
Hari ini Bu Rini datang ke Solo untuk bertemu dengan Via, Bu Rini sengaja mengunjungi anaknya karena penasaran dengan kekasih Via yang bernama Rian. Via memang sudah menceritakan perihal hubungannya dengan Rian.
"Assalamualaikum, Ma. Kenalkan ini Rian. Yang Via sudah ceritakan ke Mama" Via melihat kearah Rian dan tersenyum.
"Assalamu'alaikum, tante. Saya Rian teman kuliah Via." Rian mencium tangan Bu Rini.
"Walaikumsalam, ayo duduk. Pesen makanan saja dulu." ucap Bu Rini yang sudah berada lebih dulu di sebuah rumah makan yang tak jauh dari kampus mereka.
"Terimakasih tante. " Rian yang masih tampak canggung segera duduk dan melihat-lihat daftar makanan yang ada disana.
"Jadi Rian ini satu fakultas sama Via?" tanya Bu Rini memperhatikan Rian dari atas sampai bawah.
Rian yang merasa dipandangi menundukkan kepalanya lantaran dirinya merasa minder. Terlihat jelas kalau Bu Rini memang bukan orang sembarangan. Dari apa yang dikenakan Rian bisa melihat kalau dirinya memang tak sebanding dengan keluarga Via.
"Rian, disini tinggalnya dimana?" tanya Bu Rini.
"Rian tinggal di rumah paman tante." jawab Rian.
"Oow.. paman Rian tinggal di sini?" tanya Bu Rini.
"Iya tante." jawab Rian singkat.
Setelah pertemuan itu, Rian semakin tidak percaya diri untuk melanjutkan hubungannya dengan Via, namun Via yang begitu mencintai Rian terus saja menyakinkan Rian kalau Via akan tetep memperjuangkan cinta mereka dan meminta Rian untuk tidak memikirkan masalah perbedaan status sosial diantara mereka.
Ya seperti itulah upaya Via untuk mempertahankan hubungannya dengan Rian, hingga Rian yang awalnya minder dan takut nantinya akan kecewa, memberanikan diri untuk mempertahankannya hubungannya dengan Via.
***
Hari ini Via pulang kerumah, melihat putrinya senyum-senyum sambil memandangi ponselnya, Bu Rini sudah bisa menebak, kalau itu pasti chat dari Rian.
"Via" ucap Bu Rini.
"Iya, ada apa ma?" Via meletakkan ponselnya dan melihat Mamanya.
__ADS_1
"Apa itu dari Rian?" tanya Bu Rini melihat Via.
"Iya, Ma." jawab Via
"Begini Via, Mama harus bicara sama kamu tentang Rian, Okay Mama akui Rian anaknya sopan terlihat juga baik. Tapi kamu pasti tau kan maksud Mama apa?" Bu Rini melemparkan pertanyaan pada Via
"Karena Rian bukan orang kaya seperti kita kan Ma? itu kan yang mau Mama katakan?"
Via menghela nafas, Via yang tau betul seperti apa Papa dan Mamanya. Via bisa menebak arah pembicaraan Mama nya.
"Benar Via. Pada dasarnya Mama tidak keberatan kamu menjalin hubungan dengan Rian, tapi Mama yakin Papa mu tidak akan berpikir seperti itu. Kamu tau Papa seperti apa, karena itu, dari pada nanti kalian akan semakin sakit. Lebih baik kamu pikirkan itu baik-baik. Papa tidak akan mungkin merestui hubungan kalian" ucap Bu Rini mengingtkan.
Bu Rini tidak ingin putrinya semakin jatuh ke dalam pusaran kesakitan semakin dalam. Jika nanti hubungannya dengan Rian harus kandas lantaran status sosial mereka yang berbeda.
"Tapi Ma, Via yakin kalau suatu saat nanti Rian akan menjadi apoteker yang sukses, dan saat itu Papa pasti akan merestui hubungan kami."
"Apa yang menjadi dasar keyakinan kamu? kamu pikir Mama tidak tau, Rian juga kuliahnya tidak terlalu pandai" timpal Bu Rini.
