KUTINGGALKAN CINTA

KUTINGGALKAN CINTA
CH 9


__ADS_3

Keesokannya harinya, Via pergi bersama Andre menuju kota K, untuk melihat keadaan Rian.


Iya sekarang, Rian sudah bekerja sebagai Apoteker di kota K.


"Andre, biarkan aku bertemu dengan Rian sendiri. Aku mohon, kamu tunggu aku di sini." ucap Via saat mobil Andre sudah terparkir di parkiran rumah sakit, yang ada di kota K.


"Ta_" ucap Andre terputus.


"Aku mohon ndre, ijinkan aku menemui Rian sendiri. Biar aku sendiri yang menjelaskan tentang perjodohan kita. Jika kamu ikut bersamaku, aku takut Rian semakin sakit hati. Aku tidak ingin menyakiti hatinya." Via menyatukan tangannya dan meneteskan air mata di depan Andre, berharap Andre bisa mengerti dirinya.


"Tapi, Om Handoko. Mempercayakan kamu sama aku." ucap Andre.


"Aku mohon, tolong ndre. Aku janji tidak akan lama, aku akan segera kembali, " ucap Via.


Melihat Via merengek seperti itu, Andre pun mengijinkan, Via untuk menemui Andre sendiri.


Via dengan cepat berjalan masuk rumah sakit dan menanyakan kamar Rian di rawat. Saat sudah mengetahui ruangan Rian, Via berlari kecil menuju ruangan Rian


Klek..!


Via membuka pintu.


"Assalamu'alaikum, Rian. " ucap Via berjalan mendekat.


"Via, kamu ke sini?" tanya Rian bahagia dengan kehadiran Via di sana.


"Ini?" Bu Ina melihat ke arah Via.


"Bu, kenalkan. Namanya Via. Dia kekasih Rian," sahut Rian tersenyum.


"Nak Via, MasyaAlloh. Kamu cantik sekali. Rian sudah sering menceritakan soal kamu, tapi kita baru ada kesempatan ketemu sekarang. Waktu hari wisuda kalian duludulu, sebenarnya Ibu ingin sekali bertemu dengan kamu, tapi saat itu kata Rian, waktunya belum tepat." Bu Ina begitu senang bertemu dengan Via.


Via hanya diam tak bisa berkata apa-apa, ketika Rian memperkenalkan dirinya sebagai kekasih di depan Bu Ina.


Karena Via ke sana, justru ingin memutuskan hubungan mereka.


Agh,..Air mata Via, kini tak mampu lagi untuk di bendung. Hatinya terlalu sesak dengan kenyataan ini.

__ADS_1


Dari awal Via lah, yang mengejar Rian. Kini saat Rian benar-benar mencintai dan yakin akan hubungan mereka, Via juga yang akan menjatuhkan Rian, hingga dasar kesakitan yang begitu dalam.


Bagai tidak? mereka sudah 7 tahun bersama. Banyak kenangan manis yang telah mereka lalui bersama, saling mendukung dan saling membantu.


Setiap kali, Rian takut dengan hubungan mereka karena perbedaan status sosial. Via selalu menyakinkan Rian, kalau suatu saat nanti orang tuanya pasti akan memeberi mereka restu. Tapi kenyataan tak semudah yang Via katakan. Karena Pak Handoko memaksakan untuk menikah dengan Andre.


"Kenapa menangis?" tanya Rian melihat Via.


"Nak, Via. Jangan menangis. Rian sudah baik-baik saja, besok juga sudah boleh pulang. Rian hanya kecapean dan telat makan, karena itu tipes nya kambuh."Jelas Bu Ina.


Setelah Bu Ina menjelaskan keadaan Rian, Bukannya diam. Justru Via semakin terisak. Membuat Rian dan Bu Ina saling menatap tak mengerti.


"Via, kamu kenapa? Aku baik-baik saja. Kamu jangan sedih lagi," ucap Rian


Tanpa bicara, Via duduk disamping ranjang Rian. Via menundukkan kepalanya dan kembali terisak tangis.


"Via, katakan ada apa?" tanya Rian yakin, ada sesuatu dengan Via.


"Ini bukan karena aku sakit kan? Apa ada sesuatu? tanyanya lagi.


