
Hari ini Andre kembali ke kota C, namun perasaannya sungguh tidak tentang lantaran mengingat apa yang di dengarnya selama di solo. Andre tidak menyangka jika hubungan Via dan Rian begitu populer bahkan penjual jajanan saja sampai kenal dengan mereka.
"Apa, Via sering ke taman itu untuk mengenang Rian," gumam Andre.
"Agh.. kenapa aku jadi merasa cemburu seperti ini? dari awal aku tau, kalau mereka saling mencintai, tapi aku tetap menginginkan pernikahan ini, seharusnya aku tidak perlu merasa sakit hati seperti ini," gumam Andre
Semenjak penyatuan cinta mereka, kini Andre merasa semakin memiliki Via seutuhnya dan takut jika kehilangan Via.
***
"Bu Via, ini mahasiswa yang mau magang di apotek kita, sudah datang," ucap Riska Asisten Apoteker.
"Oiya, Semoga betah dan bisa mendapat ilmu ya, dengan Mbak siapa?" tanya Via.
"Saya Eni, Bu. Mahasiswa Farmasi semester akhir." ucap Eni memperkenalkan diri.
"Mbak Eni, untuk satu bulan ke depan berarti akan magang di sini ya. jika ada yang sesuatu yang mungkin Mbak Eni tidak paham atau belum mengerti, Mbak Eni jani sungkan untuk bertanya pada saya atau jika saya tidak di tempat, Mbak Eni bisa bertanya pada Mbak Riska. Karena tidak setiap hari saya di sini. " jelang Via.
"Baik, Ibu Via. Terima kasih." jawab Eni.
Eni adalah mahasiswa yang cukup cekatan dan pintar.
Via senang melihat Eni yang nampaknya sudah menguasai dan hafal dengan nama dan jenis-jenis obat serta kegunaannya.
"Sepertinya kamu sudah cukup paham dengan obat ya?" puji Via.
"Ah, iya. Bu, Kebetulan saya memang sudah memang saya juga suka membantu di apotek kakak saya," ucap Eni.
"Oh, kakak kamu Apoteker juga?" tanya Via.
"Iya, kebetulan kakak saya Apoteker dan punya Apotek sendiri," jawab Eni.
"Kamu orang sini atau orang mana asalnya?" tanya Via.
"Saya berasal dari kota K, Bu Via." jawab Eni seraya menata obat di etalase.
Deg..
Jantung Eni seakan berdetak lebih kencang ketika kembali mendengar kota K, Kota di mana Rian sekarang tinggal bekerja di sana.
__ADS_1
"Rian, kamu apa kabar? sudah berapa lama kita tidak saling bertukar kabar," batin Via yang begitu merindukan Rian.
***
Dua bulan kemudian
Hari-hari Via lalui dengan rutinitas seperti biasa. Via selalu menunjukkan senyum manis di depan semua orang, tapi tidak dengan hatinya.
Ketika hujan turun, ketika sedang sendirian, ketika sedang melintas suatu tempat, semua penuh kenangan tentang Rian, Rumah tangga yang di bina dengan Andre memang terlihat baik-baik saja, tapi tidak dengan hati Via yang sebenarnya.
Jauh di lubuk hati terdalam masih menyisihkan ruang untuk Rian.
Klek..
Via membuka pintu rumah.
"Andre, bikin kaget saja!" ucap Via melihat Andre sudah berada di dalam rumahnya.
"Kejutan..!" ucap Andre tersenyum dan memeluk Via.
"Benar-benar kejutan yang membuat terkejut," ucap Via.
"Iya senang, tapi ini kan masih hari jumat. Kenapa sudah di sini?" tanya Via mengerutkan dahinya.
"Memang kenapa kalau aku ke sini hari jumat? Apa aku tidak boleh ke sini? Apa kamu juga tidak kangen sama aku?" Andre balik tanya.
"Bukan seperti itu, tapi kan ini masih jam kerja? kamu gak masuk kantor lagi dong?" tanya Via.
"Biarkan saja, yang penting aku ketemu deny istriku. Aku merindukan kamu sayang," bisik Andre di telinga Via.
