
Sementara malam ini, Rian menangis di kamar kosnya, dirinya tidak menyangka cinta yang sudah dijalani selama tujuh tahun, harus kandas lantaran tak mendapatkan restu dari orang tua Via.
"Maafkan aku Via, maafkan aku yang tidak bisa mempertahankan hubungan kita, aku tau kamu sangat mencintaiku, aku pun mencintaimu. Namun aku tidak bisa mempertahankanmu, bencilah aku, Via. Aku pantas untuk kamu benci. Aku laki-laki yang tidak berguna, bahkan aku tidak bisa mempertahankan kamu," gumam Rian.
*Flashback*
Beberapa hari sebelum pernikahan Via.
"Rian, tadi siang ada orang datang ke rumah. Mereka bilang kalau mereka itu orang tua Via." ucap Bu Ina dari sebrang telpon.
"Orang tua, Via? Apa yang mereka katakan Bu?" tanya Rian cemas.
"Mereka memberitahu kalau Via akan menikah dengan laki-laki yang sudah mereka jodohkan, Laki-laki yang katanya pantas untuk Via. Rian ibu harap kamu melupakan Via, Nak. Hati ibu sakit mendengar kamu di hina dan di rendahkan. Bahkan kita ini seperti tidak punya harga diri."
"Ibu tau, kita ini orang desa, orang miskin. Tapi bukan berarti mereka bisa merendahkan kita seenaknya sendiri. Ibu akui ibu memang menyukai Via, tapi setelah ibu mengetahui seperti apa keluarganya, ibu sudah tidak ingin lagi kamu berhubungan dengan Via. Ibu berharap kamu bisa melupakan Via, Rian." ucap Bu Ina menangis.
"Ibu, maafkan Rian, Bu. Ibu jangan menangis,tolong maafkan Rian Bu," ucap Rian dari sebrang telpon.
"Hati ibu sakit, Rian. Bahkan bapak sampai sakit karena perkataan orang tua Via, yang sangat merendahkan kita." ucap Bu Ina.
"Bapak sakit Bu? tanya Rian cemas.
"Iya, Yan. bapak sakit setelah dicaci maki oleh orang tua Via. Hati Bapak dan ibu hancur, Rian. Kami akui kami orang desa dan miskin. Tapi kami punya harga diri, bahkan kami juga. bisa menyekolahkan kamu sampai sarjana, meskipun kita orang desa kita juga bisa menyekolahkan anak sampai menjadi Apoteker, sama dengan anak mereka. Tapi kata-kata mereka seolah kita ini orang yang tidak punya harga diri," ujar Bu Ina.
"Rian, paham Bu. lalu sekarang bagaimana keadu bapak?" tanya Rian.
"Alhamdulillah, bapak sudah jauh lebih baik. Kamu Bekerjalah dengan baik Rian, ibu do'akan kamu bisa menjadi Apoteker yang sukses biar tidak di rendahkan orang lagi, demi menyekolahkan kamu, bapak dan ibu rela menjual sawah yang menjadi sumber penghasilan kami, jadi sekarang bapak berharap kamu bisa mengangkat derajat kita agar tidak di rendahkan orang lagi seperti ini, Rian." ucap Bu Ina.
"Iya, Bu. Rian janji, Rian akan bekerja dengan baik. dan Rian akan membahagiakan bapak dan ibu, itu tujuan hidup Rian sekarang," ucap Rian.
"Ibu pegang janji Rian, jangan berhubungan dengan Via lagi, Rian" ucap Bu Ina.
*Flashback Off*
__ADS_1
Hampir setiap hari selama satu bulan ini, Rian terus bersedih memikirkanmu Via yang kini sudah menjaga istri seseorang.
Rian menyibukkan diri di apotek dan juga pergi mengajar demi melupakan kesedihannya.
Rian seorang Apoteker dan juga guru di salah satu SMK farmasi swasta di kota K. sebagai seorang guru muda, tak jarang banyak siswi yang berusaha mendekati, Namun Rian tak pernah menanggapi semua wanita yang datang mendekat. Rian hanya fokus untuk bekerja dan berjanji akan membahagiakan kedua orang tuanya.
