
Via yang sedih dan hatinya terluka lantaran Pak Handoko yang memaksa dirinya untuk menikah dengan Andre mengambil ponselnya dan menghubungi Rian, namun Rian tak menerima panggilan dari Via.
"Ini Rian kenapa sih? tidak pernah angkat telpon dari Via?" gerutu Via melemparkan ponsel ke kasur.
Via mengambil kembali ponselnya dan kembali mencoba menghubungi, namun lagi-lagi tak ada jawaban.
"[ Yan, angkat telponnya! aku mau bicara]," pesan dari Via yang dikirim pada Rian
Dengan gelisah, Via melihat ponselnya berharap ada balasan dari Rian. Namun lagi-lagi tak ada jawaban.
Setelah menunggu seharian akhirnya Via mendapat jawaban dari Rian. Kalau dirinya sedang sakit dan dirawat di rumah sakit.
Via yang kaget mengetahuinya laki-laki yang dicintainya terbaring di rumah sakit, segera bangkit dari tempat tidurnya. Mengganti pakaian rumahan dengan pakaian sopan untuk pergi dan juga menggunakan jilbabnya.
Iya sekarang, Via. sudah menjelma menjadi wanita dewasa yang berjilbab. Dan itu semua karena permintaannya Rian awalnya, yang menghendaki Via untuk berjilbab. Via yang awalnya enggan untuk menggunakan jilbab, akhirnya menurut setelah terjadi perdebatan panjang dengan Rian kala itu.
*Flashback*
Saat mereka sedang jalan-jalan ke sebuah Mall, Tiba-tiba saja Rian mengajak Via untuk menuju outlet pakaian Muslimah dan memberikan jilbab untuk Via.
"Coba, kamu pakai ini! pasti tambah cantik," ucapan Rian tersenyum.
"Ini jilbab? Aku mana bisa pakai ini Yan?" ucap Via melihat jilbab yang diberikan Rian.
"Bisa. Kamu pasti bisa kok pakai ini dan lagi, jilbab itu wajib hukumnya buat seorang wanita muslim!" jelas Rian tersenyum dan memakaikan jilbab pada Via.
"MasyaAlloh, kamu benar-benar cantik menggunakan jilbab ini," ucap Rian tersenyum.
"Sumpah, aku tidak pede jika menggunakan ini Rian," protes Via
"Kamu cantik, kenapa tidak pede?" Rian berusaha menyakinkan Via. Rian ingin merubah kebiasaan Via agar menjadi lebih baik.
"Lain kali saja ya Yan, kita beli jilbabnya. Sekarang aku belum siap," ujar Via berusaha menghindari untuk memakai jilbab.
__ADS_1
Rian tidak mendengarkan Via dan langsung membawa jilbab itu ke kasir dan segera mengeluarkan dompet dari sakunya.
"Yan, biar aku yang bayar," cegah Via memegang tangan Rian.
"Jangan Via, seperti janjiku padamu dulu. Jika aku sudah bekerja, aku akan membalas semua yang dulu kamu kasih untukku. Meskipun saat ini gajiku belum banyak. Tapi setidaknya aku sudah bekerja dan aku mendapatkan gaji." ujar Rian membayar sejumlah uang pada kasir.
"Kamu masih mengingat itu semua Yan?" tanya Via.
"Tentu saja aku mengingatnya dan aku tidak akan pernah melupakan semua itu, semua kebaikan kamu. Suatu saat nanti aku pasti akan membalasnya. Aku yakin InsyaAlloh suatu saat nanti, aku pasti bisa membahagiakan kamu," ucap Rian seraya menyerahkan jilbab yang baru saja dibayarnya pada Via.
*Flashback OFF*
"Via mau kemana?" tanya Pak Handoko yang berada di ruang keluarga.
"Via harus pergi Pah, Assalamu'alaikum. " Via mendekat dan hendak mencium tangan Papa nya namun ditepis Pak Handoko.
"Kembali ke kamar kamu!" ucap Pak Handoko dengan nada tinggi.
"Pah. Via harus pergi sekarang," ucap Via
"Maaf pah, tapi Via harus pergi. Rian saat ini sedang sakit dan dirawat di rumah sakit." Via menatap Mama nya dengan pandangan memelas.