"Ma, Rian memang tidak pandai. Tapi Rian itu anaknya tekun. Via yakin, Rian pasti akan menjadi orang yang sukses!" ucap Via.
"Via yakin Ma, Via mencintai Rian dan Via tidak akan meninggalkan Rian.
Semua itu Via katakan untuk mempertahankan hubungannya dengan Rian. Meskipun Via tau, Papa nya tidak akan pernah merestui hubungan mereka. Tapi Via tidak ingin meninggalkan Rian. Laki-laki yang sudah ada dihatinya selama ini.
Tapi ternyata benar apa yang dikatakan Bu Rini, papanya tidak merestui hubungan mereka.
Hari ini, setelah empat tahun menjalani kuliah Farmasi Via dan Rian pun akhirnya wisuda S1 Farmasi dan melanjutkan kembali untuk pendidikan Apotekernya.
Selama keduanya menempuh pendidikan Apoteker, Rian sudah mulai merasa kalau hubungannya dengan Via tidak akan berjalan dengan mulus, pasalnya saat bertemu dengan Papa nya Via, saat acara wisuda S1 Farmasi, Pak Handoko terlihat tidak senang saat berjumpa dengan dirinya. Namun lagi-lagi Via berusaha menyakinkan Rian kalau semua akan baik-baik saja.
Hingga akhirnya saat keduanya sudah lulus Apoteker, dan pak Handoko mengumumkan kalau Via akan dijodohkan dengan anak dari sahabat Pak Handoko.
"Pah, apa maksud Papa?" Via menatap kearah Papa nyanya lantaran tak mengerti dengan maksud pembicaraan Papa nya.
__ADS_1
"Papa dan Om Krisna sudah memutuskan akan menjodohkan kamu dan Andre." tegas Pak Handoko.
"Papa, tidak bisa seperti itu mengambil keputusan. Apalagi ini masalah hidup Via. Via sudah punya pacar pah!" tegas Via.
"Sudah, Via. Kamu jangan emosi dulu. Kita bicarakan baik-baik" bujuk Bu Rini.
"Ma, Mama tau kan Via sudah punya pacar Ma!" tegas Via.
"Iya Mama tau, sudah kamu tenang dulu! biarkan Papa bicara!" ucap Bu Rini.
"Laki-laki miskin itu maksud kamu?" tanya Pak Handoko sinis.
"Rian namanya pah" selak Via.
"Papa sudah putuskan bulan depan kamu akan menikah dengan Andre!" tegas Pak Handoko.
"Pah, gak bisa seperti itu dong pah! Via punya hak untuk memilih harus menikah dengan siapa!" ucap Via dengan mata berkaca-kaca.
"Keputusan Papa tidak bisa diganggu gugat! bulan depan kamu akan menikah dengan Andre. "
"Mah, tolong bantu Via! Via tidak mau menikah dengan Andre. Via mencintai Rian mah, tolong Via mah." rengek Via.
"Via" Bu Rini mengedipkan mata dan menyuruh Via untuk diam.
Via yang marah berlari kekamar dan menjatuhkan tubuhnya di kasur dan menangis sejadi-jadinya.
Via tidak mengira kalau Papa nya sudah mengatur perjodohan untuk dirinya.
Andre adalah anak sahabat Papa nya dan mereka juga sudah mengenal satu sama lain. Hanya saja sudah sejak Via melanjutkan kuliah di Solo dan Andre kulihat di Bandung keduanya tidak pernah bertemu lagi.
Diruang keluarga terjadi perdebatkan antara pak Handoko dengan Bu Rini, karena Bu Rini menganggap Pak Handoko terlalu memaksakan kehendak, sedangkan Pak Handoko yang memang memiliki watak keras kepala tidak mau merubah keputusannya.
"Pah, kasihan Via. Dia sudah memiliki laki-laki pilihannya sendiri pah"
__ADS_1
"Ini semua salah Mama, coba kalau dari awal Mama bilang sama Papa tentang pacarnya Via yang tidak jelas itu. Papa pasti akan melarang Via bergaul dengan laki-laki itu sejak awal" Pak Handoko begitu keras kepala bahkan menyalahkan Bu Rini karena tidak memberitahu sedari awal.
^Happy Reading^