LANTAI TIGA

LANTAI TIGA
BAB 48


__ADS_3

Matahari muncul dengan malu-malu dan memantulaan cahayanya lewat sela-sela jendela, membuat seseorang yang sedang tidur itu terganggu. Ia beberapa kali mengejapkan matanya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk.


Setelah mengumpulkan nyawanya, gadis itu mendesah pelan. Melihat sekelilingnya yang masih sama seperti kemarin.


"Huuh gue kapan keluar dari sini sih anjing! Mana kelilingking gue kepotong lagi sialan. Belum luka yang gue dapet sama anak buah Bella, makin tambah sakit njirr." Gerutu Gita saat mengingat kejadian semalem saat dirinya hendak berusaha untuk kabur dan ketahuan oleh anak buah Bella.


Yah anak buah Bella mengetahui jika Gita mencoba kabur saat salah satu dari mereka kembali untuk mengambil ponselnya yang ketinggalan. Namun siapa sangka jika dirinya malah melihat Gita yang masih mencoba melepaskan tali yang mengikat kedua tangan dan kakinya.


Mengetahui Gita yang mencoba melarikan diri tentu saja membuat Jihan berjalan cepat dan menampar pipi Gita yang terdapat sayatan dari Bella itu.


Lia yang dari awal ada di depan pintu untuk menunggu Jihan pun di buat cukup terkejut saat dirinya mendengar suara tampran. Lia mencoba melihat dan ternyata Jihan sedang menampar Gita.


Itu lah kenapa Gita tidak bisa kabur, Gita merasa jika hidupnya benar-benar akan berakhir di tangan Bella si psikopat gila.


"Kabur gak kabur gue bakalan tetep mati sialan!!" Gumam Gita dan mendongak ke atas.


Tiba-tiba bayangan saat dirinya tak sengaja mendengar percakapan dari Rudi yang mengatakan jika dirinya bukan anak kandung dari pun kembali teringat. Gita ingat jika waktu itu Rudi sedang berbicara dengan orang lain namun Gita tidak tau siapa orang itu, apakah orang yang berbicara dengan Rudi adalah Jihan dan Lia?


Saat Gita sedang melamun, tiba-tiba pintu di buka oleh seseorang. Orang itu muncul di hadapan Gita dengan tangan yang membawa nasi di atas piring beserta lauk pauk-nya.


"Nih makanan buat lo." Ujar Jihan memberikan makanan dengan malas.


"Gak makasih! Gue gak mau makan makanan yang di kasih sama lo atau Bella." Balas Gita dengan menatap tajam Jihan.


Jihan sontak melototkan matanya saat mendengar jawaban dari Gita.


"Sialan lo ya! Gue udah baik mau ngasih makan lo tapi jawaban lo kaya gini?" Ucap Jihan dengan keras hingga terdengar sampai keluar.


Tentu saja teriakan dari Jihan membuat Bella dan juga Lia yang sedang sarapan merasa terganggu.


"Si Jihan ngapain sih pagi-pagi udah teriak aja. Di pikir ini hutan kali." Gerutu Bella


"Mana gue tau Bel. Gimana kalo kita coba susul si Jihan aja." Ucap Lia membuat Bella beranjak dari duduknya dan berjalan terlebih dahulu.

__ADS_1


Bella sampai di tempat di mana Gita berada. Dapat Bella lihat jika ternyata Jihan sedang memarahi Gita.


"Ck lo ngapain si Han masih pagi udah teriak-teriak aja. Lo pikir ini hutan sampe lo teriak-teriak kaya gitu? Enggak bego ini bukan hutan, jadi jangan teriak-teriak." Ujar Bella dengan menatap tajam Jihan.


"Lo tanya aja tuh sama orang yang bentar lagi bakalan mati. Gue kan niatnya baik mau ngasih dia makan, eh dia malah gak mau." Ucap Jihan yang tak mau dirinya disalahkan karna pagi-pagi sudah berteriak tidak jelas.


Bella beralih menatap ke arah Gita. Bella memberikan tatapan tajamnya untuk Gita saat mendengar perkataan dari Jihan.


Bella berjalan mendekati Gita dan saat sudah sampai di hadapan Gita, Bella menjambak rambut Gita membuat Gita merintih kesakitan dengan kepala yang mengadah ke atas.


"Kenapa lo gak mau makan hah?" Tanya Bella dengan memcekal rambut Gita semakin kencang.


"Gue gak mau makan karna siapa tau aja dimakanan itu lo kasih racun." Balas Gita membuat Bella melepaskan tangan yang menarik rambut Gita.


Dapat Gita rasakan jika kepalanya benar-benar sakit. Meskipun Bella sudah melepaskan tangannya, namun tetap saja rasa sakit itu masih ada.


Bella terkekeh dengan ucapan yang dilontarkan oleh Gita.