Berbeda dengan Pak Handoko, Bu Rini sebenarnya tidak keberatan dengan hubungan Via dan Rian, hanya saja sebagai seorang istri. Bu Rini tidak mempunyai kendali atas keputusan keluarga ini. Kendali ada ditangan Pak Handoko.
"Pah, kasihan Via. Berilah kesempatan Via untuk bertemu dengan Rian," Bu Rini berusaha membujuk Pak Handoko lantaran tidak tega melihat Via yang kini sudah menangis.
"Sekali Papa bilang tidak, ya tidak! jangan bantah Papa dan sekarang masuk ke kamar kamu!" perintah Pak Handoko.
"Pah, Via. Harus melihat Rian Pah, Rian sedang sakit," tangis Via pecah namun itu semua tak mengubah keputusan Pak Handoko untuk memberikan ijin pada Via.
"Papa bilang masuk Via!" bentak Pak Handoko dengan nada tinggi.
Via menangis dan berlari ke kamar, menjatuhkan tubuhnya dikasur.
__ADS_1
"Hua.. Hua... Maafkan Via, Yan. Maafkan Via, Via tidak bisa menjenguk Rian." air mata Via membasahi bantalnya. Tidak ada yang bisa Via lakukan, karena Pak Handoko orang yang sangat keras dan tidak bisa dibantah.
***
"Pah, tolong jangan terlalu keras sama Via. Kasihan Via pah," ucap Bu Rini.
"Hah.. Ini semua salah Mama, Mama terlalu memanjakan Via," ucap Pak Handoko kesal.
"Pah, Via dan Rian bersama sudah cukup lama. Jujur Mama tidak tega jika harus memisahkan mereka. Pah, apa tidak sebaiknya Papa pikirkan kembali, soal rencana Papa untuk menjodohkan Via dengan Andre," ucap Bu Rini hati-hati.
"Apa maksud Mama? membatalkan perjodohan Via dan Andre? Lalu membiarkan Via bersama dengan laki-laki yang tidak jelas masa depannya itu?" ucap Pak Handoko sinis.
"Pah, Rian. tidak seburuk itu. Rian sekarang juga seorang Apoteker, Rian juga mengajar di SMK Farmasi. Mama yakin kedepan Rian akan mempunyai masa depan yang jelas," ucap Bu Rini penuh keyakinan.
"Tetap saja tidak sebanding dengan keluarga Andre. Rian hanya anak seorang petani desa dan hidupnya serba pas-pasan. Tidak sebanding dengan keluarga kita," ucap Pak Handoko yang memandang rendah keluarga Rian.
"Apalah arti semua itu dibandingkan dengan kebahagiaan putri kita pah?"
"Sudahlah, Mama tidak perlu ikut campur! Papa sudah putuskan, Via akan segera menikah dengan Andre." Pak Handoko sudah tidak mau mendengarkan pendapat dari siapapun.
Bagi Pak Handoko tidak ada calon menantu yang lebih baik dari pada Andre.
***
"Kak Via, kakak yang sabar ya," ucap Tia mengusap punggung Via yang sedang menangis dan membenamkan wajahnya di bantal.
"Tia.. Tia, tolong kakak. Kakak harus menemui Rian. Tolong bantu kakak bicara sama Papa," rengek Via pada Tia.
Tia adalah adik perempuan Via, yang saat ini masih kuliah, karena kuliah sedang libur. Tia ada dirumah.
Dan ini juga yang membuat Via tidak bisa pergi dari rumah, libur semester yang cukup panjang, membuat Via juga tidak pergi mengajar. Itu artinya tidak ada alasan baginya untuk ijin mengajar. Via sendiri saat ini bekerja di Universitas tempatnya dulu kuliah. Karena Via adalah mahasiswa yang pandai, begitu menyelesaikan pendidikannya Via bisa dengan mudah bekerja sebagai dosen disana.
"Baiklah kak, Tia. akan mencoba bicara sama Papa. Tapi Tia juga tidak yakin akan berhasil. Kakak tau sendiri Papa seperti apa, saat Papa sudah membuat keputusan." ucap Tia yang tau Papa nya seperti apa.
__ADS_1
^Happy Reading^