"Oh, Iya. aku buatkan minuman dulu ya, pasti kan kamu capek!" kilah Via segera berlalu.
Meskipun sudah sering bertemu dan melayani Andre di tempat tidur tapi tetap saja, Via belum bisa melakukannya dengan sepenuh hati semua Via lakukan hanya sebatas menjalankan tugas sebagai seorang istri, bukan dari hati.
Andre menatap punggung Via yang cepat-cepat berlari ke dapur hingga tak terlihat lagi.
"Via, aku tau meskipun kita sudah bersama dalam segala hal, namun hati kamu belum sepenuhnya untuk ku, sampai kapan kamu masih menyimpan Rian di hatimu?" batin Andre menghela nafas.
"Di minum dulu, Ndre." ucap Via menyodorkan segelas teh untuk Andre.
__ADS_1
"Duduk sini," ucap Andre menepuk sofa di sampingmu.
"Sini mendekat, kenapa harus berjauhan duduknya?" tanya Andre.
Via hanya diam dan menurut. Itulah yang selalu dilakukan Via, selalu menurut apa yang di katakan Andre, tidak pernah protes, menolak ataupun punya gagasan sendiri. seolah Via ini hanya melakukan apa yang Andre inginkan. Semata-mata hanya demi kewajiban seorang istri tidak ada inisiatif.
Dan Andre melihat itu sebagai hal yang tidak menyenangkan karena terlihat sekali tidak ada cinta untuk Andre.
"Via, kita bersama sudah hampir tiga bulan, kita juga sudah bersama dalam segala hal. Tapi aku merasa apa yang kamu lakukan hanya semata-mata karena kewajiban kamu sebagai seorang istri, apa sedikitpun hati kamu belum tergerak untuk ku?" cerca Andre.
"Apa maksud kamu? aku tidak mengerti apa maksud perkataan kamu?" ucap Via.
"Apa di hati kamu masih ada Rian?" tanya Andre sontak membuat Via tercengang dengan pertanyaan yang Andre lontarkan.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu? kenapa harus bawa-bawa Rian?" tanya Via.
"Karena aku tau, sampai saat ini di hati kamu masih ada Rian, okey aku tau. Kamu memang mencintai Rian sejak awal, tapi sekarang kamu sudah jadi istriku. Kamu harusnya melupakan Rian," ucap Andre dengan suara meninggi.
"Yang kamu inginkan aku kan? bukan hati ku kan? sekarang aku sudah kamu miliki, lalu apa lagi? jangan menuntut hatiku, Andre. Hati ku milik Rian," tegas Via.
Plak...
Andre menampar Via.
Via menatap tajam mata Andre dan memegang pipinya.
"Via..! Via..! tolong maafkan aku! A-aku tidak sengaja melakukannya, to-tolong maafkan aku," ucap Andre menyesali perbuatannya.
"Tidak apa-apa, Kamu boleh lakukan apa saja yang kamu inginkan, kamu ingin memukul ku? kamu ingin tidur dengan ku? lakukan! Lakukan semua yang kamu inginkan!" ucap Via membuka hijabnya dan melemparkan ke sembarang arah, Via juga melepas kancing kemejanya hingga bawah.
"Kamu ingin ini kan? Lakukan! Lakukan! Lakukan semu yang kamu inginkan!" ucap Via dengan suara tinggi maju selangkah demi selangkah mendekati Andre.
Andre kembali Mengancingkan baju Via hingga keatas. Via terdiam dengan air mata yang membasahi pipinya.
"Via, jadi ini yang selama ini ada di dalam pikiran kamu? jadi kamu hanya berpikir kalau aku hanya menginginkan tubuh kamu?" ucap Andre mengangkat dagu Via dan menatap matanya.
"Kalau bukan lalu apa? Sejak awal aku sudah mengatakan, kalau di hatiku sudah ada orang lain, tapi kamu sama sekali tidak menghiraukan hal itu dan kamu tetap ingin melanjutkan pernikahan ini, lalu apa kalau bukan hal ini yang kamu inginkan?" tanya Via dengan derai air mata.
^Happy Reading^
__ADS_1