
Mulut Via mungkin mengatakan bisa memberi Andre, tapi jauh di lubuk hatinya, sampai saat ini Rian tetep memiliki ruang khusus di hatinya.
Meskipun Via mengatakan akan menerima Andre sebagai seorang suami, tetapi hatinya tidak berkata seperti itu.
"Selmat pagi semua, Tolong buka kembali materi yang kemarin Ibu sampaikan." ucap Via saat masuk kelas untuk mengajar.
"Hari ini kita akan mempelajari tentang golongan obat. Jadi terdapat 3 (tiga) jenis penggolongan obat dengan logo yang berbeda untuk setiap golongan yaitu obat bebas, obat bebas terbatas, dan obat keras seperti tercantum dalam tabel di bawah ini." ucap Bela menunjukkan tabel di layar LCD proyektornya.
Mahasiswa tampak serius saat mengikuti perkuliahan yang Via sampaikan.
Via termasuk dosen yang di sukai banyak mahasiswa. Meskipun pembawaannya tegas dan Disiplin tetapi tetap saja banyak mahasiswa yang mengidolakan Via.
Setelah mengajar dari kampus, Via yang juga seorang apoteker pergi ke Apotek untuk mengontrol obat-obat di sana, karena sebagai seorang Apoteker Via bertanggung jawab dengan obat yang di jual di apotek tempatnya bekerja.
Dalam pekerjaan Via tergolong berhasil, lulus kuliah dengan predikat cumlaude dan langsung lolos seleksi sebagai dosen tetap di Universitas tempatnya dulu menimba IlmuIlmu sekaligus tawaran menjadi apoteker di beberapa Apotek.
Namun semua itu tak membuatnya bahagia lantaran kisah percintaannya yang tak semulus karirnya.
"Mbak Via, ada yang mau bertemu dengan mbak Via," ucap salah satu asisten Apoteker di sana.
"Siapa?" tanya Via.
"Sepertinya Dosen pembimbing yang mau menitipkan anak didiknya untuk magang di sini," ucapnya.
"Suruh tunggu di ruangan saya, nanti akan saya tamui. Ini saya selesaikan pekerjaan saya dulu," ujar Via.
Setelah memeriksa stok obat dan memastikan aman, Via ke ruang kerjanya untuk menemui tamu yang datang.
"Bu Erna, kenapa ada di sini?" tanya Via tercengang melihat rekan dosennya mengajar berada di Apotek tempatnya bekerja juga.
"Jadi Bu Via apoteker di sini? tadi pas saya lihat papan yang ada di depan sih, saya juga sekilas baca nama ibu tapi belum yakin kalau benar Bu Via." ucap Bu Erna.
"Iya, Bu Erna. sudah beberapa bulan ini saya pegang Apotek di sini. Jadi bagaimana Bu? ada berapa mahasiswa yang akan magang di sini?" tanya Via.
"Ada satu Bu Via, ini kelengkapan berkasnya," Bu Erna memberikan dokumen kelengkapan mahasiswa magang.
"Baik Bu Erna, berarti minggu ini sudah mulai ya magangnya?" tanya Via seraya membuka dokumen.
"Iya Bu, Minggu ini mahasiswa yang bersangkutan akan mulai magang di sini," jawab Bu Erna.
"Baiklah, kalau begitu. jika semuanya sudah lengkap dan tidak ada yang kurang, saya pamit ya bu," ucap bu Erna lagi.
__ADS_1
"Iya bu, hati-hati di jalan," jawab Via tersenyum dan keduannya berjabat tangan.
"Mbak minggu ini, Apotek kita akan kedatangan mahasiswa magang, tolong di bantu di arah-arahkan ya. Karena pekerjaannya saya juga sudah selesai, saya sekalian pamit mau pulang dulu ya mbak," ucap Via pada asisten Apoteker nya.
Pulang dari Apotek, Via ingin segera kembali ke rumah untuk istirahat. tetapi di jalan, Via melihat taman kota yang dulu biasanya sering di kunjungi bersama Rian
Via memarkirkan motornya dan berjalan di tempat di mana dirinya dulu sering belajar dan sekedar menghabiskan waktu di taman ini.
