
Gita saat ini masih merasa ketakutan dengan apa yang terjadi tadi siang setelah mendapatkan paket. Gita berfikir, apakah ia telah melakukan hal yang membuatnya mempunyai musuh? Tapi seingatnya ia tidak pernah melakukan hal yang membuatnya harus mempunyai musuh
Drett.... Drett... Drett...
Tiba-Tiba ponsel Gita bergetar, ia mengambil ponselnya dari saku dan melihat siapa yang menelfonnya. Gita yang melihat nama Laura pun langsung menekan tombol hijau itu dan segera mengarahkan ponselnya ketelinganya
"Hallo Gita" ucap Laura diseberang sana
"H-hallo Laura" balas Gita dengar nada bergetar
"Gita lo kenapa Gita kok suara lo gemetar gitu" ujar Laura dengan nada yang terdengar khawatir
"Laura kamu bisa ke sini gak? Temenin aku" tanya Gita dengan nada yang masih terdengar bergetar
"Ok ok gue ke sana sekarang. Tapi lo Shareloc rumah lo dulu sekarang" ujar Laura di seberang sana dengan bersiap-siap untuk menemui Gita. Laura segera mengambil jaket dilemari dan kunci mobil yang berada di atas meja, setelah mengambil jaket dan kunci Laura segera pergi keluar lalu masuk kedalam mobil dan melajukan mobilnya untuk ke rumah Gita setelah tadi Gita mengirim di mana rumahnya berada
Laura mengendarai mobilnya dengan cepat, bahkan beberapa kali Laura hampir menabrak pengendara lain namun ia hanya menghiraukannya saja
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua puluh menit Laura telah sampai di kediaman rumah Gita. Laura segera memarkirkan mobilnya dan segera keluar dari mobil dan berjalan cepat untuk masuk kedalam rumah Gita
Laura berdiri di depan pintu masuk rumah Gita, langsung saja Laura masuk kedalam rumah dan berteriak mencoba memanggil Gita
Gita yang mendengar teriakan dari Laura pun segera berdiri dari duduknya dan membuka kunci kamar yang tadi sempat ia kunci. Setelah terbuka, Gita berlari keluar untuk menemui Laura. Namun belum sempat ia menuruni tangga dirinya sudah bertemu dengan Laura, langsung saja saat dirinya bertemu dengan Laura, Gita segera memeluk tubuh Laura erat dan menangis. Air mata yang sempat ia tahan sekarang luruh ketika dirinya memeluk Laura
Laura dibuat terkejut dengan tindakan Gita yang Tiba-Tiba saja memeluk dirinya dengan erat. Laura membalas pelukan Gita dan mengelus punggung Gita saat dirinya mendengar suara isak tangis dari Gita
__ADS_1
"Gue gak tau kesalahan apa yang pernah gue buat dulu Lau" ujarnya yang masih dengan isak tangis
Laura yang mendengar itu mengerutkan keningnya, ia tidak mengerti dengan maksud dari Gita. apa maksud dari ucapannya? Dan kesalahan apa yang ia buat? Disaat dirinya akan bertanya lebih lanjut seketika ia dibuat tertegun dengan ucapan Gita setelahnya
"Gue bener-bener gak inget apa yang dulu pernah gue lakuin. Kenapa gue malah dapat teror seperti itu" tanya Gita yang sekarang telah melepaskan pelukannya dari Laura
"Maksud lo apa? Siapa yang neror lo?" bukanya membalas pertanyaan yang dikasih Gita, Laura justru malah bertanya balik
"Gue gak tau siapa yang neror gue, tapi dia bahkan ngancem gue Lau"
"Sekarang lo tunjukin ke gue di mana tempat lo dapat teri itu" ujar Laura dengan tangan yang menghapus air mata Gita yang masih mengalir
Gita yang mendengar Laura berkata seperti itu langsung saja mengajak Laura turun kebawah dan pergi ke dapur, tempat di mana ia membuka kotak yang berisi kepala kelinci dan surat ancaman itu
"Kenapa berhenti?" tanya Laura
"Kotak itu ada didapur, dan gue masih takut dengan itu" balasnya yang mengeratkan pegangan tangannya pada Laura
"Lo gak usah takut sekarang, kan ada gue" ujar Laura meyakinkan dan dibalas Gita dengan anggukan
Akhirnya Gita mengajak Laura pergi ke dapurnya, saat sudah sampai di dapur, Laura yang melihat itu hampir saja muntah jika dirinya tak bisa menahan itu. Ia melihat potongan kepala kelinci yang menurutnya sangat mengerikan
Gita berjalan kearah surat yang sempat ia lempar tadi, setelah mengambil surat itu Gita memberikannya kepada Laura dan langsung diterima oleh Laura
Laura membaca baris demi baris tulisan yang terdapat di surat itu dengan di mana tulisannya menggunakan tinta merah seperti darah, namun ia tidak tau apakah itu memang ditulis menggunakan darah atau hanya tinta merah biasa
__ADS_1
"Maksud tulisan di surat ini apa Git? Lo di ancem gitu?" tanya Laura yang sekarang menatap Gita
"Gue gak tau!! Waktu itu juga ada yang nelfon gue dan ngomong hal yang gue gak ngerti. Dan dia bilang dia bakalan balas dendam sama seperti apa yang dilakuin sama Kakak gue Lau. Gue bahkan gak punya Kakak"
"Coba nanti lo tanya sama orang tua lo. Siapa tau mereka sembunyiin sesuatu dari lo, makanya lo gak tau apa-apa" usul Laura yang diangguki Gita
"Lo malam ini bisa temenin gue? Lo nginep ya malam ini di rumah gue please" ucap Gita memelas, sungguh ia masih tidak berani di rumah sendirian. Ia ingin Laura menemani dirinya untuk malam ini agar ia tidak ketakutan
"Iya!! Gue temenin lo malam ini" balas Laura
Mereka langsung naik lagi kekamar Gita untuk tidur karna hari sudah mulai malam. Saat sudah di depan pintu kamar Gita, Mereka langsung masuk kemar dan tak lupa juga menutup pintu kamar
Gita merebahkan dirinya di atas kasur dan di susul dengan Laura yang juga ikut berbaring di atas kasur. Gita memiringkan tubuhnya menghadap Laura, Laura yang merasa di tatap pun menoleh kearah Gita yang sedang menatapnya
"Gue takut Lau" ucap Gita
"Lo gak usah takut!! Gue sama Ela nanti bakalan bantu lo buat cari tau siapa yang neror lo" ujar Laura dengan tangan yang mengelus rambut Gita halus
"Mending sekarang lo tidur aja, gak usah mikirin tentang hal tadi ok" lanjutnya yang langsung dituruti oleh Gita. Gita segera memejamkan matanya saat merasa Laura mengelus kepalanya lembut
Laura masih masih dengan mengelus kepala Gita, ia berheni mengelus kepala Gita saat dirinya mendengar dengkuran halus yang berarti Gita telah tertidur lelap
Laura menatap Gita dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia tidak mengerti dengan semua ini, Laura hanya bisa menghela nafas pelan
Saat Laura merasa jika dirinya mengantuk pun segera memejamkan matanya mencoba tidur dan ikut menyusul Gita ke alam mimpi
__ADS_1