***
Di rumah Pak Handoko.
"Pa, Ma. Via besok akan kembali ke Solo untuk mengajar." ucap Via di meja makan.
"Apa Via sudah ijin sana Andre? Seharusnya Via ijinnya sekarang sama Andre," ucap Bu Rini.
"Kalau Andre tidak masalah pa, Andre juga ingin pindah ke rumah Andre sendiri, karena sekarang kami sudah menikah, Andre ingin mengajak Via untuk tinggal di rumah Andre. Tapi karena Via harus kembali ke Solo untuk mengajar, mungkin satu minggu sekali jika Via pulang, Andre berharap, Via pulang ke rumah kami sendiri," ucap Andre.
"Bagaimana Via?" tanya pak Handoko.
"Iya, Pah. InsyaAlloh setiap weekend Via akan usahakan pulang ke rumah Andre." jawab Via.
"Iya," Jawab Via singkat.
Hari ini, Via kembali ke Solo untuk kembali mengajar, sedangkan Andre tetap bekerja di kota C. sehingga mereka menjalani hubungan LDR (Long Distance Relationship)
***
"Andre, aku berangkat dulu, Assalamu'alaikum," ucap Via berpamitan dan mencium tangan Andre, saat Andre mengantarkan Via di stasiun.
"Walaikumsalam, Hati-hati di sana. Aku berharap kamu ingat, sekarang ini status kamu adalah istriku. jaga diri dan kamu," pesan Andre sebelum Via naik ke dalam kereta.
Satu bulan mereka menikah, namun sampai detik ini di hati Via, masih terukir nama Rian.
Begitu sulit untuk melupakan Rian, Di dalam kereta, Via menyandarkan kepalanya dan memandang ke luar, air mata seakan mengiringi perjalanan Via.
__ADS_1
Via melihat ponselnya dan kembali mengirimkan pesan untuk Rian.
"(Rian, kamu apa kabar?)" chat Via untuk Rian.
Cukup lama Via menunggu balasan dari Rian, namun setiap kali Via melihat ponselnya ternyata tidak ada balasan dari Rian.
"Rian, apa benar kamu sudah melupakan aku? Apa kamu tidak merindukan aku, seperti aku merindukan kamu?" batin Via.
Dan sekarang Via sudah sampai di solo, Via masuk ke dalam rumah dan merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Dret..! dret...!
Pesan masuk dari Rian
"(Alhamdulilah Baik?)." balasan dari Rian.
Via membulatkan matanya seolah tak percaya dengan apa yang di lihatnya.
"Apa ini benar dari Rian? apa Rian benar-benar membalas pesan yang aku kirim?" gumam Via tak percaya.
Via menekankan tombol panggil pada kontak Rian.
"Assalamu'alaikum, " jawab Rian dari sebrang telpon.
"Walaikumsalam, Rian" jawab Via terisak.
"Rian, tolong maafkan aku. Maaf karena aku terpaksa menikah dengan orang lain," ucap Via tapi Rian hanya diam tak menjawab.
"Rian, kenapa selama ini kamu tidak pernah membalas pesan yang aku kirim, bahkan saat aku memberitahu kamu tentang pernikahanku, kenapa kamu sama sekali tidak ada upaya untuk mencegah pernikahanku Yan?" cerca Via.
"Via, aku berharap. Ini terakhir kalinya kamu menghubungi aku, sekarang kamu sudah menikah, akan berdosa jika kamu masih berhubungan dengan laki-laki lain, Via aku do'akan semoga kamu bahagia dengan suami kamu, Terima kasih untuk apa yang kamu berikan selama ini,"
"Tujuh tahun bersama banyak warna yang sudah kamu berikan padaku, Aku mencintai kamu, namun ternyata cinta saja, tidak cukup membuat orang bisa bersama. Mungkin kita memang tidak berjodoh, aku hanya berharap kamu bahagia meskipun bukan denganku, Assalamu'alaikum," jawab Rian menutup ponselnya.
__ADS_1
^Happy Reading^