"Lo pikir gue kematian lo itu segampang waktu gue ngasih racun kemakanan lo? Gue bakalan bunuh lo bukan dengan racun, melainkan dengan tangan gue sendiri." Ucap Bella dan berjalan keluar dari tempat itu.


"Gue mau lo makan. Karena kalo lo gak makan gue takut lo gak ada tenaga buat ngeluarin suara di saat gue nyiksa lo nanti." Setelah mengatakan itu Bella segera pergi di ikuti Jihan dan Lia di belakang.


Gita mendengkus mendengar ucapan dari Bella. Bella menyuruhnya makan tapi Bella tidak melepaskan ikatan yang ada pada tangannya. Bagaimana Gita akan makan jika tanganya saja tidak di buka seperti ini.


"Woy Bellanjing ini dibuka dulu cok tali yang ngiket tangan gue!! Gimana gue bisa makan kalo tangan gue aja masih diiket kaya gini!!" Ucap Gita dengan keras namun tak ada sautan dari Bella, Jihan atau Lia.


"Ck brengsek!!" Ucap Gita sebelum dirinya mencoba melepaskan ikatan pada tangan untuk ia makan. Dan berhasil satu tangan sudah terlepas, sontak Gita makan makanan yang telah di berikan oleh Jihan.


...****************...


Sedangkan di sisi lain, lebih tepatnya di dalam mobil terdapat seseorang yang sedang fokus mengendarai mobilnya untuk ke suatu tempat untuk menemukan orang yang di carinya.


"Lo yakin kalo lo tau di mana Gita?" Tanya Olivia kepada Laura yang masih fokus menatap ke depan.

__ADS_1


"Ck gue gak sebenernya gak yakin tapi siapa tau aja Gita beneran ada di sana." Balas Laura tanpa menatap ke arah Olivia. Dirinya masih fokus ke arah jalan raya.


"Bangsat kalo lo gak tau kenapa lo malah mau nyusul ke Bandung sih nyet!!" Ucap Zergan yang membuat Megan memukul pelan lengan lelaki itu.


"Zergan mulutnya!" Ujar Megan mengingatkan.


"Kan semalam gue udah ngomong kalo gue gak sengaja denger Bella ngomong kata Bandung. Jadi ya gue simpulin kalo mereka ada di Bandung." Jawab Laura dengan menekan kata Bandung.


Yah tadi pagi Laura, Olivia, Megan, serta Zergan segera masuk ke dalam mobil untuk pergi ke Bandung dengan mobil milik Megan.


Mereka sengaja hanya menggunakan 1 mobil saja agar lebih gampang. Dengan Laura yang mengendarai mobil itu.


"Gue harap mereka beneran ada di Bandung deh." Ucap Olivia yang diangguki oleh Megan dan juga Laura.


"Lo pikir Bandung itu kecil? Bandung juga gede woy gak kalah sama Jakarta. Kita bakalan susah juga nyari Gita." Ujar Zergan kepada Olivia.


"Ya kan seengganya kita bisa lebih gampang nyari si Gita." Balas Olivia dengan menoleh ke belakang, di mana tempat Zergan dan Megan berada.


"Kalian berdua bisa diam tidak? Kita harus fokus dalan pencarian Gita, jangan bertengkar seperti ini Zergan Olivia." Ucap Megan dengan menatap keduanya tajam.


*Bener tuh sama apa yang di katain Kakak lo pada. Bukannya fokus malah ribut." Timpal Laura yang merasa sudah jengah dengan tingkah dari Zergan dan Olivia.


"Iya Kak Megan, kita minta maaf." Ucap Zergan dan juga Olivia berbarengan.


"Gitu dong jangan ribut mulu, kita harus fokus dalam pencarian ini." Ujar Megan yang di angguki ke tiganya.


Mobil kembali hening tanpa ada obrolan. Mereka fokus dengan pikiran masing-masing. Laura yang awalnya fokus dengan mobil yang dikendarainya tiba-tiba saja menjadi tidak fokus saat matanya tak sengaja melihat dari arah depan melihat seseorang sedang berkelahi. Bahkan sampai ada beberapa polisi yang mencoba menenangkannya.


"Eh buset tuh orang kenapa dah kok bisa berantem gitu? Bahkan ada polisi lagi." Ujar Laura membuat ketiga manusia yang ada di dalam mobil itu sontak melihat ke arah depan. Dan benar saja apa yang dikatakan oleh Laura.


Di depan terdapat dua orang pria paruh baya yang sedang berkelahi dengan kuat. Bahkan ada beberapa polisi yang berusaha memisahkan keduanya namun tak kunjung berhasil juga.


Namun Olivia merasa tidak asing dengan salah satu dari mereka yang sedang berkelahi itu. Olivia memicingkan matanya guna melihat dengan jelas siapa orang itu, takut-takut jika dirinya salah mengira kan?

__ADS_1


Namun detik selanjutnya Olivia melebarkan matanya saat dirinya dapat melihat dengan jelas siapa orang itu.


"I-itu kan-." Ucap Olivia terbata


__ADS_2