"Pak, Batagor satu sama es dawet satu ya!" Via memesan makanan kesukaan Rian.
Iya, dulu setiap kali mengerjakan tugas di taman ini, Rian akan memesan Batagor dan Es dawet.
"Tumben mbak sendirian saja? biasanya sama pacarannya kalau ke sini?" tanya penjual batagor.
"Udah kerja di luar kota pak, orangnya," jawab Via senyum.
Melupakan Rian bukanlah hal yang mudah bagi Via, hampir di setiap kota Solo ini menjadi saksi perjalanan cinta mereka selama tujuh tahun bersama.
"Ini Mbak," ucap penjual batagor seraya meletakkan batagor di meja depan Via.
"Terima kasih, Pak." jawab Via dan segera menikmati batagor yang selalu menjadi jajanan favorit Rian.
"Bagaimana aku bisa melupakan Rian, kalau setiap yang aku lakukan masih berhubungan dengan apa yang menjadi kesukaan Rian," gumam Rian seraya menghela nafas.
Setelah menghabiskan batagor nya, Via berjalan memutari taman.
Dret.. dret...
Panggilan masuk dari Andre.
"Assalamu'alaikum, Dre." ucap Via mengangkat Telpon.
"Walaikumsalam, Kamu lagi di mana kok sepertinya rame?" tanya Andre dari sebrang telpon.
"Aku sedang jalan-jalan di taman," jawab Via.
"Jalan-jalan di taman? sama siapa?" tanya Andre dari sebrang telpon.
"Menurut kamu sama siapa? tentu saja sendiri," jawab Via.
"Nanti kalau aku ke sana, mau tidak ajak aku jalan-jalan ke sana juga?" tanya Andre.
__ADS_1
"Iya," jawab Via singkat.
"Udah gak sabar nunggu akhir pekan," ucap Andre.
"Ya sudah aku balik rumah dulu ya, sepertinya mau hujan. Aku harus segera pulang, Assalamu'alaikum," ucap Via menutup telpon.
Dan benar saja, langit tiba-tiba menjadi gelap. Kini Via yang sedang berlari kecil menuju tempat motornya di parkirkan tidak bisa lagi menghindari hujan.
Dengan basah kuyup, Via sampai ke rumah karena nekad menerobos derasnya hujan yang jatuh membasahi bumi, hari ini.
Via menggigil dan segera masuk rumah untuk mengganti pakaian dan mengeringkan rambutnya.
***
"Uhuk.. uhuk.. " Via batuk.
"Sepertinya, aku flu karena kehujanan tadi sore," gumam Via menggigil di bawah selimut.
Via berusaha mencari obat untuk meredakan flu yang saat ini melandanya dan segera meminumnya.
Dret... dret...
Panggilan masuk.
"Assalamu'alaikum," ucap Via mengangkat telpon dengan suara lemah.
"Waalaikumsalam, Via. kamu kenapa? apa kamu sakit karena kehujanan tadi?" tanya Andre panik.
"Aku tidak apa-apa, hanya sedikit flu saja. nanti juga baikan kq. sudah minum obat juga. aku istirahat dulu ya, assalamu'alaikum," ucap Via menutup telpon.
Kini badan mulai merasakan menggigil dan tidak bisa bicara terlalu lama di telpon bersama Andre.
"Rian.. Rian.. " Via mengigau
"Maafkan aku Rian, Maafkan aku.. Jangan pergi Rian. jangan pergi.. " Via kembali mengigau.
Di saat Via sakit, alam bawah sadarnya terus saja memanggil-manggil Rian, betapa dirinya sangat mencintai dan merindukan Rian. sekeras apapun Via berusaha, namun bayangan dan kenangan dirinya bersama Rian tak mampu dia hilangkn begitu saja.
Perpisahan dirinya dan Rian sangat menyiksa batinnya. Raganya mungkin berusaha untuk kuat dan tegar tapi tidak dengan hatinya yang begitu rapuh.
Menjelang sholat subuh, Via terbangun dan melihat ponselnya. melihat begitu banyak pesan yang malam tadi Andre kirim.
__ADS_1
Melihat Andre yang begitu khawatir tentang dirinya, Via sadar kalau Andre memang mencintai dirinya.
^Happy Reading^