan kedua tangannya di depan dada.


"Via, masuklah," ucap Bu Rini yang melihat Pak Handoko saat ini masih menahan amarah.


"Te-Tapi ma," ucap Via.


"Masik Via," ucap Bu Rini


"Paap, Via mencintai Rian dan Via tidak mau menikah dengan Andre." ucap Via.


"Masuk..! Papa bilang!" teriak Pak Handoko.


Via melihat Rian dan Rian mengangguk sebagai jawaban kalau menyuruh Via untuk menuruti perintah Pak Handoko.


"Pak, saya mohon. ijinkan saya bersama dengan Via, saya janji saya akan membahagiakan Via, saya akan bekerja keras agar Via bisa bahagia, ucap Rian setelah Via masuk ke dalam kamarmu.


"Hahaha.. orang sepele kamu akan membahagiakan putri saya dengan cara apa memangnya? mau bekerja sekeras apapun , Laki-laki pecundang seperti kamu tidak akan mungkin bisa sukses, kamu pikir hanya dengan jadi apoteker, kamu bisa menjadi orang sukses? naif sekali kamu!" ucap Pak Handoko.


"Tapi saya yakin, Pak. saya pasti bisa membahagiakan Via!" yakin Rian.


"Tau apa kamu dengan membahagiakan anak saya? orang seperti kamu jangan berharap banyak dan sebaiknya kamu cari wanita yang sepadan dengan kamu, jangan mimpi naik derajat dengan menikahi Via."


Ucapan Pak Handoko hari ini benar-benar menyakiti hati Rian, Rian memang menyayangi Via tapi Perkataan Pak Handoko hari ini meneteskan luka mendalam di hati Rian.


***


Via hanya bisa menangis dan bersedih di kamar, Via pun menyadarkan sepertinya ini adalah akhir kisah cintanya bersama. dengan Rian, cinta yang tak akan pernah bersatu.


Bahkan karena masalah ini, Pak Handoko mempercepat pernikahannya dengan Andre, Via pun kali ini hanya bisa pasrah, berkali-kali Via menghubungi Rian, namun Rian tak pernah menjawab panggilan dari Via.


Sepertinya kali ini, Rian benar-benar sudah pasrah dengan hubungan mereka.


"Via, sepertinya kali ini mama sudah tidak bisa membantu kamu. Kamu sudah mama bantu untuk pergi dari sini, dengan watak Papa mu yang seperti itu, mustahil bagi kamu dan Rian bisa bersama," ucap Bu Rini yang duduk di samping Via.

__ADS_1


"Rian mungkin tidak terlalu mencintai Via, Ma. kalau Rian memang mencintai Via, seharusnya Rian tidak mengantarkan Via kembali ke rumah," ucap Via dengan mata berkaca-kaca.


^Happy Reading^


__ADS_2