"Rian, maafkan aku, " ucap Via lirih, nyaris tak terdengar.


"A-aku, aku..Aku sedih karena tidak bisa menemani kamu di saat kamu sakit," ucap Via bohong. Tak sampai hati Via mengatakan kalau dirinya akan menikah dengan orang lain.


Apalagi saat melihat Bu Ina, yang sepertinya sangat menyukai dirinya.


"Via, sepertinya kamu sangat menyukai Rian ya? Terlihat sekali, kamu sangat mencemaskan Rian." ucap Bu Ina tersenyum.


Via hanya menjawab dengan senyuman. Bibirnya terasa kelu, tak ada lagi kata yang bisa keluar dari bibir manisnya.


Rian laki-laki yang yang baik, tak sampai hati, jika sampai harus melukai hatinya.


"Rian, aku minta maaf. Saat ini aku tidak bisa lama-lama di sini. Kondisiku tidak memungkinkan untuk aku berada di sini terlalu lama," ucap Via.


"Tapi kamu kan baru saja datang, apa harus secepat ini? bagaimana kamu pulangnya?" tanaya Rian.


"Aku datang sama kakak sepupu, dia menunggu di bawah," jawab Via bohong.

__ADS_1


"Rian, Ibu. Via pulang dulu," pamit Via berlalu dan menangis.


Sepanjang lorong rumah sakit, Via terus saja tak berhenti menangis. Hatinya merasa sakit, melihat laki-laki yang dicintai terbaring sakit, tapi dirinya tidak bisa menemani Rian.


***


"Rian, Via. kenapa ya?" tanya Bu Ina, merasa heran.


"Mungkin, Via hanya bingung. Rian sakit dan ibunya juga sakit." jawab Rian.


Rian jugak sebenarnya, bertanya-tanya karena Via terlihat tidak seperti biasanya.


Hanya saja, Rian tidak ingin terlihat cemas di depan ibunya.


****


"Hiks.. Hiks... " tangis Via pecah dalam mobil.


"Via, apa semua baik-baik saja?" tanya Andre.


"Apa menurut kamu, semua akan baik-baik saja? kenapa kamu lakukan ini padaku dan Rian, Dre?" tangis Via.


"Via, kenapa kamu menyalahkan aku? Aku bahkan mengantarkan kamu jauh-jauh ke sini, bagaimana bisa kamu malah berkata seperti itu?" ucap Andre.


"Kamu bisa menolak perjodohan ini?. Aku ini tidak mencintai kamu Andre. Pernikahan seperti apa yang akan kita jalani? 7 tahun Andre, 7 tahun aku pacaran dengan Rian. Apa menurut kamu, aku bisa melupakan laki-laki yang sudah ada di hidupku selama 7 tahun?" ujar Via terisak.


"Tolong jangan katakan seperti itu, Via. Aku juga punya hati. Tapi apa yang bisa aku lakukan? perjodohan kita ini sudah sejak lama di atur orang tua kita." ucap Andre.


"Tapi aku tidak pernah tau Andre, jika dari awal aku tau. Aku tidak akan mungkin mengejar cintanya Rian. Rian itu laki-laki yang baik, berkali-kali dia menolak ku, tapi aku terus mengejarnya. Sekarang saat dia juga mencintaiku, tiba-tiba aku harus bilang putus? bagaimana bisa aku melakukan semua itu?"


Andre terdiam, ada perasaan kasihan melihat Via seperti ini. Tapi hatinya juga tidak akan rela. Jika Via bersama dengan laki-laki lain.


"Andre, masih ada kesempatan. Tolong tolak perjodohan ini Ndre," Via memohon dan matanya terus mengeluarkan bulir-bulir kristal.


"Via, maafkan aku. Aku hanya bisa membantu mengantarkan kamu ke sini, untuk yang lainnya. Maaf aku tidak bisa membantu. Kamu bisa bicarakan semua ini pada Papa kamu," ucap Andre menyalakan mobilnya dan tak mendengarkan kata-kata Via lagi.


Merasa semuanya percuma, di sepanjang perjalanan Via hanya diam dan menyandarkan kepalanya.

__ADS_1


Via menatap jalan dari jendela dan mengingat wajah Rian.


^Happy Reading^


__ADS_2